Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang

Duta Islam Nusantara – Situs nu garis lurus itu penuh konten beracun. Mengganggap sebelah mata dan menyebutnya guyon atau semacam mencari perhatian lebih kepada khalayak agar dianggap sebagai kelompok alumni pondok pesantren –sebagaimana selama ini diucapkan oleh pendukungnya, paling lurus menegakkan ahlussunnah, itu salah besar.

Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang
Bocor, Percakapan Grup Garis Lurus Penuh Bahasa Binatang


Di Pontianak, ketika KH Ma’ruf Khozin melaksanakan safari dakwah, hadirin dalam acara sering ada yang mengangkat tangan menanyakan apa dan siapa itu nu garus lurus (selanjutnya kami sebut GGL: Gerombolan Garis Lurus, agar tidak mencatut nama NU). Demikian keterangan yang didapatkan Duta Islam.

Apa artinya? Nama GGL sudah masuk dalam alam pikiran banyak orang dan menjadi semacam noktah hitam bagi NU secara jamiyyah dan struktural. Hadirnya GGL di dunia maya yang enteng menyebarkan propaganda untuk menjauhkan warga nahdliyyin dari ulama dan habaib NU tanpa membuka identitas mereka kepada publik, jelas merupakan cara-cara culas yang biasa dilakukan oleh kalangan teroris ISIS.

Perlu diketahui, cara ISIS menyebarkan propagandanya bukan melalui masjid, lembaga pendidikan atau titik-titik startegis yang biasa dikunjungi banyak orang. Website dan media sosial dijadikan alat propaganda paling efektif karena mampu menyebar tanpa batas dan berbiaya murah. Selain tentu karena ISIS tidak punya basis massa yang diakui oleh negara. Modal sosial mereka memang media sosial. 

Langkah yang ditempuh ISIS inilah yang dikloning oleh GGL. Kalau mengaku pejuang aswaja yang paling lurus sedunia, mereka tak perlu malu-malu kucing menampakkan diri. Justru transparansi identitas itulah yang tidak akan membuat banyak orang bertanya, sebagaimana terjadi di beberapa daerah laiknya di Pontianak tadi.

Berawal dari Grup Caci Maki Serapat apapun bangkai ditutup, akan tercium juga. GGL pun gerah setelah ada salah seorang bernama Moch Zainul Abidin As-Syuja'i membongkar data admin pasca digelar sebuah acara di Cirebon, yang mengatasnamakan aktivis Aswaja. Dalam acar itu, para aktivis mulai terang-terangan berani membeberkan nama-nama yang selama ini dikenal Zain, panggilan Zainul Abidin As-Sujai’i, sebagai admin grup Brigade Aswaja, yakni grup WhatsApp para pengelola dan muqollidin situs nu garis lurus.

Kepada Duta Islam Nusantara, Zain tidak mengenal sama sekali orang-orang di grup tersebut. Dia mengaku nomornya diseret masuk tanpa konfirmasi kepadanya. Sudah sejak lama Zain nongkrong di grup yang menurutnya penuh dengan caci-maki kepada kyai dan ulama di Nahdlatul Ulama.

Bahkan, pasca publikasi identitas admin, Zain Suja’i dibully dalam grup. . Duta Islam Nusantara mendapatkan screen shoot caci maki anggota GGL ini. Oleh Syaraf, salah satu anggota grup, Zain disebut ngegustad, pura-pura jadi gus dan ustadz.

“Ilmunya mentok ke nasi goreng. Malam jadi germo di WhastApp saling kirim-kiriman gambar telanjang nggak pantes. Siang ceramah di WhatsApp sok suci dan sok ngustadz. Tulisannya belepotan jauh dari ranah ilmu. Jamane wong munafik bertopeng di dunia maya. Di dunia nyata, gorengan nggak laku-laku,” tulis Syaraf. (Kami simpan foto si Syaraf ini).

Soal Zain adalah tukang nasi goreng memang diakui. Ia berjualan di Jakarta Barat. Tapi kalau menuduh ilmunya Zain hanya sampai nasi goreng dan munafik serta menyerapahi gorengan tidak laku-laku apalagi menyebut germo, baginya itu sudah keterlaluan, tidak nyambung dan lepas dari etika santri.

Dalam percakapan grup khusus mencaci Zain itu, admin lain ada yang menyebut “asu”, “babi”, “monyet”, “najis”, dan lainnya. Adam, admin grup, pendiri Grup Brigade Aswaja, menanyakan di grup: “Sebenarnya dia itu siapa sih? Asu atau monyet? Saya bingung sendiri,” tulis Adam.

Dengan enteng, pertanyaan itu dijawab oleh Naquib, anggota lain di grup: “Babi mas.” Naquib ini yang menulis: “Waduh…dia sibuk cari tulang ke SAS (Said Aqil Siraj, red) nggak sempet ganti nama. Ya…namanya juga asuuuu….”.

Anggota itu gayeng dan terkesan senang membully Zain di grup karena di sana nama Zain diganti Asu Pa’i. “Makanya, rupa, nama dan hatinya sama (anjing, asu, red). Ngalah-ngalahi assu,” tulis Naguib, yang langsung ditanggapi oleh Faiz, anggota GGL lain yang ikutan mencaci: “Masih ada waktu untuk tobat. Daripada jadi assu,” tulisnya.

Menanggapi percakapan penuh caci maki itu, seorang aktivis Aswaja NU, Arief, mengaku miris. “Wah, ini lebih mirip grup kumpulnya para begundal daripada grup santri. Nggak pantes blas kelompok ini namanya disandarkan dengan nama besar NU. Su'ul adab semua,” tulisnya, dikutip Duta Islam Nusantara (17/04).

Kelimpungan, anggota grup tersebut kembali melancarkan fitnah dengan meme. Status David Fuadi, seorang yang dulu pernah menghidupkan situs sarkub.com, dijadikan bahan mementahkan Zain as-Suja’i. Menurut orang yang di kalangan GGL dipanggil KH David Fuadi itu, Zain adalah orang yang tidak punya ilmu agama.

Ustadz Hasbullah, dalam meme yang beredar itu juga menulis kalau tulisan-tulisan Sujai’i itu bukan dari tulisannya sendiri. “Bisa jadi syujai hanya atas nama saja. Sebab saya segrup dengan Syujai. Kerjaanya hanya kirim gambar porno,” tuduh ustadz.

Tuduhan-tuduhan semacam ini, menurut Zain, mudah keluar di grup yang ia sebut kenthir (kemayu) itu. “Ada Group kenthir khusus para Admin Group WA Aswaja. Di sana memang kalau kenthir suka selingan kirim Gambar Porno. Nah dari sanalah Fitnah ini beredar,” jelas Zain.

Jika Anda berakal sehat, etika macam apakah yang layak disematkan kepada kelompok GGL itu? Bahasa apakah yang mudah keluar dari “santri” GGL itu? Bahasa pondok pesantren mana yang menghalalkan saudaranya sendiri disebut anjing, babi, monyet, najis, germo dan munafik? Ajaran Qanun Asasi NU sebelah mana yang memerintahkan umat Islam mencaci maki dengan sebutan binatang untuk saudaranya muslim?

Kepada Duta Islam Nusantara, Zain memang jualan nasi goreng. Tapi ia juga santri di sebuah majelis ta’lim yang banyak orang tahu. Ia menunjukkan bukti bahwa dia rutin di majelis ta’lim. Namun tidak berkenan ditulis.

Yang pasti, kelompok GGL memasukkan nomornya ke grup karena nomor yang ia pegang ada dimana-mana. Dikenal sebagai penggerak aswaja. Duta Islam menyimpan buktinya. Zain As-Suja’i itu orang biasa yang dicaci-maki oleh kelompok yang mengaku santri di ujung sana. Duh Gusti... [Duta Islam Nusantara/luqman segaf]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/bocor-percakapan-grup-garis-lurus-penuh-bahasa-binatang.html

Kamis, 11 September 2014

Maarif Kirimkan Guru Perempuan ke Jerman

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Lembaga Pendidikan Maarif menerima undangan untuk mengirimkan dua orang guru perempuan, dan diutamakan mereka yang sudah menjadi kepala sekolah untuk pergi ke Jerman. Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah dialog dengan para pendidik dan pengajar dari 10 negara Islam.

Ketua LP Maarif Nadjid Muhtar mengemukakan bahwa mereka yang dikirimkan merupakan guru yang memahami tentang visi dan misi Maarif serta memahami situasi dan kondisi pendidikan di Indonesia.

Sayang sekali waktu yang diberikan sangat pendek karena kami hanya diberi batas sampai tanggal 31 Mei untuk menyetorkan nama, tandasnya kepada Duta Islam Nusantara di Kantor Maarif (25/05).

Saat ini sudah terdapat beberapa orang calon kandidat yang siap untuk berangkat. Selanjutnya peserta akan berangkat pada 27 Agustus 2005. Mereka akan berada di Jerman selama 2 pekan. Program ini sudah berjalan cukup lama dan sekarang ini merupakan gelombang ke 3

Maarif Kirimkan Guru Perempuan ke Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif Kirimkan Guru Perempuan ke Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)


Maarif Kirimkan Guru Perempuan ke Jerman

Karena akan terlibat dalam diskusi tentang perkembangan pendidikan di masing-masing negara, peserta harus bisa berbahasa Inggris dengan aktif sehingga bisa bercerita banyak tentang pesantren, madrasah dan institusi pendidikan lainnya yang dimiliki NU.

Selain memberangkatkan guru ke Jerman, LP Maarif dalam waktu dekat juga mendapat jatah untuk mengirimkan 4 orang bersama rombongan dari PBNU untuk berangkat ke Amerika. Terdapat pula program Teaching for Teacher yang saat ini sedang dalam perencanaan untuk belajar di Inggris.(mkf)

Duta Islam Nusantara

Duta Islam Nusantara

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/3074/maarif-kirimkan-guru-perempuan-ke-jerman

Duta Islam Nusantara

Senin, 01 Juli 2013

Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri

Duta Islam Nusantara – Dalam dialog Keaswajaan di aula Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ) pada Ahad (28/05/2016), ketua Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Matan) Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Mahmud Suyuti bertubi-tubi menyindir kaum wahabi yang suka mendewakan simbol daripada substansi dalam cara beragama mereka.

Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri - Duta Islam Nusantara
Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri - Duta Islam Nusantara


Dr. Mahmud Suyuti: Jenggot Itu Bukan Qauli, Tapi Tumbuh Sendiri

Suyuti membagi jenggot jadi 3 macam, yakni jenggot biologis, aksesoris dan teroris. Disebut jenggot biologis karena tumbuh sendiri. Inilah yang menurutnya bukan sunnah qauli (ucapan Nabi) dan bukan juga sunnah taqriri (berdasarkan ketetapan Nabi), melainkan “tumbuh sendiri”.

Sindiran ala canda Dr. Mahmud Suyuti itu juga dilanjutkan kritik kepada kaum wahabi yang melarang mencium tangan dengan alasan bid’ah. Padahal, menurutnya, mereka juga melakukan bid’ah lain seperti cium pipi kanan dan cium pipi kiri (cipika-cipiki).

Cadar juga tidak luput dari kritiknya. Menurut doktor hadits yang hafal Kitab Shahih Bukhari ini, pengguna cadar tidak punya kesempatan melakukan sunnah Nabi seperti dalam hadits tabassumuka li akhika shadaqoh/ seyummmu kepada saudaramu itu sedekah. “Bagaimana mau tersenyum kalau hanya mata yang kelihatan,” tegasnya.

Intinya, wahabi itu inginnnya semua dipertentangkan. Seolah-olah yang dilakukan oleh liyan harus sesuai kehendaknya. Orang lain disalahkan hanya karena hadits-hadits yang dikutip tidak utuh. Misalnya soal membaca basmalah di awal membaca Al-Fatihah dalam shalat. Hadits yang mereka ambil tidak dilengkapi asbabul wurud dan hadits-hadits lain.

“Anas mendengar basmalah secara terang karena dia sahabat paling tepat waktu shalat berjama’ah bersama Nabi. Aisyah mendengar secara sirr (kurang jelas) karena posisinya saat berjama’ah dengan Nabi berada di belakang jauh. Sementara Ukays tidak mendengar karena sering telat jama'ah. Hadits yang telat jama’ah inilah yang diambil buat dalil,” ujarnya di hadapan ratusan hadirin.

Karena sibuk mempertentangkan yang tidak substansial itu, ketika shalat, orang-orang wahabi lebih suka “menata kaki” daripada menata niat. Mereka merapatkan kaki, mengganggu niat orang shalat orang lain di sampingnya yang sedang menata niat.

Agar shalatnya dianggap rajin, jidat mereka harus hitam. Dalihnya mengikuti jidat para sahabat Nabi. Padahal, menurutnya, jidat hitam pada zaman Nabi itu terjadi karena dulu lantai masjid tidak ada yang pakai

karpet dan keramik. [Duta Islam Nusantara/ m abdullah badri]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/dr-mahmud-suyuti-jenggot-itu-bukan-qauli-tapi-tumbuh-sendiri.html

Senin, 14 November 2011

Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah

Duta Islam Nusantara - Beberapa kelompok masih takut atau tidak mau masuk salah satu thariqah yang mu'tabarah (diakui) karena pertimbangan belum cukup umur, dianggap tidak perlu, atau bahkan ada yang menyebut thariqah adalah ajaran yang tidak berdasarkan pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Untuk mendapatkan jawaban tersebut, silakan dibaca tanya jawab di bawah ini.

Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah - Duta Islam Nusantara
Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah - Duta Islam Nusantara


Hukum Mengikuti Thariqah Mutabarah

Pertanyaan: "Bagaimana pendapat muktamirin tentang hukum masuk Thariqah dan mengamalkannya?"

Jawaban: Jika yang dikehendaki masuk thariqah itu belajar membersihkan hati dari sifat-sifat yang rendah, dan menghiasi sifat-sifat yang dipuji, maka hukumnya Fardhu 'Ain. Hal ini seperti hadist Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam yang artinya:

"Menuntut ilmu diwajibkan bagi orang islam laki-laki dan orang islam perempuan."

Akan tetapi kalau yang dikehendaki masuk Thariqah Mu'tabarah itu khusus untuk dzikir dan wirid, maka termasuk sunnah Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam.

Adapun mengamalkan dzikir dan wirid setelah baiat, maka hukumnya wajib, untuk memenuhi janji. Tentang mentalqinkan (mengajarkan) dzikir dan wirid kepada para murid, hukumnya sunnah, karena sanad thariqah kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam itu sanad yang shahih."

Kitab Rujukan: 1. Al-Adzkiyaa': وَتَعَلَّمَنْ عِلْمًا يُصَحِّحُ طَاعَةً

"Pelajarilah ilmu yang membuat sahnya ibadah"

2. Al-Ma'arif Al-Muhammadiyah halaman 81:

"Sanad para wali kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam itu benar atau sah, dan shahih pula hadis bahwa Ali Radhiyallaahu ;Anhu pernah bertanya kepada nabi Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. kata Ali, Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku jalan terdekat kepada Allah yang paling mudah bagi hamba-hambaNya dan yang paling utama bagi Allah." Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi ketika di muka bumi masih terdapat orang yang mengucapkan Allah. Dasar lainnya adalah firman Allah Ta'ala; "Penuhilah janji, sesungguhnya janji itu akan diminta pertanggungjawabannya." (Q.S. Al-Israa': 34).

Keterangan: Dari hasil bahtsul masail di atas dapat diambil kesimpulan bahwasanya masuk thariqah itu hukumnya bisa fardhu 'ain, namun juga bisa sunnah. Apabila para sahabat masuk thariqah untuk membersihkan hati dari segala sifat yang hina dina, maka hukumnya masuk thariqah menjadi wajib. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/hukum-mengikuti-thariqah-mutabarah.html

Minggu, 11 Oktober 2009

Pesan KH Ulin Nuha Arwani Kudus Kepada Penghafal Al Quran

Duta Islam Nusantara - KH Ulin Nuha Arwani merupakan putra KH Arwani Amin, Kudus. Salah seorang maestro, guru besar Al Qur'an di tanah Jawa. Nasehat-nasehat menantu KH Abdullah Salam Kajen yang juga guru qira'ah sab'ah ini selalu didengarkan oleh para penghafal Al Qur'an. Berikut beberapa kutipan dawuh KH Ulin Nuha Arwani saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam acara Khatmil Quran Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (23/11).

1. Anda bisa belajar Al Qur'an hingga selesai merupakan fadlal (anugrah) dari Allah Ta'ala. Syukurilah nikmat itu dengan memuji Allah Ta'ala dengan membaca "Alhamdulillah wa syukru lillah" atau dengan kalimat sejenisnya.

Pesan KH Ulin Nuha Arwani Kudus Kepada Penghafal Al Quran - Duta Islam Nusantara
Pesan KH Ulin Nuha Arwani Kudus Kepada Penghafal Al Quran - Duta Islam Nusantara


Pesan KH Ulin Nuha Arwani Kudus Kepada Penghafal Al Quran

2. Anda juga perlu syukur bil janan, syukur dalam hati. Artinya hati kita berkeyakinan dengan sesungguhnya bahwa yang kita terima itu merupakan murni fadlal, anugrah, bukan karena kepintaran dan kelincahan kita.

Duta Islam Nusantara

3. Di simping itu, hendaknya kita dapat mensyukuri nikmat dengan anggota tubuh kita, baik lahir maupun batin. Semuanya kita gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Tangan kita gunakan untuk saling tolong menolong kepada siapa saja yang membutuhkan. Mulut memperbanyak baca shalawat, mata membaca Al Qur'an, telinga mendengarkan Al Qur'an, tangan membawa Al Qur'an, menghormati Al Qur'an, tadabbur, memikirkan ayat-ayat yang dibaca. Hatinya menyerap beragam ilmu yang dipelajari dari sana. Sehingga semua anggota tubuh kita gunakan untuk beribadah. Ini namanya syukur bil arkan (dengan anggota tubuh)

4. Ada satu lagi, dari syukur bil lisan, arkan, dan janan, yaitu bil bancaan. Maksudnya, uang kita gunakan untuk sedekah, menolong kawan atau siapa saja yang membutuhkan harta kita.

5. Al Qur'an yang telah kita pelajari bersama harus selalu kita baca. Jangan sampai diabaikan. Karena Al Qur'an yang telah kita pelajari akan meminta pertanggungjawaban. Bisa jadi mendukung kita atau mematahkan kita.

Duta Islam Nusantara

Al-Qur`an itu bisa menjadi hujjah, memberi syafa'at kepadamu dan juga bisa memberikan madharrat/ bahaya pada dirimu.

Saya berharap anda semua bisa mengelola, menyikapi Al Qur'an yang sudah Anda pelajari dengan baik. Jangan gegabah. Al Qur'an itu membahayakan.

Banyak orang yang membaca Al Qur'an, namun Al Qur'an melaknati pembacanya.

Al Qur'an yang telah Anda pelajari, usahakan selalu dibaca dengan harus sesuai ajaran yang telah anda terima dari guru beserta adab-adabnya.

Barang siapa mendapat syafa'at Al Qur'an, di dunia akan selamat, begitu pula di akhirat. Oleh sebab itu, seberapa besar anda berusaha memperoleh hal itu, sebesar itu pula Al Qur'an akan memberikan syafa'atnya. Lalu bagaimana caranya?

Bacalah Al Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafa'at kepada ash-hab¬nya.

Dalam tafsir disebutkan, siapa yang dimaksud ashab di sini? Maksud ashab, shahibul Qur'an dalam kitab tafsir yaitu orang yang mulazim litilawatih, orang yang selalu membacanya, mutakhalliq biakhlaqih, mempunyai adab sebagaimana yang diajarkan Al Qur'an, wal amilu bih, mengamalkan dawuh-dawuh Al Qur'an.

Oleh karena itu, usahakan untuk memenuhi tiga kriteria tersebut, membaca, mengamalkan dan berakhlak sebagaimana akhlaq Al Qur'an.

Kita bisa mengamalkan Al Qur'an jika kita mengetahui firman-firmanNya, ilmu-ilmu yang dikatakan dalam Al Qur'an. Maka bacalah Al Qur'an seraya ditadabburi, dipikir apa kandungan-kandungan di dalamnya, diketahui makna apa yang dikehendaki.

(Ini adalah) sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

Maka, mari kita pahami Al Qur'an yang telah kita baca selanjutnya kita laksanakan supaya kita selamat dari murka Allah SWT.

Orang-orang yang telak kami (Allah) berikan kitab (Al Qur'an) yaitu orang-orang yang membacanya dengan haqqa tilawatih (orang yang benar-benar mengimaninya), mereka adalah orang yang beriman. Barangsiapa kufur terhadap kitab itu, maka mereka adalah orang-orang yang merugi.

Anda yang khatam Al Qur'an harus berusaha mendaras Al Qur'an dengan haqqa tilawatih, tafsirnya di sini dijelaskan,

Kombinasi antara mulut, akal dan hati.

Koridor penggunaan lisan adalah dengan memakai tajwid yang benar. Ketika Anda sudah membaca dengan benar, resapilah dengan akal dan dipikir (tadabbur) dengan akal. Ini artinya haqqa tilawatih.

6. Anda sekalian yang sudah khatam Al Qur'an paling tidak sehari baca sekali. Jika tidak bisa maka tiga hari sekali khatam. Apabila masih tidak bisa, maka seminggu khatam sekali dengan memakai metode Fammy Bisyauqin. Model dari pada metode ini adalah setiap hari membaca Al Qur'an dengan pembagian sebagai berikut:

Fa : Fatihah - An Nisa' : Jum'at

Mi : Maidah - Bara'ah / At Taubah : Sabtu

Ya : Yunus - An Nahl : Ahad

Ba : Bani Israil - Al Furqan : Senin

Syin : Syu'ara' - Yasin : Selasa

Waw : Was Shaffat - Al Hujurat : Rabu

Qaf : Qaf - An Nas : Kamis

Jika anda seminggu bisa khatam sekali, anda akan selamat.

7. Anda khatam Al Qur'an itu belum ada apa-apanya. Jangan merasa bangga. Merasa bangga itu larangan Allah Ta'ala. Apa lagi khatam Al Qur'annya ini untuk tujuan pamer, riya', Al Qur'an bisa melaknati Anda sekalian.

Usahakan mengamalkan dawuh Allah Ta'ala, selalu menjaga Akhlak sebagaimana yang telah diajarkan Al Qur'an. Pelajarilah Al Qur'an penuh dengan rajin dan tekun supaya mengetahui kandungan di dalamnya. Jika sudah tahu, wajib mengamalkan isinya. Apa bila tidak diamalkanÙˆ akan mendapat siksa Allah Ta'ala, sehingga Al qur'an tidak melaknati Anda sekalian.

8. Barang siapa pernah mengaji Al Qur'an, setelah khatam lalu dibiarkan begitu saja. Mushafnya digantungkan dalam lemari, tidak pernah dibaca kembali, maka Al Qur'an akan datang pada hari kiamat dengan keadaan menggantung pada orang tersebut seraya berkata kepada Allah "Ya Tuhan, sesungguhnya hambaMu ini telah mencampakkanku. Maka berilah keputusan antara aku dan dia (siapa sebenarnya yang lebih benar dan siapa yang salah?)

Demikian pesan KH Ulin Nuha Arwani Kudus kepada mereka yang sudah khatam Al-Qur'an. Ditransliterasi, diedit dan diatur sistematikanya oleh Ahmad Mundzir, diolah dari sumber pokok ceramah KH Arwani Amin, Kudus. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/pesan-kh-ulin-nuha-arwani-kudus-kepada-para-penghafal-al-quran.html

Selasa, 06 Oktober 2009

MTs Aswaja Laksanakan Uji Coba UN 2015

Pontianak, Duta Islam Nusantara. Tanggal 17-18 Februari 2015, berdasarkan rapat K3M MTs (Kelompok Kerja Kepala Madrasah MTs) Kota Pontianak, ditetapkan sebagai pelaksanaan uji coba atau Try Out (TO) Ujian Nasional (UN). Artinya, seluruh MTs se-Kota Pontianak melaksanakan uji coba pelaksanaan ujian di madrasahnya masing-masing.

Demikian disampaikan oleh salah anggota K3M MTs se-Kota Pontianak, Sholihin HZ usai rapat, Selasa, (17/2) di Pontianak.

MTs Aswaja Laksanakan Uji Coba UN 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Aswaja Laksanakan Uji Coba UN 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)


MTs Aswaja Laksanakan Uji Coba UN 2015

Pria yang juga Kepala MTs Aswaja juga mengatakan, bahwa sekolah yang dipimpinnya juga ikut melaksanakan TO serupa.

Duta Islam Nusantara

Siswa kami beri penguatan dan persiapan untuk lebih matang dalam menghadapi UN, ujar

Menurutnya, meskipun hanya TO, inilah gambaran ujian yang sesungguhnya. Dengan jumlah siswa yang maksimal 20 orang tiap ruangannya, dengan dikontrol oleh pengawas, dan suasana yang kondusif membuat anak nantinya diharapkan tidak grogi dan tegang berlebihan.

Duta Islam Nusantara

Khusus tahun ini, MTs Aswaja memasang target harus masuk dalam 10 besar tingkat kota, tambahnya.

Diantara persiapan yang kami lakukan, tambah Sholihin, selain bimbel yang sudah dimulai sejak November 2014, juga ditambah lagi dengan adanya kelas khusus yakni smart class berupa pembinaan untuk 10 siswa.

Tentunya juga menggiatkan dengan shalat dhuha dan zikir, mudah-mudahan ini memberikan hasil yang terbaik," pungkas Sholihin HZ. (Red: Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57664/mts-aswaja-laksanakan-uji-coba-un-2015

Sabtu, 09 Mei 2009

Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad

Duta Islam Nusantara - Al-Quran adalah Kalamullah, maka setiap mukmin wajib memuliakan Kalamullah. Allah Ta'ala mewahyukan: "Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." (QS. al-Hajj, 22:32). Dan juga pada ayat "Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. al-Waqia'ah, 56:77-79).

Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad
Awas, Meletakkan Al-Quran di Lantai Bisa Murtad


Memuliakan dan mengagungkan Mushaf Al-Quran merupakan salah satu bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah, dan sekaligus bukti keimanan dan ketakwaan seseorang. Oleh karena itu, kita wajib memperlakukan Mushaf Al-Quran dengan penuh adab, sopan santun yang tinggi.

Dan hendaknya kita juga mendidik anak-anak kita agar tidak meletakkan AlQuran secara langsung di lantai tanpa alas apa pun yang mengangkatnya agak tinggi dari atas lantai. Karena, barang siapa meletakkan Mushaf secara langsung di lantai dengan niat untuk menghinakannya, maka dia menjadi murtad dan kufur, keluar dari Islam, semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan semacam ini.

Dan jika seseorang meletakkan Mushaf Al-Quran di lantai secara langsung tanpa niat menghinakan Al-Quran, kendati tidak menjadi murtad, akan tetapi ia sangat tidak beradab kepada Al-Qur'an, telah memperlakukan Kitabullah dengan sangat buruk. (Diasarikan dari Fatwa Habib Umar bin Hafidz).

Syaikh Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairimi dalam kitab Tuhfatul Habib menyatakan:

وَ يَحْرُمُ وَضْعُ الْمُصْحَفِ عَلَى اْلأَرْضِ بَلْ لاَ بُدَّ مِنْ رَفْعِهِ عُرْفاً وَلَوْ قَلِيْلاً

"Haram hukumnya meletakkan mushaf di lantai, harusnya mushaf tersebut harus diangkat, meskipun hanya sedikit."

Rasulullah saw tidak pernah meletakkan lembaran-lembaran mushaf di lantai, bahkan ketika sejumlah Yahudi memberikan kepada beliau kitab Taurat, Rasulullah saw meletakkan Taurat tersebut di atas bantal.

أَتَى نَفْرٌ مِنْ يَهُودَ فَدَعُوا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلّم إلَى الْقُفِّ، فأتَاهُمْ في بَيْتِ المِدْرَاسِ، فقالُوا: يَا أبَا الْقَاسِمِ إنَّ رَجُلاً مِنَّا زَنَى بامْرَأَةٍ فاحْكُمْ بَيْنَهُمْ، فَوَضَعُوا لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلّم وِسَادَةً فَجَلَسَ عَلَيْهَا ثُمَّ قالَ: ائْتُونِي بالتَّوْرَاةِ، فأُتِيَ بِهَا، فَنَزَعَ الْوِسَادَةَ مِنْ تَحْتِهِ وَوَضَعَ التَّوْرَاةَ عَلَيْهَا وقالَ: آمَنْتُ بِكَ وَبِمَنْ أنْزَلَكَ.....

"Beberapa orang Yahudi datang dan mengundang Rasulullah saw untuk hadir ke Quff (tempat dekat Madinah), lalu beliau mendatangi mereka di tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengaji. Mereka berkata, "Wahai Abul Qasim, seorang laki-laki di antara kami berzina dengan seorang wanita, maka tetapkanlah hukum bagi mereka." Mereka lantas memberi bantal Rasulullah saw untuk digunakan duduk, beliau pun duduk. Kemudian beliau minta diambilkan Taurat, naskah Taurat itu lalu diberikan kepada beliau. Beliau menarik bantal yang didudukinya dan meletakkan Taurat tersebut di atasnya seraya bersabda: "Aku beriman kepadamu dan kepada Dzat Yang menurunkanmu....." (Sunan Abu Dawud, no.4443)

Hadits di atas secara jelas memperlihatkan bagaimana Rasulullah saw memperlakukan kitab Taurat yang telah diubah oleh orang Yahudi tersebut di atas bantal, tentunya Al-Qur'an lebih utama untuk diperlakukan seperti itu. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/awas-meletakkan-al-quran-di-lantai-bisa-murtad.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock