Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Makin Dibenci, Habib Rizieq Lagi-Lagi Ditolak Hadir di Tanah NTB (Lombok)

Duta Islam Nusantara - Rencana kedatangan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mendapat penolakan. Penolakan disuarakan sejumlah elemen massa yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan.

Makin Dibenci, Habib Rizieq Lagi-Lagi Ditolak Hadir di Tanah NTB (Lombok)
Makin Dibenci, Habib Rizieq Lagi-Lagi Ditolak Hadir di Tanah NTB (Lombok)


Aksi penolakan ini diikuti ribuan massa yang dikoordinir Suhaimi bersama dengan Abdul Majid. Massa Aliansi Kebangsaan menggelar aksinya dengan mendatangi Mapolda NTB di jalan Langko dan mengakhiri aksinya di simpang empat jalan Udayana-Airlangga Mataram.

Dalam tuntutannya, Aliansi Kebangsaan meminta kepada Kapolri melalui Kapolda Nusa Tenggara Barat untuk menolak kedatangan Rizieq Shihab di bumi Nusa Tenggara Barat, karena dianggap banyak melakukan provokasi terhadap rakyat.

Selain itu massa juga meminta agar Polri dengan profesionalisme segera menuntaskan kasus-kasus yang dilakukan Rizieq Shihab. Massa juga menyampaikan agar negara segera hadir untuk membubarkan organisasi FPI.

Dalam orasinya juga ditegaskan Korlap Aksi Suhaimi, bahwa Aliansi Kebangsaan bukan menolak kedatangan orang untuk melakukan dakwah, namun yang ditolak adalah Rizieq Shihab. "Kita bukan menolak dakwah dan ulama namun menolak Rizik Shihab," ucapnya, Kamis (26/01/2017).

Penolakan itu juga ditegaskan karena pihak Polda NTB telah menerbitkan ijinnya. Massa menegaskan agar meninjua kembali dan bila perlu ijin dicabut.

Kedatangan ribuan massa Aliansi Kebangsaan itu ke Polda NTB juga dietgaskan, untuk memberikan pernyataan sikap dan tuntutan. "Sudah jelas NTB cinta damai dan adem, dan kita sudah nyaman hidup di NTB," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut massa juga menyerahkan tuntutan kepada pihak perwakilan Kapolda NTB yang sempat menemui massa aksi. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/makin-dibenci-habib-rizieq-lagi-lagi-ditolak-hadir-di-tanah-ntb-lombok.html

Jumat, 17 Februari 2017

Mbah Sahal: Kita Juga Tidak Tahu Apakah Allah Menerima atau Tidak Hasil Fatwa Itu (MUI)

 Duta Islam Nusantara - Banyak masyarakat awam yang tidak tahu menahu apa fungsi dan kedudukan fatwa yang telah dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI). Faktanya, sampai hari ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan MUI kerap kali menuai kontroversi.

Mbah Sahal: Kita Juga Tidak Tahu Apakah Allah Menerima atau Tidak Hasil Fatwa Itu (MUI)
Mbah Sahal: Kita Juga Tidak Tahu Apakah Allah Menerima atau Tidak Hasil Fatwa Itu (MUI)


Empat tahun silam, wartawan Tempo pernah mewawancarai almarhum KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, yang notabene pernah menjabat sebagai ketua MUI. Kiai Sahal menyatakan bahwa "Fatwa MUI itu bukan satu-satunya fatwa. MUI juga bukan lembaga operasional seperti NU atau Muhammadiyah, yang bisa menggerakkan anggotanya. Jadi, fatwa MUI tidak mengikat."

Berikut ini transkrip wawancara bersama KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz-Kajen-Pati, pada tanggal 30 Juli 2012, yang telah diterbitkan oleh Tempo edisi 22/41.

"Tak Perlu Fatwa Tentang Korupsi"

Selama Ramadan ini, pada pukul 8-10 pagi, ruang tamu dan teras rumah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz penuh sesak oleh santri dan masyarakat yang mengikuti ngaji pasaran. Ini adalah tradisi mengkaji kitab kuning di pesantren yang dibacakan oleh kiai. Hampir 400 orang mengikuti ngaji pasaran Kiai Sahal. Pada bulan puasa ini, yang dikaji adalah kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Ghazali.

Selama dua jam tanpa henti, kiai yang juga Rais Am Syuriah (ketua umum lembaga permusyawaratan) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu membaca kitab dan menerjemahkannya kata demi kata dalam bahasa Jawa. Suaranya masih lantang, meski sesungguhnya dalam beberapa tahun terakhir kesehatan kiai 75 tahun ini sering terganggu. Ngaji posonan tersebut juga disiarkan secara live streaming oleh situs resmi NU.

Sore hari selepas ashar, duduk di kursi malas di ruang tengah rumahnya, Kiai Sahal menghabiskan waktu menjelang berbuka sambil menerima tamu. Mengenakan baju lengan panjang abu-abu kotak-kotak, dipadu dengan sarung putih dan peci putih, kesehatan kiai yang dikenal dengan gagasan fiqh sosial ini terlihat menurun. Namun gaya bicara dan bahasa tubuhnya tetap tegas. Gaya bicara seperti ini juga yang muncul tatkala dia berbicara dengan Sohirin dan fotografer Budi Purwanto dari Tempo.

Mbah Sahal menyampaikan keprihatinannya atas kondisi umat Islam Indonesia, tentang intoleransi dan kekerasan, peran ulama, serta fatwa Majelis Ulama Indonesia. Namun dia enggan berbicara tentang politik. "Politik itu sensitif. Kita diskusi selain politik saja," ujarnya sambil merebahkan punggung pada sandaran kursi.

Islam di Indonesia belakangan terkesan garang karena tindakan beberapa organisasi kemasyarakatan yang mengatasnamakan Islam.

Sangat disayangkan. Mereka mengatasnamakan Islam tapi belum mengerti apa sesungguhnya Islam. Islam hanya dimaknai secara sepotong-sepotong. Saya menduga keberadaan mereka karena didorong oleh kepentingan tertentu, bisa kepentingan politik, ekonomi, dan sebagainya. Sebenarnya kelompok semacam itu sudah lama ada. Hanya, dulu tidak semencolok sekarang. Sebelumnya, keberadaannya tidak pernah dipikirkan.

Lalu kenapa para ulama besar tidak mengecam mereka kalau memang tidak setuju? Panggil pemimpinnya, minta mereka membubarkan diri.

Agak susah. Selama ada kepentingan tertentu yang mendukungnya, mereka akan tetap ada. Tapi, jangan khawatir, masyarakat saat ini cukup kritis dan bisa menilai mana yang betul-betul berjuang untuk agamanya, mana yang hanya bertindak untuk kepentingan pribadi.

Selain garang, umat Islam Indonesia belakangan terkesan tidak toleran. Tidak toleran pada agama lain, juga pada orang Islam sendiri yang berbeda paham.

Saya sudah lama berpikir dan prihatin akan hal ini. Tapi sesungguhnya masalah kerukunan antarumat beragama dan antarumat seagama itu terletak pada umatnya, bukan pada agamanya. Ajaran agamanya tetap bagus. Jadi, problemnya ada pada orangnya, bukan ajarannya.

Tentu saja begitu, tapi kenapa hal tersebut terjadi?

Gerakan yang mengarah pada intoleransi disebabkan oleh lemahnya pemahaman terhadap agama. Hal ini diperkuat oleh budaya setempat. Misalnya kasus yang menimpa penganut Syiah di Madura. Pangkal soalnya bukan ajaran agama, melainkan karena masalah keluarga dan kultur setempat yang memang keras.

Kalau soalnya adalah pemahaman agama yang lemah, bukannya di antara yang memerintahkan kekerasan itu justru habib dan ustad?

Intoleransi dan kekerasan hanya dilakukan oleh orang yang belum mampu memahami agama Islam secara utuh. Tidak ada kiai yang mudah menuduh seseorang kafir, karena mengafirkan orang lain tanpa alasan yang kuat juga dosa. Jangan sampai menyalahkan orang lain karena dilandasi rasa benci. Jangan pula mudah menyalahkan orang lain karena menuduh perbuatan orang lain tidak sesuai dengan Al-Quran dan hadis. Biasanya justru orang yang belum paham tentang Al-Quran dan hadislah yang mudah menyalahkan yang lain dan cenderung menyalahkan pihak-pihak yang tak sepaham dengannya.

Selain itu, ada beberapa pihak terjebak pada pemaksaan pemurnian ajaran Islam. Bagi mereka, Islam harus kembali pada Al-Quran dan hadis. Pertanyaannya, sejauh mana mereka memahami Al-Quran dan hadis.

Bagaimana dalam soal Ahmadiyah, yang kerap menjadi korban kekerasan?

Beberapa ulama menyarankan agar penganut Ahmadiyah keluar dari Islam, karena ajarannya dianggap menyimpang dari Islam. Jadi, Ahmadiyah menjadi agama sendiri. Tentunya pengikut Ahmadiyah enggan menerimanya. Yang penting adalah janganlah perbedaan pendapat itu berujung pada kekerasan, karena justru bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri yang rahmatan lil 'alamiin.

Selain soal intoleransi, apa problem terbesar umat di Indonesia?

Muslim di Indonesia memang terbesar di dunia. Sayangnya, masih sebatas kuantitas, belum kualitas. Belum ada usaha bersama untuk menciptakan umat yang lebih berkualitas.

Penyebab kualitas yang buruk?

Pendidikan. Kunci utama untuk memperbaiki kualitas adalah perbaikan pendidikan. Pendidikan yang tak hanya sesuai dengan kurikulum, tapi mengajari manusia menjadi pribadi yang utuh. Pendidikan di sekolah sekarang hanya mengejar kurikulum dan ijazah. Semestinya, tugas guru adalah mengajarkan sesuatu yang komprehensif.

Siapa yang salah?

Jangan salahkan orang lain, salahkanlah diri sendiri. Sekarang orang cenderung pada perilaku hubbu ad-dunya, yakni mengejar kemewahan dunia secara berlebihan. Karena sibuk mengejar kemewahan, kita melupakan pendidikan keluarga.

Apa pengaruh pendidikan yang buruk pada kualitas beragama?

Jelas berpengaruh. Orang kemudian beragama karena faktor budaya. Misalnya, orang kaya pergi haji dan umrah berkali-kali tapi dia tak pernah bersedekah bagi tetangganya yang fakir. Beragama hanya karena sanjungan orang, belum memahami esensi agama yang sesungguhnya. Jika agama dipahami secara benar, dan pendidikan disampaikan secara benar, kita tak akan terjebak pada krisis yang multidimensi.

Apakah lemahnya pemahaman agama itu artinya peran ulama juga melemah?

Di kampung-kampung, ulama tetap menjadi tokoh sentral. Kalau Anda lihat di daerah atau desa, ulama atau kiai sangat repot. Itu karena hampir semua urusan umat menjadi urusan kiai. Itu yang benar. Makanya tak benar jika ada anggapan ulama atau kiai hanya mengurusi ngaji. Memang tidak semua urusan bisa diselesaikan oleh kiai, karena ulama juga mempunyai keterbatasan.

Anda sendiri?

Selain mengurusi pendidikan, saya memikirkan perekonomian dan kesehatan masyarakat. Kami mendirikan bank perkreditan rakyat sebagai solusi permodalan masyarakat yang tidak memberatkan. Kami juga mendirikan rumah sakit. Jadi, idealnya kiai tak hanya memberikan pengajian, tapi juga harus terlibat menyelesaikan problem masyarakat.

Tapi, sebagai Ketua MUI, Anda tentu tahu banyak orang tak lagi menuruti fatwa yang dikeluarkan oleh ulama di organisasi itu.

Fatwa MUI itu bukan satu-satunya fatwa. MUI juga bukan lembaga operasional seperti NU atau Muhammadiyah, yang bisa menggerakkan anggotanya. Jadi, fatwa MUI tidak mengikat.

Kalau tidak mengikat, kenapa difatwakan?

Pertanyaannya, kenapa harus mengikat? Mengikat dan tidak itu soal keyakinan. Kita juga tidak tahu apakah Allah menerima atau tidak hasil fatwa itu, ha-ha-ha.… Jadi, fatwa MUI hanya bersifat imbauan moral.

Atau mungkin fatwa MUI kurang bergigi karena tidak menyentuh persoalan umat yang lebih penting. Misalnya, tak adanya fatwa tentang korupsi.

Tak perlu ada fatwa tentang korupsi. Sudah banyak yang memberi fatwa dan komentar mengenai bahaya korupsi. Kalau MUI mengeluarkan fatwa tentang korupsi, itu ketinggalan dan keterlaluan. Sama halnya MUI memberi fatwa tentang hukum mencuri. Mau dikatakan apa pun, maling ya tetap saja maling.

Fatwa MUI yang melarang pluralisme, sekularisme, dan liberalisme Islam juga mengundang banyak reaksi?

Plural adalah sunatullah yang tak bisa dihindari. Dengan pluralisme, kita banyak belajar. Tapi jangan terlalu plural. Sejak zaman Nabi, plural itu beda, tapi kalau terlalu beda juga tidak baik. Jangan lupa, sebelum kita berbicara banyak tentang pluralisme, fondasi kita tentang pemahaman agama dan kebangsaan sudah harus kokoh. Jika tidak, kita akan terbawa arus yang kebablasan. Seperti halnya demokrasi itu bagus, tapi kalau terlalu liberal, tidak bagus.

Omong-omong, Pak Kiai kemarin mulai puasa hari apa?

Saya tak pernah menentukan sendiri. Saya selalu ikut pemerintah. Enak, ada yang tanggung jawab.

KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz Tempat dan tanggal lahir: Pati, Jawa Tengah, 17 Desember 1937 Pendidikan: Pesantren Bendo, Kediri, Jawa Timur, Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Tiga tahun belajar di Mekah. Pada 1951-1953 mengikuti kursus ilmu umum. Selain sebagai Pengasuh Pesantren Maslakhul Huda Kajen-Pati, semasa hidupnya, Kiai Sahal Penah Menjabat sebagai Rais Am PB NU dan Ketua MUI. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mbah-sahal-kita-juga-tidak-tahu-apakah-allah-menerima-atau-tidak-hasil-fatwa-mui.html

Selasa, 02 Juli 2013

Pemerintah Akui 13 Perguruan Tinggi Aswaja Berbasis Kitab Kuning

Duta Islam Nusantara - Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin secara resmi menerbitkan surat keputusan (SK) bagi 13 Ma'had 'Aly atau perguruan tinggi pesantren yang berbasis kitab kuning atau kitab karangan ulama yang digunakan di pesantren.

SK bagi 13 perguruan tinggi pesantren itu diserahkan Menteri Agama kepada 13 perwakilan Ma'had 'Aly saat Wisuda Mahasantri ke-3 Ma'had 'Aly Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin, 30 Mei 2016.

Pemerintah Akui 13 Perguruan Tinggi Aswaja Berbasis Kitab Kuning - Duta Islam Nusantara
Pemerintah Akui 13 Perguruan Tinggi Aswaja Berbasis Kitab Kuning - Duta Islam Nusantara


Pemerintah Akui 13 Perguruan Tinggi Aswaja Berbasis Kitab Kuning

"Hari ini, kami secara resmi menerbitkan SK untuk 13 Ma'had 'Aly yang secara resmi diakui oleh negara," kata Lukman saat orasi ilmiah, Senin 30 Mei 2016.

Lukman mengatakan pengakuan negara atas perguruan tinggi pesantren berbasis kitab kuning itu sebenarnya tindak lanjut atas upaya Menteri Agama sebelumnya. "Saya hanya di ujungnya saja. Yang jauh lebih berjasa tentu Menteri Agama terdahulu yang telah memperjuangkan ini sejak lama," tutur dia.

Penerbitan SK tersebut sebagai tindak lanjut atas Peraturan Menteri Agama Nomor 71 Tahun 2015 tentang Ma'had 'Aly oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Lukman menuturkan bahwa Ma'had 'Aly adalah perguruan tinggi keagamaan Islam yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning yang diselenggarakan oleh pondok pesantren.

Duta Islam Nusantara

Kitab kuning yang dimaksud adalah kitab ke-Islaman berbahasa Arab yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren. Tujuan Ma'had 'Aly adalah menciptakan lulusan yang ahli dalam bidang ilmu agama Islam dan mengembangkan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning.

Lukman mengatakan Mahad Aly adalah wujud pelembagaan sistemik tradisi intelektual pesantren tingkat tinggi yang keberadaannya melekat pada pendidikan pesantren. "Secara kelembagaan, posisi Mahad Aly adalah jenjang Pendidikan Tinggi Keagamaan pada jalur Pendidikan Diniyah Formal,” tuturnya.

Duta Islam Nusantara

Untuk membangun keunggulan dengan integritas akademik yang tinggi, Lukman memastikan setiap Ma'had 'Aly hanya diberikan izin penyelenggaraan untuk satu program studi yang jadi spesialisasi. Lebih dari itu, program studi dimaksud juga akan dikembangkan menjadi pusat kajian keilmuan ke-Islaman dan kepesantrenan sekaligus.

“Kementerian Agama memiliki komitmen kuat membangun pusat-pusat unggulan ini. Ma'had 'Aly akan tetap ditempatkan sebagai lembaga khusus yang ada pada pesantren untuk kaderisasi ulama yang mumpuni dan berintegritas,” katanya.

Adapun ke-13 Ma'had 'Aly yang telah mengantongi izin pendirian dan nomor statistik dari Menteri agama tersebut antara lain: 1) Ma'had 'Aly Saidusshiddiqiyyah Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta, dengan program spesialisasi Sejarah dan Peradaban Islam;

2) Ma'had 'Aly Syekh Ibrahim Al Jambi, Pondok Pesantren Al As'ad, Kota Jambi, Jambi, dengan program spesialisasi Fiqh dan Ushul Fiqh;

3) Ma'had 'Aly Sumatera Thawalib Parabek, Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Agam, Sumatera Barat, dengan program spesialisasi Fiqh dan Ushul Fiqh;

4) Ma'had 'Aly MUDI Mesjid Raya, Pondok Pesantren Ma'hadul 'Ulum Ad Diniyyah Al Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya, Bireun, Nanggroe Aceh Darussalam, dengan program spesialisasi Fiqh dan Ushul Fiqh;

5) Ma'had 'Aly As'adiyah, Pondok Pesantren As’adiyah, Sengkang, Sulawesi Selatan, dengan program spesialisasi Tafsir dan Ilmu Tafsir;

6) Ma'had 'Aly Rasyidiyah Khalidiyah, Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah, Amuntai, Kalimantan Selatan, dengan program spesialisasi Aqidah dan Filsafat Islam;

7) Ma'had 'Aly Salafiyah Syafi’iyah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Situbondo, Jawa Timur, dengan program spesialisasi Fiqh dan Ushul Fiqh;

8) Ma'had 'Aly Hasyim Asy'ary, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dengan program spesialisasi Hadits dan Ilmu Hadits;

9) Ma'had 'Aly At-Tarmasi, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, dengan program spesialisasi Fiqh dan Ushul Fiqh;

10) Ma'had 'Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh, Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, dengan program spesialisasi Fiqh dan Ushul Fiqh;

11) Ma'had 'Aly PP Iqna ath-Thalibin, Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, dengan program spesialisasi Tasawwuf dan Tarekat;

12) Ma'had 'Aly Al Hikamussalafiyah, Pondok Pesantren Madrasah Hikamussalafiyah (MHS), Cirebon, Jawa Barat, dengan program spesialisasi Fiqh dan Ushul Fiqh;

13) Ma'had 'Aly Miftahul Huda, Pondok Pesantren Manonjaya, Ciamis, Jawa Barat, dengan program spesialisasi Aqidah dan FIlsafat Islam.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/pemerintah-akui-13-perguruan-tinggi-aswaja-berbasis-kitab-kuning.html

Minggu, 16 Juni 2013

Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa

Duta Islam Nusantara - Ini adalah contoh khutbah Idul Adha dalam bahasa Jawa yang bisa digunakan untuk memberikan keterangan seputar Qurban dan sejarahnya. Anda bisa download khutbah Idul Adha ini dengan klik tanda print atau PDF di bawah postingan.

Ooleh Moch. Lukluil Maknun

Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa - Duta Islam Nusantara
Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa - Duta Islam Nusantara


Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ.. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، قال الله تعالى: { ‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ} (سورة يونس ءاية 58)

Duta Islam Nusantara

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah..

Alhamdulillah, kanti rahmat ipun, Gusti Allah kersa njagi keimanan lan kaislaman kita, sahingga kita tetep dados umat Islam lan saget nindaaken ibadah salat Idul Adha 1437 H wonten dinten menika.

Shalawat ugi salam mugi tansah kunjukdumateng junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ugi lumeber dumateng keluarganipun, para sahabat, para tabi’in lan tabi’ut tabi’in, serta dumaten sinten kemawon ingkang ngikuti pentunjuk ipun Kanjeng Nabi dumugi yaumul qiyamah.

Duta Islam Nusantara

Maasyiral Muslimin rahimakumullah

Idul Adha ingkang dipun pengeti wonten tanggal 10 dhulhijjah punika saget dipun sebat kanti nami Idul Hajj lan Idun Nahr. Idul Hajj utawi hari raya haji amargi terkait kalian kaum muslimin ingkang sami nindaaken ibadah haji, inggih rukun Islam kaping gangsal. Ibadah haji menika salah setunggalipun ibadah ingkang agung sanget minangka karunia saking Allah.

Ananging mboten sedaya umat muslim saget nggayuh kranten pinten-pinten sebab. Katah tiang ingkang kacukupan sangu, sehat fisik lan rohani, nanging mboten estu-estu niat tindak haji sahingga mboten saget mireng pengundang-ungdangipun Gusti Allah. Kosok wangsulipun ugi katah umat muslim ingkang niat lan kepengen sanget saget nindaaken haji anangin terhambat awit mboten mampu sangunipun, utawi saweg nandang sakit sahingga mboten saget nindaaken haji.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah..

Idul Adha kasebat ugi Idun Nahr artosipun hari raya penyembelihan (Hari raya Kurban). Perkawis menika kangge mengeti ujian berat ingkang dipun alami Nabi Ibrahim. Kanti kesabaran ugi ketabahan Nabi Ibrahim ingdalem ngadepi mapinten-pinten ujian lan cubo nglantaraken panjenenganipun nampi kahurmatan dados “Khalilullah” (kekasih Allah).

Kanti mengeti kisah Nabi Ibrahim sarto keluarga, saget kita ngertosi contoh keluarga teladan indgdalem babakan ketatan makhluk dumaten Khalik. Nabi Ibrahim dipun uji mboten anggadahi putra ngantos dangu sanget. Salajeng saksampunipun ingkang putra lahir, Nabi Ibrahim dipun perintah Allah kapurih ninggalaken isteri lan ingkang putra bayi wonten padang tandus.

Nalika igkang putra radi ageng, Nabi Ibrahim diuji malih supados ngorbanaken lan nyerahaken ingkang putra dateng Gusti Allah. Minangka Nabi, Ibrahim inggih tetep anggadahi sifat kados manungso biasanipun, wonten lebetipun manah ugi sempat anggadahi raos ragu bade nindaaken perintah ipun Allah menika, ananging wonten wekdal makaten isteri lan ingkang putra tansah maringi dukungan lan kemantepan kage nglampahi keputusan ipun Allah. Wonten mrikilah peran penting ipun keluarga salih, inggih menika saged maringi dukungan anggotanipun.

Nabi Ibrahimsampun maringi contoh teladan dateng kita, menawi kita kepengen anggadahi putra ingkang saleh, mangka tiang sepah iun kedah ngelampahi lan maringi conto kesalihan langkung rumiyin. Hasil didikan ingkan kados mekaten insyallah saged ndadosaken tabungan tiang sepah mbenjang wonten akhirat.

Saking Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ngendika:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“menawi setunggal mukmin seda, kaputus sedaya amalipun kejawi tigang perkawis: sedekah jariyah, ilmu ingkang dimanfaataken, lan doa saking anak saleh.” (HR. Muslim no. 1631)

Ingkang kaping tiga saking amal ingkang mboten kaputus inggih menika nggadahi waladun shalih, anak yang shalih. Kanti ninggalaken keturunan ingkang salih, sae igkang purun ndungakaken punapa mboten, kesalehan keturunan menika sampun saget nambahi pahala ingkang ngalir terus kagem tiang sepahipun. Pramila ampun ngantos kita lirwaaken putra-putri kita nyemplung wonten kehidupan lan pergaulan bebas ingkang tebih saking agami lan namung nuruti nafsu.

Salah setunggalipun riwayat, wonten bapak-bapak ingkang sowan dumateng Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab ra, madulaken putranipun ingkang durhaka. Piyambake ngeturaken menawi putrane asring ngucap lan tumindak kasar dumateng tiang sepahipun. Salajeng Sayyidina Umar nimbali putra kasebat lan paring duko.

“Ciloko kowe, opo kowe ora ngerteni yen duroko marang wong tuwo iku termasuk dosa gede lan ngundang murka saking Allah?”

“Nuwun sewu, Amiral Mukminin, ampun keseso ngadili kawula. Menawi bapak anggadahi hak dumateng putra, putra la nggih gadah hak ugi dumateng bapak?” si anak tanglet makaten.

“iya bener, anak ugi nduwe hak”

“lajeng punapa hak anak dateng bapak?”

“hak anak maring bapak ono telu. Siji, sayugjane bapak milih calon ibu kang apik kanggo calon anake, kapindo, bapak kudune maringi asmo kang apik kanggo anake, telu, bapak kewajiban ngajari Alquran (lan isine) kanggo anakke”.

Lajeng putra menika matur: “Duh Amiral mukminin, bapak kula mboten maringi hak ipun dumateng kula. Piyambake mboten milih ibu ingkang sae kangge kula, ibu kula inggih budak awon kulit hitam ingkang ditumbas regi kalilh dirham saking pasar, lajeng dipun gauli hingga ngandut kula. Sak sampune kula dipun lahiraken, bapak kula maringi asma Ju’al (si hitam ingkang awon praupan ipun). Bapak kula ugi mboten nate ngajari kula maos lan ngapal Alquran senajan setunggal ayat.”

Salajeng Sayyidina Umar noleh dumateng si bapak, nuli ngendikan: “Sliramu wes duroko marang anakmu sakdurunge anakmu duroko marang sliramu. Wes ngaliho seko kene.”

Pramila penting sanget kagem tiang sepah ngoptimalaken amal saleh supados angggaahi katurunan ingkang saleh, urip kanti rizki ingkang halal, lan dermawan dumateng sedulur umat muslim. Kaitan ipun asma ingkang sae, kita ngemuti kedadosan akhir-akhir menika, katah tiang sepah maringi asma ingkang salah dumateng putra, kados dene maringi asma putra kanti asmanipun Allah, utawi asma ingkang mboten dipun ngertosi artosipun, malah-malah naminipun setan dipun damel. Wonten malih nami asal comot saking bahasa asing ingkang mboten tamtu langkung sae tinimbang asma saking bahasa jawi amargi gengsi lan sak piturutipun.

Isteri dan anak saleh menika sanes mligi peparing saking gusti Allah. Allah maringi ruang dateng hambanipun kapurih berusaha lan berdoa supados kaparingan keluarga lan katurunan ingkang saleh. Katurun an ingkang saleh mboten kacithak saking bangku sekolah dasar dumugi perguruan tinggi kemawon, ananging sekolah ingkang langkung utami lan langkung aurat inggih menika pendidikan wonten lingkungan keluarga lan doa saking tiyang sepah kekalih. Mugi kia saget neladani keluarga Nabi Ibrahim, lan mugiha kita termasuk golonganipun tiang-tiang saleh lan kaparingan keluarga saleh, amin.

Jamaah Idul Adha rahimakumullah.

Gegayutan kalian kurban lan sembelihan, kadangkala wonten pangaggep ingkang madaaken antarane kurban kaliyan zakat. Inggih memang wonten mirip ipun wonten salah setunggal bagian, inggih menika wonten nilai sosial, inggih wekdal daging kurban dipun bagiaken dumateng para fakir miskin. Ananging tujuan utama penyembelihan menika sanes wonten sisi sosial belaka. Dados tetep benten senajan sami-sami ibadah kanti nggunaaken harta benda (ibadah maliyah).

Ugi wonten kasus malih wonten masyarakat ingkang nggabungaken zakat kalian kurban. Misal, Pak Polan wonten setunggal tahun ipun kewajiban ngedalaken zakat 5 juta, lajeng separo saking 5 juta dipun tumbasaken hewan kurban, kanti panganggep bilih kekalih ipun sami-sami dipun paringaken dumateng fakir miskin.

Pinangka jawaban kasus menika, perlu dipun enget bilih bondo zakat menika sanes milik ipun Pak Polan malih selaku muzakki, nangin sampun dados hak ipun asnaf wolu ingkang berhak nampi zakat. Menawi Pak Polan ngginaaken sepalih bondo zakat menika kangge tumbas hewan kurban, berarti piyambak ipun nasarufaken bondo ingkang sanes hak ipun. Lajeng menawi hewan kurban wau disembelih, lajeng Pak Polan nderek maem daging ipun berarti piyambak e ugi maem bondo zakat ingkang berarti haram.

Menawi dipenggalih saestu, bedanipun kurban lan zakat menika katah, mboten anamung wonten sisi teknis, nanging ugi wonten prinsip dasar. Pramila pinangka umat muslim, kita perlu mangertosi bedanipun supados ibadah ingkang kita lampahi leres menggah syariat. Dene beda kurban lan zakat antawis ipun:

1. Kurban hukumipun sunnah muakkad, zakat wajib

2. Kurban luwih nuju dateng ibadah ritual, menawi zakat ibadah sosial

3. Ingkang nampi kurban benten kaliyaningkang nampi zakat

4. Kurban kedah berbentuk hewan ingkang disembelih

5. Kurban mboten nyariataken amil

6. Amil Kurban mboten angsal dipun upah mawi daging kurban

7. Kurban mboten ngagem nisab, haul, lan kadar

8. Waktu pelaksanaan ugi benten

Jamaah idul adha rahimakumullah

Menawi taksih katah beda lan pembahasan antawisipun kurban kaliyan zakat, ananging khatib cekapaken khutbah menika. Saestu khatib mboten maksud ngendon-ngendoni semangat para jamaah kangge ngedalaken kurban, nanging mangga sami merhatiaken malih kewajiban kita babakan zakat, ugi infak lan sadakah.

Makaten mugi wonten gina manfaatipun

بسم الله الرحمن الرحيم قد افلح من تزكي و ذكر اسم ربه فصلي بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّه هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

KHUTBAH TSANI

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر.

الحمد لله أفاض نعمه علينا وأعظم. وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. أسبغ نعمه علينا ظاهرها وباطنها وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. رسول اصطفاه على جميع البريات. ملكهاوإنسها وجنّها. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أهل الكمال فى بقاع الأرض بدوها وقراها, بلدانها وهدنها.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد. كما صليت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم, وبارك على محمد وعلى أل محمد, كماباركت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضى الحاجات. اللهم وفقنا لعمل صالح يبقى نفعه على ممر الدهور. وجنبنا من النواهى وأعمال هى تبور. اللهم أصلح ولاة أمورنا. وبارك لنا فى علومنا وأعمالنا. اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا. اللهم اجعلنا نعظم شكرك. ونتبع ذكرك ووصيتك. ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب. ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار.سبحانك رب العزة عما يصفون. و سلام علي المرسلين. والحمد لله رب العالمين

عباد الله ! إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر. يعذكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله يذكركم واشكروا على نعمه يزدكم .ولذكر الله أكبر

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/khutbah-idul-adha-dalam-bahasa-jawa.html

Minggu, 07 Agustus 2011

Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia

Jombang, Duta Islam Nusantara. Ujian dalam menjaga integritas bangsa semakin berat lantaran banyaknya kepentingan yang melingkupi. Baik kepentingan investasi, kekuasaan serta motivasi yang lain. Mereka seakan tidak terlalu peduli dengan ancaman terhadap keutuhan NKRI. Padahal kemajemukan adalah sebuah pilihan yang tidak terhindarkan.

Demikian disampaikan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang, saat menjadi pembicara dalam diskusi "Mengungkap Penyebab dan Penyelesaian Konflik Antar Agama di Ambon" yang digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang, Ahad (29/9).

Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


Gubernur Sulut: Tidak Ada NU, Tak Ada Indonesia

"Kemajemukan itu sunnatullah, harus diterima, majemuk ada dimana-mana," katanya. Belajar dari kasus kerusuhan Ambon dan Maluku beberapa tahun silam, Sarundajang meminta semua pihak tidak menggunakan simbol agama untuk memuluskan langkahnya meraih tujuan. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan politik. Menurutnya, penggunaan simbol agama dalam tujuan politik bisa membahayakan keutuhan bangsa. "Jangan menggunakan agama sebagai alat politik, ini berbahaya," ujarnya.

Duta Islam Nusantara

Sarundajang mengungkapkan bahwa akar penyebab konflik di Maluku dan Maluku Utara, antara lain persoalan kesenjangan sosial, perebutan sumberdaya alam, serta pertikaian elit politik dan birokrasi. Faktor-faktor tersebut kemudian dibungkus menjadi konflik agama. "Sebenarnya tidak ada konflik agama, tetapi provokasi yang kuat dari sejumlah fihak mengarahkan konflik itu sebagai konflik agama," terangnya.

Dia menuturkan, saat diminta untuk memediasi konflik di Maluku dan Maluku Utara, dirinya selalu memegang keyakinan bahwa konflik itu bukan konflik berlatar agama. "Prinsip saya bahwa suku, etnis, ras dan agama boleh berbeda, iman dan keyakinan boleh berbeda. tetapi semuanya adalah satu, yaitu satu bangsa Indonesia," kata Surandajang.

Duta Islam Nusantara

Keberagaman suku, ras, agama dan etnis merupakan sesuatu yang ada sejak lahirnya bangsa Indonesia dan hal itu harus dijaga sebab itu merupakan ciri kebesaran bangsa Indonesia. Menurut Surandajang, kebersamaan dalam keberagaman yang kini tercipta di Indonesia, tidak lepas dari peran-peran tokoh Nahdlatul Ulama (NU), seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Bisri Syansuri yang sedari awal memperjuangkan asas Pancasila sebagai dasar negara.

Negara Pancasila, lanjutnya, memperjuangkaan kesetaraan antar semua golongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Negara Pancasila menolak diktator mayoritas dan tirani minoritas, katanya. Saya mempelajari betul bagaimana perjuangan tokoh-tokoh pendiri NU. Pandangan saya, tidak ada NU, tidak ada ini Republik," lanjut Surandajang.

Diskusi ini menghadirkan pembicara yakni, DR. Sinyo Harry Sarundajang, mantan PJ. Gubernur Maluku Utara, DR. H. Muhammad at Tamimy, mantan wakil panglima perang Laskar Jihad, DR. H. Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang, serta KH. Sholahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Acara diikuti sejumlah akademisi, mahasiswa dan para santri sejumlah pondok pesantren di Jombang. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47386/gubernur-sulut-tidak-ada-nu-tak-ada-indonesia

Sabtu, 05 Desember 2009

Declaration of Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama has accomplished meetings on International Summit of the Moderate Islamic Leaders (Isomil), which is held in Jakarta, Indonesia. After intensive consultation and discussion with many experts who join this conference, Nahdlatul Ulama proclaim Declaration of Nahdlatul Ulama as follows:

1. Nahdlatul Ulama offers concept and experience of Islam Nusantara to the world as good example of Islamic paradigm, that religion can support civilization by respecting and acknowledging existed culture and beholding peace and harmony.

Declaration of Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Declaration of Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)


Declaration of Nahdlatul Ulama

2. Nahdlatul Ulama does not intend to export Islam Nusantara to other worlds regions but invite Moslem communities to remember to the beauty and dynamics that flourish from the meetings of history, combination between spirit and teachings of Islam with local cultures in the whole world, which bring out great civilization, as in Nusantara or Indonesia Archipelago.

Duta Islam Nusantara

3. Islam Nusantara is not religion nor new schools but the practice of Islam which develops naturally in the middle of Nusantara culture and does not offense with Islamic Sharia as understood, taught and practiced by Ahlussunnah wal Jamaah or Sunni followers in the world.

4. In the view of Islam Nusantara, there is dispute between religion and nationalism. Hubbul wathan minal iman; love country is part of faith. Those who do not have nationality will not have homeland. Those who do not have homeland will not have history.

Duta Islam Nusantara

5. In the view of Islam Nusantara, Islam does not command its beholders to conquer the world, but push them to promote good behavior (akhlaqul karimah), because it is the only way Islam becomes mercy to the universe (rahmatan lilalamin).

6. Islam Nusantara unswervinglyfollows and lives basic Islamic teachings and values, including tawassuth (moderate), tawazun (harmony), tasammuh (grace, affection not violence and coercion) and itidal (justice).

7. As the biggest group of Ahlussunnah wal Jamaah in the world, Nahdlatul Ulama shares sympathy to the Moslem or non-Moslem society who suffer religious extremism, terror, conflict in the middle east and wave of Islamophobia in West.

8. Nahdlatul Ulama see that certain model of Islamic interpretation is most influential factor in spreading of religious extremism within Moslem)

9. In decades, some governments in Middle East have exploited religious differences and enmity history between schools, without considering the effects to the humanity, by blowing sectarian issues. Those countries hunt for soft power (opinion influence) and hard power (political, economy, military influence) also export their conflict to entire world. The sectarian propagandas purposefully support religious extremism and push the spreading of terrorism to the world).

10. Religious spreading extremism and terrorism create the wave of Islamophobia within non-Moslem).

11. Some governments in the Middle East build their political legitimacy from religious interpretation to support religious extremism and terrors. The threat of religious extremism and terrors can be overcome only if those governments want to open their mind and build alternative sources for their political legitimacy.

12. Nahdlatul Ulama ready to help this effort.

13. Economy and political injustice and mass poverty in Islamic World contribute the flourish of religious extremism and terrorism. Those reality always used as propaganda for extremism and terrorism, to legitimate and strengthen promised future illusion. So, this injustice and poverty problem cannot be separated from root of extremism and terrorism).

14. Although conflict that rise countless victims in Middle East seems cannot be ended, we cannot ignore them. Nahdlatul Ulama demand Indonesian government to actively take role to seek problem solving for conflicts in the Middle East.

15. Nahdlatul Ulama make call to everyone who has good intention either from all religion or nationality to join the effort to establish global consensus not to politicizing Islam, and marginalize those who intend to exploiting Islam to hurt others.

16. Nahdlatul Ulama will struggle to consolidate Ahlussunnah wal Jamaah followers for the sake of the circumstances where Islam and Moslem become conveyor of mercy and contribute to the welfare of human being.

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68247/declaration-of-nahdlatul-ulama

Sabtu, 04 Juli 2009

(Kafir) Terorisme Bersumber dari Pendangkalan (Esai Alm. Gus Dur)

Duta Islam Nusantara - Pada Sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr.Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani.

Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a’la al-kuffar ruhama baynahum).

Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi muballigh?

(Kafir) Terorisme Bersumber dari Pendangkalan (Esai Alm. Gus Dur) - Duta Islam Nusantara
(Kafir) Terorisme Bersumber dari Pendangkalan (Esai Alm. Gus Dur) - Duta Islam Nusantara


(Kafir) Terorisme Bersumber dari Pendangkalan (Esai Alm. Gus Dur)

Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif.

Duta Islam Nusantara

Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya(Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, “taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan” (Athi u’ allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan- mengikuti perintah tersebut.

Duta Islam Nusantara

Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis menganggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.

***

Tindak kekerasan -walaupun atas nama agama- dinyatakan oleh siapapun dan dimanapun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron.

Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penulis dan Rabai yang menyatakan “berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa”. Pengurus Besar NU mengutus Wakil Ra’is Aam, KH Sahal Mahfudz untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudz meminta kata-kata “tidak berdosa” diubah menjadi “tidak bersalah”.

Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron.

Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu , penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia –bahkan menurut statistik sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai “tindak kejahatan/ kriminal” yang harus dihukum.

Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrarah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum.

Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bi maqashidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurutnya, “hukum Barat” dapat dijadikan “hukum Islam”, jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (ghanimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hukum pidana Barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).

***

Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut, jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri.

Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.

Apapun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam.

Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.

Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari “responsi yang benar” atas tantangan berat yang dihadapi?

Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi.

Jelas, dengan demikian Islam adalah “agama kedamaian” bukannya “agama kekerasan”. Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan -atas nama Islam- yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan? [Duta Islam Nusantara]

Ket:

Esai ini pernah dimuat di Duta Masyarakat, 31 Desember 2002 dengan judul "Bersumber Dari Pendangkalan".

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/terorisme-bersumber-dari-pendangkalan-esai-gus-dur.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock