Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NU. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Kivlan Zen Dimanfaatkan Untuk Skenario Kerusuhan Indonesia?

Duta Islam Nusantara - Isu kebangkitan komunisme atau PKI kembali menghangat usai diadakan simposium nasional yang membahas tragedi kemanusiaan 1965. Pihak-pihak yang diduga terlibat dalam tragedi kemanusiaan 1965 dan sesudahnya segera melakukan reaksi dengan menggelar simposiun tandingan. Kegiatan simposium tandingan ini diselenggarakan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) dan sejumlah ormas radikal yang mengaku menjunjung tinggi Pancasila.

Kivlan Zen Dimanfaatkan Untuk Skenario Kerusuhan Indonesia?
Kivlan Zen Dimanfaatkan Untuk Skenario Kerusuhan Indonesia?


Pancasila dipersepsikan sebagai ideologi negara yang terancam keberadaannya oleh ideologi komunis atau PKI. Kebangkitan komunisme dan PKI merupakan lagu lama yang senantiasa akan diputar ulang oleh pihak-pihak yang berkepentingan menyembunyikan fakta-fakta kekejaman dan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada 1965-1966.

Padahal, pemerintah Jokowi memiliki maksud dan tujuan agar bangsa Indonesia tidak terus dibebani masalah di masa lalu, menyangkut terjadinya pelanggaran hak asasi manusia pada 1965-1966. Para jenderal-jenderal purnawirawan Angkatan Darat seharusnya membantu memulihkan nama baik Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Penyelesaian tragedi kemanusiaan 1965-1966 demi kebaikan bangsa dan negara amat penting di mata masyarakat internasional supaya Indonesia tidak dituduh sebagai bangsa tak beradab karena menutup-nutupi pembantaian massal.

Para purnawirawan TNI AD dan ormas-ormas radikal ini seharusnya sadar akan perkembangan globalisasi, ilmu pengetahuan, teknologi informasi serta komunikasi. Di dunia ini sudah tidak ada tempat bersembunyi bahkan untuk menghapus jejak hitam di masa lalu. Kondisi saat ini bukan seperti era Perang Dingin dimana berbagai kejahatan kemanusiaan bisa ditutup-tutupi.

Sebagai contoh, Kekalifahan Turki Ottoman yang melakukan pembantain massal pada rakyat Armenia pada 1915 dimana korban tewas mencapai sekitar 1,5 juta. Jerman, Perancis, Rusia dan Brasil merupakan negara-negara yang mengakui secara resmi terjadinya pembantaian massal Turki kepada rakyat sipil Armenia. Meskipun kejadiannya seabad yang lalu, pemerintah Turki tidak bisa lari kemana-mana atas tuduhan ini.

Demikian juga Amerika Serikat (AS), keterlibatan Badan Intelejen Amerika Serikat CIA dalam pembunuhan massal di Amerika Latin seperti Guatemala pada 1954 menewaskan 200.000 orang dan di Haiti pada 1959 yang menewaskan sekitar 100.000 orang. Pembunuhan massal itu dilakukan CIA dengan cara memperalat dan mendanai kelompok militer yang dipimpin diktaktor yang didukung AS. Operasi rahasia ini bertujuan menumpas orang-orang komunis di Guatemala dan Haiti.

Apa yang terjadi di Guatemala dan Haiti itu mirip yang terjadi di Indonesia dimana TNI AD dijadikan alat AS untuk membunuh orang-orang yang dituding PKI atau pengikut Soekarno. CIA, Kedubes AS dan oknum-oknum militer menyusun skenario kudeta dengan cara mengkambinghitamkan PKI dan para pendukung Soekarno. Lalu setelah PKI dilumpuhkan maka dibentuk rezim militer Orde Baru Soeharto yang kemudian didukung penuh oleh AS.

Skenario Amerika Isu komunisme atau PKI akan selalu digunakan AS dan militer untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah yang dipilih secara demokratis. Indonesia yang memilih Jokowi sebagai presiden secara demokratis juga tidak luput dari ancaman skenario ini. AS akan menyiapkan skenario penggulingan kekuasaan baik dengan cara memicu kekerasan berdarah dan “kudeta konstitusional”.

Di Indonesia, kedua praktik penggulingan kekuasaan ini sudah pernah dilakukan. Pada masa Soekarno dilakukan kudeta merangkak yang dipimpin Soeharto dengan membunuh 600 ribu hingga 3 juta orang. Sementara pada masa Gus Dur dilakukan kudeta konstitusional dengan cara pemakzulan Gus Dur oleh Amien Rais, Akbar Tanjung dan sejumlah jenderal TNI AD. AS mendalangi dua kudeta di Indonesia karena kedua pemimpin ini tidak mau tunduk dan ingin mewujudkan kemandirian bangsa.

Pemerintah Jokowi juga harus berhati-hati dengan skenario kudeta ataupun tindak kekacauan yang dirancang oleh Amerika Serikat selaku “The Invisible Hand”. Jokowi telah mendekati China dan Rusia agar berinvestasi di Indonesia. Kunjungan Jokowi ke Rusia dan penyelenggaraan pertemuan tingkat tinggi ASEAN-Rusia menunjukkan Indonesia tidak ingin didikte oleh AS selaku superpower.

Selain itu, kesepakatan antara Indonesia-Rusia atas jual beli alutsista seperti pesawat tempur Sukhoi-35 dan kapal perang akan membuat marah AS. Jokowi juga ingin menggandeng perusahaan BUMN Rusia Rosneft dan Rusal agar Indonesia bisa membuka kilang minyak baru dan tidak sekedar mengekspor bahan mentah bouksit. AS berkepentingan Indonesia hanya menjadi eksportir bahan mentah sehingga tetap bisa didikte dan diatur-atur.

Jika Indonesia bisa membangun banyak kilang minyak baru dan mampu mengekspor barang jadi maka perekonomian Indonesia lebih mandiri sehingga Indonesia tidak mudah didikte oleh negara manapun. Indonesia juga mengundang investor China dan Rusia agar tidak hanya tergantung dengan negara-negara Barat saja.

Kekacauan AS tampaknya akan berupaya memicu konflik SARA ataupun menjadikan komunisme sebagai kambing hitam jika Indonesia ingin mewujudkan kemandirian ekonomi dan enggan didikte. Dari zaman Soekarno hingga era reformasi polanya tidak berubah, yakni memicu ketegangan agama dan rasial. Ekskalasi ketegangan diciptakan untuk mempertajam konflik, setelah memanas dicari momentum yang tepat untuk memicu konflik berdarah.

Momentum hari besar agama atau hari-hari yang dinilai memiliki makna historis bagi bangsa Indonesia akan dijadikan waktu yang teat membuat chaos atau kekacauan di masyarakat. Isu SARA adalah bensin paling ampuh untuk membakar kemarahan dan amuk massa. Ini semua dilakukan agar Indonesia tidak pernah berkembang menjadi negara yang kuat dan bersatu padu.

Sepak terjang mantan Jenderal TNI AD Kivlan Zen yang terus menerus memprovokasi kebencian pada PKI menjadi indikasi bahwa skenario ini mungkin sedang dijalankan. Kivlan adalah seorang jenderal purnawirawan TNI AD ang pernah mengenyam pendidikan/pelatihan di Advance Georgia, AS (1982). Ia bertindak sebagai corong atau melakukan propaganda dengan tujuan mempertajam konflik di masyarakat lewat pernyataan-pernyataan kontroversial tentang PKI.

Ia mengatakan PKI telah berdiri dan beranggotakan 15 juta orang yang dipimpin Wahyu Setiaji. Rumor atau isu seperti ini sengaja ditebarkan untuk mendidihkan kemarahan masyarakat. Tujuan akhirnya adalah memicu konflik dan kekacauan di masyarakat.

Maka bukanlah suatu kebetulan jika Kivlan Zen berpidato menggebu-gebu di pertemuan Umat Islam Solo untuk menentang ancaman bahaya komunisme beberapa hari yang lalu. Pidato di Solo ini bernuansa politis karena ingin menyampaikan pesan bahwa Solo dulunya merupakan markas PKI. Panggung yang digelar untuk rapat akbar ini di depan gereja dan saat ini Solo juga dipimpin seorang walikota non-muslim menunjukkan Kivlan ingin memicu konflik SARA.

Kivlan Zen akan terus berupaya memprovokasi dan mengadu domba kelompok-kelompok masyarakat dengan tujuan akhir ingin menciptakan konflik dan memecah belah masyarakat. Isu SARA dan komunisme merupakan bensin yang siap disulut di tengah-tengah masyarakat. Jika terjadi kerusuhan maka PKI atau komunis akan kembali dijadikan kambing hitam.

Belajar dari pengalaman sejarah, maka kelompok-kelompok ormas agama radikal dan ormas dengan kelakuan preman akan menjadi pelaksana atau pemicu terjadinya kerusuhan SARA atau komunisme. Misalnya dengan melakukan pembakaran dan perusakan rumah tempat ibadah. Oknum-oknum militer fasis ini akan bermain mata dengan ormas-ormas radikal melakukan propaganda dan penghasutan untuk memanaskan suasana.

Hal-hal seperti inilah yang harus segera diantisipasi baik oleh masyarakat itu sendiri ataupun para penegak hukum. Indonesia yang demokratis harus diselamatkan dari para pengacau ini dan begitu pecah konflik bernuansa SARA, kita semua tahu siapa-siapa saja pihak yang sebenarnya sedang bermain. Kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan agar tidak mudah diprovokasi melakukan kekacauan dan melakukan amuk massa.

Skenario membentuk kelompok-kelompok ormas radikal dan mazab keagamaan dengan penafsiran yang keras, puritan dan literal dipahami dalam persepektif seperti ini. Ini merupakan agenda global untuk menciptakan konflik. Salah satu tujuannya supaya Indonesia tidak stabil dan mudah terpecah belah.

AS telah memainkan skenario seperti ini sejak era Soekarno hingga sekarang. Ormas kegamaan radikal, ormas yang bertindak seperti preman dan oknum-onum militer akan bahu-membahu dalam mensukseskan skenario yang dimainkan AS untuk memecah belah Indonesia. AS berkepentingan Indonesia tetap menjadi negara yang bisa didikte dan diatur-atur sesuai dengan kepentingan nasionalnya, jika berusaha menjadi negara yang mandiri maka pemimpinnya akan digulingkan dengan segala cara.

Skenario ini juga sedang dimainkan pemerintah AS di Amerika Latin yakni memicu kekacauan di Venezuela dan mendukung kudeta konstitusional di Brasil. Baik Presiden Brasil Dilma Rousseff maupun Presiden Venezuela Nicolas Maduro ingin mewujudkan kemandirian bangsa dan tidak ingin negaranya melayani kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional atau korporasi AS. [Duta Islam Nusantara/ ls] 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/kivlan-zen-dimanfaatkan-untuk-skenario-kerusuhan-indonesia.html

Nabi Khidzir Selalu Hadir Dalam Kliwonan Habib Luthfi Kanzus Shalawat

Duta Islam Nusantara - Pada Jumat Kliwon (07/10/2016), KH Abdullah Saad hadir dalam acara ngaji Kliwonan Habib Luthfi bin Yahya di Gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan, seperti biasanya. Kepada Duta Islam Nusantara, Kiai Saad menceritakan apa yang terjadi ketika berada pas di belakang Abah Luthfi usai pengajian.

Nabi Khidzir Selalu Hadir Dalam Kliwonan Habib Luthfi Kanzus Shalawat
Nabi Khidzir Selalu Hadir Dalam Kliwonan Habib Luthfi Kanzus Shalawat


Sambil menerima ribuan para jamaah yang sedang antri bersalaman, Abah Luthfi yang posisi duduk di kursi ngaji di dalam gedung Kanzus, beliau melirik ke Kiai Saad agar memperhatikan seorang pengemis yang duduk jongkok di pintu masuk gedung paling ujung.

Kiai Saad hanya memperhatikan. Dan memang melihat laki-laki berpenampilan pengemis yang sedang jongkok dan merokok tersebut. "Yang kamu lihat kemarin, itulah Nabi Khidzir," dawuh Habib Luthfi kepada Kiai Saad, sehari kemudian, di ndalem beliau. (Baca juga: Mengintip Rahasia Habib Luthfi Merokok)

Betapa kagetnya kiai asal Solo tersebut. Dalam batinnya, kalau saja Abah Luthfi memberitahu saat masih di tekape, ia akan beranjak salaman kepada pengemis itu. Dalam hati, ia mengaku kepada Duta Islam Nusantara kalau tampilan pengemis yang saat itu hadir Kliwonan tidak seperti pengemis yang biasa dilihat.

"Saya sudah bertahun-tahun ikut Kliwonan, tentu kenal dengan wajah dan pakaian pengemis yang biasa ikut, tapi ketika itu, saya memang heran dengan pengemis itu karena lain daripada yang lain," ujar Kiai Saad, di tengah menghadiri acara pengajian di Ponpes Darul Arafah, Keciput, Belitung, Babel, Sabtu (19/11/2016) malam.

Cerita Kiai Saad tersebut ternyata dibenarkan oleh beberapa jamaah. Bahkan, sumber Duta Islam Nusantara yang juga putra angkat Abah Luthfi menyebutkan kalau setiap acara Kliwonan, Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan Waliyullah Nabi Khidzir As., selalu hadir. Cuma, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui dan bahkan diajak ngobrol atau ngopi tanpa kenal identitas.

Banyak para wali Allah yang, menurut sumber Duta Islam Nusantara, selalu hadir memberikan keberkahan bagi setiap jamaah yang hadir ikut Kliwonan Kanzus Shalawat sejak diadakan tahun 1996 silam itu. Para auliya datang karena Kanjeng Nabi yang rawuh.

Ciri Nabi tidak rawuh di Kliwonan, kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya tersebut, adalah ketika doa tawassul yang dibaca Abah Luthfi tidak selengkap seperti biasanya. Dalam kliwonan, sebelum dzikir bersama dalam bentuk tahlilan khas, beliau mengajak jamaah untuk membacakan Al-Fatihah kepada nama-nama besar, terutama keluarga Nabi dan para sahabat, sebagai bentuk tawassul.

Berikut dzikir tahlil Kliwonan di Kanzus yang biasa dibacakan Abah Luthfi, direkam pada 7 Oktober 2016 oleh salah satu kru Duta Islam Nusantara. (Klik play on web saja jika Anda tidak memiliki akun Souncloud).

Ketika doa tahlil yang dibacakan lebih panjang dari biasanya, itu kadang juga pertanda. Dulu, ketika ada jamaah Habib Luthfi kecelakaan di sebuah tol wilayah Semarang, tahlilan yang dibacakan sangat panjang sekali. Jamaah yang memiliki nalar spiritual tinggi, bisa merasakan itu.

Karena itulah, orang-orang yang mengetahui fadhilah Kliwonan, dari sudut manapun dia tinggal, akan selalu hadir. Bahasa jawanya, "ngesot yo dilakoni". Tapi bagi yang hanya niat ingin mendapatkan kemuliaan duniawi, ia mungkin saja akan mendapatkan apa yang diinginkan, tapi lebih mulia jika ngaji hanya untuk ngaji dan ikhlas lillai ta'ala. Insyallah berkah, selamat dunia, sentosa akhirat. Bukankah itu tujuan kita semua? [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/nabi-khidzir-selalu-hadir-dalam-kliwonan-habib-luthfi-di-kanzus-shalawat.html

Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari

Duta Islam Nusantara - Mungkin mereka bertanya "Jika Asya'iroh adalah ahlussunnah, lalu orang sebelum Asya'iroh itu di mana?". Muslimin sebelah menjawab pertanyaan ini bahwa penyebutan ahlus sunnah hanya kepada pengikut madzhab Asy'ary adalah politik belaka. Mereka pun akhirnya menyimpulkan bahwa mengikuti orang sebelum Imam Asy'ari (tentu dengan penafsiran nafsunya) adalah jalan yang lebih selamat. Duh.

Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari
Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari


Jawaban atas pertanyaan itu sebetulnya sudah diungkapkan oleh Syaih Anas Asyurofawi di Naskah Mu'tamar Chech-Nya. beliau pernah menjadi dosen STAI Imam Syafi' Cianjur tahun 2011-2013. Ini naskah aslinya, di bawahnya ada tarjamahnya.

أين هم أهل السنة قبل أبي الحسن الأشعري؟

الجواب من بحث الأستاذ أنس الشرفاوي حفظه الله تعالى: [لا يقال: وأين هم أهل السنة قبل أبي الحسن الأشعري شيخ المذهب؛ لأن المقصود من الأشعرية أنها منهجٌ في الدفاع والحفاظ على عقائد السلف، ونفْيِ ما داخَلَها من زيغ وبدع، وهذا غير متصوَّر بوجود حضرة النبيِّ صلى الله عليه وسلم كما لا يخفى، وكذلك فهو نادرٌ جداً في عصر أصحابه وهم متكاثرون ومتناصرون، وإنما هو متصوَّرٌ مع يسيرِ غلبةٍ لغير أهل السنة؛ لعوارض سياسية أو مصلحية دنيوية، أو غيبوبة وبُعدٍ عن نهج السداد وغلبة أهل الباطل، وكان هذا جلياً بعد القرون الثلاثة الفاضلة، وهو لا يعني أبداً عدمَ ظهور بدعٍ وضلالات فيها، بل إن رؤوس المبتدعين لأكبر الفرق الإسلامية المنحرفة قد وقعت ضمن هذه القرون، ولكنَّها لما فشَتْ كلمتُها.. دعَتِ الحاجة للردِّ عليها بلغتها.

وهنا يجب التمييز بين المتابعة والموافقة، فالأشاعرةُ بعد أبي الحسن الأشعري إلى اليوم متابعون له ومناضلون عن طريقه، ومن قبل أبي الحسن الأشعري موافقون له، ففرق بين الموافقة والمتابعة.

قال الإمام ابن السبكي: (قال الشيخ الإمام – يعني: والده تقي الدين - فيما يحكيه لنا: ولقد وقفت لبعض المعتزلة على كتاب سماه: «طبقات المعتزلة»، وافتتح بذكر عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ظناً منه أنه - برأه الله – منهم على عقيدتهم، قال: وهذا نهاية في التعصب؛ فإنما ينسب إلى المرء من مشى على منواله.

قلت أنا للشيخ الإمام: ولو تمَّ هذا لهم.. لكان للأشاعرة أن يعدُّوا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما في جملتهم؛ لأنهم عن عقيدتهما وعقيدة غيرهما من الصحابة فيما يدعون يناضلون، وإياها ينصرون، وعلى حماها يحومون؛ فتبسَّم وقال: أتباعُ المرء من دان بمذهبه وقال بقوله على سبيل المتابعة والاقتفاء الذي هو أخصُّ من الموافقة؛ فبين المتابعة والموافقة بونٌ عظيم) انظر «طبقات الشافعية الكبرى» (3/365).]

Di mana Ahlus sunnah sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari?

Jawaban dari Syaih Anas Assyrofawi-semoga Allah menjaganya-:

Jangan katakan di mana Ahlussunnah sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari, Sheikh Madzhab, karena yang dimaksud-kan dari paham Asy'ariyah adalah suatu manhaj (Metode) atau pola pemahaman untuk membela dan melestarikan Ediologi Ulama' Salaf, membantah penyimpangan dan ajaran sesat yang menyusupinya.

Tentu hal ini tidak dirasakan atau tergambarkan pada saat adanya Nabi SAW, sebagaimana diketahui. Serta sangat langka bila terjadi di era para sahabat, karena mereka saling memperbanyak dan saling menolong, namun tergambarkan sedikit dominasi terhadap selain Ahlussunnah disebabkan faktor-faktor politik, kepentingan dunia atau ketiadaan, dan sebab (di masa para sahanat) jauh sekali dari cara yang tidak benar dan dominasi pemahaman sesat.

Dan ini (politik, kepentingan dunia, dan ketiadaan) terbukti tampak jelas setelah tiga abad. Tidak berarti dimasa para sahabat tidak ada bid'a-bid'ah (akidah) dan aliran sesat kemudian. Bahkan para pemimpin bid'ah dari sekte Islam terbesar itu lahir di abad itu. Akan tetapi, pada saat aliran sesat itu menyebar luas, dibutuhkan untuk menanggapi mereka dengan bahasa (cara) mereka sendiri.

Dari sini kita harus membedakan antara kata "mengikuti" dan "mencocoki". Jadi orang-orang setelah Abu al-Hasan al-Asy'ari sampai hari ini itu di sebut dengan "mutaba'ah (mengikuti)", sedang orang-orang (di tiga abad) sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari, yang mencocoki dengan dia, disebut dengan "muwafaqoh (mencocoki/bersesuai)". Maka, bedakanlah antara "mencocoki" dan "mengikuti".

Imam Ibnu Sabki mengatakan: (Sheikh Al Imam -ayahnya Taqi al-Din-, bercerita kepada saya: saya telah mengkaji sebagian Mu'tazilah pada buku yang berjudul Thobaqot Al Mu'tazilah, dia mengawali (kitab-Nya) dengan menyebutkan Abdullah bin Mas'ud r.a, seraya mengira bahwa ia -Allah membebaskan dia- adalah bagian dari akidah mereka. Ia (ayah) berkata: ini adalah puncak dari fanatisme, sebab seseorang itu dikaitkan dengan salah satu (akidah) orng lain bila dia menapaki jalan orang itu.

Saya berkata kepada Sheikh Al Imam: andai hal ini telah sempurna bagi mereka maka bagi Asya'iroh sangat pantas menghitung Abu Bakar dan Umar sebagai bagian dari mereka (Asya'iroh), sebab mereka dari akidah mereka berdua dan akidah para sahabat dalam sesuatu yang mereka klaim telah menguatkannya, menolong, dan melindungi akidah mereka.

Ayah-Nya tersenyum dan mengatakan: seorang pengikut itu dekat dengan pandangan yang diikuti, berkata sebagaimana ia katakan, dan bersesuai, yang mana lebih sepesifik daripada sekedar mencocoki (muwaafaqoh). Maka jelaslah perbedaan yang sangat besar antara maksud dari kata "mutaaba'ah dan muwaafaqoh". Lihatlah Muthobaqoh Syafi'iyah Al Kubro (3/365). [Duta Islam Nusantara]

Kesimpulan:

Sebelum Asya'ri dikatakan muwafaqoh atau sesuai dengan paham Asy'ari.

Setelah Asy'ari dikatakan mutaaba'ah atau mengikuti paham Asy'ari yang kemudian di sebut Asya'iroh. Sebelum dan sesudah Asy'ari adalah ahlussunnah. Tolok ukur akidah ahlussunnah sebelum Asy'ari adalah kesesuaiannya dengan paham Asy'ari, sedang setelah Asy'ari adalah yang mengikuti paham Asy'ari.

Paham Asy'ari dalam akidah adalah mengcover paham ahlul hadist yang memilih tafwidh (ta'wil ijmali), ta'wil tafshili tanpa ta'thil, dan paham ahli tashawwuf yang benar.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/penjelasan-tentang-madzhab-orang-islam-yang-hidup-sebelum-imam-asyari.html

Sabtu, 13 Februari 2016

Alasan Gus Dur Mengembalikan Cina ke Agama Nenek Moyang

Duta Islam Nusantara - Semasa jadi wartawan di Semarang, Ichwan DS, salah seorang aktivis NU Jateng mengaku kalau gerakan kristenisasi sangat masif bergerak sejak dulu, terutama di kawasan Kauman, Pecinan, Semarang Utara, Semarang Timur, Semarang Barat dan Gayamsari.

Kesimpulan Ichwan bukan omong kosong, ia langsung mendapatkan keterangan dari para pelaku misi kristenisasi di Semarang saat itu. "Ada yang digerakkan dari gereja. Ada yang diorganisir Yayasan Soegijapranata, yang hebat ya yang diorganisir yayasan tersebut. Dana dan SDM-nya tak terbatas," katanya kepada Duta Islam Nusantara di Semarang, Selasa (6/12/2016).

Dana yang didapatkan oleh misionaris kristenisasi tersebut, lanjut Ichwan, didapatkan dari orang Cina yang beragama Kristen, pilihan agama resmi yang banyak dipeluk warga Cina Pribumi karena paksaan politik Orde Baru.

Oleh pelaku gerakan kristenisasi, orang-orang kaya dari etnis Cina diminta untuk menyetorkan uang demi glorifikasi, mengkristenkan wilayah targetnya, "selama orang Cina di Semarang memeluk Kristen, mereka diharuskan setor uang yang banyak ke gereja," tutur Ichwan yang juga pengurus LTN NU Jateng tersebut.

Ichwan justru mengapresiasi kebijakan Gus Dur waktu jadi presiden yang berhasil mengembalikan hak orang Cina Tionghoa untuk memeluk agama nenek luhur mereka, Kong Hu Chu dan Budha. Ini yang disebut sebagai langkah cerdas Gus Dur memotong aliran dana kristenisasi dan sekaligus memberikan persamaan hak pribumi Tionghoa di Indonesia.

"Dengan kembalinya orang Cina ke agama nenek moyang, dana kristenisasi sangat jauh berkurang. Dan Islam semakin selamat karena Agama Konghuchu maupun Budha itu bukan agama misi," imbuh Ichwan. Sayangnya, langkah strategis Gus Dur tersebut disalahpahami oleh kalangan sumbu pendek dari umat Islam sendiri.

"Orang-orang sumbu pendek di FPI maupun wahabi begitu keji menuduh Gus Dur sebagai kongsinya Kristen, Yahudi, Cina dan sebagainya. Habib Riziq Sihab bahkan menyebut Gus Dur orang buta mata dan buta hati, orang liberal dan pencampur aqidah," terang Ichwan. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/alasan-gus-dur-mengembalikan-cina-ke-agama-nenek-moyang.html

Selasa, 25 Agustus 2015

NU Makassar Semarakkan Harlah dengan Bakti Sosial

Makassar, Duta Islam Nusantara. Dalam rangka menyemarakkan hari lahir NU ke-87 tahun, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Makassar menggelar bakti sosial di sepanjang anjungan Pantai Losari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (2/2).

Kegiatan bertema Gerakan NU Peduli Lingkungan Kota Makassar ini dihadiri seluruh pengurus, Ketua Badan Otonom, Lembaga, Lajnah NU dan MWC NU se-Kota Makassar serta ratusan kader NU.

NU Makassar Semarakkan Harlah dengan Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Makassar Semarakkan Harlah dengan Bakti Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Makassar Semarakkan Harlah dengan Bakti Sosial

Sebelumnya, Apel Siaga Kader NU & Peluncuran NU Peduli di anjungan Pantai Losari mengawali kegiatan bakti sosial ini.

Duta Islam Nusantara

Ketua PCNU Kota Makasar Abdul Kadir Ahmad mengatakan, sejalan dengan peringatan Harlah NU yang jatuh pada 31 Junuari, pihaknya berusaha melakukan kerja-kerja nyata yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Menurut dia, tempat dan fungsi NU memang berpusat di masyarakat.

Masyarakat harus diajak bersahabat dengan alam dan lingkungan, karena itu juga bagian dari perintah agama, terangnya.

Duta Islam Nusantara

Kadir Ahmad menambahkan, khusus peduli lingkungan, NU Makassar akan terus melakukan kegiatan ini di berbagai lokasi yang ada di Kota Makassar. Bakti sosial ini dinilai efektif menggerakkan struktur NU di tingkat bawah untuk bersinergi dengan masyarakat akar rumput.

Bakti sosial NU Kota Makassar ini merupakan salah satu dari beberapa kegiatan yang akan dilakukan. Puncak acara Harlah NU digelar pekan depan bersamaan dengan Maulid Akbar.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ibnu Abdillah Asrijal

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42238/nu-makassar-semarakkan-harlah-dengan-bakti-sosial

Duta Islam Nusantara

Rabu, 12 November 2014

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menggelar pendidikan istinbathul ahkam (proses pengambilan keputusan dalam hukum Islam) di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Selama dua hari, Rabu-Kamis (8-9/2), pengurus harian LBM PBNU menjelaskan teknik-teknik musyawarah, teknik menghadapi masalah, dan juga cara membuat rekomendasi ala NU.

Tampak hadir sebagai narasumber di pesantren asuhan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin ini adalah pengurus harian LBM PBNU seperti KH Abdul Moqhsith Ghozali, KH Solahuddin Al-Ayubi, KH Mahbub Maafi, dan KH Sarmidi Husna. Selain pria, tampak juga peserta pendidikan dari kalangan wanita.

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)
Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)


Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Menurut Sekretaris LBM PBNU Kiai Sarmidi, pendidikan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail diadakan mengingat kondisi SDM bahtsul masail yang sudah mulai berkurang. Sementara pesantren-pesantren yang memproduksi santri dengan kompetensi berbahtsul masail juga mulai berkurang.

Duta Islam Nusantara

Sangat urgen untuk melakukan pelatihan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail di PCNU atau pesantren-pesantren yang kegiatan bahtsul masailnya kurang maksimal.

Pendidikan seperti ini, kata Kiai Sarmidi, merupakan upaya regenerasi dan kaderisasi pelaksanaan bahtsul masail guna menjaga eksistensi bahtsul masail.

Duta Islam Nusantara

Pendidikan ini merupakan program utama LBM PBNU, katanya. (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75287/stok-aktivis-bahtsul-masail-menurun-pbnu-gelar-pendidikan-istinbathul-ahkam

Duta Islam Nusantara

Selasa, 18 Maret 2014

Awas, Inilah Wahabi Gaya Baru, Kenali Cirinya, Lawan Gerakannya!

Duta Islam Nusantara - Ini adalah poin-poin hasil halaqoh Netizen NU Jawa Barat pada 19 Januari 2017, yang dikirimkan kepada Duta Islam Nusantara untuk disebarkan seluas-luasnya kepada warga Indonesia, bukan hanya muslimin nahdliyyin semata.

Pertama, di ada gerakan dan dana super besar untuk membuat Indonesia bersih dari NU dengan target tahun 2025. Seperti sering dibilang oleh para Kiai sepuh, kalau mau menguasai Indonesia, kuasai dulu NU. Kalau mau memecah belah Indonesia, pecah belah dulu NU. Kalau mau menghancurkan Indonesia, hancurkan dulu NU.

Kedua, NU sudah cukup lambat mengantisipasi serbuan media online dan medsos oleh pihak-pihak di atas. Serangan di era media cetak sudah gencar dari tahun 80-an, serangan melalui internet sudah gencar dari tahun 95an, dan serangan di medsos semakin menggila sejak tahun 2010an.

Ketiga, perlu ada peningkatan kajian literasi kitab kuning (ilmu-ilmu agama), kitab putih (ilmu-ilmu humaniora), dan kitab abu-abu (ilmu politik) bagi para warga NU agar tidak mudah dibodohi oleh paham-paham yang "menyerang" kaum Nahdhiyyin. Karena mereka kini menyerang dengan gerakan Neo Cortex (Al Ghozwul Fikr), proxy dan psyco war (perang pemikiran, rekayasa psikologi dan intrik politik) dengan menggunakan sentimen agama, fanatisme Islam dan 'politik kebencian' sebagai alat untuk melemahkan warga NU.

Keempat, serangan-serangan kepada ulama-ulama NU khususnya para ulama pengawal organisasi NU berupa fitnah dan hoax amat gencar, sebagian di antaranya dilakukan oleh kalangan yang "mengaku" Nahdhiyyin juga. Serangan-serangan ini tujuannya menghilangkan kepercayaan umat kepada ulama, dan mengalihkannya kepada ulama-ulama yang "direkomendasikan" oleh para penyerang tersebut.

Kelima, para kader Anshor Banser, elemen organisasi NU dan warga Nahdhiyyin harus ikut serta dalam "perang medsos" tersebut, namun dengan cara bil-hikmah wal mau'idhatil hasanah. Bila pihak lawan rajin menyebar hoax dan fitnah, jangan dilawan dengan hoax dan fitnah. Lawanlah dengan menyebarkan berita yang benar. Perbanyak menyebar postingan yang meluruskan kesalahpahaman, tanpa menghujat dan mencaci. NU itu merangkul, bukan memukul.

Warga NU memang harus mewaspadai gaya baru Wahabi. Nampaknya setelah mereka gagal puluhan tahun untuk me-wahabikan banyak kader NU di kampus-kampus Saudi Arabia, mereka juga gagal memberangus amaliyah NU dengan amunisi ustadz-ustadz Wahabi sekelas Ustadz Firanda hingga Tengku Wisnu melalui media massa, dan menyebar web-web majhul yang penuh propaganda.

Wahabi juga telah mencoba mengemas agar doktrin mereka lebih diterima dengan baju Jawa ala MTA pimpinan Syekh Sukino, namun tetap saja gagal. Nampaknya kini ada kesempatan bagi mereka utk memecah belah warga NU dengan "berselingkuh" dengan FPI.

Mungkin mereka tahu bahwa hanya kaum Aswaja yang suka memuja-muja ahli Bayt hingga 'sundul langit'. Bahkan mereka mungkin juga menganggap warga NU hanyalah kumpulan orang-orang bodoh karena menganggab para Habaib sebagai 'sadat' (jamak dari Sayid) yang dianggap sebagai juru selamat, dimana semua fatwa dan ucapan mereka pasti dianut dan dianggap benar.

Hingga dengan trik-trik politik, kini Wahabi telah berhasil berfusi dengan FPI untuk memecah belah opini warga NU menggunakan atribut baru yang baru mereka ciptakan; yah apalagi kalau bukan GNPF-MUI.

Bahkan lihatlah, nampaknya demi tegaknya kalimah Wahabi dan untuk menyenangkan juragannya di Arab Saudi, kini panglima GNPF yang juga guru besar Tengku Wisnu itu kini telah berkopyah hitam dan memproklamirkan diri sebagai ulama besar dengan gelar Kyai Haji (KH). "Kami NU bukan? Maka dengarkan juga kami". Mungkin itulah yang ingin dia katakan.

Namun mereka lupa bahwa warga NU itu panutannya bukan Kyai, habib maupun ustadz. Panutan warga NU adalah para ulama yang mengajarkan mereka makna kebaikan yang tidak sekedar diukur dengan "qola ta'ala" apalagi simbol "kearaban", tapi kebaikan sosial yang sesuai dengan tradisi lokal mereka di Nusantara dan sejalan dengan ajaran Sunnah serta uswah akhlakul karimah Rasulillah Saw.

Para ulama yang setiap hari membimbing mereka dengan fatwa-fatwa yang menyejukkan di sudut-sudut kampung ataupun pesantren dan uswah keteladanan yang mendamaikan tanpa mengobral dalil dan simbol agama secara vulgar; bukan pula fatwa yang penuh sensasi ataupun orasi yang menggugah emosi seakan akan kita sedang berperang.

Dan para ulama yang lebih mengutamakan ilmu dan moral sebagai pegangan daripada atribut atribut kenabian dan semangat keislaman yang kadang hanya dipenuhi kepentingan dan kemunafikan.

Karena NU adalah Nahdlatul Ulama; yakni organisasi wadah para ulama dalam upaya membangkitkan umat dari carut marut dunia yg penuh permainan melalui kekuatan ilmu dan moral, apapun atribut sosial pada mereka yg masyarakat berikan.

Karena itu selayaknya warga NU memang harus mewaspadai munculnya gerakan massif yang akhir-akhir ini menyerang NU dan kiai ulama NU dengan fitnah hoax dan hate speech.

Gerakan yang ingin menggantikan peran NU di masyarakat dan sebagai pilar Indonesia dengan organisasi baru selain NU, menggantikan peran para Kyai ulama NU yang alim allamah dan mengakar di masyarakat dengan para 'new comers' yang beratribut keulamaan namun hanya hasil audisi media.

Ciri mereka adalah fanatik buta pada 'hitam putih' syariah sehingga anti Pancasila, cinta mati-matian pada atribut dan simbol Islam untuk dibela sehingga mereka anti kebhinekaan, atau mereka yang menjadi pejuang demi tegaknya pemerintahan Islam sehingga antipati pada konsensus "NKRI harga mati".

Dan yang paling akut adalah mereka yang benci NU, amaliyah NU dan Kyai NU karena mereka menganggap NU adalah wadah bagi manusia manusia calon penghuni neraka, dan hanya mereka saja yang berhak masuk sorga. Salam melek keNUan. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-wahabi-gaya-baru-kenali-cirinya-dan-lawan-gerakannya.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock