Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?

Postingan ini khusus untuk teman-teman Muslim dan Muslimah di Indonesia yang hobi mengklaim bahwa tradisi hijab itu "eksklusif Islam." Karena "gagal paham" menganggap atau bahkan berkeyakinan bahwa hijab adalah "properti" umat Islam belaka, maka tidak jarang mereka sering "sensi", ngamuk, dan "mayah-mayah" kalau melihat non-Muslim memakai jilbab seraya menuduh mereka telah melecehkan dan menghina Islam. Atau, jika tidak, mereka menganggap kaum non-Muslimah yang "ujug-ujug" (tiba-tiba) berjilbab "sudah mendapat hidayah".

Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?
Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?


Sudah sering saya bilang bahwa, dalam konteks sejarah, tradisi hijab itu sudah ada jauuuhhhh sebelum Islam lahir di Mekah. Tradisi berhijab ini, misalnya, sudah dipraktekkan oleh masyarakat Assyria kuno ribuan tahun sebelum "bayi Islam" lahir di abad ke-6/7 M. Di kemudian hari, umat Yahudi dan Kristen (yang sama-sama lahir di Timur Tengah) melanjutkan tradisi ini seperti disebutkan dalam berbagai kitab suci mereka.

Belakangan, "si bungsu" Islam juga ikut-ikutan "kakak-kakak" mereka. Dalam sejarahnya, peradaban Byzantium dan Persia-lah yang memperkenalkan tradisi hijab ini ke komunitas Arab. Jika kini kita melihat banyak umat Kristen dan Yahudi yang tidak berhijab itu semata-mata lantaran proses sejarah dimana kedua agama ini sudah lama mengalami "proses pembaratan", sesuatu yang tidak dialami oleh Islam.

Karena tradisi hijab ini juga menjadi bagian dari sejarah, tradisi, dan kebudayaan umat Kristen dan Yahudi, maka tidak mengherankan jika ada sejumlah kelompok agama Kristen dan Yahudi masa kini yang masih memelihara dan mempraktekkan tradisi hijab ini seperti komunitas Kristen/Katolik Ortodoks di berbagai negara, belum termasuk kaum perempuan Arab Kristen di Timur Tengah seperti Lebanon, Suriah, Iraq, Palestina, Mesir, Yordania dan sebagainya. Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh dari penampilan kaum perempuan Kristen di Irak yang tidak hanya berhijab, tetapi juga sepertinya sambil menenteng Kitab Injil berbahasa Arab.

Begitu pula, komunitas Yahudi juga banyak yang berhijab (bahkan berniqab/ berburqa seperti kaum Muslimah Saudi atau Qatar) seperti kelompok Sekte Burqa Heradi di Israel misalnya. Mereka menyebutnya "frumka" yang diperkenalkan oleh Bruria Keren, seorang tokoh agama Israel yang mengklaim bahwa tradisi hijab itu aslinya dari Yahudi, dan karena itu ia mengkampanyekan perempuan Yahudi untuk berhijab.

Selain komunitas Yahudi Heradi, juga ada sekte Yahudi Lev Tahor di Quebec, Kanada (seperti foto di bawah ini) yang mengajarkan dan mempraktekkan tradisi hijab. Silakan diperhatikan dengan baik dan seksama tata-busana dari "kakak pertama" Yahudi dan "kakak kedua" Kristen ini. Sama persis kan dengan ukhti/ikhwat Muslimah? Nah sekarang, saya tanya: hijab itu properti siapa, hayo? [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/hijab-milik-siapa-yahudi-atau-kristen.html

Jumat, 02 September 2016

Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia

Bandung, Duta Islam Nusantara. Di saat negara-negara muslim sedang berada dalam konflik dan ketidakstabilan, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar menjadi rujukan dunia. Kehidupan umat Islam yang rukun dan harmonis patut menjadi percontohan tingkat dunia.

Demikian diungkapkan oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali dalam sambutan peresmian sebelas gedung baru di Aula Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (26/3).

Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)


Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia

Menurut Menag, negara-negara di timur tengah tidak lagi menjadi rujukan Islam disebabkan beraneka ragam mazhab dan aliran politik di sana tidak bisa memelihara keharmonisan yang menyebabkan terjadi konflik antar umat Islam.

Duta Islam Nusantara

Umat Islam disana (timur tengah) dalam kondisi yang tidak sejuk, dalam kondisi yang kurang damai, saling curiga, saling menjegal, bahkan tidak sedikit diantaranya saling bunuh dengan mempergunakan senjata, ujar Menag menegaskan.

Suryadharma Ali melanjutkan, konflik umat Islam di Indonesia tidak begitu menonjol, apalagi perang saudara dengan menggunakan senjata dan pertumpahan darah.

Kendatipun demikian mantan ketua PB PMII ini mengemukakan bahwa, umat Islam Timur Tengah sesungguhnya masih bisa dipersatukan melalui berbagai khasanah dan peninggalan Islam terdahulu.

Duta Islam Nusantara

Misalnya, kota Mekkah yang mempunyai Masjidil haram yang di dalamnya terdapat kiblat shalat yaitu Kabah. Lalu kota Madinah yang mempunyai Masjid Nabawi yang terdapat makam nabi dalam areal tersebut. Dua kota ini dengan sejarah dan kesuciannya mestinya bisa menjadi pemersatu umat islam.

Di Indonesia, yang menjadi pemersatu umat Islam sesungguhnya adalah dengan peninggalan tradisi yang telah di ajarkan oleh Waliyullah, para kiai, dan para ulama seperti peringatan Isra Miraj, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan peringatan Nuzulul Quran. Dalam berbagai forum tersebut para ulama melakukan pengolahan nilai-nilai spiritual semisal pembacaan tahlil, tahmid, tasbih dan istighfar.

Itulah yang menambah kokoh iman dan ketaqwaan masyarakat Islam di Indonesia, kata Suryadharma

Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dedy Ismatullah, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Fariz dan Ribuan tamu undangan memadati aula UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Bakti Habibie/Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51052/menteri-agama-indonesia-menjadi-rujukan-islam-dunia

Senin, 19 November 2012

Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru

KH. Maimun Zubair Duta Islam Nusantara - Berikut ini adalah nasihat bijak kepada guru dari KH. Maimun Zubair yang bisa Anda renungkan dan juga bisa disebarkan kepada para guru sebagai pengingat sekaligus menata niat ketika mengajar kepada para murid:

Baca: Meneladani Nasionalisme Guru Tua Habib Idrus Al-Jufri

Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru - Duta Islam Nusantara
Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru - Duta Islam Nusantara


Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus penerus agar muridnya mendapat hidayah.”

Selain yang telah dipesankan oleh Kiai Maimoen di atas, pesan bijak berikut juga patut direnungkan untuk para guru:

“Yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.

Duta Islam Nusantara

Duta Islam Nusantara

Selamat berjuang wahai para pahlawan ilmu. Semoga dari tanganmu akan lahir generasi tangguh, berilmu dan berakhlak. Aamiin. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/nasehat-kyai-maimun-zubair-kepada-guru.html

Kamis, 30 Agustus 2012

Hadits Dhoif Tetap Ucapan Nabi

Duta Islam Nusantara - Akhir zaman ini kita sering membaca atau mendengar seseorang yang melarang muslim lain untuk mengamalkan sebuah amal tertentu dengan alasan Haditsnya dhoif (dhaif). Bagaimanakah sebenarnya hukum mengamalkan hadits dhoif? Benarkah umat Islam dilarang untuk mengamalkan hadits dhoif?

Hadits Dhoif Tetap Ucapan Nabi
Hadits Dhoif Tetap Ucapan Nabi


Secara garis besar, hadits dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu hadits Shahih, Hasan dan Dhoif. Berdasarkan pengelompokan ini, maka semua ulama telah bersepakat bahwa hadits dhoif adalah hadits, artinya ia juga ucapan, perbuatan atau pernyataan Nabi Muhammad saw.

Dengan kata lain, hadits dhoif adalah hadits - bukan ucapan yang dibuat-buat - serta dinisbatkan kepada Nabi, bukan hadits palsu. Adapun hadits plasu di dalam ilmu hadits disebut dengan nama Hadits maudlu', bukan dhaif.

Singkat kata, hadits dhoif adalah ucapan Nabi Muhammad saw yang diwaspadai tingkat kebenarannya dikarenakan perawi atau yang meriwayatkannya memiliki beberapa kekurangan menurut ulama hadits. Namun di sisi lain, para ulama juga tidak menyangkal bahwa bisa jadi perawi yang diragukan tersebut memang benar-benar menyampaikan hadits Nabi apa adanya. Karena itu para ulama tidak mendustakan hadits dhoif dan tidak pula serta-merta membenarkan hadits dhoif. Mereka memilih sikap berhati-hati.

Satu hal yang harus dimengerti adalah tidak ada satupun ulama hadits yang berani menafikan keseluruhan hadits dhoif. Sebab, menuduh seluruh Hadist Dhoif sebagai hadits yang palsu berarti seseorang telah mendustakan ucapan Rasulullah saw dan menyebabkan seseorang tersebut menjadi kufur.

Lalu bagaimanakah sikap para ulama terhadap hadits dhoif, apakah mereka membuang dan memberangusnya, ataukah mereka memakainya dan mengamalkannya?

Dalam hal ini, secara garis besar para ulama terbagi ke dalam tiga kelompok, Pertama, kelompok yang menerima hadits hhoif secara mutlak bahkan untuk menentukan hukum Islam. Kedua, kelompok yang menganjurkan untuk mengamalkan hadits dhoif, selama hadits tersebut berisi nasehat dan ajakan-ajakan kebaikan (aadhilah amal), bukan Hadits tentang suatu hukum (red: misal untuk menentukan hukum halal-haram; sah-tidak sah;wajib/haram;dalil aqidah tentang Ketuhanan). Ketiga, kelompok yang menolak pengamalan hadits dhoif secara mutlak.

Mayoritas ulama Islam memilih untuk berada dalam kelompok tengah-tengah atau kelompok kedua, yaitu mereka yang menganjurkan untuk mengamalkan hadits dhoif selama hadits tersebut berisi nasehat dan ajakan-ajakan kebaikan (fadhilah amal). Di antara tokoh yang terkenal tegas menyatakan hal ini adalah Imam Nawawi, seorang ulama madzhab Syafi'i.

Karya Imam Nawawi menjadi rujukan seluruh umat Islam hingga kini, di antara karya beliau yang sangat populer di dunia Islam khususnya di tanah air kita adalah Riyadlush Shalihin, Arba'in An-Nawawi dan Al-Adzkar.

Imam Bukhari, pengarang Sahih al-Bukhari bahkan tak segan-segan mencantumkan lebih dari 200 hadits dhoif di dalam bukunya yang berjudul Adabul Mufrad, buku yang berisikan adab keseharian seorang Muslim dalam mengarungi kehidupan dunia. Inil menunjukkan bahwa Imam Bukhari yang sangat mengerti mana shahih dan mana dhoif, beliau justru tidak alergi kepada hadits dhoif.

Cara Ibnu Katsir, seorang pakar Hadits dan sekaligus ahli tafsir, dalam tafsirnya yang sangat terkenal, bahkan juga mencantumkan begitu banyak hadits dhoif untuk memperkuat argumennya dalam menafsirkan sebuah ayat.

Imam Ahmad bin Hambal, pemuka madzhab Hambali yang menghapal satu juta hadits bahkan menyatakan, “Hadits dhaif itu lebih baik daripada qiyas.” Beliau bahkan menjadikan hadits dhoif sebagai landasan untuk menentukan sebuah ketentuan hukum saat tidak ditemukan Hadits Shahih yang menjelaskannya.

Kesimpulannya, hadits dhoif adalah ucapan Nabi, bukan hadits palsu, dan sehubungan dengan anjuran kebajikan dan arahan untuk beramal saleh. Mayoritsa ulama sepakat agar umat Islam mengamalkan hadits dlaif. [Duta Islam Nusantara/ab]

Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, pengasuh Majelis Ar-Raudhah, Solo

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/hadits-dhoif-tetap-ucapan-nabi.html

Rabu, 08 Februari 2012

LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober

Sidoarjo, Duta Islam Nusantara. Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) dan Jamiyyatul Qurra wal Huffahz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Sidoarjo akan mengadakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang rencananya digelar di kompleks Pemda dan Masjid Agung Sidoarjo, 5-6 November 2016 mendatang. Pihak panitia membuka pendaftaran sejak 24 September hingga 28 Oktober. Peserta dapat mendatangi tempat pendaftaran di kantor Kesra Pemda Sidoarjo dan Sekretariat JQHNU Sidoarjo.

Ketua JQHNU Sidoarjo H Imam Mukozali mengatakan, MTQ yang diadakan oleh LPTQ ini diadakan dalam rangka menyambut MTQ Provinsi 2017 yang akan diadakan di Pasuruan mendatang. Sedangkan JQHNU Sidoarjo sendiri juga tengah melakukan persiapan untuk mengikuti MTQ JQHNU Jawa Timur yang akan diadakan di Lamongan Desember mendatang.

LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)


LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober

Menurutnya, LPTQ dan JQHNU merupakan lembaga yang sama-sama mengembangkan Al-Quran. Untuk itu, PC JQHNU Sidoarjo melakukan sinergi dengan LPTQ Sidoarjo untuk bersama-sama melaksanakan MTQ.

Duta Islam Nusantara

"Saya ingin dua lembaga ini selalu bersinergi, tetap harmonis dan bagus. Karena sejak dulu sudah terbangun keharmonisasian. Dengan melakukan pendekatan dan komunikasi, akhirnya MTQ bisa dilakukan secara bersama. Semua cabang kita mengikuti LPTQ, yang penting bagi saya selaku PC, adalah kedua lembaga ini bisa berjalan bersama dan harmoniasi lembaga yang mengembangkan Al-Quran bisa bersinergi. Saya bersyukur Kesra dan JQHNU bisa bersama-sama," kata Imam, Rabu (5/10).

Imam menyebutkan, ada delapan cabang perlombaan yang akan diadakan nantinya. Di antaranya, cabang lomba Tilawah (tartil, golongan anak-anak dan canet, golongan remaja, dewasa dan sabah), cabang MHQ (1 Juz dan 5 juz tilawah, 10 dan 20 juz, 30 juz dan tafsir bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan 15 juz khusus JQHNU, cabang Fahmil Quran, Syarhil Quran, MKQ, Makalah ilmiah Al-Quran, serta khusus JQHNU ada lomba Mars JQHNU dan shalawat Nabi.

Duta Islam Nusantara

"Di JQHNU Sidoarjo ada yang berbeda, yakni di LPTQ tidak ada 15 juz yang diperlombakan, tapi di JQHNU ada 15 juz. Tahfihz 15 juz ini tetap kita adakan sendiri dengan waktu yang sama insya Allah hari kedua. Selain itu, JQHNU ada lomba mars dan shalawat," terangnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71754/lptq-dan-jqhnu-sidoarjo-buka-pendaftaran-mtq-hingga-akhir-oktober

Rabu, 13 April 2011

(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya

Judul : Tuhan Tidak Perlu Dibela

Penulis : Abdurrahman Wahid

Penerbit : LKiS, Yogyakarta

Cetakan : Kelima, Januari 2010

(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya (Sumber Gambar : Nu Online)
(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya (Sumber Gambar : Nu Online)


(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya

5 November lalu, pagi-pagi sekali seorang teman HTI menghubungi saya via SMS. Sebelum membaca secara detail apa yang tertera dalam pesan itu, saya memprediksi bahwa SMS ini pasti berisi ajakan untuk mengikuti Majelis Tafkir, seperti biasanya. Saya memang rutin mengikutinya tiap Jumat siang.

Duta Islam Nusantara

Namun karena agenda tak terduga yang sering saya rencanakan serta kursus bahasa Inggris yang juga menyita waktu luang saya, akhirnya saya sangat jarang ke forum itu ataupun mengikuti forum mereka yang lain.

Ternyata dugaan saya salah. SMS itu bukan ajakang ke majlis, tapi tentang kecaman pada sistem negara ini, berikut orang-orang yang mau-mau saja menghamba ke Barat, kecaman pada sistem sekularisme, kapitalisme, demokrasi dan lainnya.

Duta Islam Nusantara

Ternyata inti dari pesan itu adalah apa yang tertera di bagian akhir, yaitu ajakan untuk turun ke jalan dan menyuarakan penolakan atas kedatangan Obama di KTT ASEAN di Bali.

Saya menolak ajakan mereka secara halus, dengan mengatakan pada jam yang sama saya ada agenda, tidak bisa ditinggalkan. Selain karena memang dari sono-nya saya tidak suka aksi turun jalan, alasan yang saya sampaikan sebagai bentuk penolakan secara halus itu bukan sekedar omong kosong belaka.

Jawaban dari penolakan itu begitu mengejutkan saya. Bagaimana tidak, yang mengirimi saya SMS itu semacam mengancam, menakut-nakuti, atau memperingati saya.

Intinya sama sekali itu tidak bernada nasehat. Kurang lebih SMS mereka berbunyi, Awas lho An, kesibukan Kamu itu membuat Kamu tidak sensitif pada kondisi umat.

Dengan sedikit rasa terkejut karena sama sekali tidak menduga bahwa mbak yang meng-SMS saya tadi, yang saya kenal begitu ramah, lembut, dan santun, akan mengirimi saya SMS yang bernada seperti itu.

Lalu, saya menjawab, Apakan kepedulian kepada umat hanya bisa diekspresikan dengan cara turun ke jalan?

Singkat cerita, di akhir komunikasi singkat kami, saya menulis pesan kepadanya yang berbunyi, Semoga aqidah mampu menyatukan kita.

Selama ini saya memang tidak membuka secara transparan identitas ke-NU-an saya. Jadi, jika sekarang atau nanti mereka mulai membaui kalau saya tidak seatap dengan mereka, saya berharap solidaritas yang telah terjalin tetap erat. Itu maksud saya menulis pesan begitu.

Pulang ke kos, saya kembali membuka buku Tuhan Tidak Perlu Dibela karya Abdurrahman Wahid.

Entah mengapa, membaca tulisan Gus Dur kali ini terasa berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Saya merasa menemukan pembenaran, pembelaan, dan dukungan atas sikap yang saya pilih dan saya tunjukkan tadi dan sebelumnya.

Barangkali karena teks menemukan konteksnya. Saya (baru) menyadari betul bahwa sekian tulisan Gus Dur yang telah saya baca, khususnya apa yang terangkum dalam Tuhan Tidak Perlu Dibela, adalah sesuatu yang lahir dari kedalaman keberagamaan dan kebertuhanan.

Jika bukan seorang yang paham dan memahami tentang Tuhan, bagaimana mungkin seseorang dengan spontan mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela. Dan, hal itu Gus Dur lontarkan di tengah-tengah berkecamuknya perang antara pembelaan dan penghinaan yang dialamatkan pada Tuhan.

Saya yakin, kalimat itu cerdas, dan sama sekali hal itu tidak mencederai kemahaan-Nya. Sederhana saja saya berpikir:

Bagaimana mungkin, makhluk yang lemah ini berupaya keras membelaTuhan yang Maha Kuat? Bukankah ini suatu pelecehan secara ekplisit?

Saya tidak mengatakan bahwa mereka yang mati-matian membela Tuhan adalah salah. Akan tetapi barangkali mereka belum sampai pada maqam-nya. Jadi, biarkan dulu mereka melakukan sesuatu sesuai dengan maqam mereka. (Buku) Gus Dur, Tuhan Tak Perli Dibela, menguatkan (iman) saya. (Noer Hasanatul Hafshaniyah, alumnus Annuqayah-Sumenep. Sekarang mahasiswa semester satu jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35437/buku-gus-dur-menguatkan-saya

Duta Islam Nusantara

Minggu, 01 Agustus 2010

Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah

Bogor, Duta Islam Nusantara. Separuh dari sekitar 3000 kepala keluarga (KK) di Kampung Pulo Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng Bogor atau sekitar 1500 KK belum mempunyai buku nikah. Akibatnya banyak sekali pasangan yang kesulitan mendapatkan pelayanan administratif dari pemerintah.

Data tersebut diungkapkan Taufik Hidayat, pejabat desa setempat di sela kegiatan sidang itsbat nikah massal yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta bekerja sama dengan Pengadilan Agama Kabupaten Bogor, Jumat (2/9). Sidang itsbat nikah ini diperuntukkan bagi pasangan suami-istri yang telah menikah secara Islam namun belum mempunyai buku nikah.

Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)


Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah

Taufik mengatakan, para pasangan yang belum membunyai buku nikah kesulitan mendapatkan pelayanan dari negara mulai dari pengurusan kartu keluarga, kartu tanda penduduk sampai akses kesehatan. Mereka juga terkendala dalam melakukan aktifitas ekonomi dan perbankan.

"Itu semua dikarenakankan kurangnya pemahaman dan pengetahuan terkait pentingnya buku nikah," lanjut Taufik.

Duta Islam Nusantara

Nawawi (40) salah seorang peserta isbat nikah mengatakan, ia tidak menguruskan perbikahannya ke Kantor Urusan Agama (KUA) karena alasan ekonomi. Nawawi yang mengikuti sidang bersama istrinya dan dua orang sakai mengeluhkan biaya nikah yang besar waktu itu, pada saat ia melangsungkan akad nikah.

Selain persoalan ekonomi, beberapa pasangan yang belum mempunyai buku nikah di Desa Cibeuteung Udik disebabkan mereka menikah di usia muda, sebelum mencapai usia menimal sebagaimana dalam UU Perkawinan Tahun 1974.

Duta Islam Nusantara

M. Wildan Abror, Ketua KKN Program Studi Ahwal Syakhsiyah STAINU Jakarta mengatakan, kegiatan sidang itsbat nikah massal merupakan bentuk keprihatinan dari para mahasiswa melihat kondisi masyarakat yang belum mempunyai buku nikah. Mengingat pentingnya keberadaan buku nikah, para mahasiswa berinisiatif mengadakan itsbat nikah dan memasukannya ke dalam salah satu agenda KKN.

Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Bogor Sholahudin dalam kesempatan itu mengimbau masyarakat yang belum mempunyai buku nikah agar segera mengajukan permohonan kepada pengadilan agama. Proses persidangan itsbat nikah cukup mudah dan singkat, serta untuk masyarakat miskin bisa bebas biaya alias gratis. (Deni Hariman/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70932/separuh-pasangan-di-desa-cibeuteung-udik-bogor-belum-punya-buku-nikah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock