Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 September 2014

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais Aam Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)


Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mutabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Duta Islam Nusantara

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asyari ketika hendak mendirikan NU.

Duta Islam Nusantara

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka, demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap bada Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jamiul Ushul fil Auliya.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jumat pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku, tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60998/habib-muhammad-luthfi-bin-yahya-sosok-pelayan-umat

Duta Islam Nusantara

Senin, 03 Maret 2014

Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya

Duta Islam Nusantara - Pada malam Kamis 21 Dzulqa’dah 1437 H. (25 Agustus 2016) –di tengah berbagai upaya pencatutan istilah “Ahlussunnah Wal Jamaah” dari kaum Khawarij yang tindakan-tindakan salah mereka senantiasa dieksploitasi untuk memperburuk citra agama Islam—terselenggara Muktamar Internasional Ulama Islam do kota Grozny (Chechnya), untuk memperingati al-Syahid Presiden Syaikh Ahmad Haji Kadyrov rahimahullah dengan tema: “Siapakah Ahlussunnah Wal Jamaah? Penjelasan Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah; Akidah, Fikih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas.”

Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya - Duta Islam Nusantara
Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya - Duta Islam Nusantara


Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya

Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Ramadhan Ahmed Kadyrov hafizahullah, dengan dihadiri oleh Grand Shaikh Al-Azhar, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia. Berikut poin-poin hasil dari muktamar:

1. Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Asyairah dan Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak—sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya. Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah), dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya dalam menjaga jiwa dan akal, menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil, menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia.

2. Al-Quran Al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah SWT., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhlak, kasih sayang, kedamaian, keimanan dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah rahmat bagi seluruh semesta alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

3. Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Manhaj Islam yang paling komprehensif, detail dan akurat. Manhaj ini paling perhatian dalam memilih referensi-referensi ilmiah dan metodologi pendidikan yang mencerminkan secara benar tentang cara berpikir seorang muslim dalam memahami syariat dan mengetahui realitas dengan berbagai kerumitannya serta cara mengaitkannya secara baik.

4. Lembaga-lembaga pendidikan Ahlussunnah Wal Jamaah sejak beberapa abad telah sukses menghasilkan ribuan ulama yang tersebar di seluruh penjuru dunia dari Siberia hingga Nigeria, serta dari Tangier hingga Jakarta. Mereka telah menduduki berbagai posisi dan jabatan, serta mengemban amanah di sektor fatwa, peradilan, pendidikan dan khutbah. Sehingga masyarakat diliputi oleh keamanan. Mereka juga berhasil memadamkan api fitnah dan peperangan, sehingga kondisi negara menjadi stabil. Dan mereka pun telah menyebarkan ilmu yang benar.

5. Sepanjang sejarah, Ahlussunnah Wal Jamaah senantiasa memantau berbagai pemikiran yang menyimpang dan memantau tulisan dan konsep berbagai kelompok. Kemudian mereka menimbang semua itu dalam parameter ilmu serta memberikan kritik dan bantahan. Mereka juga senantiasa menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam menghadapi berbagai fenomena penyimpangan.

Mereka menggunakan piranti ilmu-ilmu yang kuat dalam melakukan pengawasan dan koreksi. Setiap kali Manhaj Ahlussuunnah Wal Jamaah tersebar secara aktif maka gelombang ekstremisme pasti akan surut. Sehingga kondisi umat Islam stabil dan dapat kosentrasi dalam menciptakan sebuah peradaban. Sehingga didapati para cendekiawan muslim yang berkontribusi dalam ilmu aljabar, perbandingan, perhitungan dan trigonometri. Serta ilmu geometri analitis, pecahan, algoritma, berat (massa), kedokteran dan oftalmologi, psikiatri, onkolog, epidemi, embrio, obat-obatan, ensiklopedia farmasi, ilmu flora dan fauna, gravitasi, astronomi dan lingkungan, ilmu akustik, ilmu optik dan ilmu-ilmu lainnya. Itu semua adalah buah dari Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah yang tidak terbantahkan.

6. Sepanjang sejarah berulang-ulang muncul badai gelombang pemikiran menyimpang yang mengklaim berafiliasi kepada wahyu namun membangkang terhadap metodologi ilmiah yang benar dan ingin menghancurkannya. Serta mengusik keamanan dan kenyamanan masyarakat. Gelombang pertama yang sesat dan membahayakan itu adalah Khawarij klasik hingga sampai pada Neo-Khawarij saat ini dari kalangan Salafi Takfiri dan ISIS serta semua kelompok radikal yang meniti jalan mereka yang memiliki kesamaan, yaitu distorsi, pemalsuan dan interpretasi bodoh akan ajaran agama ini.

Karenanya mereka melahirkan puluhan konsep yang rancu dan interpretasi batil yang melahirkan takfir, penghancuran, pertumpahan darah dan pengerusakan serta penodaan citra Islam dan menyebabkan Islam diperangi dan dimusuhi. Hal inilah yang meniscayakan para ulama untuk membersihkan Islam dari semua hal itu, berdasarkan sabda Nabi SAW. dalam hadis sahih: “‘Ilmu ini diemban dari setiap generasi oleh orang-orang yang adil, mereka membersihkan ilmu dari penyimpangan orang yang melewati batas, kedustaan para pembuat kebatilan dan interpretasi orang-orang yang bodoh.”

7. Dengan seizin Allah, Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah Wal Jamaah” setelah berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya. Pelurusan penyimpangan ini dilakukan dengan mengaktifkan metode ilmiah yang kuat dan otentik yang diterapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan kita yang besar yang merupakan benteng keamanan dalam membantah berbagai wacana takfiri dan ekstremis. Hal ini juga dilakukan dengan mengirimkan pesan-pesan keamanan, kasih sayang dan perdamaian ke seluruh penjuru dunia sehingga –dengan izin Allah—seluruh negeri kita kembali menjadi mimbar cahaya dan sumber hidayah. [Duta Islam Nusantara]

Chechnya, Grozny, 24 Dzulqa`dah 1437 H, 27 Agustus 2016 M.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/ini-hasil-mukmatar-ulama-aswaja-di-chechnya.html

Jumat, 03 Januari 2014

Pelajar NU Kebon Jeruk Bersepeda Sehat

Jakarta Barat, Duta Islam Nusantara. Sejumlah pelajar NU Kebon Jeruk, Jakarta Barat berkeliling menggunakan sepeda sambil mengibarkan bendera IPNU di kawasan Kebon Jeruk, Selasa (8/4). Dengan keliling itu, mereka menunjukkan semangat peduli lingkungan dan kesehatan jasmani-rohani kepada kalangan pelajar.

Program ini menjadi agenda rutin mingguan yang sudah berjalan tiga bulan belakangan.

Pelajar NU Kebon Jeruk Bersepeda Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kebon Jeruk Bersepeda Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Kebon Jeruk Bersepeda Sehat

Ketua PAC IPNU Kebon Jeruk Fajrul Rahmi mengatakan, program ini membawa banyak dampak positif. Kami, kata Fajrul, juga bermaksud mengurangi polusi udara dengan kampanye bersepeda ini selain mengurangi kemacetan di Jakarta.

Selain jasmani sehat, rohani pun menjadi sehat karena aktifitas ini dijalani dengan senang hati di samping menjaga hubungan kekeluargaan dan kekompakan di antara kami, terang Fajrul.

Duta Islam Nusantara

Duta Islam Nusantara

Ketua bidang kesenian dan olahraga IPNU Kebon Jeruk Andre menaruh harapan agar pemuda-pemuda Indonesia menjadi pemuda yang sadar kesehatan untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Pemuda Indonesia juga harus bersih dari narkoba, tandas Andre. (Yudhi Permana/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51311/pelajar-nu-kebon-jeruk-bersepeda-sehat

Rabu, 01 Mei 2013

Belum Lulus Jadi Manusia Belajar Agama

Duta Islam Nusantara - Yo wis lah, anggap saja Basuki itu penista agama. Silakan ngamuk, njerit sampek ususmu metu. Yang penting ojok kebablasan. Kalau kebencianmu pada seseorang sudah menguasaimu maka pikiran dadi nggak cerdas, rai tambah welek.

Belum Lulus Jadi Manusia Belajar Agama - Duta Islam Nusantara
Belum Lulus Jadi Manusia Belajar Agama - Duta Islam Nusantara


Belum Lulus Jadi Manusia Belajar Agama

Sekarang banyak orang yang gayane koyok wong sakti. Bisa mendeteksi atau tahu niat yang ada di dalam hati orang lain. Ada orang nangis dituduh air mata buaya. Senengane kok berprasangka buruk. Ada Kiai mbelani Basuki, langsung dipertanyakan keislamannya. "Wong Islam kok mbelani penista agama Islam?". Pokoknya yang beda dengannya langsung dicap Anti Islam. Beda kok nggak boleh. Mbelani menungso dituduh mbelani cino, kristen.

Jadi ingat Gus Dur yang membela siapa saja, nggak melihat ras, suku atau agamanya. Tapi orang selalu berprasangka, selalu melihat agamanya, rasnya, sukunya, akhirnya menuduh Gus Dur pluralisme, padahal humanisme. Banyak muslim yang gagal jadi muslim karena hal itu. Karena muslim itu menjaga, melindungi, menentramkan sesama manusia, tidak mengancam, menghina, merendahkan, hanya karena beda agama, suku dan ras.

Sudah hobinya berprasangka buruk ditambah kesempitan hati dan pikiran pula. Dapat bantuan handuk ada gambar (seperti) salib, ditolak, dituduh kristenisasi (prasangka buruk lagi). Padahal salib iku cuman kayu disilang. Bagi orang Kristen, itu simbol agama. Tapi bagiku ya cuman garis atau kayu disilang, tak berarti apa-apa. Kalo aku dikasih handuk gratis, nggak perduli gambar salib atau gambar setan, akan senang hati kuterima.

Muslim atau non muslim tidak bisa dilihat dari kostumnya. Semua tergantung pada niat. Walaupun pakai kaos metal gambare pentagram, ndas wedus, bukan berarti Satanisme. Apa kalau pakai kaos gambar Jack Daniel's terus dia adalah pemabuk? Nggak juga. Jangankan mabuk, minum Equil saja nggak berani. Pakai atribut agama lain (kostum natal) difatwa haram. Terus bagaimana dengan non muslim di Aceh yang dipaksa pakai jilbab? Golek menange dewe ae arek-arek iku.

Umat Islam di negeri ini berkembang pesat, tapi hanya di wilayah syariat teknis. Buanyak orang jilbaban, berbaju taqwa, tapi pemahamannya kolot, gampang ngamuk, gampang diprovokasi (atas nama Islam). Apalagi ulamanya yang sedikit-sedikit haram, haram kok sedikit-sedikit.

---Jare simbah, di negeri yang mayoritas muslim ini harusnya label yang diperlukan adalah label haram. Seorang muslim otomatis akan selalu mengkonsumsi makanan yang halal. Kalau di Amrik sana mayoritas non muslim, mereka biasa mengkomsumsi makanan apa saja, jadi perlu label halal---

Jadi ingat saat gempa bumi Jogja dulu. Banyak yang menolak bantuan selimut dari Israel, karena mereka kolot: Israel itu Yahudi, musuh Islam. Padahal musuh Islam yg sesungguhnya itu bukan Yahudi, Kristen, Cino, tapi kesempitan, kesempitan pikiran maupun hati, gemblung total.

Orang yang luas hati dan pikirannya, menyikapi sesuatu dengan prasangka baik (walau saat tertentu waspada itu juga perlu). Dan juga nggak gampang 'masuk angin', gampang disetir, gampang dibelokan dgn ideologi-ideologi kacau.

Menolak bantuan handuk dari Yahudi, tapi lupa kalau tiap hari 'dibantu' Yahudi. Dengan fesbuk kita bisa dengan mudah berkomunikasi dan silaturahmi jarak jauh. Bisa ketemu teman lama saat masih PAUD, reuni. Dan yang asyik kita bisa cari uang, promosi bisnis. Tapi dengan fasebook pula kita jadi 'bintang porno'. Apa pun kita share di tembok ratapan (wall) tanpa filter, walaupun itu hal yang pribadi banget. Update status dari bangun pagi sampai menjelang tidur, artis medsos. Kecanduan medsos produktivitas pun merongos

Facebook pula yang membuat kita terbiasa jadi pengecut, kurang ajar, mbokneancok, beraninya teriak di Medsos. Arek cilik komen nang statusku: "Kamu waras?". Dengan rileksnya meng-kamu-kamu-kan orang, dikira umurnya sepantaran.

Masjid atau bukan masjid itu tergantung pada niatnya ke kiblat atau nggak, ke Allah atau nggak. Walaupun di sawah kalau hati ke kiblat, sawah akan jadi masjid. Semua tergantung pada niat dan tujuan. Tapi yo ojok korupsi terus niate buat umroh, iku mbokneancok jenenge.

Nggak sedikit ustadz yang mengondisikan Islam sekarang seperti Islam jamannya Nabi di Arab jadul. Yang saat itu antar umat agama (Yahudi, Nasrani dan Islam) saling 'mengintai'. Oke, bisa jadi di Arab sekarang kondisinya masih seperti itu, tapi tidak di negeri ini. Jarno ae wong Arab perang terus, diadudomba sama Amrik. Di sini gak usah ikut-ikutan.

Sebelum kemunculan aliran-aliran keras, negeri ini sangat suwejuk dan damai. Oleh mereka, kearifan lokal ditabrakan dengan agama. Orang yang memdalami Jawa dituduh kejawen, musyrik! Siapa bilang Jawa itu tidak Islam?

Kearifan Jawa sama dengan nilai-nilai Islam. 'Ngunduh wohing pakarti' itu sama dengan 'Faman ya'mal mitsqaala dzaratin khairay yarah..' (intinya, semua perbuatan pasti ada balasannya), dan banyak lagi contohnya, golekono dewe. Kearifan lokal Jawa sudah terbukti keluhurannya dan Islam datang melegetimasi itu.

Dengan kearifan lokal itulah orang Nusantara lama banyak yang lulus jadi manusia; waskita. Bisa hidup rukun dalam harmoni dengan berbagai macam manusia, jin, gendruwo, wewe gombel. Orang sekarang belum lulus jadi manusia sudah belajar agama.

Ormas-Ormas Islam itu sebenarnya tujuannya baik, memerangi kemasyiatan. Tapi banyak yang nggak simpati karena caranya yang terlalu keras, main pentung. Merusak citra Islam yang lembut dan damai. Dakwah pada orang lain harusnya lemah lembut, yang keras itu pada diri sendiri. Juga, orang 'tersesat' kok malah dipentungi, tidak ditunjukan jalan yang benar.

Salutnya pada ormas-ormas itu, mereka selalu turun tangan terjun langsung ke musibah bencana. Itu keren, tapi lebih keren lagi kalau tidak pakai label, cap, merk, atribut, kostum, seragam. Mau berbuat baik, berbuat saja, nggak pakai nama agama, nama partai, nama organisasi, dsb.. Just hamba Tuhan. Maka saya setuju banget kalau para stasiun tipi menolak memberitakan sukarelawan bencana yang memakai atribut partai atau ormas.

Tetap semua kembali pada niat. Kegiatan amal diposting di Facebook niatnya ingin menginspirasi orang agar berbuat serupa, itu oke. Yang penting tidak untuk pencitraan. Karena pencitraan = pemalsuan = kriminal = mbokneancok (motherfucker).

Muslim sejati tidak memamerkan perbuatan baiknya, atau berbuat baik jangan sampai orang lain tahu. Atau kalau sudah level sufi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita berbuat baik (walau itu nggak mungkin), total ikhlas.

Aku nggedabrus iki tidak dalam rangka menertawai kekonyolan saudara semuslim, seperti lalat yang berpesta di atas borok orang lain. Aku nggak anti tokoh tertentu, nggak anti ormas itu, nggak kabeh. Sebenarnya kita ini sama kok. Jawa, Arab, Islam, Kristen, aku, kalian, Basuki, Habib, Joko, Mbah Ndimun, Slamet, Ormas garis keras, semuanya sama, sama-sama bingung aja.

Kalau nggak ingin bingung, jadi Atheis saja, karena mereka sudah berhenti mencari kebenaran agama (Tuhan). Sekarang manusia hidup di era katanya, jarene. Jarene ulama iku, jarene kiai iki. Kalau muslim, kebenaran itu ada di Al Qur'an, Rasulullah (Qur'an berjalan) dan Allah. Kalau hadits masih boleh dikritisi. Omongan ulama, ustadz, kiai itu bukan kebenaran, itu tafsir. Jangankan ulamamu, Bukhari Muslim pun boleh dikritisi.

---Percoyo karepmu, gak percoyo urusanmu, karena tulisan ini juga bukan kebenaran---

Makane ojok nggaya dengan madzhabmu, aliranmu, nuding-nuding "sesat!", membakar rumah dan mengusir dari tanahnya sendiri pada orang yang nggk sealiran denganmu. Sama persis dengan muslim Ronghiya yang dibantai, diusir dari negerinya karena minoritas dan berbeda keyakinan. Kelakuan rakyat Burma adalah gambaran diri mereka yang demi agama tega membunuh, padahal kalau demi manusia nggak akan tega. Wis ah, ideologi itu damai, tapi sejarah itu kejam! [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/belum-lulus-jadi-manusia-belajar-agama-bahaya.html

Rabu, 01 Februari 2012

Sholat Subuh Berjamaah Kok Dipolitisir Mendukung Calon Gubernur. Itu Penistaan!

Duta Islam Nusantara - Kemarin ada dua kawan saya berbincang soal ajakan melaksanakan sholat Subuh berjamaah oleh tokoh ormas Islam dengan tema "Memilih Pemimpin Islam". Penasaran cerita teman saya itu, silakan baca:

Sholat Subuh Berjamaah Kok Dipolitisir Mendukung Calon Gubernur. Itu Penistaan! - Duta Islam Nusantara
Sholat Subuh Berjamaah Kok Dipolitisir Mendukung Calon Gubernur. Itu Penistaan! - Duta Islam Nusantara


Sholat Subuh Berjamaah Kok Dipolitisir Mendukung Calon Gubernur. Itu Penistaan!

Kawan 1: Kang, aku dapat undangan menghadiri sholat subuh berjamaah di sebuah masjid di Jakarta. Yang akan datang adalah Amien Rais, tokoh-tokoh FPI, HTI, Cagub AHY dan Cagub Anies. Usai sholat subuh akan ada ceramah yang topiknya "Memilih Pempimpin Islam".

Kawan 2: Oh. Wah, hebat sampeyan, jarang jamaah subuh kok diajak jamaah subuh. Ada ceramahnya para tokoh lagi. Pasti dapat snack atau bahkan sarapan tuh.

Kawan 1: Iya. Orang-orang yang sepertiku banyak yang bilang mau ikut. Mereka jarang sholat jamaah, apalagi jamaah subuh. Tapi ini karena diundang, apalagi yang ngundang tokoh-tokoh Islam, mereka pada semangat datang. Semangatnya kayak demo 411 dan 212 yang lalu.

Kawan 2: Wah, pasti ramai tuh. Masjidnya pasti penuh tuh. Kayaknya bakal banyak spanduk dan liputan media tuh. Kamu itu saja, siapa tahu wajahmu masuk Tivi. Mertuamu nanti akan tahu bahwa kamu ternyata menantu yang rajin sholat subuh berjamaah.

Kawan 1: Aku tertarik ceramahnya juga Kang. Pasti bagus itu nanti. Kita yang umat Islam akan diberi panduan bagaimana memilih pemimpin Islam, sesuai temanya. Aqidah kita harus dijaga, jangan sampai rusak karena tidak mau memilih pempimpin Islam.

Baca: Apakah yang Membuat Indomie Goreng Masuk Surga, Kiai?

Kawan 2: Oh Ya. Emang yang ceramah itu ulama? Meraka tahu apa yang disebut Pemimpin Islam?. Apa mereka sudah paham isi kitabnya Imam Ghozali, kitabnya Imam Al Mawardi? Apa mereka sudah mengerti bagaiman sosok dan kriteria pemimpin Islam itu apa?

Kawan 1: Wah. Entahlah, Kang. Aku tidak tahu. Yg kutahu mereka itu adalah tokoh-tokoh islam level nasional. Mereka bahkan ada yang petinggi MUI. FPI itu isinya para habib, keturunan Rasululllah lho Kang. Amien Rais malah mantan Ketua PP Muhammadiyah. Selama ini yang kutahu, mereka selalu mengatakan bahwa memilih pemimpin itu ya yang agamanya Islam. Jangan memilih yang non Islam. Jangan memilih yang kafir. Dasarnya ya Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat ke-51 yang sangat populer itu.

Kawan 2: Lho. kamu ini gimana to, Kang. Wong topiknya Memilih Pemimpin Islam, kok dimaknai memilih calon gubernur yang beragama Islam. Kamu ini masih waras atau tidak, Kang? Coba baca baik baik dan ulangi baca undangan yang kau terima itu. Bukankah kamu ini sarjana? Bahkan sarjana agama?

Kawan 1: Lho. Aku ini waras Kang. Sangat waras. Otakku masih normal, pikiranku masih sehat. Jangan kau pertanyakan pula soal gelar kesarjanaanku.

Kawan 2: Kalau memang masih normal dan sehat, sudah sarjana pula, mengapa kamu dan banyak orang lain tidak bisa menjelaskan padaku, apa itu pemimpin Islam?

Kawan 1: Kan sudah jelas dari sejak Oktober lalu. Sejak demo pertama kali di Jakarta itu. Pokoknya jangan pilih Ahok. Ahok itu bukan Islam. Warga DKI haus memilih pemimpin Islam. Yang beragama Islam. Kalau tidak memilih calon yang beragama Islam berarti memilih orang kafir sebagai pemimpin. Itu jelas rusak akidahnya, batal imannya. Kafir atau minimal munafiq hukumnya.

Kawan 2: Kau dengar itu dari siapa?

Kawan 1: Ya dari para habib, para ulama. Termasuk pak Amien Rais dan Habib Rixieq Shihab sendiri. Memilih Pemimpin Islam itu ya jangan pilih Ahok. Pilih saja Agus Harimurti atau Anies Baswedan. Makanya dua cagub itu akan datang di sholat subuh berjamaah nanti. Calon itulah yang diminta didukung oleh umat Islam.

Kawan2: E alah Kaaang Kang.. Aku terpaksa harus menasehati kamu. Begini lho Kang. Sederhananya begini, pemimpin Islam itu ya pemimpin dalam agama Islam. Pemimpin yang seperti Rasulullah, para sahabat, atau misalnya pemimpin Nahdlatul Ulama atau pemimpin MUI atau Muhammadiyah. Ya tentu harus yang beragama Islam. Bodoh dan gila kalau orang Islam memilih pemimpin Islam yang bukan beragama Islam. Aku pun tidak akan goblok menukarkan akidahku dengan memilik Ahok sebagai pemimpin Islam. Ya jelas rusak imannya kalau memilik non muslim sebagai Pemimpin Islam. Islam sendiri jelas akan rusak kalau dipimpin oleh Ahok atau siapapun yg beragama non Islam.

Kawan 1: Lha. Terus?

Kawan 2: Ini Pilkada, Kang. Pilkada. Memilih Kepala Daerah. Gubernur DKI. Gubernur itu kepala pemerintahan yang berkewajiban menjadi pelayan rakyat. Dia bukan Pemimpin Islam. Lha wong sholat subuh berjamaah kok dipolitisir untuk mendukung calon gubernur. Masjid kok dipakai untuk kepentingan politik. Itu jelas penistaan. Itu jelas menista baitullah, tempat suci umat Islam.

Kawan 1: Lho Kang. Kamu ini kok malah menuduh Amien Rais dan Habib RIzieq dan kawan-kawan menista agama dan masjid. Wah, lha terus kalau aku ikut jamaah di situ, berarti menjadi bagian dari penistaan dong. Berarti aku ikut menodai agamaku dan masjidku, menista kesucian tempat ibadahku dengan kampanye politik. Dan itu berarti melanggar UU Pemilu ya Kang. Wah, bisa ditangkap Bawaslu juga aku nanti.

Kawan 2: Silakan datangai itu masjid. Ikuti saja jamaah dan ceramahnya. Besok aku akan melaporkan ke polisi dan Bawaslu, meminta agar diproses kasus penistaan alias penodaan agama dan juga Pelanggaran Kampanye di tempat ibadah. [Duta Islam Nusantara/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/shalat-subuh-berjamaah-dipolitisir-mendukung-calon-gubernur-itu-penistaan.html

Sabtu, 17 Desember 2011

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid

Duta Islam Nusantara - Mahallul Qiyam atau berdiri ketika tengah membaca shalawat itu sangat-sangat dibolehkan. Jika ada yang membid'ahkan mahallul qiyam ketika kita sedang membaca sirah nabawiyah dalam bentuk syair berbait macam Al Barzanji, Diba', Burdah, SImtut Duror dan lainnya, maka ia sebetulnya sedang melarang kita untuk berdzikir, padahal, berdzikir kepada Allah dapat dilakukan dalam posisi apapun, sebagaimana dalam ayat berikut:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ ... (ال عمران ١٩١)

"(Ulul Albab yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring..." (Ali Imran: 191)

Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid - Duta Islam Nusantara
Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid - Duta Islam Nusantara


Ini Dalil Mahallul Qiyam Maulid

Dan kita ketahui bahwa shalawat adalah dzikir karena diperintahkan dalam Al-Quran dan banyak hadist. Dengan demikian, membaca shalawat tetap boleh, baik dengan cara duduk atau berdiri.

Duta Islam Nusantara

Amaliah di lingkungan kita berupa berdiri saat mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama telah dilakukan sejak abad pertengahan Islam yang dilakukan seorang ulama yang bertaraf mujtahid di lingkungan Madzhab Syafiiyah, yaitu Imam As-Subki, sebagaimana disampaikan oleh ulama ahli sejarah Syekh Ali Al-Halabi dalam kitabnya "Insan al-Uyun Fi Sirat Al-Amin Al-Ma'mun":

ﻭﻗﺪ ﻭﺟﺪ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻨﺪ ﺫﻛﺮ اﺳﻤﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﻦ ﻋﺎﻟﻢ اﻷﻣﺔ ﻭﻣﻘﺘﺪﻱ اﻷﺋﻤﺔ ﺩﻳﻨﺎ ﻭﻭﺭﻋﺎ اﻹﻣﺎﻡ ﺗﻘﻲ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺴﺒﻜﻲ، ﻭﺗﺎﺑﻌﻪ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻣﺸﺎﻳﺦ اﻹﺳﻼﻡ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ، ﻓﻘﺪ ﺣﻜﻰ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻥ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ اﺟﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻩ ﺟﻤﻊ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎء ﻋﺼﺮﻩ ﻓﺄﻧﺸﺪ ﻣﻨﺸﺪ ﻗﻮﻝ اﻟﺼﺮﺻﺮﻱ ﻓﻲ ﻣﺪﺣﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ:

Duta Islam Nusantara

"Bentuk berdiri semacam ini ketika menyebut nama Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama (mahallul qiyam) sungguh telah ditemukan dari ulamanya umat Islam dan panutan para imam, dari segi agamisnya dan kewara'annya (menjauhi hal-hal yang haram dan syubhat), yaitu Imam As-Subki dan diikuti oleh para ulama di masanya.

Sebagian ulama menceritakan bahwa Imam Subki dan para ulama berkumpul, lalu seorang penyair melantunkan syair pujian karya Ash-Sharshari untuk Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama [bahr thawil] :

ﻗﻠﻴﻞ ﻟﻤﺪﺡ اﻟﻤﺼﻄﻔﻰ اﻟﺨﻂ ﺑﺎﻟﺬﻫﺐ ... ﻋﻠﻰ ﻭﺭﻕ ﻣﻦ ﺧﻂ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﻛﺘﺐ ﻭﺃﻥ ﺗﻨﻬﺾ اﻷﺷﺮاﻑ ﻋﻨﺪ ﺳﻤﺎﻋﻪ ... ﻗﻴﺎﻣﺎ ﺻﻔﻮﻓﺎ ﺃﻭ ﺟﺜﻴﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﻛﺐ

Artinya: "Sedikit sekali tulisan yang memuji Nabi pilihan dengan tinta emas di atas lembaran perak dalam tulisan terbaik. Hendaklah orang-orang mulia berdiri ketika mendengarnya, berdiri bershaf-shaf, atau berlutut diatas kendaraan"

ﻓﻌﻨﺪ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻡ اﻹﻣﺎﻡ اﻟﺴﺒﻜﻲ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﻭﺟﻤﻴﻊ ﻣﻦ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻓﺤﺼﻞ ﺃﻧﺲ ﻛﺒﻴﺮ ﺑﺬﻟﻚ اﻟﻤﺠﻠﺲ، ﻭﻳﻜﻔﻲ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ اﻻﻗﺘﺪاء.

Saat itulah Imam As-Subki berdiri bersama orang yang hadir dalam majelis. Keharuan yang besar terdapat dalam mejelis tersebut. Hal semacam ini sudah cukup [boleh] untuk diikuti" (As-Sirah Al-Halabiyah, 1/123 dikutip oleh banyak para ulama termasuk pengarang kitab Ianah Ath-Thalibin). [Duta Islam Nusantara]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center PWNU Jatim.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-dalil-mahallul-qiyam-maulid.html

Senin, 14 November 2011

Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah

Duta Islam Nusantara - Beberapa kelompok masih takut atau tidak mau masuk salah satu thariqah yang mu'tabarah (diakui) karena pertimbangan belum cukup umur, dianggap tidak perlu, atau bahkan ada yang menyebut thariqah adalah ajaran yang tidak berdasarkan pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Untuk mendapatkan jawaban tersebut, silakan dibaca tanya jawab di bawah ini.

Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah - Duta Islam Nusantara
Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah - Duta Islam Nusantara


Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah

Pertanyaan: "Bagaimana pendapat muktamirin tentang hukum masuk Thariqah dan mengamalkannya?"

Jawaban: Jika yang dikehendaki masuk thariqah itu belajar membersihkan hati dari sifat-sifat yang rendah, dan menghiasi sifat-sifat yang dipuji, maka hukumnya Fardhu 'Ain. Hal ini seperti hadist Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam yang artinya:

"Menuntut ilmu diwajibkan bagi orang islam laki-laki dan orang islam perempuan."

Akan tetapi kalau yang dikehendaki masuk Thariqah Mu'tabarah itu khusus untuk dzikir dan wirid, maka termasuk sunnah Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam.

Adapun mengamalkan dzikir dan wirid setelah baiat, maka hukumnya wajib, untuk memenuhi janji. Tentang mentalqinkan (mengajarkan) dzikir dan wirid kepada para murid, hukumnya sunnah, karena sanad thariqah kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam itu sanad yang shahih."

Kitab Rujukan: 1. Al-Adzkiyaa': وَتَعَلَّمَنْ عِلْمًا يُصَحِّحُ طَاعَةً

"Pelajarilah ilmu yang membuat sahnya ibadah"

2. Al-Ma'arif Al-Muhammadiyah halaman 81:

"Sanad para wali kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam itu benar atau sah, dan shahih pula hadis bahwa Ali Radhiyallaahu ;Anhu pernah bertanya kepada nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. kata Ali, Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambaNya dan yang paling utama bagi Allah." Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan Allah. Dasar lainnya adalah firman Allah Ta'ala; "Penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan diminta pertanggungjawabannya." (Q.S. Al-Israa': 34).

Keterangan: Dari hasil bahtsul masail di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya masuk thariqah itu hukumnya bisa fardhu 'ain, namun juga bisa sunnah. Apabila para sahabat masuk thariqah untuk membersihkan hati dari segala sifat yang hina dina, maka hukumnya masuk thariqah menjadi wajib. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/hukum-mengikuti-thariqah-mutabarah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock