Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Netizen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Februari 2015

Makin Meluas, Setelah Lombok, Kini Ribuan Massa di Ngawi Tuntut FPI dan HTI Dibubarkan

Duta Islam Nusantara - Aksi menuntut pembubaran organisasi masyarakat (ormas) yang dianggap radikal tidak sesuai dengan faham nasionalisme kian melebar diberbagai daerah. Kini, ribuan massa yang tergabung Aliansi Kebangsaan Ngawi (Akang) di Ngawi, Jawa Timur, menuntut pembubaran Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Jum’at (27/01/2017).

Makin Meluas, Setelah Lombok, Kini Ribuan Massa di Ngawi Tuntut FPI dan HTI Dibubarkan
Makin Meluas, Setelah Lombok, Kini Ribuan Massa di Ngawi Tuntut FPI dan HTI Dibubarkan


Sambil berorasi sekitar pukul 13.30 WIB massa bergerak dari alun-alun Ngawi menyusuri beberapa jalan protokol dengan mendapatkan pengawal ketat dari aparat Polres Ngawi. Sambil membawa spanduk bertuliskan ‘Tolak FPI Di Kabupaten Ngawi’ ribuan massa ini melakukan orasi dibeberapa titik seperti depan Pendopo Wedya Graha, DPRD Ngawi dan terakhir di Perempatan Kartonyono Ngawi.

Ribuan massa Akang yang terdiri dari Pemuda Ansor, Banser, kader PDIP dan beberapa komunitas motor baik dari jeep maupun komunitas trail menuntut kepada pemerintah untuk membubarkan kedua ormas baik FPI dan HTI yang dinilai mempunyai agenda terselubung merongrong pemerintah yang sah. Mereka meminta agama jangan sampai dijadikan alat politik apalagi secara jelas mengarah dan berpotensi pada perpecahan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

“Kita tidak mau di Ngawi yang tenang dan nyaman ini dirusak oleh faham-faham yang bertentangan dengan kehidupan bernegara yang sah sesuai ideologi Pancasila dan konstitusi UUD 1945. Maka apapun bentuknya jika ada ormas yang berbau radikalisme serta bertentangan dengan faham negara kami minta pemerintah harus tegas dan membubarkanya jangan sampai rakyat terpecah belah,” ujar Ahmad dilokasi demo, Jum’at (27/01).

Pengunjuk rasa menilai keberadaan FPI secara umum di tanah air dapat mengancam persatuan suku dan etnis di Indonesia. Karena itu, mereka menuntut dan mendesak pemerintah segera membubarkan ormas tersebut. Selain itu pembubaran ormas harus dilakukan terhadap HTI berpaham radikal-salafi-wahabi di Indonesia. Maka apapun alasanya tegas pengunjuk rasa ini NKRI dan Pancasila tetap harga mati.

Terkait aksi ribuan massa Akang ini, Kapolres Ngawi AKBP Suryo Sudarmadi menegaskan, untuk mengantisipasi keamanan baik pengunjuk rasa maupun warga masyarakat telah mengerahkan ratusan personel yang ditempatkan dibeberapa titik lokasi unjuk rasa. Dia membenarkan, tuntutan pembubaran FPI dan HTI dilakukan sekitar 2 ribu massa Akang yang datang dari seluruh penjuru wilayah Ngawi.

“Untuk mengantisipasi sesuatu hal khususnya keamanan pada pelaksanaan aksi demo di Ngawi ini pihak kami menerjunkan ratusan personel mengingat aksi massa yang datang pada kesempatan ini luar biasa jumlahnya mencapai ribuan orang,” pungkas Kapolres Ngawi AKBP Suryo Sudarmadi. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/makin-meluas-setelah-lombok-kini-ribuan-massa-di-ngawi-tuntut-fpi-dan-hti-dibubarkan.html

Rabu, 12 November 2014

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menggelar pendidikan istinbathul ahkam (proses pengambilan keputusan dalam hukum Islam) di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Selama dua hari, Rabu-Kamis (8-9/2), pengurus harian LBM PBNU menjelaskan teknik-teknik musyawarah, teknik menghadapi masalah, dan juga cara membuat rekomendasi ala NU.

Tampak hadir sebagai narasumber di pesantren asuhan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin ini adalah pengurus harian LBM PBNU seperti KH Abdul Moqhsith Ghozali, KH Solahuddin Al-Ayubi, KH Mahbub Maafi, dan KH Sarmidi Husna. Selain pria, tampak juga peserta pendidikan dari kalangan wanita.

Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)
Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam (Sumber Gambar : Nu Online)


Stok Aktivis Bahtsul Masail Menurun, PBNU Gelar Pendidikan Istinbathul Ahkam

Menurut Sekretaris LBM PBNU Kiai Sarmidi, pendidikan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail diadakan mengingat kondisi SDM bahtsul masail yang sudah mulai berkurang. Sementara pesantren-pesantren yang memproduksi santri dengan kompetensi berbahtsul masail juga mulai berkurang.

Duta Islam Nusantara

Sangat urgen untuk melakukan pelatihan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail di PCNU atau pesantren-pesantren yang kegiatan bahtsul masailnya kurang maksimal.

Pendidikan seperti ini, kata Kiai Sarmidi, merupakan upaya regenerasi dan kaderisasi pelaksanaan bahtsul masail guna menjaga eksistensi bahtsul masail.

Duta Islam Nusantara

Pendidikan ini merupakan program utama LBM PBNU, katanya. (Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75287/stok-aktivis-bahtsul-masail-menurun-pbnu-gelar-pendidikan-istinbathul-ahkam

Duta Islam Nusantara

Senin, 01 Juli 2013

Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri

Duta Islam Nusantara – Dalam dialog Keaswajaan di aula Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ) pada Ahad (28/05/2016), ketua Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Matan) Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Mahmud Suyuti bertubi-tubi menyindir kaum wahabi yang suka mendewakan simbol daripada substansi dalam cara beragama mereka.

Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri - Duta Islam Nusantara
Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri - Duta Islam Nusantara


Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri

Suyuti membagi jenggot jadi 3 macam, yakni jenggot biologis, aksesoris dan teroris. Disebut jenggot biologis karena tumbuh sendiri. Inilah yang menurutnya bukan sunnah qauli (ucapan Nabi) dan bukan juga sunnah taqriri (berdasarkan ketetapan Nabi), melainkan “tumbuh sendiri”.

Sindiran ala canda Dr. Mahmud Suyuti itu juga dilanjutkan kritik kepada kaum wahabi yang melarang mencium tangan dengan alasan bid’ah. Padahal, menurutnya, mereka juga melakukan bid’ah lain seperti cium pipi kanan dan cium pipi kiri (cipika-cipiki).

Cadar juga tidak luput dari kritiknya. Menurut doktor hadits yang hafal Kitab Shahih Bukhari ini, pengguna cadar tidak punya kesempatan melakukan sunnah Nabi seperti dalam hadits tabassumuka li akhika shadaqoh/ seyummmu kepada saudaramu itu sedekah. “Bagaimana mau tersenyum kalau hanya mata yang kelihatan,” tegasnya.

Intinya, wahabi itu inginnnya semua dipertentangkan. Seolah-olah yang dilakukan oleh liyan harus sesuai kehendaknya. Orang lain disalahkan hanya karena hadits-hadits yang dikutip tidak utuh. Misalnya soal membaca basmalah di awal membaca Al-Fatihah dalam shalat. Hadits yang mereka ambil tidak dilengkapi asbabul wurud dan hadits-hadits lain.

“Anas mendengar basmalah secara terang karena dia sahabat paling tepat waktu shalat berjama’ah bersama Nabi. Aisyah mendengar secara sirr (kurang jelas) karena posisinya saat berjama’ah dengan Nabi berada di belakang jauh. Sementara Ukays tidak mendengar karena sering telat jama'ah. Hadits yang telat jama’ah inilah yang diambil buat dalil,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin.

Karena sibuk mempertentangkan yang tidak substansial itu, ketika shalat, orang-orang wahabi lebih suka “menata kaki” daripada menata niat. Mereka merapatkan kaki, mengganggu niat orang shalat orang lain di sampingnya yang sedang menata niat.

Agar shalatnya dianggap rajin, jidat mereka harus hitam. Dalihnya mengikuti jidat para sahabat Nabi. Padahal, menurutnya, jidat hitam pada zaman Nabi itu terjadi karena dulu lantai masjid tidak ada yang pakai

karpet dan keramik. [Duta Islam Nusantara/ m abdullah badri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/dr-mahmud-suyuti-jenggot-itu-bukan-qauli-tapi-tumbuh-sendiri.html

Sabtu, 08 September 2012

Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan

Duta Islam Nusantara - Puluhan kali redaksi Duta Islam Nusantara menulis dan memuat laporan-laporan berita, opini, esai dan editorial yang membahas tentang FPI dan polemik-polemiknya. Pro-kontra pasti terjadi. Terutama ketika Duta Islam Nusantara menulis laporan kritis atas dakwah FPI yang sangat merugikan citra umat Islam Indonesia.

Anda bisa cek di rubrik Radikalisme. Di sana banyak memuat rangkuman jejak FPI dan kelompok radikal yang sepaham dalam perjuangan yang disebut "nahi munkar". Melalui page Duta Islam Nusantara dan juga Komunitas Islam Nusantara yang adminnya selalu simpatik men-share postingan Duta Islam Nusantara, akhirnya konten redaksi dibaca puluhan ribu kali, bahkan ada yang ratusan ribu.

Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan - Duta Islam Nusantara
Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan - Duta Islam Nusantara


Mayoritas Pembaca Duta Islam Setuju FPI Dibubarkan

Sejak dua pekan terakhir, terhitung mulai 24 Januari-10 Februari 2017, Duta Islam Nusantara menyediakan menu khusus poling atau jajak pendapat pembaca tentang polemik Front Pembela Islam (FPI).

Sejak digelar akhir bulan lalu, total pageview yang datang ke situs Duta Islam Nusantara adalah 721.523 kali dengan rata-rata view harian 15-70 ribu. Puluhan ribu pengunjung inilah yang berkesempatan menjawab satu pertanyaan "Setujukah Anda Jika FPI Dibubarkan?".

Tidak ada paksaan atau saran dari redaksi untuk menggiring pembaca mengisi poling. Semuanya bisa berpartisipasi. Pertanyaan poling Duta Islam Nusantara di atas sengaja dipilih mengingat sejauh ini FPI disebut sebagai ormas paling populer nomor 3 di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, walaupun menurut survei pada Januari 2017 lalu, penduduk muslim Indonesia hanya sedikit yang mengaku berafiliasi dengan FPI. Angkanya hanya 0,2 persen.

Duta Islam Nusantara

Duta Islam Nusantara melanjutkan survei maya melalui poling untuk membuat kesimpulan atas penelitian di atas. Dari 857 total peserta poling, 582 orang setuju FPI dibubarkan (67%). Sementara, 249 orang pembaca lainnya memilih menjawab tidak setuju. 26 orang di antaranya (3%), menjawab tidak tahu. Artinya, mayoritas pembaca ternyata tidak setuju kehadiran FPI.

Duta Islam Nusantara

Jika poling di atas bisa disebut sebagai indikasi masih adanya simpati moderatisme Islam di kalangan netizen, maka, paling tidak hal itu bisa membuat lega tim redaksi yang selama ini tak kenal lelah melawan radikalisme, terorisme dan segala bentuk gerakan pemecah belah kesatuan NKRI melalui postingan yang kadang, mohon maaf, sarkastik.

"Begal-begal politik" yang menggunakan agama sebagai dagangan murah memang harus dilawan dengan cara-cara, yang kadang harus thas-thes (langsung mengena). Duta Islam Nusantara mengambil posisi dakwah tersebut di tengah situs-situs aswaja lainnya yang terkesan diam dan memilih hanya "bersyiar dalam ketekunan yang menenangkan".

Untuk menyadarkan, kadang memang harus dibentak, dipisuhi dan dipukuli. Risikonya jelas konflik. Tapi setelah itu, resolusi atas konflik akan terjadi jika terus ingin memperbaiki diri. Duta Islam Nusantara, dalam posisi ini, siap dan sadar menerima risiko dibully dan dihujat, demi masyarakat Indonesia yang harus terus berpikir dewasa dan tidak ngamukan.

Terimakasih kepada para pembaca yang sudi meluangkan waktunya untuk mengisi poling sederhana Duta Islam Nusantara. Jazakumullah khoirol jaza'. Maaf tidak bisa mengganti pulsa data-nya, maklum redaksi kami rata-rata santri, masih belajar dan mengaji. Salam waras dari DI. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/mayoritas-pembaca-duta-islam-setuju-fpi-dubarkan.html

Kamis, 02 Agustus 2012

Soal Ahok, KH Amin Maruf Dimanipulasi Lewat Majelis Fatwa MUI

Duta Islam Nusantara - Ada penggiringan opini dari grup-grup muslim cyber sebelah tentang Ketua Umum Majelis Ulama Indonesi (MUI), KH Ma'ruf Amin. Kehadiran kiai sebagai saksi dalam persidangan kasus penistaan agama oleh Ahok dijadikan pembenaran bahwa Kiai Ma'ruf berada di barisan mereka, pendukung GNPF-MUI.

Bahkan di grup alumni 212 yang didapatkan Duta Islam Nusantara malah ada yang memprovokasi agar Banser keluar menggelar aksi jalanan untuk membela Kiai Ma'ruf saat akan dilaporkan Ahok karena dianggap salah menemui SBY, sebelum fatwa MUI soal penistaan agama oleh Ahok diumumkan ke publik.

Soal Ahok, KH Amin Maruf Dimanipulasi Lewat Majelis Fatwa MUI - Duta Islam Nusantara
Soal Ahok, KH Amin Maruf Dimanipulasi Lewat Majelis Fatwa MUI - Duta Islam Nusantara


Soal Ahok, KH Amin Maruf Dimanipulasi Lewat Majelis Fatwa MUI

Dengan pongah, Ghozi, pemilik nomor 0822-3457-4231 itu menyebut, "banserep mana banserep kok mingkem," tulisnya sambil membanggakan Fahmi yang kemarin kena kasus bendera. Ini bukti screenshootnya:

Provokasi Banser dari sebelah (1) Di grup sebelah yang lain juga ada provokasi yang sama mengajak Banser melawan Ahok yang mengancam akan mengasuskan KH Ma'ruf Amin, "diancam panista agama masa diam aja lawan donk," tulis Matra Alwi SH, pemilik nomor 085842314446, sembari salah menyebut Rais Aam dengan Dewan Syuriah. Hahaha. Memang di Struktural NU ada jabatan itu ya? Bukannya Dewan Syuriah ada di koperasi-koperasi 212 yang masih membayang-bayang?

Duta Islam Nusantara

Provokasi Banser dari sebelah (2) Netizen NU di beberapa kota pun menyerukan agar nahdliyyin tidak ikut terbawa arus dalam pusaran politik Pilkada DKI dan penistaan agama yang kian sengit pertarungannya itu. Muhammad Lisan, Netizen NU asal Pati menduga kalau munculnya fatwa yang kemudian "dikawal" oleh GNPF itu mengarah kepada blokade total menyudutkan Kiai Ma'ruf.

Duta Islam Nusantara

Padahal, lanjut Gus Muh, -panggilan Muhammad Lisan,- KH Ma'ruf Amin tentu tidak sendirian mengeluarkan fatwa. Ia menyebut bahwa ada kemungkinan hasil fatwa MUI tentang penistaan agama oleh Ahok dimanipulasi, "mungkin lewat komisi fatwa," jelasnya.

Kiai Ma'ruf tidak mungkin turun langsung ke lapangan. Ini yang menurut Gus Muh dijadikan celah mereka yang berkepentingan, "Kiai Ma'ruf tentunya tidak dalam kapasitas mengambil data sendiri, tentunya pakai perangkat MUI, dan MUI unsurnya banyak ormas, yang tidak bisa dipastikan selaras dengan Kiai Ma'ruf. Bisa jadi ini hanya jebakan batman," tandasnya.

"Pengambilan data kalau dah gak obyektif, dilakukan oleh orang yang memihak, kan rentan manipulasi, maka sangat rentan jadi landasan kesahihan fatwa. Kiai Ma'ruf sangat rentan jadi korbannya," imbuh Gus Muh kepada Duta Islam Nusantara, Selasa (31/01/2017) malam via WhatsApp.

Karena framing media yang seakan menempatkan Kiai Ma'ruf Amin dalam pusaran politik DKI itulah, Banser dan NU dicari-cari oleh minhum yang medukung salah satu calon sembari membenci calon lainnya. Dari fatwanya saja tidak fair, jelaslah arah jebakan mereka kepada simbol NU, Rais Amm, tidak fair pula.

Tambahan, kehadiran KH Ma'ruf Amin sebagai saksi persidangan Ahok adalah inisiatif Jaksa Penuntut Umum. Justru tim Ahok berkepentingan agar Kiai Ma'ruf tidak hadir.

Bahasa media macam Republika yang menggunakan judul "Ahok Nilai Ketua MUI KH Ma'ruf Amin Berbohong" dan "MUI: KH Ma'ruf Amin Diperlakukan Kurang Manusiawi di Sidang Kasus Ahok", memang sulit dicerna oleh muslim moderat laiknya nahdliyyin yang selalu di tengah tapi ditarik-tarik ke kanan dan kiri. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/soal-ahok-kh-amin-maruf-dimanipulasi-lewat-majelis-fatwa-mui.html

Sabtu, 17 Desember 2011

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid

Duta Islam Nusantara - Mahallul Qiyam atau berdiri ketika tengah membaca shalawat itu sangat-sangat dibolehkan. Jika ada yang membid'ahkan mahallul qiyam ketika kita sedang membaca sirah nabawiyah dalam bentuk syair berbait macam Al Barzanji, Diba', Burdah, SImtut Duror dan lainnya, maka ia sebetulnya sedang melarang kita untuk berdzikir, padahal, berdzikir kepada Allah dapat dilakukan dalam posisi apapun, sebagaimana dalam ayat berikut:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ ... (ال عمران ١٩١)

"(Ulul Albab yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring..." (Ali Imran: 191)

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid - Duta Islam Nusantara
Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid - Duta Islam Nusantara


Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid

Dan kita ketahui bahwa shalawat adalah dzikir karena diperintahkan dalam Al-Quran dan banyak hadist. Dengan demikian, membaca shalawat tetap boleh, baik dengan cara duduk atau berdiri.

Duta Islam Nusantara

Amaliah di lingkungan kita berupa berdiri saat mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama telah dilakukan sejak abad pertengahan Islam yang dilakukan seorang ulama yang bertaraf mujtahid di lingkungan Madzhab Syafiiyah, yaitu Imam As-Subki, sebagaimana disampaikan oleh ulama ahli sejarah Syekh Ali Al-Halabi dalam kitabnya "Insan al-Uyun Fi Sirat Al-Amin Al-Ma'mun":

ﻭﻗﺪ ﻭﺟﺪ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻨﺪ ﺫﻛﺮ اﺳﻤﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﻟﻢ اﻷﻣﺔ ﻭﻣﻘﺘﺪﻱ اﻷﺋﻤﺔ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﻭﺭﻋﺎ اﻹﻣﺎﻡ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺴﺒﻜﻲ، ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﺸﺎﻳﺦ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ، ﻓﻘﺪ ﺣﻜﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ اﺟﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻩ ﺟﻤﻊ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎء ﻋﺼﺮﻩ ﻓﺄﻧﺸﺪ ﻣﻨﺸﺪ ﻗﻮﻝ اﻟﺼﺮﺻﺮﻱ ﻓﻲ ﻣﺪﺣﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ:

Duta Islam Nusantara

"Bentuk berdiri semacam ini ketika menyebut nama Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama (mahallul qiyam) sungguh telah ditemukan dari ulamanya umat Islam dan panutan para imam, dari segi agamisnya dan kewara'annya (menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat), yaitu Imam As-Subki dan diikuti oleh para ulama di masanya.

Sebagian ulama menceritakan bahwa Imam Subki dan para ulama berkumpul, lalu seorang penyair melantunkan syair pujian karya Ash-Sharshari untuk Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama [bahr thawil] :

ﻗﻠﻴﻞ ﻟﻤﺪﺡ اﻟﻤﺼﻄﻔﻰ اﻟﺨﻂ ﺑﺎﻟﺬﻫﺐ ... ﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﻣﻦ ﺧﻂ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﻛﺘﺐ ﻭﺃﻥ ﺗﻨﻬﺾ اﻷﺷﺮاﻑ ﻋﻨﺪ ﺳﻤﺎﻋﻪ ... ﻗﻴﺎﻣﺎ ﺻﻔﻮﻓﺎ ﺃﻭ ﺟﺜﻴﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﻛﺐ

Artinya: "Sedikit sekali tulisan yang memuji Nabi pilihan dengan tinta emas di atas lembaran perak dalam tulisan terbaik. Hendaklah orang-orang mulia berdiri ketika mendengarnya, berdiri bershaf-shaf, atau berlutut diatas kendaraan"

ﻓﻌﻨﺪ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻡ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻭﺟﻤﻴﻊ ﻣﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻓﺤﺼﻞ ﺃﻧﺲ ﻛﺒﻴﺮ ﺑﺬﻟﻚ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻭﻳﻜﻔﻲ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻻﻗﺘﺪاء.

Saat itulah Imam As-Subki berdiri bersama orang yang hadir dalam majelis. Keharuan yang besar terdapat dalam mejelis tersebut. Hal semacam ini sudah cukup [boleh] untuk diikuti" (As-Sirah Al-Halabiyah, 1/123 dikutip oleh banyak para ulama termasuk pengarang kitab Ianah Ath-Thalibin). [Duta Islam Nusantara]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center PWNU Jatim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-dalil-mahallul-qiyam-maulid.html

Selasa, 30 Agustus 2011

(Biografi) Habib Abd Rahim Puang Makka, Mursyid Khalwatiyah Murid Habib Luthfi

Duta Islam Nusantara - Al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka (selanjutnya disebut Habib Puang Makka), lahir di Makassar, 14 September 1960. Adalah mursyid ke 12 Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary pelanjut mursyid ke 11 mendiang ayahnya Allahu Yarham al-Habib KHS Jamaluddin Assegaf Puang Ramma wafat Jum’at 15 Sya’ban 1427 H/8 September 2006 M.

(Biografi) Habib Abd Rahim Puang Makka, Mursyid Khalwatiyah Murid Habib Luthfi - Duta Islam Nusantara
(Biografi) Habib Abd Rahim Puang Makka, Mursyid Khalwatiyah Murid Habib Luthfi - Duta Islam Nusantara


(Biografi) Habib Abd Rahim Puang Makka, Mursyid Khalwatiyah Murid Habib Luthfi

Sebelum wafat, Habib Puang Ramma memang telah membaiat tarekat anak-anaknya dan mengukuhkan mereka serta beberapa murid pilihannya menjadi khalifah sebagai bakal mursyid untuk melanjutkan tarekat yang diwarisinya. Khusus anak bungsunya, Habib Puang Makka dibaiat dan diberi jazah tarekat tahun 1980.

Lima tahun setelah baiat, yakni sejak 1985, Puang Makka mengembara ke Pulau Jawa untuk memperdalam ilmu tarekat dan mengasah kesufiannya atas rekomendasi mendiang ayahnya.

Guru sekaligus ulama tarekat sebagai tempat belajar dalam pengembaraannya itu, adalah Habib Husen al-Habsiy di Probolinggo, Kraksaan. Kemudian mendapat rekomendasi untuk memperdalam lagi ilmunya di hadapan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan. Juga kepada Habib Husen Assagaf di Gersik, dan K. H. Mujni di Purwokerto.

Selain yang telah disebutkan di atas, beberapa ulama lainnya di Jawa yang dijadikan tempat tabarruk dan dari ulama itu Habib Puang Makka memperoleh ijazah tarekat, adalah KH. Mufid di Pandanaran, KH. Lutfi Hakim di Meranggen Demak, K.H. Dimyati di Tasik, K.H. Latifi Bedawi di Kodong Legi Malang, K.H. Abd. Karim di Porodadi, K.H. Abd. Majid di Probolinggo.

Sambil tabarrukan dan menerima ijazah tarekat dari beberapa ulama seperti yang disebutkan, Puang Makka juga nyantri di Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya Selatan Kebun Jeruk, yang diasuh K.H. Noer Muhammad Iskandar SQ. Sambil nyantri, Habib Puang Makka intens mengikuti pengajian tasawuf pada Prof. Dr. Buya Hamka dan Dr. K. H. Idham Khalid di Jakarta.

Selanjutnya selama dua tahun, 1987-1989, Puang Makka kembali memperdalam ilmunya di hadapan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan, dan pada tahun 1989-1992 karena aktif sebagai salah satu unsur Ketua Dewan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor (DPP GP Ansor), maka Habib Puang Makka pindah ke Jakarta, namun dalam setiap waktu luangnya mengunjungi sang guru di Pekalongan Jawa Tengah.

Habib Puang Makka kemudian kembali ke Makassar pada pertengahan tahun 1993 dan memperdalam ilmu tasawufnya di hadapan abahnya, mendiang Allahu Yarham Habib Puang Ramma, juga kepada dua ulama tarekat, yakni Habib Thahir Assegaf dan K.H. Muhammad Nur Nashirur Sunnah.

Tibalah saatnya Habib Puang Makka dibaiat menjadi khalifah pada tahun 2002, dan sejak itu Habib Puang Makka mendapat amanah untuk membaiat jamaah di Parangloe Gowa mewakili ayahnya, Habib Puang Ramma. Sebagai khalifah, Habib Puang Makka senantiasa mendampingi ayahnya dalam berbagai kegiatan tarekat dan kegiatan lainnya terutama dalam berdakwah dan mengisi pengajian atau halaqah lainnya.

Tahun 2005, atau setahun sebelum wafatnya mendiang sang ayah, Allahu Yarham Habib Puang Ramma membaiat anaknya, Habib Puang Makka menjadi mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy.

Sejak menjadi mursyid, Habib Puang Makka mewakafkan waktunya, fulltime melayani jamaah, bahkan seringkali dikunjungi oleh banyak kalangan, tidak terkecuali pejabat, pengusaha dan politisi yang datang minta restu sekaligus doa keberkahan, sehingga jam istirahatnya sangat sedikit karena hampir setiap malamnya hanya tidur dua jam apalagi karena sebagai mursyid, Habib Puang Makka sesaat setelah melayani jamaah dan tetamunya, ia kembali disibukan beribadah dan mengamalkan kewajiban zikir tarekat di tengah malam sembari menunggu masuknya waktu subuh.

Sebagai mursyid yang memiliki insting kuat, hati yang bersih dan dengan melalui istikharahnya, maka Habib Puang Makka mengadakan perubahan positif di internal Khalwatiyah Syekh Yusuf dengan menjadikan tarekat ini pada amaliah neo sufisme sehingga berinisiatif menghimpun jamaah dan simpatisannya dalam wadah Jam’iyah sebagai ormas Islam yang selain konsen pada amalan tarekat juga fokus pada amaliah sosial dan kemasyarakatan.

Melalui Jam’iyah, atau lebih lengkapnya adalah Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary yang didirikan sejak tahun 2006, menjadikan jamaah lebih dekat mursyidnya, jamaah tidak mengkultuskan mursyid tetapi tetap menghargai dan menghormatinya.

Di Jam’iyah, secara rutin dilaksanakan dialog, diskusi, kajian dan pengajian pendalaman tasawuf yang tidak saja terbatas bagi jamaahnya, tetapi terbuka untuk secara umum untuk seluruh masyarakat. Dalam waktu-waktu tertentu, Habib Puang Makka membawa jamaahnya ke luar kota, misalnya di kepulauan Pangkep dan pengunungan Parangloe Gowa untuk berkhalwat dan mengadakan suluk.

Selain kesibukannya di Makassar, Puang Makka sampai saat ini masih sering ke Jawa dalam rangka tabarruk kepada gurunya, Maulana Muhammad Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, Rais Am Jam’iyah Ahlit Thariqah al-Multabarah al-Nahdliah Nahdaltul Ulama (Jatman NU), yang juga sebagai tokoh sufi al-‘alamiy, ulama sufi internasional.

Dari sang guru inilah Habib Puang Makka dibaiat Tarekat Syazdiliyah dan dari sang gurunya itu, Habib Puang Makka diijazahkan surban seukuran 6 meter, demikian pula atas rekomendasi sang guru, Habib Puang Makka diberi amanah sebagai Rais Sadis Idharah Aliyah Jatman NU.

Posisi Habib Puang Makka, baik sebagai mursyid maupun sebagai pengurus pusat Jatman NU, memiliki jaringan yang luas dan karena itu, di Makassar pula beliau aktif silaturahim kepada sesama tokoh/mursyid tarekat Khalwatiyah yang lain, Syekh Sayyid Sirajuddin Assegaf Puang Liwang, Syekh Sayyid Hasanuddin Assegaf Puang Tunru, Syekh Sayyid Muhammad Rijal Assegaf Puang Awing.

Demikian pula, Habib Puang Makka menjalin hubungan erat dengan mursyid Tarekat Khalwatiyah Samman, Syekh Puang Rukka dan Syekh Dr. H. Ruslan Wahab. Hal sama dilakukan semasa hidupnya mursyid Tarekat Syadziliyah, Allahu Yarham Syekh Mustamin Arsyad.

Intens juga silaturahim dengan pewaris Tarekat Qadiriyah, Syekh Ilham Shaleh dan pelanjut tarekat Qadiriyah sepeninggal Allahuyarham AGH. K.H. Sahabuddin, Syekh Syibli Sahabuddin, sebagaimana halnya Habib Puang Makka menjalin hubungan silaturahim dengan penuh keakraban dengan murid dan pelanjut tarekat Hakikatul al-Muhammadiyah, Allahuyarham AGH Harisah AS, yakni Dr. AGH KH. Baharuddin HS yang sekaligus sebagai Ketua MUI Makassar dan Wakil Rais Jatman NU Sulawesi Selatan.

Bahkan tokoh tarekat dari luar negeri, seperti Syekh Imam Adam Philander, cucu Syekh Yusuf di Cap Town Afrika Selatan pernah datang khusus ke Habib Puang Makka untuk bersilaturahim membicarakan tentang pengembangan jamaah Khalwatiyah Syekh Yusuf, di sana. Dalam momen demikian itulah Habib Puang Makka memperkenalkan sekaligus mengembangkan Jam’iyah di berbagai daerah, sehingga jamaahnya tersebar bukan saja di Sulawesi tetapi melebar sampai ke pelosok Pulau Jawa dan Kalimantan serta selainnya.

Jamaah Habib Puang Makka yang terhimpun dalam Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy sesuai pengalaman masing-masing, merasakan ketenangan lahiriyah, kepuasan batin dikarenakan tausiahnya yang sejuk, dan fokus pada suluk ihsan secara istiqamah, konsen pada nilai-nilai zuhud, qana'ah serta maqam tasawuf lainnya yang lebih tinggi untuk sampai ke ma’rifat sembari lebih memaksimalkan ibadah sunat untuk kesempurnaan ibadah wajib.

Lebih dari itu, Habib Puang Makka dalam mengijazahkan wirid, doa, dan amalan lainnya kepada jamaah, terutama untuk ijazah talqin zikir dan baiat, selalu diawali dengan salat istikharah dan tafakkur, sehingga terasa keberkahan apa saja yang diijazahkannya itu sebagai bekal hidup dunia akhirat. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa jamaah yang telah berbaiat darinya, senantiasa dinaunginya, melayani keperluannya dengan baik, memberikan solusi jika jamaah tersebut menghadapi problematika.

Pada intinya, Habib Puang Makka sebagai mursyid, lebih mengutamakan hubungan secara lahiriah dan batiniyah dengan jamaahnya, menghilangkan skat-skat hijab jarak dengan jamaahnya sehingga antara mursyid dan jamaah melekat, tidak terpisahkan bagaikan dua sisi mata uang yang menyatu.

Lebih lanjut tentang biografi sekaligus profil dan kepribadian Habib Puang Makka sebagai mursyid, serta berbagai tausiahnya maupun amaliah tarekatnya, dapat ditelusuri melalui link internet, klik Google lalu ketik Puang Makka. Di dunia medsos lainnya, follow Twitter @Puangmakka. Di Facebook, ikuti akun FB, Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassary, atau buka buka situs Blogger @khalwatiyahy. [Duta Islam Nusantara/ab]

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Mahmud Suyuti, Ketua MATAN Sulsel di Makassar

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/biografi-habib-abd-rahim-puang-makka-mursyid-khalwatiyah-murid-habib-luthfi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock