Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2016

Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Ribuan umat Islam yang berada di Orivinai Papua akan ikut menyukseskan Gerakan Nusantara Mengaji (GNM). Salah seorang koordinator GNM Indrajaya menyatakan, kurang lebih tiga belas daerah akan ikut menyukseskan Nusantara Mengaji.

"Kita Papua insya Allah akan melangsungkan 2000 hataman yang akan tersebar di beberapa daerah di Provinsi Papua seperti Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Sarmi, Jayawijaya, Timika, Nabire, Yapen, Biak, Kerom, Wamena, Merauke, Bufendigul, dan Asmat," kata Indrajaya saat ditemui di Masjid Al-Askar Entrop.

Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)


Umat Islam di Papua Siap Khatamkan 2000 Al-Quran

Untuk di Jayapura, menurut Indrajaya, Walikota sendiri akan mengunjungi titik-titik yang menyelenggarakan Nusanara Mengaji.

Duta Islam Nusantara

"Program Nusantara Mengaji ini bertujuan mengajak umat Islam khususnya di Jayapura untuk berdoa bersama bagi keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan bangsa dan rakyat Indonesia. Jadi walikota Jayapura sangat mendukung kegiatan ini. Insya Allah Walikota selain mengunjungi titik-titik yang mengadakan Nusantara Mengaji, ia juga akan hadir dalam acara pembukaan Nusantara Mengaji yang akan dilaksanakan di Masjid Asolihin, Abepura Ahad malam," tambah Indrajaya.

Abdul Wahab selaku koordinator Kantor Berita Aswaja (KBA) Provinsi Papua mendukung kegiatan Nusantara Mengaji. Menurut Wahab, pihaknya juga akan membantu dalam hal dokumentasi.

"Ini momen yang bagus untuk menunjukkan bahwa Papua itu indah penuh toleransi, kami berniat ingin ikut mempublikasikan secara live acara pembukaan Nusantara Mengaji yang akan dilaksanakan nanti malam melalui aplikasi Nutizen," tutur Abdul Wahab. (Red Alhafiz K)

Duta Islam Nusantara

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67978/umat-islam-di-papua-siap-khatamkan-2000-al-quran

Duta Islam Nusantara

Minggu, 18 Mei 2014

Acara Berlangsung Lancar, LPJ PWNU Diterima

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Konferensi Wilayah NU DKI Jakarta ke-19 telah resmi dibuka oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Jumat kemarin. Berbagai rangkaian acara telah berlangsung, mulai dari apresiasi seni mahasiswa STAINU Jakarta, Sidang Pleno Tata Tertib, sampai dengan Pleno Laporan Pertanggungjawaban PWNU DKI Jakarta masa bhakti 2011 s.d 2016, serta pandangan umum perwakilan PCNU se-DKI Jakarta. Secara umum, LPJ tersebut diterima.

Dihadapan peserta konferwil berasal dari utusan PCNU, MWCNU, badan otonom dan lembaga di lingkungan NU DKI Jakarta, LPJ dibacakan oleh H Tubagus Robby, Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta selama kurang lebih 45 menit.

Acara Berlangsung Lancar, LPJ PWNU Diterima (Sumber Gambar : Nu Online)
Acara Berlangsung Lancar, LPJ PWNU Diterima (Sumber Gambar : Nu Online)


Acara Berlangsung Lancar, LPJ PWNU Diterima

LPJ setebal 140 halaman berisi kerja yang dilakukan PWNU selama ini, mulai dari konsolidasi PCNU, MWCNU, banom, dan lembaga, penataan manajemen organisasi, kaderisasi, renovasi kesekretariatan, pemberdayaan ekonomi umat, pemberdayaan pengurus NU, sampai dengan program kepedulian sosial lainnya.

Penyampaian LPJ ditutup dengan evaluasi kerja dan tantangan yang dihadapi, diantaranya tantangan pendanaan, partisipasi pengurus yang pasang surut, serta kondisi sosial masyarakat Jakarta yang beragam, di mana NU DKI Jakarta berada di tengah pergerakan Islam transnasional.

Duta Islam Nusantara

Selanjutnya PCNU se-DKI Jakarta menyampaikan pandangan umum dan penilaian atas laporan tersebut. Pada prinsipnya mereka "menerima" LPJ PWNU priode 2011 - 2016. Tentu dengan berbagai pertimbangan dan catatan, diantaranya bagaimana NU DKI Jakarta harus mampu hadir menyapa dan melayani masyarakat Jakarta secara langsung, sebagaimana disampaikan salah satu PCNU dalam pandangannya. Red: Mukafi Niam

Duta Islam Nusantara

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66811/acara-berlangsung-lancar-lpj-pwnu-diterima-

Sabtu, 26 April 2014

Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi

Oleh KH MA Sahal Mahfudh

Berbicara tentang posisi umat Islam di Indonesiaapalagi bila dikaitkan dengan proses demokratisasitidaklah mudah. Hal itu tidak mungkin ditelaah hanya dari sudut pandang mikro-sinkronis. Sudut pandang ini akan sulit menemukan posisi yang tepat, yang selalu berkaitan erat secara simbiosis dengan kondisi dan situasi obyektif yang terjadi. Namun bila hal itu di telaah dari sudut pandang makro-historis tentu akan memerlukan pembahasan yang panjang. Tentu saja hal itu sulit diformulasikan dalam tulisan yang singkat ini. Tulisan ini hanya mencoba melihat berbagai fenomena yang timbul akibat perkembangan partisipasi umat Islam dalam politik, yang tentu juga akan beppengaruh terhadap umat Islam dalam aspek-aspek kehidupan lainmya.

Kita umat Islam" meskipun dipahami dalam konotasi yang sama, namun seringkali nengalami penyempitan dan pemekaran cakupan dalam penerapannya sebagai subyek mau pun obyek politik. Perubahan ini berjalan mengikuti luas dan sempitnya wawasan gerakan-gerakan Islam yang ada. Pada abad-abad lalu, ketika masyarakat suku-suku bangsa Indonesia masih dijajah oleh pemerintah kolonial, umat Islam hanya meliputi sesama kaum muslimin yang tinggal di sebuah kawasan tertentu, meski masih ada perbedaan antara muslim santri dan muslim nonsantri.

Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi

Ketika Indonesia telah merdeka berubah liputannya menjadi kaum muslimin yang membentuk nasion Indonesia. Liputan ini menyempit lagi, ketika mulai muncul kepentingan-kepentingan politik yang berbeda dari banyak faksi. Umat Islam pada saat itu ditujukan hanya kepada mereka yang masuk -atau dimasukkan ke dalam- gerakan-gerakan formal Islam yang bersikap sektarian di kalangan kaum muslimin sendiri.

Duta Islam Nusantara

Perubahan-perubahan seperti itu penting maknanya, dalam spektrum strategi perjuangan lebih luas. Siapa yang dimasukkan ke dalam kategori "umat Islam"? Konsep keumatan yang berbeda-beda itu setidaknya mengacu pada munculnya dua alternatif, apakah perjuangan umat Islam itu sebagai bagian dari sebuah perjuangan umum kemanusiaan atau justru akan merombak visi kemanusiaan menjadi lebih luas dan global yaitu keislaman.

Duta Islam Nusantara

Perbedaan pilihan dari dua alternatif di atas tentu mempengaruhi tujuan dan strategi, yang berdampak pada munculnya perilaku sosial dari gerakan-gerakan Islam yang meletakkan diri dalam situasi dikotomis, antara definisi kita dan "mereka", dengan segala konsekuensi yang ditimbulkan. Dampak lain yang timbul adalah perbednan garapan, struktur kepemimpinan, proses pengambilan keputusan, juga tawaran bentuk-bentuk kemasyarakatan yang hendak dibangun.

Dalam hal ini, kasus pertentangan warga NU yang oleh keadaan seperti karena menjadi anggota KORPRI tidak mungkin menjadi pendukung PPP di satu pihak, dan kawan-kawan seorganisasi induk yang mendukung PPP di lain pihak, adalah contoh menarik untuk ditelaah. Ketika format perjuangan NU diubah oleh Muktamarnya yang ke-27 di Situbondo, yaitu ketika dinyatakan bahwa NU tidak lagi mempunyai kaitan organisatoris dengan organisasi politik manapun. Perubahan besar dalam hubungan kedua belah pihak lalu terjadi dengan dampak-dampak tersendiri.

***

Kekuatan umat Islam di tingkat elit politik sempat bergulat hebat ketika menentukan bentuk negara antara Islam dan non-Islam, yang akhirnya diselesaikan dengan rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini sebenarnya merupakan simbolisasi besarnya kekuatan ideologis Islam. Namun kekuatan itu tak mampu memegang dominasi percaturan tingkat atas, karena kurang memperoleh dukungan luas dari massa Islam di tingkat bawah. Secara hipotetis, bila dukungan dari bawah cukup besar, tentu umat Islam tidak begitu saja menerima bentuk kompromistik yang dicapai oleh kalangan elit kepemimpinan Islam waktu itu.

Kenyataan inilah yang barangkali masih belum tuntas dipahami oleh sebagian umat Islam Indonesia saat ini. Bahwa kesadaran berbangsa sebagai penggerak utama bagi cita-cita kehidupan masyarakat sebagai bangsa, adalah sesuatu yang harus diterima sebagai fakta obyektif yang tuntas. Meskipun secara bertahap tapi pasti, penerimaan atas kenyataan ini telah berlangsung makin mantap di kalangan umat Islam, utamanya setelah diberlakukannya UU kepartaian dan UU keormasan dengan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Malahan NU dalam Muktamarnya yang ke-27 di Situbondo menegaskan, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk final bagi kaum muslimin Indonesia.

Ketidakmampuan membaca perkembangan kesadaran politik kenegaraan kaum muslimin ini akan berakibat jauh, karena munculnya pandangan yang terlalu idealistik tentang hubungan Islam dan negara. Ajaran Islam -sebagai komponen yang membentuk dan mengisi kehidupan bermasyarakat warga negara Indonesiaseharusnya diperankan sebagai faktor komplementer.

Bagi komponen-komponen lain, bukannya sebagai faktor tandingan yang berfungsi disintegratif terhadap kehidupan bangsa secara keseluruhan. Islam dalam hal ini difungsikan sebagai kekuatan integratif yang mendorong tumbuhnya partisipasi penuh dalam upaya membentuk Indonesia yang kuat, demokratis dan penuh keadilan.

Meskipun tidak menutup kemungkinan adanya sebagian umat Islam idealis yang memandang Islam tidak hanya berfungsi komplementer terhadap ideologi kenegaraan lain, namun secara sepintas dapat dilihat bahwa massa Islam sudah berdamai dengan ideologi negara dan sekaligus masih mampu mempertahankan kehidupan mereka pada konteks "Islami" tersendiri secara aplikatif. Mereka nampaknya puas dengan sikap akomodatif yang dilakukan oleh NU dan Muhammadiyah sebagai perwakilan terpenting kaum muslimin Indonesia, untuk menerima fungsi komplementer Islam dalam kehidupan berbangsa. dan bemegara. Ini terbukti dengan dukungan mereka terhadap kegiatan-kegiatan organisasi tersebut mau pun dengan luasnya jangkauan keanggotaan keduanya.

Pada permulaan Orde Baru, Bung Hatta pernah mengambil inisiatif mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia dengan tujuan mendidik umat Islam dalam berpolitik Gagasan ini tidak sampai direalisasikan. Malahan pada akhirnya beliau memandang tradisi politik Islam dari sudut yang positif, menawarkan jalan Islam yang lentur, jika ingin menjalankan peran penting menuju masyarakat yang adil dan makmur. Nampaknya Bung Hatta dengan pendirian terakhir ini lebih melihat ke belakang, sebagai sikap koreksi atas kelemahan politik umat Islam, sekaligus mengantisipasi perkembangan permasalahan politik di masa mendatang.

Kelemahan umat Islam dalam bidang politik bersumber pada perbedaan persepsi tentang hubungan Islam dan politik, diikuti dengan sikap politik yang berbeda pula. Ada sikap menolak terhadap garis yang dianggap menyimpang dari garis vertikal Islam. Ada pula yang tidak hanya menggunakan garis lurus ke atas, akan tetapi juga bersikap mendatar dan kompromi terhadap kekuasaan. Sikap ini lalu mempermudah perilaku akomodatif sepanjang tak mengganggu prinsip yang diyakini. Masih ada lagi sikap lain, misalnya menolak sama sekali kaitan Islam dengan politik, kecuali hanya bersifat kultural.

Dengan persepsi dan sikap yang berbeda tentang hubungan Islam dan politik itu, kiranya dapat dipahami, posisi umat Islam dalam politik dan dalam proses demokratisasi. Bila persepsi yang dominan adalah yang kedua dengan konsekuensi logisnya bersikap akomodatif kritis, maka posisi mereka di dalam pergumulan politis paling tidak adalah sebagai promotor yang dituntut kemampuannya menjadikan Islam sebagai kekuatan integratif yang diaplikasikan ke dalam sikap dan perilaku masyarakat Pancasilais. Tetapi untuk menarik umat Islam dari posisi pinggiran (marginal) diperlukan juga keluasan pandangan keislaman para elite politik Islam sendiri, sekaligus juga keluasan cakrawala umat di luar kekuatan politik Islam, dalam mengarahkan proses kehidupan bangsa.

***

Demokratisasi adalah proses yang mencakup seluruh aspek kehidupan bangsa. Suatu proses dapat berjalan -lancar atau tidak- akan tergantung pada sistem, mekanisme, power dan sasaran. Bila yang diproses adalah "demokrasi" agar menjadi sikap dan perilaku masyarakat, maka bagi umat Islam yang memiliki persepsi dominan tentang kaitan Islam dan politik, memerlukan konsensus yang didasarkan pada kesadaran pluralistik, yang sebenarnya telah dirumuskan dalam konsep Bhineka Tunggal Ika".

Kesadaran pluralistik itu berimplikasi pada kesadaran toleransi dan saling menghargai antara berbagai kelompok yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam proses itu, karena pada dasarnya demokrasi tidak mungkin tanpa sikap toleran dan saling menghagai antar pihak-pihak yang bersangkutan. Ini berarti bahwa demokratisasi memerlukan keberanian untuk menjauhkan sektarianisme yang sering merancukan watak toleran dan saling menghargai. Pada gilirannya tidak ada dominasi kekuatan oleh yang besar untuk mengalahkan yang kecil. Kepentingan bersama dianggap lebih afdhol daripada kepentingan sekte tertentu, mengalahkan watak sektarianisme -atau dengan konotasi lain golonganismeyang selalu lebih mengutamakan sektenya.

Terlepas dari apapun bentuk demokrasi yang dimiliki bangsa Indonesia, pengertian demokrasi merupakan norma yang diberlakukan dalam tatanan politik dengan ciri dasar: dari, oleh dan untuk rakyat bersama, mendorong adanya partisipasi rakyat secara penuh pada semua aspek kehidupan, tanpa paksaan dan ancaman. Meski pada tingkat elementer, demokrasi sering dikonotasikan sebagai kemerdekaan atau kebebasan menyampaikan aspirasi, kemauan dan konsepsi-konsepsi politik mau pun kemasyarakatan, meskipun pada batas-batas tertentu harus sesuai dengan konsensus yang dihasilkan.

Partisipasi penuh itu sendiri banyak ditentukan oleh sejauh mana umat menyadari sepenuhnya akan hak dan kewajibannya dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu tidak cukup hanya dengan menyadari dan melaksanakan kewajiban secara sepihak. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah, sudahkah umat Islam di negeri tercinta ini mengetahui, menyadari, menerima, melakukan dan mengembangkan hak dan kewajibannya, sehingga bersikap dan berperilaku partisipatif dalam semua aspek kehidupan atas dorongan watak demokrasi?

Floating mass memang berjalan dengan dampak positifnya, berupa gairah membangun di kalangan umat bawah dan dicapainya stabilitas. Namun diakui atau tidak, di pihak lain umat Islam di pedesaan menjadi asing dan terasingkan dari arti kegiatan politik yang sebenarnya. Di kalangan mereka terjadi proses depolitisasi yang bermuara pada adanya sikap keawaman di bidang politik, sikap masa bodoh terhadap demokratisasi dan sikap antagonistik pada kegiatan politik yang dianggap mengganggu kepentingannya.

Kalau toh mereka menggunakan hak pilihnya dan mengikuti kampanye dalam pemilu, hanyalah didorong oleh keengganan menghadapi tuduhan menghambat pembangunan, tidak Pancasilais, tidak berpartisipasi dan kadang karena sungkan dengan tetangga atau teman sejawat. Kalau mereka dengar atau memabaca kalimat demokrasi Pancasila, demokrasi ekonomi, demokrasi pendidikan dan seterusnya, mereka akan hanya berhenti di situ saja tanpa menampakkan apresiasi yang sungguh-sungguh untuk mengetahui, apalagi menanggapi lebih jauh.

Ini memang bukan indikasi bagi kegagalan pendidikan politik di kalangan umat Islam di bawah. Akan tetapi paling tidak menghambat proses mengetengahkan umat Islam dalam pergumulan politik dan menjauhkan kesadaran penuh mereka atas hak dan kewajibannya dalam berbangsa dan bernegara. Akan tetapi apa pun yang terjadi, komitmen umat Islam atas bangsa dan negaranya tidak akan berubah karena telah terpatri oleh patriotisme yang tinggi, yang telah tertanam secara inhern dalam dirinya seperti pendahulu-pendahulunya. Oleh karenanya, kita harus bersyukur kepada Allah atas karuniaNya berupa hasil pembangunan yang telah kita rasakan bersama, sehingga pada gilirannya akan menambah karunia yang lebih memenuhi harapan dan cita-cita.

*) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS), dengan judul Islam dan Demokratisasi. Judul Posisi Umat Islam Indonesia dalam Era Demokratisasi merujuk pada makalah asli sebagaimana pernah disampaikan pada Forum Silaturrahim PPP Jawa Tengah di Semarang, 5 September 1992.

Dari (Taushiyah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50426/posisi-umat-islam-indonesia-dalam-era-demokratisasi

Duta Islam Nusantara

Rabu, 26 Maret 2014

Kiai Said Dorong Persaingan Sunni-Syiah Secara Sehat

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Setelah meninggalnya Rasulullah, timbul berbagai aliran dalam Islam. Ada yang disebabkan oleh alasan politik dan ada pula yang disebabkan oleh perbedaan cara tafsir ajaran Islam terhadap berbagai persoalan baru.

Beberapa aliran yang muncul diantaranya adalah Kodariyah, Murjiah, Muktazilah, Khawarij, Syiah, dan Ahlusunnah. Dari sekian banyak aliran yang ada, kini dalam perjalanan 15 Abad Islam, tinggal Sunni (Ahlusunnah) dan Syiah yang tetap bertahan sedangkan lainnya secara nama sudah hilang, meskipun pengaruh alirannya tetap ada dalam berbagai bentuk.

Kiai Said Dorong Persaingan Sunni-Syiah Secara Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Dorong Persaingan Sunni-Syiah Secara Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)


Kiai Said Dorong Persaingan Sunni-Syiah Secara Sehat

Kiai Said meyakini, keberadaan dua aliran yang sudah terbukti mampu bertahan ini akan mampu bertahan jauh di masa depan. Persaingan pun akan terus berlanjut.

Duta Islam Nusantara

Sampai hari kiamat, Ahlusunnah dan Syiah mungkin tidak akan hilang. Buktinya 15 abad masih ada. Jadi kita harapkan persaingannya sehat. Yang positif. Masing-masing meningkatkan kualitasnya, katanya.

Duta Islam Nusantara

Saya bukan Syiah, tetapi saya ingin bersaing dengan Syiah yang sehat. Bukan persaingan fisik, bakar-bakaran dan kemudian saling mengusir, tegasnya.

Menurut Kiai Said, pengikut aliran Syiah memiliki kelebihan berupa militansi yang bagus. Militansi yang intelek, bukan militansi yang ngawur. Dalam kasus Palestina, di wilayah tersebut tidak ada orang Syiah, tetapi Iran lah yang paling menganggap musuh dengan Israel, Hizbullah yang paling menganggap musuh Israel.

Mengenai kepintaran orang Syiah, Kiai Said menjelaskan, hal ini bisa dilihat dari latar belakang peradaban Persia yang jauh lebih maju dari Arab. Begitu masuk Islam, tinggal ganti agama, ganti kitab suci Al-Quran, tetapi nilai-nilai peradabannya sudah mapan.

Ahli hadits tidak ada orang Arab, tetapi orang Persia semua. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi, imbuhnya.

Ia menambahkan yang menciptakan ilmu nahwu, Imam Sibawaih merupakan orang Persia, yang menciptakan ilmu balaghoh atau kesusastraan bahasa Arab juga orang Persia, yaitu Amir bin Ubaid. Yang pertamakali menjadi mufassir besar, yaitu orang Tabaristan, yaitu Ibnu Jafar Attabari yang membuat tafsir 10 jilid. Imam Ghozali merupakan Persia. Abu Hanifah dan Imam Hambali orang Persia. Sementara Imam Syafii dan Imam Malik orang Arab.

Mengenai hubungan yang harmonis antara Sunni dan Syiah, Kiai Said yang menyelesaikan doktor di Universitas Ummul Qura Makkah ini menjelaskan, Mesir bisa menjadi contoh. Mesir dulu ada kelompok Syiah, Sunni, dan Kristen Ortodok. Mereka bisa hidup damai.

Ngak pernah ada konflik mazhab. 10 raja dari Syiah di Mesir dari dinasti Fatimiyah. Yang membangun kota Kairo orang Syiah, yang membangun masjid Al Azhar juga orang Syiah, tandasnya.

Sayangnya, Mesir kini sudah mulai ada yang terseret pada fanatisme kelompok seperti mulai adanya ISIS dan Al-Qaedah. (Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64843/kiai-said-dorong-persaingan-sunni-syiah-secara-sehat

Duta Islam Nusantara

Rabu, 11 September 2013

700 Ribu Jamaah Haji Tidak Diterima Allah

Duta Islam Nusantara - Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al-Marwazi, seorang ulama terkenal di Makkah menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka:

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

700 Ribu Jamaah Haji Tidak Diterima Allah - Duta Islam Nusantara
700 Ribu Jamaah Haji Tidak Diterima Allah - Duta Islam Nusantara


700 Ribu Jamaah Haji Tidak Diterima Allah

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

Duta Islam Nusantara

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

Duta Islam Nusantara

“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”

“Itu Kehendak Allah”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (Damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Syiria.

Sampai di sana, ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai disana, ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh, “Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu

“Betul, siapa Tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Said pun terharu, "Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya. Akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat sehingga berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!” (Baca Duta Islam Nusantara: Biografi Sanad Syeikh Zaini Dahlan) “Coba ceritakan bagaimana kehidupan Anda selama ini." Maka, Sa’id bin Muhafah bercerita:

“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar: Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka/ Ya Allah, aku datang karena panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Segala nikmat dan puji adalah kepunyaan-Mu dan kekuasaan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. "Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis. Ya allah aku rindu Makkah. Ya Allah, aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang. Ijinkan aku datang ya Allah. Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji. Saya sudah siap berhaji”

“Tapi Anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”

“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?

“Iya, sayang” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

"Saya pun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya." (Baca Duta Islam Nusantara: Kyai Subchi Bambu Runcing)

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :

“Tidak boleh, Tuan”

“Dijual berapapun akan saya beli”

“Makanan itu tidak dijual, Tuan,” katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?

Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan,” katanya.

Dalam hati saya, bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya. Padahal kita sama-sama muslim.

Karena itu saya mendesaknya lagi, “Kenapa?”

“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami, daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram."

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis. Kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu. “Ini masakan untukmu”

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

”Pakailah uang ini untukmu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi. Ya Allah……… di sinilah Hajiku. Ya Allah……… di sinilah Makkahku."

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata. [Duta Islam Nusantara/ls]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/700-ribu-jamaah-haji-tidak-diterima-allah.html

Senin, 10 September 2012

Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya!

Duta Islam Nusantara - Seorang santri di Sumatra telp, "Bang, nanti antum hadir ke pondok sama Habib Tayadi yah. Pas di sini nanti Habib Yadi yang mendampingi Abah Luthfi sampai pengajian rampung". Karena bukan habib, langsung diluruskan, "dia itu bukan habib, darimana ente punya alasan sebut habib?".

"Abah Luthfi sendiri yang bilang kok," jawabnya. Tentu membuat si Abang di seberang telepon itu kaget dan tidak percaya. Si Abang tahu kalau H. Tayadi bukan habib karena pernah sekolah di almamater yang sama dan memang dekat dengan keluarganya sejak usia sekolah.

Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya! - Duta Islam Nusantara
Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya! - Duta Islam Nusantara


Bukan Habib Tapi Dipopulerkan Sebagai Habib oleh Habib Luthfi. Ini Alasannya!

Tiba-tiba dapat gelar habib, tentu hal itu mustahil. Dia hanya anak kiai kampung yang kebetulan hafal Al-Qur'an. Namanya pun tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan nama umum para habaib misalnya Rizieq, Quraish, Ali, Bakar, dan lainnya.

Ada yang fitnah Habib Luthfi sebagai blunder Secara nasab pun, tidak ditemukan riwayat nyambungnya dari orang tua laki-laki, yang lurus ke atas berurutan silsilahnya hingga kepada Rasulullah Saw. Tentu hal ini membuat si Abang itu melakukan tabayun kepada yang bersangkutan, apalagi dengar-dengar sampai diberi gelar "bin yahya".

Duta Islam Nusantara

Kepada Duta Islam Nusantara, Habib Tayadi buka keterangan. Ia memulai dengan riwayat keluarga. Katanya, keluarganya yang tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah dulu adalah jamaah rutin majelis dzikir Habib Luthfi bin Yahya era 70-an, ketika beliau masih muda.

Majelis itu bertempat di Kudus, saat Maulana Habib Luthfi bin Yahya masih mengembara mencari ilmu dan tirakat serta tabarruk ke beberapa kiai sepuh dan habib di Kudus juga. Keluarga Yadi inilah yang sejak dulu selalu taat dan punya husnuddzan kepada apapun dawuh dan pitutur Habib Luthfi, di saat kelompok lain yang mengikuti majelis beliau makin menjauh karena alasan dan kesibukan masing-masing. Saking dekatnya, Habib Luthfi menganggap keluarga Tayadi sebagai saudara sendiri.

Duta Islam Nusantara

Oleh seorang murid Habib Luthfi dari Kudus juga, Tayadi kemudian disarankan kembali mendekat kepada Habib Luthfi ke Pekalongan sebagaimana orangtuanya dulu dekat dengan beliau saat masih ngaji di Kudus. Hal itu dilakukan karena hampir semua saudara Tayadi memilih berkarir di luar kota. Ada yang jadi dosen, perawat dan pengusaha. Hanya dia yang diwarisi ilmu pesantren, hapal Qur'an dari sanad Mbah Arwani Kudus.

Tayadi tidak langsung mengiyakan ajakan murid Abah Luthfi tersebut walau perintah itu sebenarnya juga datang langsung dari Habib Luthfi. Namun, berkat hidayah Allah dan keuletan murid Abah Luthfi untuk membujuk, Tayadi akhirnya mau diajak sowan ke Pekalongan. Istilahnya, mengembalikan balung pisah (sambung silaturrahim).

Di ndalem Abah Luthfi, dia dipaksa untuk ngaji. Diberi pesan-pesan hingga semakin dekat laksana hubungan bapak dan anak. Maem bareng bersama keluarga Abah Luthfi sudah biasa dia lakukan. Kepada Duta Islam Nusantara, Tayadi bahkan mengaku pernah diberi buku tentang sejarah perjalanan hidup Abah Luthfi yang ditulis tangan oleh beliau sendiri.

Ketika Duta Islam Nusantara minta copy isi buku, agar disebar, Tayadi langsung menjelaskan kalau buku itu hanya ditulis Abah Luthfi untuk keluarganya, bukan untuk umum. Jika buku tulisan tangan tersebut tersebar dan dibaca khalayak, akan memunculkan fitnah karena isinya antara lain adalah berkaitan dengan hal-hal yang tidak masuk akal bagi kalangan umum.

Dalam buku itu, kata Tayadi, ada keterangan tentang Abah Luthfi yang lahir sudah dalam kondisi disunat, tentang masa mudanya yang hilang raib selama 21 hari karena dibersihkan hatinya oleh Nabi Khidzir, tentang awal mula diangkat sebagai waliyullah oleh Rasulullah, dan hal-hal gaib lain yang membuat kalangan wahabi akan mudah menyebut "bohong".

Buku itu sengaja ditulis tangan untuk menumbuhkan rasa cinta keluarga Habib Luthfi kepada Rasulullah Saw dan para wali Allah yang memang mendapatkan "tugas khusus" dari Nabi untuk menjaga alam raya ini agar digunakan semakmur-makmurnya bagi umat manusia, tanpa memandang suku, ras, agama dan kepercayaan lain.

Tugas waliyullah, kata Tayadi, memang berat. Mereka harus ikhlas melakukan tugas-tugas menjaga alam raya agar tidak mudah terjadi bencana dan kemiskinan. Di sinilah ia mengatakan kepada Duta Islam Nusantara kalau para wali adalah pewaris Nabi, mengingat awal mula diciptakannya alam raya adalah sebab akan diciptakannya Nabi Muhammad Saw, sebagaimana teks hadits Qudsy, "laulaka laulaka lama khalaqtul aflak/ andai tiada sebab karena engkau (Muhammad) tiada aku (Allah) menciptakan jagad raya ini". Para wali itulah yang menjaga alam raya ini, dengan caranya masing-masing.

Panjang lebar Habib Tayadi menjelaskan beberapa isi buku yang ia ingat. Sungguh informasinya sangat di luar jangkauan akal umum manusia, namun sangat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa cinta kepada para wali Allah. Tayadi mendapatkan ijin membaca buku tersebut karena ia sudah dianggap keluarga sendiri oleh Habib Luthfi.

Kedekatan Tayadi dengan Habib Luthfi nampaknya dibaca orang lain sebagai "the one man special". Orang-orang yang sowan kepada Abah Luthfi pun akhirnya bertanya, siapa dia. Tanpa pikir panjang, ketika ditanya begitu, Habib Luthfi hanya menjawab, "itu anak angkat saya namanya Habib Tayadi, orang Surabaya alumni Lirboyo."

Karena yang menjawab Habib Luthfi, orang langsung percaya saja dan lalu memanggilnya "Habib". Oleh sebab tidak berwatak selfie dan ingin populer, Tayadi tak mengumumkan jawaban "ngarang" Abah Luthfi tersebut. Dia tidak mau membantah perkataan Abah, juga tidak mengiyakan pertanyaan orang lain yang kepo dan penasaran.

Hanya saja Tayadi selalu menghindar jika ada yang bertanya langsung tentang sosok dirinya. Tujuannya ya memang agar dia tidak salting ditanya "lirboyo alumni tahun berapa", "gelar habibnya apa", dan "alamatnya di mana agar bisa sowan". Mengapa? Karena Tayadi sendiri memang bukan alumni Lirboyo dan bukan Habib asli.

Habib Luthfi ternyata punya maksud sendiri memanggil Tayadi dengan Habib. Hikmah yang didapat, omongan Tayadi akhirnya mudah dipercaya oleh jamaah Habib Luthfi beserta tamu yang hadir, sekelas habib sekalipun. Berkali-kali panitia acara pengajian yang mengundang Abah Luthfi hadir, sukses besar lewat "Habib Tayadi" ini.

Tayadi sangat dihormati di kalangan habaib dan juga santri serta jamaah Habib Luthfi. Namun ia tidak gila hormat dan tidak pernah menggunakan gelar habib-nya untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan habib. Karena dia popular disebut habib, ia justru mengaku kepada Duta Islam Nusantara bisa menjaga muru'ah dan akhlaq ala Rasulullah. Meski dari jalur ibu ia juga punya keturunan habib bergelar "bin Yahya" juga.

Cerita di atas adalah jawaban bagi mereka yang menuduh Habib Luthfi bin Yahya membuat blunder karena (konon) beliau memberi gelar habib kepada mereka yang tidak memiliki keturunan sebagai habib. Tayadi hanya murid Habib Luthfi yang husnudzan bahwa semua yang dikatakan gurunya pasti ada hikmah. Begitulah wali Allah mendidik akhlaq umat Kanjeng Nabi, tanpa qil (katanya-katanya) dan dalil. [Duta Islam Nusantara/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/bukan-habib-tapi-dipopulerkan-sebagai-habib-oleh-habib-luthfi.html

Senin, 29 Agustus 2011

Ya: Ortunya Rasul Menyembah Berhala (Musyrik). Titik! Bantah, Kafir! Titik Lagi

Duta Islam Nusantara - Disuguhi ratusan dalil segudang pun, para penikmat sebutan kafir dan kaum khawarij sekarang tidak akan mengubah tauhid dan imannya yang rempong. Setidaknya, itu terjadi di grup liar WhatsApp bernama "NKRI Harga Mati".

Grup yang pada Rabu (14/12/2016) kemarin beranggotakan 190 nomor tersebut sering membincang hal-hal khilafiyah yang mudah dituduh kafir, sesat, bid'ah dan macamnya. Perbincangan menjadi panas jika ada seorang member yang getol "membabi-babi" kan Ahok atau mengafirkan-ngafirkan saudara muslim, tanpa memperhatikan anggota lain yang beragama beda.

Ya: Ortunya Rasul Menyembah Berhala (Musyrik). Titik! Bantah, Kafir! Titik Lagi - Duta Islam Nusantara
Ya: Ortunya Rasul Menyembah Berhala (Musyrik). Titik! Bantah, Kafir! Titik Lagi - Duta Islam Nusantara


Ya: Ortunya Rasul Menyembah Berhala (Musyrik). Titik! Bantah, Kafir! Titik Lagi

Beberapa hari lalu, grup itu membincang soal status orang tua Nabi. Oleh seorang member bernomor ponsel 0838-7337-3446 (atas nama Ya), getol membantah kalau orang tua Nabi tidak kafir. "Ortunya menyembah berhala sampai wafat, tidak mengikuti ajaran Nabi Isa, tidak juga ajaran Ibrahim. Tidak juga masa fatrah, beriman dengan rasul nggak dengan sabdanya Abaka wa Abi finnar," tulis nomor tersebut.

Ortu Nabi disebut kafir Dilanjut lagi, "perkara syirik akbar seperti menyembah berhala karena orang itu bodoh, bahwa yang dilakukan itu syirik, bukan alasan di hadapan Allah," jawabnya merespon anggota lain yang membantah kalau orang tua Nabi tidak musyrik. Hanya pamannya Abu Jahal dan Abu Lahab yang musyrik. (Baca juga: Yang Berfatwa Ayah Ibu Nabi di Neraka Itu Kurangajar)

Duta Islam Nusantara

Karena musyrik, hubungan akidah didahulukan Si oknum pemilik nomor 0838-7337-3446 tersebut terus mencecar pendapat anggota lain dengan mengatakan kalau masa fatrah bukan alasan karena sudah ada dakwah rasul-rasul sebelumnya. "Sama seperti menetapkan hukum selain hukum Allah, orang itu menjadi kafir. Alasan dia tidak tahu kalau kalau berhukum selain hukum Allah itu kafir, itu bukan alasan," sanggahnya.

Duta Islam Nusantara

Orangtua rasul musyrik katanya

Berhukum selain Allah, kafir! Titik tidak ada alasan Orang yang ngotot menyatakan orangtua Nabi musyrik tersebut terus berargumen, pokoknya tidak boleh dan tidak ada dalil yang menyebutkan selain musyrik dan penyembah berhala. Alasan ortu Nabi menjaga ka'bah, menurutnya bukan alasan tepat dengan logika jagad manapun. Pokoknya tidak ada alasan. Silakan baca tulisan ngacaunya di screenshoot yang didapatkan Duta Islam Nusantara dari salah satu pembaca. (Baca juga: Dibuldoser, Disembunyikan (Terlarang), Beginilah Kondisi Makam Ibunda Nabi Sayyidah Aminah bin Wahab)

Orang musyrik juga menjaga kakbah. Begitulah iman orang yang sudah terkena virus beragama dengan mental anak tunggal. Maunya dibenarkan sendiri, yang lain harus salah. Jika benar, itu bukan alasan yang diterima akal. Senjata ampuhnya kaum khawarij ini biasanya membalik serangan, iman tidak? Kalau iman, harus percaya, walau dipaksa percaya orangtua Nabi musyrik, masuk neraka. Naudzubillah. Padahal, jumhur ulama menyatakan, orangtua Nabi hidup di masa fatrah (vakum dakwah).

Jika Anda ingin bergabung di grup tersebut, silakan kontak ke adminnya, 0819-885-782 atau 0812-8120-5007. Atau langsung join ke grup tersebut untuk melihat betapa kaum khawarij sudah meraja lela di bumi Nusantara ini. Ini link nya. NKRI HARGA MATI. Jika link tidak valid, silakan copas link ini: Follow this link to join my WhatsApp group: https://chat.whatsapp.com/LWfjeit0rzh3Pz4BEdgylMJoin group. Selamat menikmati perdebatan di dalamnya. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ya-ortunya-rasul-menyembah-berhala-dan-musyrik-bantah-kafir-titik.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock