Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 September 2014

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais Aam Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mutabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)


Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mutabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Duta Islam Nusantara

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asyari ketika hendak mendirikan NU.

Duta Islam Nusantara

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka, demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap bada Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jamiul Ushul fil Auliya.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jumat pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku, tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dari (Tokoh) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60998/habib-muhammad-luthfi-bin-yahya-sosok-pelayan-umat

Duta Islam Nusantara

Selasa, 18 Maret 2014

Awas, Inilah Wahabi Gaya Baru, Kenali Cirinya, Lawan Gerakannya!

Duta Islam Nusantara - Ini adalah poin-poin hasil halaqoh Netizen NU Jawa Barat pada 19 Januari 2017, yang dikirimkan kepada Duta Islam Nusantara untuk disebarkan seluas-luasnya kepada warga Indonesia, bukan hanya muslimin nahdliyyin semata.

Pertama, di ada gerakan dan dana super besar untuk membuat Indonesia bersih dari NU dengan target tahun 2025. Seperti sering dibilang oleh para Kiai sepuh, kalau mau menguasai Indonesia, kuasai dulu NU. Kalau mau memecah belah Indonesia, pecah belah dulu NU. Kalau mau menghancurkan Indonesia, hancurkan dulu NU.

Kedua, NU sudah cukup lambat mengantisipasi serbuan media online dan medsos oleh pihak-pihak di atas. Serangan di era media cetak sudah gencar dari tahun 80-an, serangan melalui internet sudah gencar dari tahun 95an, dan serangan di medsos semakin menggila sejak tahun 2010an.

Ketiga, perlu ada peningkatan kajian literasi kitab kuning (ilmu-ilmu agama), kitab putih (ilmu-ilmu humaniora), dan kitab abu-abu (ilmu politik) bagi para warga NU agar tidak mudah dibodohi oleh paham-paham yang "menyerang" kaum Nahdhiyyin. Karena mereka kini menyerang dengan gerakan Neo Cortex (Al Ghozwul Fikr), proxy dan psyco war (perang pemikiran, rekayasa psikologi dan intrik politik) dengan menggunakan sentimen agama, fanatisme Islam dan 'politik kebencian' sebagai alat untuk melemahkan warga NU.

Keempat, serangan-serangan kepada ulama-ulama NU khususnya para ulama pengawal organisasi NU berupa fitnah dan hoax amat gencar, sebagian di antaranya dilakukan oleh kalangan yang "mengaku" Nahdhiyyin juga. Serangan-serangan ini tujuannya menghilangkan kepercayaan umat kepada ulama, dan mengalihkannya kepada ulama-ulama yang "direkomendasikan" oleh para penyerang tersebut.

Kelima, para kader Anshor Banser, elemen organisasi NU dan warga Nahdhiyyin harus ikut serta dalam "perang medsos" tersebut, namun dengan cara bil-hikmah wal mau'idhatil hasanah. Bila pihak lawan rajin menyebar hoax dan fitnah, jangan dilawan dengan hoax dan fitnah. Lawanlah dengan menyebarkan berita yang benar. Perbanyak menyebar postingan yang meluruskan kesalahpahaman, tanpa menghujat dan mencaci. NU itu merangkul, bukan memukul.

Warga NU memang harus mewaspadai gaya baru Wahabi. Nampaknya setelah mereka gagal puluhan tahun untuk me-wahabikan banyak kader NU di kampus-kampus Saudi Arabia, mereka juga gagal memberangus amaliyah NU dengan amunisi ustadz-ustadz Wahabi sekelas Ustadz Firanda hingga Tengku Wisnu melalui media massa, dan menyebar web-web majhul yang penuh propaganda.

Wahabi juga telah mencoba mengemas agar doktrin mereka lebih diterima dengan baju Jawa ala MTA pimpinan Syekh Sukino, namun tetap saja gagal. Nampaknya kini ada kesempatan bagi mereka utk memecah belah warga NU dengan "berselingkuh" dengan FPI.

Mungkin mereka tahu bahwa hanya kaum Aswaja yang suka memuja-muja ahli Bayt hingga 'sundul langit'. Bahkan mereka mungkin juga menganggap warga NU hanyalah kumpulan orang-orang bodoh karena menganggab para Habaib sebagai 'sadat' (jamak dari Sayid) yang dianggap sebagai juru selamat, dimana semua fatwa dan ucapan mereka pasti dianut dan dianggap benar.

Hingga dengan trik-trik politik, kini Wahabi telah berhasil berfusi dengan FPI untuk memecah belah opini warga NU menggunakan atribut baru yang baru mereka ciptakan; yah apalagi kalau bukan GNPF-MUI.

Bahkan lihatlah, nampaknya demi tegaknya kalimah Wahabi dan untuk menyenangkan juragannya di Arab Saudi, kini panglima GNPF yang juga guru besar Tengku Wisnu itu kini telah berkopyah hitam dan memproklamirkan diri sebagai ulama besar dengan gelar Kyai Haji (KH). "Kami NU bukan? Maka dengarkan juga kami". Mungkin itulah yang ingin dia katakan.

Namun mereka lupa bahwa warga NU itu panutannya bukan Kyai, habib maupun ustadz. Panutan warga NU adalah para ulama yang mengajarkan mereka makna kebaikan yang tidak sekedar diukur dengan "qola ta'ala" apalagi simbol "kearaban", tapi kebaikan sosial yang sesuai dengan tradisi lokal mereka di Nusantara dan sejalan dengan ajaran Sunnah serta uswah akhlakul karimah Rasulillah Saw.

Para ulama yang setiap hari membimbing mereka dengan fatwa-fatwa yang menyejukkan di sudut-sudut kampung ataupun pesantren dan uswah keteladanan yang mendamaikan tanpa mengobral dalil dan simbol agama secara vulgar; bukan pula fatwa yang penuh sensasi ataupun orasi yang menggugah emosi seakan akan kita sedang berperang.

Dan para ulama yang lebih mengutamakan ilmu dan moral sebagai pegangan daripada atribut atribut kenabian dan semangat keislaman yang kadang hanya dipenuhi kepentingan dan kemunafikan.

Karena NU adalah Nahdlatul Ulama; yakni organisasi wadah para ulama dalam upaya membangkitkan umat dari carut marut dunia yg penuh permainan melalui kekuatan ilmu dan moral, apapun atribut sosial pada mereka yg masyarakat berikan.

Karena itu selayaknya warga NU memang harus mewaspadai munculnya gerakan massif yang akhir-akhir ini menyerang NU dan kiai ulama NU dengan fitnah hoax dan hate speech.

Gerakan yang ingin menggantikan peran NU di masyarakat dan sebagai pilar Indonesia dengan organisasi baru selain NU, menggantikan peran para Kyai ulama NU yang alim allamah dan mengakar di masyarakat dengan para 'new comers' yang beratribut keulamaan namun hanya hasil audisi media.

Ciri mereka adalah fanatik buta pada 'hitam putih' syariah sehingga anti Pancasila, cinta mati-matian pada atribut dan simbol Islam untuk dibela sehingga mereka anti kebhinekaan, atau mereka yang menjadi pejuang demi tegaknya pemerintahan Islam sehingga antipati pada konsensus "NKRI harga mati".

Dan yang paling akut adalah mereka yang benci NU, amaliyah NU dan Kyai NU karena mereka menganggap NU adalah wadah bagi manusia manusia calon penghuni neraka, dan hanya mereka saja yang berhak masuk sorga. Salam melek keNUan. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-wahabi-gaya-baru-kenali-cirinya-dan-lawan-gerakannya.html

Senin, 03 Maret 2014

Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya

Duta Islam Nusantara - Pada malam Kamis 21 Dzulqa’dah 1437 H. (25 Agustus 2016) –di tengah berbagai upaya pencatutan istilah “Ahlussunnah Wal Jamaah” dari kaum Khawarij yang tindakan-tindakan salah mereka senantiasa dieksploitasi untuk memperburuk citra agama Islam—terselenggara Muktamar Internasional Ulama Islam do kota Grozny (Chechnya), untuk memperingati al-Syahid Presiden Syaikh Ahmad Haji Kadyrov rahimahullah dengan tema: “Siapakah Ahlussunnah Wal Jamaah? Penjelasan Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah; Akidah, Fikih dan Akhlak serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas.”

Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya - Duta Islam Nusantara
Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya - Duta Islam Nusantara


Ini Hasil Mukmatar Ulama Aswaja di Chechnya

Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Ramadhan Ahmed Kadyrov hafizahullah, dengan dihadiri oleh Grand Shaikh Al-Azhar, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia. Berikut poin-poin hasil dari muktamar:

1. Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Asyairah dan Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak—sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya. Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah), dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya dalam menjaga jiwa dan akal, menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil, menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia.

2. Al-Quran Al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah SWT., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhlak, kasih sayang, kedamaian, keimanan dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah rahmat bagi seluruh semesta alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

3. Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Manhaj Islam yang paling komprehensif, detail dan akurat. Manhaj ini paling perhatian dalam memilih referensi-referensi ilmiah dan metodologi pendidikan yang mencerminkan secara benar tentang cara berpikir seorang muslim dalam memahami syariat dan mengetahui realitas dengan berbagai kerumitannya serta cara mengaitkannya secara baik.

4. Lembaga-lembaga pendidikan Ahlussunnah Wal Jamaah sejak beberapa abad telah sukses menghasilkan ribuan ulama yang tersebar di seluruh penjuru dunia dari Siberia hingga Nigeria, serta dari Tangier hingga Jakarta. Mereka telah menduduki berbagai posisi dan jabatan, serta mengemban amanah di sektor fatwa, peradilan, pendidikan dan khutbah. Sehingga masyarakat diliputi oleh keamanan. Mereka juga berhasil memadamkan api fitnah dan peperangan, sehingga kondisi negara menjadi stabil. Dan mereka pun telah menyebarkan ilmu yang benar.

5. Sepanjang sejarah, Ahlussunnah Wal Jamaah senantiasa memantau berbagai pemikiran yang menyimpang dan memantau tulisan dan konsep berbagai kelompok. Kemudian mereka menimbang semua itu dalam parameter ilmu serta memberikan kritik dan bantahan. Mereka juga senantiasa menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam menghadapi berbagai fenomena penyimpangan.

Mereka menggunakan piranti ilmu-ilmu yang kuat dalam melakukan pengawasan dan koreksi. Setiap kali Manhaj Ahlussuunnah Wal Jamaah tersebar secara aktif maka gelombang ekstremisme pasti akan surut. Sehingga kondisi umat Islam stabil dan dapat kosentrasi dalam menciptakan sebuah peradaban. Sehingga didapati para cendekiawan muslim yang berkontribusi dalam ilmu aljabar, perbandingan, perhitungan dan trigonometri. Serta ilmu geometri analitis, pecahan, algoritma, berat (massa), kedokteran dan oftalmologi, psikiatri, onkolog, epidemi, embrio, obat-obatan, ensiklopedia farmasi, ilmu flora dan fauna, gravitasi, astronomi dan lingkungan, ilmu akustik, ilmu optik dan ilmu-ilmu lainnya. Itu semua adalah buah dari Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah yang tidak terbantahkan.

6. Sepanjang sejarah berulang-ulang muncul badai gelombang pemikiran menyimpang yang mengklaim berafiliasi kepada wahyu namun membangkang terhadap metodologi ilmiah yang benar dan ingin menghancurkannya. Serta mengusik keamanan dan kenyamanan masyarakat. Gelombang pertama yang sesat dan membahayakan itu adalah Khawarij klasik hingga sampai pada Neo-Khawarij saat ini dari kalangan Salafi Takfiri dan ISIS serta semua kelompok radikal yang meniti jalan mereka yang memiliki kesamaan, yaitu distorsi, pemalsuan dan interpretasi bodoh akan ajaran agama ini.

Karenanya mereka melahirkan puluhan konsep yang rancu dan interpretasi batil yang melahirkan takfir, penghancuran, pertumpahan darah dan pengerusakan serta penodaan citra Islam dan menyebabkan Islam diperangi dan dimusuhi. Hal inilah yang meniscayakan para ulama untuk membersihkan Islam dari semua hal itu, berdasarkan sabda Nabi SAW. dalam hadis sahih: “‘Ilmu ini diemban dari setiap generasi oleh orang-orang yang adil, mereka membersihkan ilmu dari penyimpangan orang yang melewati batas, kedustaan para pembuat kebatilan dan interpretasi orang-orang yang bodoh.”

7. Dengan seizin Allah, Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah Wal Jamaah” setelah berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya. Pelurusan penyimpangan ini dilakukan dengan mengaktifkan metode ilmiah yang kuat dan otentik yang diterapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan kita yang besar yang merupakan benteng keamanan dalam membantah berbagai wacana takfiri dan ekstremis. Hal ini juga dilakukan dengan mengirimkan pesan-pesan keamanan, kasih sayang dan perdamaian ke seluruh penjuru dunia sehingga –dengan izin Allah—seluruh negeri kita kembali menjadi mimbar cahaya dan sumber hidayah. [Duta Islam Nusantara]

Chechnya, Grozny, 24 Dzulqa`dah 1437 H, 27 Agustus 2016 M.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/ini-hasil-mukmatar-ulama-aswaja-di-chechnya.html

Selasa, 16 Juli 2013

Jokowi will attend NU-sponsored meeting

Jakarta, Duta Islam Nusantara. President-elect Ir H Joko Widodo (Jokowi) and vice president-elect Jusuf Kalla are scheduled to attend a seminar organized by the Central Board of Nahdlatul Ulama (NU) at its headquarters, Jln. Kramat Raya 164, Jakarta, Thursday (28/8).

In the seminar entitled "The NU Contribution to New President", Jokowi will be the keynote speaker. The seminar will be divided into two sessions, from 10:00 am until 16:00 pm.

Jokowi will attend NU-sponsored meeting (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi will attend NU-sponsored meeting (Sumber Gambar : Nu Online)


Jokowi will attend NU-sponsored meeting

The scholarly forum will take up issues on how to deal with the new national leadership for the coming five years.

Duta Islam Nusantara

Organizing committee chief, KH Abdul Manan A Ghani said told Duta Islam Nusantara that "the forum is important and constitutes the NU commitment in founding the Republic of Indonesia."

"NU shall provide inputs to a new government, so that the next government will be in accordance with the purposeful vision and mission in establishing this country," he said.

According to Manan, some studies have predicted that Indonesia will likely be one of seven economic giants. All this, he said, could be materialized by the leaders having integrity and morality.

Duta Islam Nusantara

"They are the leaders who are able to reconcile society, religion, culture, and stand in the frontline against any corruption, collusion, and nepotism," the chairman of the Nahdlatul Ulama Mosque Management Board (LTMNU) said.

The seminar will also be attended by General Chairman of NU KH Said Aqil Siradj and General Chairman of Lawmaking Body ((Rais Aam) of NU KH A Mustofa Bisri.

In early August Jokowi launched a transition team, the first in Indonesian history, to prepare for his future administration. It will also help manage the transfer of power from outgoing President Susilo Bambang Yudhoyono to Jokowi.

The team, which is headed by former president director of PT Astra International and minister of trade Rini Mariani Soemarno, consists of a combination of experts and politicians tasked with devising programs to be implemented by Jokowi and Kalla during their five-year term in office.

Earlier, Kalla expressed his disagreement over the transition teams plan to merge several ministries into one, adding that he also disapproved of the idea that ministers in the next administration must quit their positions in their political parties, a proposal made by Jokowi.

Kalla said it would take time to merge ministries and he and Jokowi only had a limited amount of time to realize their campaign promises.

If any change is needed, they should be minor changes. If major changes take place then many things have to be restructured, such as who are going to be the directorate generals and where the new offices will be located and other things, Kalla said in Jakarta recently.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54082/jokowi-will-attend-nu-sponsored-meeting

Sabtu, 22 Desember 2012

PCI NU Pakistan Kini Miliki Website

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Walaupun baru diresmikan pada tanggal 26 Mei 2006 lalu oleh KH Hasyim Muzadi dan KH Masyhuri Naim, PCI NU Pakistan kini telah memiliki website sebagai media untuk mengkomunikasikan seluruh informasi dan kegiatan yang dilakukan. Website ini dapat dibuka di alamat www.nupakistan.or.id

Prakarsa pembuatan website mustasyar PCI NU Pakistan Muhammad Niam Soetaman, LLM. Dikatakannya dalam acara syukuran launching website pada 2 Juli lalu bahwa keberadaan website sudah mengglobal. Dimana hampir di semua pemerintahan, organisasi-organisasi sosial, agama, LSM dan lain-lain telah mempunyai website.

Ini sebagai kantor kedua untuk memudahkan publik atau users dalam mencari sumber berita atau informasi penting yang tidak perlu datang ke kantor pusat. Para anggota PCI diharapkan dapat menggunakan website ini dengan sebaik-baiknya sebagai media berdawkah dan media solving problems bagi ummah, tegasnya.

Sementara itu Katib Syuriah, H.Aly Halim,Lc. mendorong anggota PCI NU dapat berpartisipasi dan mengembangkan media virtual website PCI -NU Pakistan sebagai media silaturrahmi, baik untuk kalangan anggota PCI-NU Pakistan sendiri maupun antar PCI di luar negeri lainnya.

PCI NU Pakistan Kini Miliki Website (Sumber Gambar : Nu Online)
PCI NU Pakistan Kini Miliki Website (Sumber Gambar : Nu Online)


PCI NU Pakistan Kini Miliki Website

Yang paling susah dari pendirian sebuah wadah oraganisasi adalah bagaimana para pengurus maupun anggotanya dapat memelihara dan mengisi wadah tersebut dengan berbagai macam kegiatan yang variatif yang barmanfaat bagi umat, tuturnya.

Isi dari website tersebut sudah cukup bagus. Terdapat beberapa content seperti berita, visi dan misi, pengurus, agenda dan opini sampai dengan belajar di Pakistan. Informasi-informasi ini sangat penting untuk mengenal lebih dalam tentang NU di Pakistan. Bahkan juga ditulis sekalian nomer kontak para pengurus sehingga memudahkan komunikasi jika diperlukan.

Sebelumnya PCI NU Pakistan telah mengadakan pengajian melalui radio internet bekerjasama dengan pesantrenvirtual yang beralamatkan di http://www.pesantrenvirtual.com/listen.pls dan Radio Nuansa FM Bontang yang merupakan pemancar radio milik PC NU Bontang, Kalimantan Timur.

Duta Islam Nusantara

Saat ini sebagian besar PCI NU sudah memiliki website sendiri untuk komunikasi seperti Mesir, Malaysia, UK, Syiria, Sudan dan lainnya. Tak heran karena para pengurus tersebut sebagian besar adalah mahasiswa yang melek dengan teknologi.(mkf)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3340/pci-nu-pakistan-kini-miliki-website

Duta Islam Nusantara

Duta Islam Nusantara

Minggu, 28 Oktober 2012

Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal

Lafadz Allah di lantai Hotel Novita Jambi Duta Islam Nusantara - Tadi malam, Jumat (23/12/2016), Gubernur Jambi H. Zumi Zola dan Kapolda Jambi dilaporkan menemui pihak manajemen Novita Hotel yang berada di Jalan Gatot Subroto 44, Kota Jambi.

Hal itu dilakukan ada laporan warga lalu menjadi pesan berantai (viral) dimana menyebutkan kalau di halaman tersebut ada ornamen natal yang dianggap bisa memicu ketegangan warga karena menyinggung simbol agama lain, Islam. .

Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal  - Duta Islam Nusantara
Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal - Duta Islam Nusantara


Novita Hotel Jambi Digeruduk Setelah Lafadz Allah Dibuat Lantai di Bawah Ornamen Natal

Pantauan Duta Islam Nusantara menyebutkan, ada lafaldz "Allah" dalam bahasa Arab yang diletakkan di bawah ornamen pohon dan rumah gereja bersalib khas natal di halaman hotel tersebut. Kalimat Allah, oleh beberapa pihak di lapangan, memang sengaja digunakan sebagai lantai.

Duta Islam Nusantara

Kontan saja, hal itu memicu kemarahan umat Islam setempat setelah foto-foto tersebut tersebar luas di beberapa grup WhatsApp dan media sosial.

Tidak mau berbuntut panjang, Wali Kota Jambi, H. Syarif Fasha, langsung melakukan tindakan dengan menyegel Novita Hotel secara simbolik. Dengan membawa kertas karton putih, Syarif Fasha menulis "Maaf hotel ini dihentikan operasinya", ditandatangani. Ia perlihatkan foto segel itu ke warga yang malam itu berkumpul di sana.

Pasca diprotes warga, lampu halaman depan Novita Hotel Jambi langsung dipadamkan, gelap gulita, agar tidak menarik animo masyarakat lebih jauh, walau masih banyak warga yang berkumpul di sana saat itu.

Duta Islam Nusantara

Ornamen natal bermasalah sudah disegel police line Hingga laporan ini diturunkan Duta Islam Nusantara, lokasi hotel tersebut sudah disegel dengan police line. Entah bagaimana dengan nasib para tamunya. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/novita-hotel-jambi-digeruduk-setelah-lafadz-allah-dibuat-lantai-di-bawah-ornamen-natal.html

Kamis, 15 Desember 2011

Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah

Duta Islam Nusantara - Bagaimana mengelola perbedaan di tubuh umat? Ini sebuah pekerjaan rumah yang belum selesai. Bahkan ini juga terjadi di Australia. Badan mereka saja yang pindah ke Australia, negara modern yang multikultural, tapi mindset dan cara mereka memahami Islam masih sama saat mereka tinggal di kampung kelahirannya.

Beberapa masa silam di tanah air, ada joke yang beredar luas: "Kalau masjidnya dikelola sama NU, yang hilang cuma sandal. Kalau Muhammadiyah yang urus masjidnya, paling juga qunut yang hilang; tapi kalau masjidnya sudah dikelola oleh aktivis itu tuh, masjidnya pun hilang diklaim oleh mereka!" Entah darimana asal-muasalnya joke itu, tapi konon ada sebagian kelompok yang memang merasa surga hanya diperuntukkan khusus untuk mereka. Sedangkan orang lain yang tidak sejalan dengan manhaj mereka atau tidak sama ibadah ritualnya dengan mereka dan tidak sejalan dengan pilihan strategi dakwah mereka akan dianggap bukan bagian dari umat Islam atau minimal tidak akan diberi tempat dalam masjid yang mereka kelola.

Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah - Duta Islam Nusantara
Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah - Duta Islam Nusantara


Tegaknya Masjid dan Robohnya Ukhuwwah Muslim Sebelah

Masjid yang merupakan rumah Allah berubah menjadi rumah kelompok mereka saja. Masjid yang didirkan dengan menggunakan resources umat dari golongan apapun, ketika sudah dikuasai kelompok itu berubah hanya menjadi milik mereka. Ini yang diisyaratkan dalam joke di atas "masjidnya pun hilang".

Duta Islam Nusantara

Artinya masjidnya hilang bukan lagi rumah Allah atau rumah bersama semua kelompok. Masjid telah hilang menjadi rumah sebagian pihak saja. Alih alih memakmurkan masjid, mereka sebenarnya tengah mengedepankan ego kelompok mereka saja.

Kegiatan di masjid hanya sesuai dengan aliran kelompok pengurus masjid. Mulai dari program, penceramah atau Ustadz/ah, buku bacaan, semuanya diatur oleh pengurus masjid. Jangan harap di masjid "yang sudah hilang" itu ada acara tahlilan atau ratiban.

Kenapa? Karena mereka bukan hanya pengurus masjid, tapi merekalah pemegang kunci surga. Maka kegiatan yang beraroma bid'ah, pembicara yang dituduh liberal atau bahan bacaan dari ulama yang dianggap sesat, mutlak diharamkan memasuki masjid yang mereka kelola.

Dan kisah yang sangat familiar ini bukan hanya di tanah air, bahkan sampai di Australia pun mereka masih melakukan hal yang sama. Masjid tegak berdiri, tapi ukhuwah telah roboh berantakan. Padahal bisa saja kan di-manage perbedaan itu dengan baik.

Duta Islam Nusantara

Misalnya, yang mau tahlilan atau ratiban dipersilakan. Tinggal alokasi waktunya saja diatur. Yang mau mengundang pembicara dari pihak lain, tinggal diatur saja slotnya. Yang mau diskusi topik apapun, silakan. Pendek kata, pengurus masjid itu fungsinya memfasilitasi kegiatan semua pihak di Masjid, bukan malah membatasi atau melarang ini dan itu.

Selain merasa memegang kunci surga, seringkali pengurus menjadikan masjid sebagai sarana memperbanyak jamaahnya. Dalam kalkulasi politis, masjid berubah menjadi ruang untuk mempromosikan pahamnya sambil mengecam paham pihak lain. Maka bisa dimengerti jikalau mimbar diberikan kepada pihak yang tidak sejalan dengan mereka, nanti sebagian jamaah terpikat dengan Ustadz pihak lain. Ini dianggap berbahaya.

Begitulah, ternyata kavling surga pun sudah siap dibagi-bagikan oleh mereka. Dan anehnya mereka terus saja bicara ukhuwah Islamiyah tanpa melibatkan semua pihak untuk mengelola masjid. Yang ada adalah ukhuwah kelompokiyah semata.

Saya tutup dengan joke lainnya: Konon di pintu surga nanti Allah akan memerintahkan malaikat menyeleksi setiap golongan. Malaikat bertanya: "sampeyan dari kelompok mana mas/mbak?" Dijawab: "kami dari NU". "Baik, silahkan masuk surga, tapi nanti kalau melewati pintu warna hitam di pojok itu jangan berisik yah".

Golongan lainnya baik dari Muhammadiyah, Persis, jamaah tabligh, al-washliyah, dll semuanya dipersilahkan masuk surga dengan pesan yang sama: jangan berisik kalau melewati pintu berwarna hitam.

Ketika semua sudah lengkap masuk surga semua, maka mereka penasaran ada apa dengan pintu hitam itu dan siapa gerangan yang berada didalamnya, kok mereka gak boleh berisik saat melewatinya.

Malaikat menjawab: "pssstt...jangan keras-keras bertanya-nya. Kata Allah, pintu hitam itu diperuntukkan untuk kalangan itu tuh yang selalu merasa hanya mereka saja yang bakal masuk surga. Allah tidak mau mereka akan terkejut kalau mereka tahu bahwa selain golongan mereka juga masuk surga! Jadi sudah...kita gak usah ganggu mereka yah".

Begitulah kawan, biarkan saja sekelompok umat ini menyangka hanya mereka saja yang masuk surga. Allah hormati "kepercayaan" mereka itu, di surga nanti mereka dikumpulkan sendirian terpisah dari jamaah yang selama ini mereka sering kafir-kafirkan, dan mereka merasa akan puas.

Kasihan kan kalau mereka jadi kaget bukan kepalang kalau orang lain yang mereka sudah sesat-sesatkan dan dianggap bukan bagian dari umat Islam, eh ternyata masuk surga juga, bi idznillah. [Duta Islam Nusantara]

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/tegaknya-masjid-dan-robohnya-ukhuwwah-muslim-sebelah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock