Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Inilah Cara Komunikasi Antar Para Waliyullah

Duta Islam Nusantara - Suatu hari, seorang kiai sowan ke almaghfurlah Habib Ahmad Assegaf. Saat itu kira-kira 20 menit menjelang Maghrib. Ketika terdengar adzan, beliau pamit dan Habib Ahmad mengatakan hingga 3 kali, "Insya Allah 3 hari lagi kamu ke sini," demikian dawuh Habib.

Inilah Cara Komunikasi Antar Para Waliyullah
Inilah Cara Komunikasi Antar Para Waliyullah


Pas 3 hari kemudian, kiai tersebut kedatangan tamu almaghfurlah Mbah Kiai Munawar Kudus. Beliau bercerita tentang Habib Ahmad Assegaf, kemudian Mbah Munawar mengajak ke rumah Habib Ahmad.

Ketika sudah dekat dengan rumah Habib Ahmad, Mbah Munawar berkata, "mengko yen tekan ngarep lawang kok ora dibuka, tak tendang lawange/ nanti kalau sudah sampai depan rumah kok tidak dibukakan, saya tendang pintunya".

Benar sekali, tepat di depan pintu, tiba-tiba pintu dibuka oleh Habib Ahmad Assegaf sendiri sambil mengucap, "Assalamu'alaikum!".

Setelah masuk dan berbincang laiknya tamu, Mbah Munawar hendak meminta peci Habib Ahmad Aegaff, namun tidak diperbolehkan oleh habib. Karena rebutan, beliau berdua mirip seperti anak kecil, yang satu ingin merebut peci, dan yang satunya mempertahankan.

Akhirnya Habib Ahmad berkata, "mintalah kepada Ibrahim Baraqba", lalu Mbah Munawar keluar dari rumah dan tangan beliau menunjuk ke langit. Setelah itu beliau berdua berpamitan Habib Ahmad.

Beberapa hari kemudian sang kiai sedang ngopi di warung depan masjid Kauman. Setelah lepas tengah malam, kiai melihat seseorang masuk masjid lewat pintu samping, yang sangat dikenal oleh kiai dengan nama Wan Ibrahim Baraqba.

Penasaran, kiai beranjak ke masjid ingin mengetahui apa yang sedang di kerjakan dan apa yang akan terjadi. Ternyata setelah sholat sunnah, Wan Ibrahim Baraqba membaca sedang Al-Qur'an di dekat mimbar dan menangis di sana. Begitulah orang-orang besar. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/inilah-cara-komunikasi-antar-para-waliyullah.html

Ini Bapak Kitab Kuning di Nusantara

Duta Islam Nusantara - Berbicara tentang pesantren di Indonesia, tentu daerah Jawa Timur saat ini akan lebih dominan dari segi kultur dan pengaruhnya. Namun tahukah anda? Bahwa ternyata standarisasi pemikiran keilmuan pesantren di Indonesia berasal dari seorang Jawa Barat (Sunda).

Ini Bapak Kitab Kuning di Nusantara
Ini Bapak Kitab Kuning di Nusantara


Adalah Syaikh Nawawi al-Bantani. Seorang yang digelari Bapak Kitab Kuning Nusantara itu adalah orang Banten. Orang yang lahir di tatar Sunda. Bahkan, salah satu gurunya yang beberapa kali ia sebut dalam beberapa karyanya adalah orang Purwakarta, beliau adalah Syaikh Yusuf As-Sumbalaweni.

Karya-karya Syaikh Nawawi hingga saat ini masih menjadi bacaan standar di hampir seluruh pesantren di Nusantara. Diantaranya:

Syarh Safinatun Naja

Tijan

Sulamunajat

Nihayatu Zain

Uqudul Lujain

Syarh Riyadul Badiah

Maroqil Ubudiyah

Qomi Thugyan

Qothrul Ghaits

Nurudzholam

Tanqihul Qaul

Madarijus suud

Tafsir almunir

Dan lain-lain.

Syaikh Nawawi al-Bantani dikuburkan di Ma'la Mekah. Sebab sewaktu muda beliau pindah ke Mekkah. Beliau pernah diangkat menjadi Imam Masjidil Haram serta mengajar disana. Keilmuannya sangat luas dan terkenal ke seluruh dunia.

Diantara murid Syaikh Nawawi al-Bantani adalah Syaikona Kholil Bangkalan, K.H. Hasyim Asy'ari, dan Mama Tubagus Bakri Sempur. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/ini-bapak-kitab-kuning-di-nusantara.html

Kamis, 01 September 2016

Indonesia more tolerant than America and Europe

Jakarta, Duta Islam Nusantara. General Chairman of Nahdlatul Ulama (NU) KH Said Aqil "Kang Said" Siroj said that Indonesia has a more reliable openness than countries in America and Europe in dealing with the values of religious pluralism. In the country, religious believers have not only enjoyed freedom but also greatly appreciated every religious holiday, for example with the establishment of a national holiday.

"We can see, in America and Europe there is no such Idhul Fitri holiday for Muslims. In France, wearing hijab is also prohibited," he said in the presence of delegates of PCNU throughout eastern Indonesia in the Pre-Conference event held in Sudiang Hajj Dormitory, Makassar, South Sulawesi, on Wednesday (22/4).

Indonesia more tolerant than America and Europe (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia more tolerant than America and Europe (Sumber Gambar : Nu Online)


Indonesia more tolerant than America and Europe

And in Indonesia, he added, despite the small number of Buddhists and Confucians, they have still found the freedom to celebrate their great day. According to him, this is because the Muslims who are the majority population in Indonesia could really respect any difference.

Duta Islam Nusantara

Kang Said called this attitude as a character of so-called Islam Nusantara as preserved by NU as the countrys largest Muslim organization.

He asserted that Islam Nusantara did not see Islam as a doctrine of aqidah and syariah alone, but also about moral and civilization.

Duta Islam Nusantara

The cleric born in Cirebon, West Java, was of the opinion Islam could not be separated from the homeland and the local cultures. Therefore, nationalism and respect for local wisdom for NU are important to create an atmosphere of peaceful religious coexistence.

"Man laisa lahul ardlun laisa Lahut tarikh. Wa man laisa Lahut tarikh laisa lahu dzakirah. Whoever has no homeland, will never have history. And whoever has no history, will never have character," Kang Said said.

According to him, in the context of statehood, loving the country should be a priority over the group including Islam. This was not present in the majority of Muslims in the Middle East so that there have always been conflicts in the region.

"(Relying on) Islam (as a doctrice of aqidah) is not enough, there must be a national commitment," he said.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59046/039indonesia-more-tolerant-than-america-and-europe039

Duta Islam Nusantara

Kamis, 29 November 2012

Surat Gus Mus Kepada Gus Dur (Arti Persahabatan dan Penghormatan Kepada Ibu)

Duta Islam Nusantara - Dikisahkan oleh eyang kakung Ahmad Mustofa Bisri pada tanggal 30 Desember setahun lalu. Ini mengenai dan tentang sesambungan beliau dengan mendiang Gus Dur terkasih. Saya hadirkan kembali, maaf, tanpa ijin beliau, untuk bahan belajar bab kekancan (pertemanan) dan paseduluran (persaudaraan).

Surat Gus Mus Kepada Gus Dur (Arti Persahabatan dan Penghormatan Kepada Ibu) - Duta Islam Nusantara
Surat Gus Mus Kepada Gus Dur (Arti Persahabatan dan Penghormatan Kepada Ibu) - Duta Islam Nusantara


Surat Gus Mus Kepada Gus Dur (Arti Persahabatan dan Penghormatan Kepada Ibu)

1970. Begitu lulus dari Fakultas Adab di Baghdad, dia ke Belanda. Dari negeri Kincir itu, dia menulis surat panjang kepadaku tentang rencana pulang bersama. Yang masih aku ingat, dalam suratnya itu antara lain dia menulis:

"Begitu sampeyan lulus, segera cari utangan dan nyusul saya ke Belanda. Aku sudah carikan pekerjaan yang sesuai bakat sampeyan di bagian advertensi. Gajinya cukup besar. Saya sendiri sudah bekerja dengan gaji yang lebih besar lagi. Ngepel kapal. Nanti kita bisa menabung dan beberapa bulan saja kita sudah bisa membeli mobil seken (bekas, amb). Dengan mobil itu nanti kita pulang via darat ke Indonesia. Kawan-kawan dari negara-negara yang kita lewati sudah saya beritahu tentang rencana ini. Dengan demikian nanti kita bisa berkesempatan luas untuk bicara dan berdiskusi terutama tentang Indonesia. Kalau sudah sampai tanah air, kita tidak akan punya banyak kesempatan bertemu..."

Hampir bersamaan dengan suratnya, aku terima surat dari ayahku yang menyuruhku mengawani ibuku yang tahun itu naik haji tidak dengan ayah. Ketika hal ini aku sampaikan kepadanya, dia dengan tegas menjawab: "Dahulukan ibu sampeyan. Kita nanti bikin rencana alternatif, misalnya setelah sampai tanah air, kita menjaga murasalah, minimal sebulan sekali. Wassalam."

Begitulah akhirnya dia dari Belanda ke Jerman dan Perancis untuk memuaskan kesukaannya membaca di perpustakaan-perpustakaan, dan aku ke Saudi untuk mengawani ibuku berhaji. 1971.

Ternyata dia sudah lebih dahulu sampai Indonesia dan kawin. Aku menyusul kemudian. Dan seperti 'ramalan'nya, kami tidak lagi punya banyak kesempatan untuk bertemu. Hanya surat-suratan; ini pun tidak bisa seperti yang dia harapkan minimal sebulan sekali.

Jika sewaktu-waktu aku ke Jakarta, aku berusaha mencuri sedikit waktu berharganya. Atau dia mampir menemuiku sebentar di hotel tempatku menginap. Hal ini terutama dikarenakan kesibukannya yang semakin lama semakin padat sebagai pemimpin umat dan bangsa. Hingga dia wafat setelah seminggu rawuh di Rembang. Semoga Allah menempatkannya di tempat penuh rahmat di sisiNya. Lahul Faatihah [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/surat-gus-mus-kepada-gus-dur-arti-pershabatan-dan-penghormatan-kepada-ibu.html

Rabu, 26 September 2012

PBNU Buka Munas Ke-2 KMNU di Bandung

Bandung, Duta Islam Nusantara. Sembilan kali pukulan gong secara simbolik menandakan pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Ke-2 Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) di auditorium FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Jumat (22/1) siang. Ketua PBNU H Eman Suryaman membuka musyawarah yang akan berlangsung hingga Ahad (24/1).

Rangkaian acara tidak hanya digelar di UPI, tetapi juga di Pondok Pesantren Nurul Furqon, Lembang, Bandung.

PBNU Buka Munas Ke-2 KMNU di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Buka Munas Ke-2 KMNU di Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Buka Munas Ke-2 KMNU di Bandung

H Eman menekankan kepada kader-kader terkait pentingnya menggali potensi yang dimiliki karena pada suatu saat nanti KMNU akan menjadi pemimpin masyarakat.

Duta Islam Nusantara

Tetapi harus tetap ikhlas khidmah kepada ulama supaya mendapatkan berkah, tutur H Eman membuka Munas tersebut.

Era sekarang sudah berubah. Tetapi era perubahan ini jangan sampai tersia-siakan. Kita harus siap dengan ilmu. Itulah pentingnya pendidikan, kata mantan Ketua PWNU Jabar di hadapan ratusan kader KMNU dan puluhan undangan dari berbagai organisasi badan otonom di kalangan NU.

Duta Islam Nusantara

Ia meminta KMNU untuk ikut berperan aktif menghadapi tantangan global. Kita jangan jadi penonton, tapi juga pelaku, tegas Ketua PBNU asal Cirebon itu.

Beberapa tokoh NU Jawa Barat juga tampak hadir antara lain Ketua Pergunu Jawa Barat, Rektor UPI Prof Furqon, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Prof Mahmud, pengasuh-pengasuh pesantren, dan juga Gubernur Jawa Barat yang diwakili oleh Kepala Biro Pelayanan Dasar Jawa Barat. (M Zidni Nafi/Alhafiz K)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/65190/pbnu-buka-munas-ke-2-kmnu-di-bandung

Sabtu, 07 Juli 2012

Adakan Pertemuan Siluman Dengan 35 Kiai NU, GP Ansor Kayen Bubarkan Acara HTI

Duta Islam Nusantara - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendapatakan perlawanan dari PAC GP Ansor Banser dan Pagar Nusa Kecamatan Kayen, Pati, pada saat mereka mengadakan pertemuan di Gedung Haji, Kec. Kayen, Kab. Pati, Jateng, Ahad (13/11/2016) pagi.

Awalnya, Ketua PAC GP Ansor Kayen mendapatakan selebaran yang isinya akan ada kegiatan mengatasnamakan HTI di daerah tersebut yang kabarnya mengundang tokoh-tokoh NU di 21 desa se Kecamatan Kayen. Setelah ditelusuri, ternyata informasi tersebut benar adanya.

Mengingat situasi politik di Jakarta yang belum padam, Ansor langsung berkoordinasi dengan Pagar Nusa (PN) untuk mendatangi acara. Informasi yang diterima Duta Islam menyebutkan, ada 20 anggota HTI dan 35 tokoh NU yang hadir di acara. Ini yang menurut Ansor harus diwaspadai.

Adakan Pertemuan Siluman Dengan 35 Kiai NU, GP Ansor Kayen Bubarkan Acara HTI - Duta Islam Nusantara
Adakan Pertemuan Siluman Dengan 35 Kiai NU, GP Ansor Kayen Bubarkan Acara HTI - Duta Islam Nusantara


Adakan Pertemuan Siluman Dengan 35 Kiai NU, GP Ansor Kayen Bubarkan Acara HTI

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Ketua PAC Ansor, Sunoto, menetapkan siaga 1 wahabi di daerahnya atas digelarnya acara HTI, yang terkesan sembunyi-sembunyi dengan misi politis mempengaruhi tokoh-tokoh kiai sepuh NU.

Dipimpin langsung oleh Sunoto, pagi itu juga sekitar jam 10.00 WIB, 30 orang terdiri atas Ansor, Banser dan Pagar Nusa, bergerak menuju Gedung Haji Kayen. Dalam pertemuan tersebut, HTI mengajak bergabung kepada para kiai NU karena umat Islam disebut sudah bersatu sejak demo 411 di Jakarta.

Duta Islam Nusantara

"Umat Islam sekarang sudah bersatu. Hal ini dibuktikan dengan acara demo 4 November 2016 yang diikuti hampir semua ormas Islam. Oleh karena itu, mari NU juga bersama-sama ormas Islam yang lain untuk menjaga persatuan antar umat Islam yang semakin nyata," kata salah satu anggota HTI, dikutip Duta Islam dari laporan Joko Buono, anggota Pagar Nusa Pati, kemarin (13/11/2016).

Duta Islam Nusantara

Melihat agenda HTI yang main colong kepada sesepuh NU di wilayahnya, Ansor, Banser dan Pagar Nusa memberikan kesempatan pertemuan HTI tersebut hingga pukul 11.30 WIB, sebagaimana rencana awal. "Kalau jam 11.30 tidak bubar, maka akan dibubarkan paksa," demikian ultimatum Ketua Ansor. Redaksi Duta Islam Nusantara belum menerima laporan lebih lanjut atas berita ini. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/adakan-pertemuan-siluman-dengan-35-kiai-gp-ansor-kayen-bubarkan-hti.html

Selasa, 13 April 2010

Pesantren Nurul Hadi Cetak Generasi Aswaja

Yogyakarta, Duta Islam Nusantara. Dengan tetap mempertahankan sistem pembelajaran secara tradisional, pesantren ini berdiri dengan percaya diri di tengah kepungan modernisasi.

Terkadang, di balik terjadinya sebuah bencana, menyimpan hikmah besar di dalamnya. Berdirinya Pesantren Nurul Hadi pasca bencana gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006 silam menjadi salah satu bukti pernyataan tersebut. Pesantren ini berdiri tepat setelah gempa bumi mengguncang Yogyakarta, pada tanggal 26 Desember 2006. Pesantren ini terletak di desa Karang sari, Banguntapan, Bantul Yogyakarta. Dengan tetap mempertahankan sistem pembelajaran tradisional, pesantren ini bertekad mencetak generasi-generasi muda yang siap melanjutkan visi dan misi ahlusunnah wal jamaah ke depannya.

Pesantren Nurul Hadi Cetak Generasi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Hadi Cetak Generasi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)


Pesantren Nurul Hadi Cetak Generasi Aswaja

Pendiri Pesantren Nurul Hadi adalah seorang santri tulen kelahiran Yogyakarta bernama KH Imam Suhrowardi atau biasa dipanggil Gus Mawardi. Setelah lulus SD, Gus Mawardi langsung pergi nyantri ke Banten, di tempatnya Syekh Dimyati Padeglang. Puas ngangsu kaweruh di tempatnya Syekh Dimyati, beliau kemudian melanjutkan petualangan intelektualnya di tempatnya Syekh Masud Cilacap. Setelah beberapa lama berkelana di bumi barat, Gus Mawardi lalu melanjutkan pencarian ilmunya di bumi timur Pulau Jawa, tepatnya di kota Kediri. Gus Mawardi nyantri di Kediri mulai tahun 1991 hingga tahun 2006. Setelah itu beliau kembali ke kampung halamannya di daerah Lempuyangan Yogyakarta.

Ada kisah unik terkait proses berdirinya Pesantren Nurul Hadi. Diceritakan setelah pulang nyantri dari Kediri, Gus Mawardi kemudian dinikahkan oleh orang tuanya. Proses perjodohan tersebut sudah berlangsung sejak ia masih nyantri di Kediri. Beliau sama sekali belum pernah bertemu dengan calon istri. Hanya foto sang calon istri yang dikirimkan orang tuanya ke Kediri. Meski begitu, Ia yakin akan pilihan orang tua.

Duta Islam Nusantara

Duta Islam Nusantara

Meski saya tidak pernah melihat calon istri saya, tapi saya yakin pada pilihan orang tua. Sebab tak akan ada orang tua yang ingin mencelakakan anaknya. Ujar Gus Mawardi saat ditemui Bangkit.

Prasangka baik Gus Mawardi tersebut akhirnya berujung kenyataan, karena beliau merasa sreg dengan sang istri setelah melihatnya. Akad nikah pun dilaksanakan dengan penuh kebahagiaan. Dua hari setelah akad nikah tersebut, bencana gempa bumi mengguncang Yogyakarta. Hal itu menjadi kenangan yang tak akan dilupakan olehnya. Setelah tinggal di kediaman sang istri yang bernama, Siti Muharoroh, ia kemudian mendirikan pesantren yang diberi nama Pesantren Nurul Hadi. Ditanya mengenai tujuannya mendirikan pesantren tersebut, Gus Mawardi mengatakan bahwa ia ingin mencetak generasi yang berakhlaqul karimah.

Tujuan saya mendirikan pesantren ini ya ingin mencetak generasi yang memiliki akhlaqul karimah, karena saat ini mencari generasi seperti itu seperti mencari emas, tegasnya sambil tersenyum getir.

Pertahankan Sistem Tradisional

Pesantren Nurul Hadi termasuk salah satu dari sekian banyak pesantren yang masih mempertahankan sistem pembelajaran tradisional sebagai napas perjuangannya. Di tengah kepungan modernisasi yang kian menjalar di segala lini, pesantren ini tetap percaya diri berdiri dengan tetap berpegang pada sistem tradisional. Sistem pembelajaran utama di pesantren ini adalah sistem bandongan.

Pesantren ini juga termasuk pesantren yang sangat ketat terhadap pergaulan antara santri putra dan santri putri. Sebisa mungkin intensitas pertemuan antara santri putra dan putri diminimalisir. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sekat tembok tinggi yang memisahkan antara pondok putra dan putri. Kegiatan di pesantren Nurul Hadi ini lumayan padat. Kegiatan dimulai sejak sehabis shalat subuh hingga malam menjelang.

Pesan Orang Tua

Pesantren ini, kini memiliki sekitar 30-an santri, baik putra maupun putri. Santri-santri tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya ialah Jogja, Purwodadi, Jember, Sumatera, Magelang dan masih banyak lagi yang lainnya. Jika dilihat dari sejak tahun berdirinya yakni tahun 2006, pesantren ini telah berumur 7-8 tahunan. Dalam perjalanan panjang tersebut, santri yang nyantri di pesantren ini mengalami pasang surut. Seperti penuturan Gus Mawardi, banyak santri sini yang keluar hanya karena tidak mendapat dukungan dari orang tuanya. Kalau tidak bekerja, pada akhirnya menikah setelah keluar dari pesantren Nurul Hadi ini. Tetapi meski begitu, Gus Mawardi selalu menyemangati para santri untuk selalu bersemangat dalam mencari ilmu.

Gus Mawardi selaku pendiri sekaligus Pesantren Nurul Hadi ini, selalu ingat akan pesan orang tuanya ketika akan mendirikan pesantren ini. Orang tua Gus Mawardi memberikan dua pesan penting yang hingga kini masih dipegang teguh olehnya.

Orang tua saya pernah berpesan bahwa jika nanti kamu punya santri jangan kamu merasa diikuti santri tapi punya perasaan lah kamu yang mengikuti santri. Sebab, tanpa adanya santri, seorang kiai tak akan pernah berarti. Yang kedua, orang tua saya berpesan untuk jangan pernah membebani santri, jelas Gus Mawardi.

Dua pesan tersebut hingga kini masih dipegang teguh oleh Gus Mawardi hal tersebut terbukti dengan menyediakan segala kebutuhan makan santri-santri yang ada di pesantren ini. Sebab, Gus Mawardi tahu bahwa sebagian santri yang nyantri di pesantren ini termasuk dalam golongan menengah ke bawah. Hal ini dibenarkan oleh Ketua Pondok, Pak Suroso, yang ditemui Bangkit beberapa waktu lalu.

Kalau makan, para santri masak sendiri, tetapi beras dan sebagainya dari Gus Mawardi. Sedangkan kalau masalah sabun dan peralatan mandi, para santri usaha sendiri, jelas Suroso.

Ketika ditanya tentang harapan terhadap pesantren ini ke depannya, Gus Mawardi hanya berharap pesantren ini berkah untuk semuanya

Harapannya ya, agar pesantren ini berkah dan mberkahi untuk semuanya. tutur Gus Mawardi.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim, Sholihin

Dari (Pesantren) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44288/pesantren-nurul-hadi-cetak-generasi-aswaja

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock