Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Apakah yang Membuat Indomie Goreng Itu Masuk Surga Kiai?

Duta Islam Nusantara - Seusai menjalankan salat Tahajud, seorang kiai mendadak ingin keluar dari langgar, mencari udara segar. Di depan langgar, dia melihat salah satu santrinya sedang merokok dengan muka yang tampak serius memikirkan sesuatu.

Apakah yang Membuat Indomie Goreng Itu Masuk Surga Kiai?
Apakah yang Membuat Indomie Goreng Itu Masuk Surga Kiai?


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”

Si Santri njenggirat kaget hingga rokoknya terjatuh. “Nggak, Pak Yai… Hanya memikirkan hal yang tidak terlalu penting.” ujarnya sambil mengambil rokoknya dari tanah.

“Kalau aku boleh tahu, hal apakah itu?”

Si Santri diam sejenak, lalu membuka suara. “a nu, Pak Yai… Apakah kira-kira orang yang membuat Indomie goreng itu masuk surga atau tidak ya?”

“Lha memang kenapa?”

“Bayangkan, Pak Yai… Dengan harga yang cukup murah, Indomie goreng memberi kenikmatan luar biasa. Santri-santri yang habis mengaji, bisa mengisi perut mereka, menikmati lezatnya Indomie goreng. Mahasiswa-mahasiswa yang duitnya menipis, seusai mengerjakan tugas, bisa bergembira dengan cara yang sederhana: makan Indomie goreng. Orang-orang yang usai bermunajat dan berzikir di tengah malam, bisa makin menikmati karunia Allah dengan cara yang tak rumit: cukup pergi ke dapur, 10 menit kemudian sudah bisa menghadap seporsi Indomie goreng. Banyak orang yang sedih menjadi gembira dengan tidak mengeluarkan banyak biaya. Indomie goreng dinikmati oleh semua kalangan, baik para orang kaya sampai orang tak berpunya, dari para pejabat sampai rakyat jelata. Perut mereka kenyang, hati pun gembira. Bukankah itu mulia, Pak Yai?” (Baca juga: Akibat Durhaka Kepada Kiai, Santri Ini Tak Punya Taji)

Sang Kiai diam. Dia lalu duduk di samping santri kinasihnya itu.

“Apakah para pencipta kegembiraan-kegembiraan kecil semacam itu, bisa masuk surga, Pak Yai?”

“Pertanyaanmu terlalu berat, Nak. Surga itu hak Tuhan. Jangan turut campur soal itu…” jawab Sang Kiai sambil menghirup nafas panjang. Wajahnya memandang langit yang agak mendung. Udara malam menjelang pagi kali ini begitu segar dengan angin yang sembribit. Suasana tintrim.

“Mohon maaf, Pak Yai. Seperti yang sejak awal saya matur, saya hanya sedang memikirkan hal yang tidak penting. Hanya pikiran melantur…”

“Tidak baik punya pikiran melantur. Pikiran yang terlalu banyak melantur itu menyiakan dua karunia Gusti Allah yang sangat penting: pikiran itu sendiri, dan waktu.”

“Inggih, Pak Yai. Mohon maaf…”

“Jangan meminta maaf kepadaku…”

“Inggih, Pak Yai…”

“Gunakanlah waktumu untuk beraktivitas yang nyata…”

“Baik, Pak Yai…” Si Santri itu lalu bangkit, menyalami kiainya. Tapi Sang Kiai segera bertanya, “Lho, kamu mau ke mana?”

“Menggunakan waktu sebaik mungkin, Pak Yai.”

“Mau melakukan apa?”

“Melakukan hal nyata, Pak Yai. Mungkin membaca kitab. Atau mungkin berzikir…”

“Itu nanti saja sehabis salat Subuh…”

Si Santri kikuk. Agak bingung. Kepalanya menunduk. Sepasang tangannya berusaha membetulkan sarungnya agar tidak melotrok.

“Kamu masih punya stok Indomie goreng?”

Ditanya seperti itu, Si Santri agak grogi. “Mmm… masih, Pak Yai. Masih banyak. Ukuran biasa ada. Ukuran jumbo juga ada.”

“Kalau kamu berkenan, bolehlah kamu bikinkan aku Indomie goreng.”

Wajah Si Santri tampak terkejut tapi sekaligus sumringah. “Tentu saja akan saya buatkan, Pak Yai!”

Lalu Santri itu menyat hendak pergi bergegas.

“Eh, tunggu dulu…”

“Ya, Pak Yai…”

“Punya telor?”

“Punya, Pak Yai! Masih ada kalau cuma 5 butir.”

“Jangan banyak-banyak, dua butir saja. Satu diceplok, satu lagi didadar.”

“Baik, Pak Yai!”

“O ya, kasih irisan cabe ya…”

“Sendika dhawuh, Pak Yai. Pedas, Pak Yai?”

Sang Kiai menganggukkan kepala, lalu dia berkata, “O ya, jangan lupa Indomie gorengnya dobel ya…”

“Indomie jumbo dobel, Pak Yai?”

“Tidak usah. Terlalu kenyang dan berlebihan itu tidak baik. Cukup yang ukuran biasa saja tapi dobel.”

“Siap, Pak Yai!”

“Dan jangan lupa, minta udud-mu satu. Untuk kuisap nanti sehabis makan Indomie. Kebetulan udud-ku habis.”

“Pasti, Pak Yai.” Segera Santri itu berkelebat pergi ke dapur pesantren dengan hati yang gembira sekaligus berpikir keras. Sudah hampir 5 tahun dia nyantri di pesantren kecil ini, belum pernah sekali pun dia mendapatkan kehormatan. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/apakah-yang-membuat-indomie-goreng-itu-masuk-surga-kiai.html

Innalillah, Nadhom Jurumiyah Diubah Minhum

Tahrif Wahabi Talafi Terhadap Kitab Nadhom Jurumiyah

أحرقت عبارات التوسل وغيرها من العبارات التي تخالف عقائد الوهابية من علماء المسلمين على مختلف مذاهبهم في كتب مختلف العلوم قلوب الوهابية Di Kitab: "Mukhtaliful 'Ulum Qulubil Wahabiyah.

Innalillah, Nadhom Jurumiyah Diubah Minhum
Innalillah, Nadhom Jurumiyah Diubah Minhum


"Aku Merubah Masalah Tawasul, yg berbeda dgn Aqidah wahabi, dari Sebagian ulama Muslimin atas Perbedaan dari Madzhab wahabi.

☆☆☆

Lagi-lagi tangan Tanduk Syetan komplotan Wahabi Talafi nejd Gentayangan.. Perbuatan Bejad Mereka suka merubah-ubah kitab karya ulama shaleh terdahulu.....

Kitab Nadzhom Jurumiyah (kitab nahwu/tata bahasa arab) juga tidak Lepas dari Tahrif komplotan wahabi. Suatu kejahatan pelanggaran Hak Cipta Kekayaan Intelektual (HAKI) dilakukan oleh komplotan yang mengaku paling Murni Aqidah & Paling Nyunnah.

Komplotan wahabi yang mentahrif kitab ini adalah:

محمد رفيق الونشريسي الجزائري

أحمد بن عمر الحازمي

محمد بن أحمد جَدّو

Ternyata Bait ke 4 terakhir dari kitab nadzom Ajjurumiyah mereka tahrif.

(lihat gambar dibawah)

Mereka mengganti kata ” بجاه ” dengan kata ” بحب ”.

Inilah Bait Nadzhom dimanipulasi:

جعلها الله لكل مبتدي **** دائمة النفع بحب أحمد

”Semoga Allah Menjadikan Kitab selalu dalam kemanfaatan bagi para mubtadi (orang yang baru belajar) dengan kecintaan kepada Ahmad (Nabi Muhammad)”

Dan Inilah Bait Nadzhom Aslinya:

جعلها الله لكل مبتدي **** دائمة النفع بجاه أحمد

”Semoga Allah menjadikan selalu manfaat bagi orang yang baru belajar dengan kemuliaan (martabat) Nabi Muhammad”.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

◎ DALIH/ALASAN DARI PEMBOHONG WAHABI TALAFI

قال ذلك الوهابي في الشرح : ثم سأل (المؤلف) الله عز و جل أن يجعل نظمه هذا دائم النفع للمبتدئين في علم النحو و قد توسل إلى الله سبحانه و تعالى في الأصل : بجاه محمد صلى الله عليه و سلم فقــــــــــــــــــــــــال

Telah berkata Wahabi dalam Syarah Kitab Itu :

Kemudian meminta (pengarang kitab) kepada Allah, supaya nadhomanya di jadikan selalu bermanfaat bagi orang2 yang baru belajar dalam ilmu nahwu,

Dan ia (si pengarang kitab) bertawasul (mengambil perantara) kepada Allah. ● Padahal dalam text aslinya adalah:

Dengang Kemuliaan Nabi muhammad SAW.

ثم قال (الأستاذ الونشريسي) : و معلوم ما في هذا التوسل من مخالفة لما كان عليه سلفنا الصالح رضوان الله عليهم جميعا فحذفته و أبدلته بتوسل مشروع و هو حب النبي صلى الله عليه و سلم و راجع في ذلك كتاب العلامة المحدث الفقيه محمد ناصر الدين الألباني رحمه الله التوسل أنواعه و أحكامه ) فإنه فريد في بابه. انتهى.

Kemudian berkata Si Wahabi Talafi (الأستاذ الونشريسي) dan telah di ketahui apa yang ada dalam tawasul ini adalah dari menyalahi apa yang ada pada ulama salaf,

Maka Aku menghilangkanya dan menggantinya dengan tawasul yang di syariatkan yaitu dg mencintai nabi Muhammad saw, dan sebagai pengembalian hukum dalam masalah itu adalah kitab karya Al-alamah Ahli hadits Ahli fiqih yaitu Yai Muhammad nasiruddin Albani

(kitab tawasul dan hukum2nya),

Dalam bab tersendiri.

———————————————————————————

◎ DALIH ALASAN SI PEMBOHONG WAHABI TALAFI JUGA BISA DILIHAT DALAM MAKTAB SYAMILAH ◎

المكتبة الشاملة.

المكتبة الشاملة الرئيسية تنزيل المكتبة مستودع الكتب شرح البرنامج راسلنا

الشرح المختصر على نظم الآجرومية

(جَعَلَهَا اللَّهُ لِكُلِّ مُبْتَدِي) جعلها الله أي المنظومة لكل مبتدي وهو من أخذ وشرع في مسائل الفن مبتدي ومتوسط ومنتهي هذه كانت سنة عند أهل العلم وهدمت الآن فضيعت الطلاب فصار الطلاب الآن مشتركون وكذلك في الدروس فالمبتدئ هو الذي أخذ وشرع في مسائل الفن متوسط هو الذي تصور المسائل بأدلتها فإن فهم واستطاع أن يرجح حينئذ هو المنتهي.

(دَائِمَةَ النَّفْعِ) , النفع ضد الضر يقال من نفع بكذا من انتفع به والاسم المنفعة أي النفع الدائم يعنى مستمرة النفع (بحب أحمد) يعنى توسل إلى الله تعالى بأن يجعلها لكل مبتدئ دائمة النفع وهذا توسل بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وهو توسل مشروع وفي الأصل (بجاه أحمد) هكذا عبارة المصنف لكني أبدلتها؛ لأن الأول لا يحفظ، البدعة لا تكرر = يعنى يجب إصلاح البيت ما تريد إصلاحه تجاوزه واحفظ ما بعده وأما أنك تقول بجاه أحمد صباح مساء!!! وتحفظ! نقول هذا غط تصير كالببغاء أي نعم.

بحب أحمد ما أردت إصلاحه حينئذ تجاوزه لا تحفظه والأصل (بجاه أحمد) وهو توسل محدث وحبه عليه الصلاة والسلام عمل صالح والتوسل بالأعمال الصالحة جائز فإذا أصلحنا البيت كما ترى.

(صلى عليه ربنا وسلما) يعنى هذا محمد صلى الله عليه وسلم صلى عليه عرفنا معنى الصلاة ربنا فاعل صلى عليه على أحمد وسلم هنا سلم الناظم في الخاتمة ولم يسلم في الابتداء إما أنه بناء على أنه لا كراهة وهو الصحيح وإما أنه اكتفاء بالخاتمة يعنى ترك السلام في الأول مقدمة بناء على أنه سوف يسلم في الخاتمة وسلما الألف للإطلاق وهو التحية على قول وآله يعنى على آله صلى عليه وعلى آله عرفنا معنى الآل وصحبه تكرما منه جلى وعلى.

وبهذا انتهى كلام المصنف رحمه الله تعالى في الأصل والخاتمة والحمد لله أولا وآخرا وهذا تعليق مختصر تجاوزنا فيه التعليل بما أمكن والله أعلم وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

● Intinya Wahabi Talafi mengatakan...

Mengganti بجاه ke بحب itu dibolehkan, Karena itu Suatu Kesalahan.....

Dan untuk menjauhkan Pencari ilmu dari Bid'ah.

● Pesan ana:

Berhati-hatilah dalam membeli kitab.

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/12/innalillah-nadhom-jurumiyah-diubah.html

Rabu, 25 Januari 2017

Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai

Jombang, Duta Islam Nusantara. Kesiapan Panitia Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) PCNU Jombang akan diuji hari ini. Target kepemilikan kartu identitas hingga angka setengah juta adalah tantangan yang akan dibuktikan panitia.

Peluncuran program Kartanu untuk wilayah Jombang dimulai hari ini, Ahad (10/3). Menempati gedung serba guna KH Hasbullah Said di area Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, rangkaian seremonial diselenggarakan.

Pada acara pembukaan, akan diputarkan rekaman sosialisasi dari Kartanu ini, tandas Didik Firdiyanto yang dipercaya sebagai ketua panitia. Rekaman itu adalah sebagai juklak dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)


Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai

Untuk bisa menggenjot target dari Kartanu untuk daerah MWC Jombang Kota, pihak panitia telah menyiapkan empat titik lokasi pemotretan. yang pertama adalah di Tambakberas ini, juga di daerah Sengon, Tunggorono serta Kantor PCNU Jombang, katanya kepada Duta Islam Nusantara.

Duta Islam Nusantara

Diharapkan dengan lebih banyak titik tersebut, antusias warga untuk memiliki kartu identitas akan semakin mudah terlayani. Waktu pemotretan juga akan berlangsung sejak jam 8 pagi hingga jam 9 malam, lanjutnya.

Sosialisasi yang secara silmultan dilakukan panitia dengan dukungan penuh para aktifis di PCNU semua tingkatan, lembaga, badan otonom serta lajnah cukup memberikan harapan bahwa target panitia akan terlampaui. Kami juga akan melakukan jemput bola kepada sejumlah warga yang belum terlayani program ini, tandasnya.

Duta Islam Nusantara

Memang khususu untuk di Jombang, ada beberapa keistimewaan bagi para pemegang Kartanu. Ada sejumlah keringanan biaya saat menggunakan fasilitas di sejumlah rumah sakit NU, kata Afandi, Sekretaris Panitia Kartanu. Rumah sakit yang telah menyatakan kesediaan adalah Rumah Sakit Unipdu Medika Peterongan, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Jombang, serta Rumah Sakit Ibu dan Anak Muslimat Jombang.

Bahkan Direktur Utama Rumah Sakit Unipdu Medika, DR Zulfikar Asad berharap akan lebih banyak lagi manfaat yang akan diterima warga NU saat memiliki kartu identitas. Inilah yang perlu dipikirkan oleh para pengusaha, pemilik lembaga pendidikan dan sejenisnya, katanya. Jangan hanya memanfaatkan warga NU namun tidak memberikan manfaat kepada mereka, tandas Gus Ufik.

Program Kartanu di Jombang akan berlangsung dari tanggal 10 Maret hingga 8 Juli mendatang. Seluruh MWC akan mendapatkan giliran pemotretan Kartanu yang difasilitasi panitia dari PCNU Jombang.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43006/pembuatan-kartanu-jombang-dimulai

Duta Islam Nusantara

Kamis, 06 Oktober 2016

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

Duta Islam Nusantara – Situs nu garis lurus itu penuh konten beracun. Mengganggap sebelah mata dan menyebutnya guyon atau semacam mencari perhatian lebih kepada khalayak agar dianggap sebagai kelompok alumni pondok pesantren –sebagaimana selama ini diucapkan oleh pendukungnya, paling lurus menegakkan ahlussunnah, itu salah besar.

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang
Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang


Di Pontianak, ketika KH Ma’ruf Khozin melaksanakan safari dakwah, hadirin dalam acara sering ada yang mengangkat tangan menanyakan apa dan siapa itu nu garus lurus (selanjutnya kami sebut GGL: Gerombolan Garis Lurus, agar tidak mencatut nama NU). Demikian keterangan yang didapatkan Duta Islam.

Apa artinya? Nama GGL sudah masuk dalam alam pikiran banyak orang dan menjadi semacam noktah hitam bagi NU secara jamiyyah dan struktural. Hadirnya GGL di dunia maya yang enteng menyebarkan propaganda untuk menjauhkan warga nahdliyyin dari ulama dan habaib NU tanpa membuka identitas mereka kepada publik, jelas merupakan cara-cara culas yang biasa dilakukan oleh kalangan teroris ISIS.

Perlu diketahui, cara ISIS menyebarkan propagandanya bukan melalui masjid, lembaga pendidikan atau titik-titik startegis yang biasa dikunjungi banyak orang. Website dan media sosial dijadikan alat propaganda paling efektif karena mampu menyebar tanpa batas dan berbiaya murah. Selain tentu karena ISIS tidak punya basis massa yang diakui oleh negara. Modal sosial mereka memang media sosial. 

Langkah yang ditempuh ISIS inilah yang dikloning oleh GGL. Kalau mengaku pejuang aswaja yang paling lurus sedunia, mereka tak perlu malu-malu kucing menampakkan diri. Justru transparansi identitas itulah yang tidak akan membuat banyak orang bertanya, sebagaimana terjadi di beberapa daerah laiknya di Pontianak tadi.

Berawal dari Grup Caci Maki Serapat apapun bangkai ditutup, akan tercium juga. GGL pun gerah setelah ada salah seorang bernama Moch Zainul Abidin As-Syuja'i membongkar data admin pasca digelar sebuah acara di Cirebon, yang mengatasnamakan aktivis Aswaja. Dalam acar itu, para aktivis mulai terang-terangan berani membeberkan nama-nama yang selama ini dikenal Zain, panggilan Zainul Abidin As-Sujai’i, sebagai admin grup Brigade Aswaja, yakni grup WhatsApp para pengelola dan muqollidin situs nu garis lurus.

Kepada Duta Islam Nusantara, Zain tidak mengenal sama sekali orang-orang di grup tersebut. Dia mengaku nomornya diseret masuk tanpa konfirmasi kepadanya. Sudah sejak lama Zain nongkrong di grup yang menurutnya penuh dengan caci-maki kepada kyai dan ulama di Nahdlatul Ulama.

Bahkan, pasca publikasi identitas admin, Zain Suja’i dibully dalam grup. . Duta Islam Nusantara mendapatkan screen shoot caci maki anggota GGL ini. Oleh Syaraf, salah satu anggota grup, Zain disebut ngegustad, pura-pura jadi gus dan ustadz.

“Ilmunya mentok ke nasi goreng. Malam jadi germo di WhastApp saling kirim-kiriman gambar telanjang nggak pantes. Siang ceramah di WhatsApp sok suci dan sok ngustadz. Tulisannya belepotan jauh dari ranah ilmu. Jamane wong munafik bertopeng di dunia maya. Di dunia nyata, gorengan nggak laku-laku,” tulis Syaraf. (Kami simpan foto si Syaraf ini).

Soal Zain adalah tukang nasi goreng memang diakui. Ia berjualan di Jakarta Barat. Tapi kalau menuduh ilmunya Zain hanya sampai nasi goreng dan munafik serta menyerapahi gorengan tidak laku-laku apalagi menyebut germo, baginya itu sudah keterlaluan, tidak nyambung dan lepas dari etika santri.

Dalam percakapan grup khusus mencaci Zain itu, admin lain ada yang menyebut “asu”, “babi”, “monyet”, “najis”, dan lainnya. Adam, admin grup, pendiri Grup Brigade Aswaja, menanyakan di grup: “Sebenarnya dia itu siapa sih? Asu atau monyet? Saya bingung sendiri,” tulis Adam.

Dengan enteng, pertanyaan itu dijawab oleh Naquib, anggota lain di grup: “Babi mas.” Naquib ini yang menulis: “Waduh…dia sibuk cari tulang ke SAS (Said Aqil Siraj, red) nggak sempet ganti nama. Ya…namanya juga asuuuu….”.

Anggota itu gayeng dan terkesan senang membully Zain di grup karena di sana nama Zain diganti Asu Pa’i. “Makanya, rupa, nama dan hatinya sama (anjing, asu, red). Ngalah-ngalahi assu,” tulis Naguib, yang langsung ditanggapi oleh Faiz, anggota GGL lain yang ikutan mencaci: “Masih ada waktu untuk tobat. Daripada jadi assu,” tulisnya.

Menanggapi percakapan penuh caci maki itu, seorang aktivis Aswaja NU, Arief, mengaku miris. “Wah, ini lebih mirip grup kumpulnya para begundal daripada grup santri. Nggak pantes blas kelompok ini namanya disandarkan dengan nama besar NU. Su'ul adab semua,” tulisnya, dikutip Duta Islam Nusantara (17/04).

Kelimpungan, anggota grup tersebut kembali melancarkan fitnah dengan meme. Status David Fuadi, seorang yang dulu pernah menghidupkan situs sarkub.com, dijadikan bahan mementahkan Zain as-Suja’i. Menurut orang yang di kalangan GGL dipanggil KH David Fuadi itu, Zain adalah orang yang tidak punya ilmu agama.

Ustadz Hasbullah, dalam meme yang beredar itu juga menulis kalau tulisan-tulisan Sujai’i itu bukan dari tulisannya sendiri. “Bisa jadi syujai hanya atas nama saja. Sebab saya segrup dengan Syujai. Kerjaanya hanya kirim gambar porno,” tuduh ustadz.

Tuduhan-tuduhan semacam ini, menurut Zain, mudah keluar di grup yang ia sebut kenthir (kemayu) itu. “Ada Group kenthir khusus para Admin Group WA Aswaja. Di sana memang kalau kenthir suka selingan kirim Gambar Porno. Nah dari sanalah Fitnah ini beredar,” jelas Zain.

Jika Anda berakal sehat, etika macam apakah yang layak disematkan kepada kelompok GGL itu? Bahasa apakah yang mudah keluar dari “santri” GGL itu? Bahasa pondok pesantren mana yang menghalalkan saudaranya sendiri disebut anjing, babi, monyet, najis, germo dan munafik? Ajaran Qanun Asasi NU sebelah mana yang memerintahkan umat Islam mencaci maki dengan sebutan binatang untuk saudaranya muslim?

Kepada Duta Islam Nusantara, Zain memang jualan nasi goreng. Tapi ia juga santri di sebuah majelis ta’lim yang banyak orang tahu. Ia menunjukkan bukti bahwa dia rutin di majelis ta’lim. Namun tidak berkenan ditulis.

Yang pasti, kelompok GGL memasukkan nomornya ke grup karena nomor yang ia pegang ada dimana-mana. Dikenal sebagai penggerak aswaja. Duta Islam menyimpan buktinya. Zain As-Suja’i itu orang biasa yang dicaci-maki oleh kelompok yang mengaku santri di ujung sana. Duh Gusti... [Duta Islam Nusantara/luqman segaf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/bocor-percakapan-grup-garis-lurus-penuh-bahasa-binatang.html

Minggu, 09 September 2012

Calon Wakil Gubernur pun Ziarah Makam Gus Dur

Jombang, Duta Islam Nusantara. Makam Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih menjadi magnet bagi semua orang, mulai rakyat hingga pejabat tidak kecuali kalangan aparat hingga politisi. Pun begitu calon wakil gubernur DKI pendamping, Alex Nurdin, Nono Sampono yang juga mantan wakil Paspamres nampak melakukan ziarah.

"Ini ziarah biasa, karena saya sangat dekat dengan Gus Dur. Saat beliau menjadi presiden, saya menjabat Wakil Paspampres," ujarnya usai berziarah bersama Pengasuh PP Tebuireng KH Sholahudin Wahid, Rabu (9/5).

Calon Wakil Gubernur pun Ziarah Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Wakil Gubernur pun Ziarah Makam Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


Calon Wakil Gubernur pun Ziarah Makam Gus Dur

Menurut Calon Gubernur dari Partai Golkar dan PPP ini, semangat Gus Dur dalam menerima keberagaman dan pluralisme sangat cocok untuk dilanjutkan bagi pemimpin DKI Jakarta.

"Tidak hanya di Jakarta sebenarnya, tapi di Indonesia semnagat itu harus menjadi pegangan bagi para peimpin," ujarnya menjawab wartawan.

Duta Islam Nusantara

Karenannya, dirinya akan berusaha menjalankan semangat presiden RI ke-4 itu jika terpilih menjadi wakil gubernur DKI Jakarta.

"Keberagaman Jakarta membutuhkan resep kerukunan. Dan selama ini, tokoh yang sangat konsisten dengan keberagaman dan kerukunan adalah almarhum Gus Dur," seraya mengatakan dengan resep kerukunan itu, "maka kelompok-kelompok yang selama ini termarginalkan bisa lebih diperhatikan."

Duta Islam Nusantara

Sementara itu Pengasuh PP Tebuireng KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengatakan, kunjungan mantan Waka Paspampres ke Tebuireng hanya untuk silaturrahmi dan ziarah ke makam Gus Dur dan kakeknya.

"Tidak ada agenda atau minta restu, hanya ziarah biasa," ujarnya.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muslim Abdurrahman

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/37833/calon-wakil-gubernur-pun-ziarah-makam-gus-dur

Duta Islam Nusantara

Rabu, 23 Februari 2011

Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia

Duta Islam Nusantara - Ketika Syeikh Muhammad Alawi al-Maliki al-Hasani dan rombongan ulama lainnya berziarah ke Makam Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau diberikan kassyaf (penglihatan) oleh Allah bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Di belakang Nabi Muhammad SAW, terlihat banyak sekali orang-orang yang berkerumun.

Ketika ditanya oleh Syeikh Maliki, "Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?", Rasulullah menjawab, "mereka adalah umatku yang aku sangat cintai." Terlihat, diantara sekumpulan orang yang banyak itu, ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya.

Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia - Duta Islam Nusantara
Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia - Duta Islam Nusantara


Rasullullah Sangat Mencintai Bangsa Indonesia

Kemudian Syeikh Maliki bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?". Rasul menjawab, "mereka adalah Bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku cintai mereka."

Baca juga: Rasulullah Mengatakan, Tolong Islam Aswaja ini Baca Hijrah ke Indonesia

Duta Islam Nusantara

Syeikh Maliki menangis dan terkejut, lalu keluar dan bertanya kepada Jamaah, "mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia." Shollu 'alan Nabiy Muhammad! Banggalah jadi umat Rasul dari Indonesia. Jangan peduli mereka yang menyebutnya bid'ah atas maulid. [Duta Islam Nusantara]

Duta Islam Nusantara

Keterangan: dikutip dari ceramah Prof. KH Syekh Muhyidin Abdul Qadir al-Manafy

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/rasullullah-sangat-mencintai-bangsa-indonesia.html

Rabu, 29 Desember 2010

Meniru Para Penggila Nabi Muhammad

Duta Islam Nusantara - Yang paling keren Sayidina Abdullah Bin Amr Bin Ash. Ketika ayahnya berperang dengan Sayidina Ali, ijtihadnya mengatakan bahwa dia harus bergabung dengan Ali, tapi Ali menegur begini: bukankah Rasul SAW pernah berkata padamu secara khusus “taatilah kedua orang tuamu”.

Meniru Para Penggila Nabi Muhammad
Meniru Para Penggila Nabi Muhammad


Akhirnya Abdullah megikuti saran imam Ali, tapi dia tidak mau angkat senjata, dia ikut pasukan ayahnya dibarisan paling belakang hanya untuk mengikuti kata-kata Nabi, yang walaupun secara konteks bukan disini tempatnya, tapi manusia level Abadillah Arbaah dan level Imam Sayyidina Ali tahu arti dari keberkahan kalam nabawiyah, butuh rasa untuk mencapai tahap ini, dan ini tidak berlaku untuk umum.

Sayyidina Ibnu Umar disebut si gila Muhammad karena mengikuti Nabi Muhammad dalam segalanya. Pakaiannya seperti pakaian Nabi, rumah seperti rumah Nabi, segala sisi baik lahir maupun batin beliau mengikuti Nabi. Bahkan ketika mengendarai kuda, ia berusaha melewati jalan yang dilalui Nabi, di tempat Nabi berhenti beliau berhenti. Tanpa sebab? Iya tanpa sebab! Hanya karena Nabi pernah berhenti di situ.

Pernah suatu kali beliau menunduk tanpa alasan kecuali karena Nabi pernah menunduk di situ, dan panah melewati kepalanya, beliau selamat. Ini masalah rasa, tidak semua orang bisa masuk ke mazhab rasa sepeerti ini.

Di zaman ini, banyak para penggila Nabi Muhammad yang aku jumpai, Habib Umar disebut Syeikh Albuty orang paling gila dengan Nabi Muhammad. Syeikh Albuthy mengungkapkan bahwa Habib Umar kemana-mana bawa tikar, bahkan jika tidur dihotel beliau tidur diatas lantai dengan tikar, hanya untuk mengikuti kekasihnya.

Pernah suatu hari Syeikh Buthy melihat Habib Umar menaiki bak mandi karena kerannya melawan arah kiblat, dan beliau ingin menghadap kiblat karena perintah Rasul. Sebagian mungkin mengatakan, "itu kan sunnah, lagian konteks perkataan Nabi bukan seperti itu," lagi-lagi aku mengatakan ini masalah rasa bung, masalah cinta. Yang belum punya rasa atau berkumpul dengan pecinta, jelas kurang memahami masalah ini.

Syeikh Syukri Luhafy, seorang Abdal Syam lebih keren lagi. Pernah ketika ada acara hadrah shalawat Syaziliyah, aku melihatnya sedang sakit berat, bahkan setengah sadar. Tapi beliau datang dengan selimut ke masjid karena di situ ada majelis shalawat. Beliau duduk di sudut masjid sambil menikmati majelis shalawat, terlalu maksa? Ini masalah rasa bung, beberapa orang di dunia ini akan mati bila sedetik tidak melihat muhammad SAW.

Syeikh Samir Annas, yang kharismatik dan pelit bicara, ada satu cara untuk memancingnya berbicara. Tanyakan saja tentang Nabi Muhammad, beliau akan berbicara, dan menjadi orang lain yang sangat ramah. Mereka itu adalah orang gila Muhammad. Tak perlu kita berbicara akhlak nubuwah pada orang-orang ini, luar dalam mereka sudah muhammad.

Jika aku tidak bisa mencintai seperti mereka, jangan jadikan aku penghalang cinta mereka, aku tahu ini masalah rasa. Beberapa orang di dunia akan mati jika satu detik tanpa Muhammad, ilal habib khuzuny. Selamat datang rabiul awal, semoga engkau menjadi rabi fi qulubina, shollu alan nabi! [Duta Islam Nusantara]

Fauzan Inzaghi, santri Universitas Syaikh Ahmad Kaftaro, Damaskus, Suriah

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/meniru-para-penggila-nabi-muhammad.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock