Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pustaka. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?

Postingan ini khusus untuk teman-teman Muslim dan Muslimah di Indonesia yang hobi mengklaim bahwa tradisi hijab itu "eksklusif Islam." Karena "gagal paham" menganggap atau bahkan berkeyakinan bahwa hijab adalah "properti" umat Islam belaka, maka tidak jarang mereka sering "sensi", ngamuk, dan "mayah-mayah" kalau melihat non-Muslim memakai jilbab seraya menuduh mereka telah melecehkan dan menghina Islam. Atau, jika tidak, mereka menganggap kaum non-Muslimah yang "ujug-ujug" (tiba-tiba) berjilbab "sudah mendapat hidayah".

Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?
Hijab Milik Siapa, Yahudi atau Kristen?


Sudah sering saya bilang bahwa, dalam konteks sejarah, tradisi hijab itu sudah ada jauuuhhhh sebelum Islam lahir di Mekah. Tradisi berhijab ini, misalnya, sudah dipraktekkan oleh masyarakat Assyria kuno ribuan tahun sebelum "bayi Islam" lahir di abad ke-6/7 M. Di kemudian hari, umat Yahudi dan Kristen (yang sama-sama lahir di Timur Tengah) melanjutkan tradisi ini seperti disebutkan dalam berbagai kitab suci mereka.

Belakangan, "si bungsu" Islam juga ikut-ikutan "kakak-kakak" mereka. Dalam sejarahnya, peradaban Byzantium dan Persia-lah yang memperkenalkan tradisi hijab ini ke komunitas Arab. Jika kini kita melihat banyak umat Kristen dan Yahudi yang tidak berhijab itu semata-mata lantaran proses sejarah dimana kedua agama ini sudah lama mengalami "proses pembaratan", sesuatu yang tidak dialami oleh Islam.

Karena tradisi hijab ini juga menjadi bagian dari sejarah, tradisi, dan kebudayaan umat Kristen dan Yahudi, maka tidak mengherankan jika ada sejumlah kelompok agama Kristen dan Yahudi masa kini yang masih memelihara dan mempraktekkan tradisi hijab ini seperti komunitas Kristen/Katolik Ortodoks di berbagai negara, belum termasuk kaum perempuan Arab Kristen di Timur Tengah seperti Lebanon, Suriah, Iraq, Palestina, Mesir, Yordania dan sebagainya. Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh dari penampilan kaum perempuan Kristen di Irak yang tidak hanya berhijab, tetapi juga sepertinya sambil menenteng Kitab Injil berbahasa Arab.

Begitu pula, komunitas Yahudi juga banyak yang berhijab (bahkan berniqab/ berburqa seperti kaum Muslimah Saudi atau Qatar) seperti kelompok Sekte Burqa Heradi di Israel misalnya. Mereka menyebutnya "frumka" yang diperkenalkan oleh Bruria Keren, seorang tokoh agama Israel yang mengklaim bahwa tradisi hijab itu aslinya dari Yahudi, dan karena itu ia mengkampanyekan perempuan Yahudi untuk berhijab.

Selain komunitas Yahudi Heradi, juga ada sekte Yahudi Lev Tahor di Quebec, Kanada (seperti foto di bawah ini) yang mengajarkan dan mempraktekkan tradisi hijab. Silakan diperhatikan dengan baik dan seksama tata-busana dari "kakak pertama" Yahudi dan "kakak kedua" Kristen ini. Sama persis kan dengan ukhti/ikhwat Muslimah? Nah sekarang, saya tanya: hijab itu properti siapa, hayo? [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/hijab-milik-siapa-yahudi-atau-kristen.html

Jumat, 02 September 2016

Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia

Bandung, Duta Islam Nusantara. Di saat negara-negara muslim sedang berada dalam konflik dan ketidakstabilan, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar menjadi rujukan dunia. Kehidupan umat Islam yang rukun dan harmonis patut menjadi percontohan tingkat dunia.

Demikian diungkapkan oleh Menteri Agama, Suryadharma Ali dalam sambutan peresmian sebelas gedung baru di Aula Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (26/3).

Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)


Menteri Agama: Indonesia Menjadi Rujukan Islam Dunia

Menurut Menag, negara-negara di timur tengah tidak lagi menjadi rujukan Islam disebabkan beraneka ragam mazhab dan aliran politik di sana tidak bisa memelihara keharmonisan yang menyebabkan terjadi konflik antar umat Islam.

Duta Islam Nusantara

Umat Islam disana (timur tengah) dalam kondisi yang tidak sejuk, dalam kondisi yang kurang damai, saling curiga, saling menjegal, bahkan tidak sedikit diantaranya saling bunuh dengan mempergunakan senjata, ujar Menag menegaskan.

Suryadharma Ali melanjutkan, konflik umat Islam di Indonesia tidak begitu menonjol, apalagi perang saudara dengan menggunakan senjata dan pertumpahan darah.

Kendatipun demikian mantan ketua PB PMII ini mengemukakan bahwa, umat Islam Timur Tengah sesungguhnya masih bisa dipersatukan melalui berbagai khasanah dan peninggalan Islam terdahulu.

Duta Islam Nusantara

Misalnya, kota Mekkah yang mempunyai Masjidil haram yang di dalamnya terdapat kiblat shalat yaitu Kabah. Lalu kota Madinah yang mempunyai Masjid Nabawi yang terdapat makam nabi dalam areal tersebut. Dua kota ini dengan sejarah dan kesuciannya mestinya bisa menjadi pemersatu umat islam.

Di Indonesia, yang menjadi pemersatu umat Islam sesungguhnya adalah dengan peninggalan tradisi yang telah di ajarkan oleh Waliyullah, para kiai, dan para ulama seperti peringatan Isra Miraj, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan peringatan Nuzulul Quran. Dalam berbagai forum tersebut para ulama melakukan pengolahan nilai-nilai spiritual semisal pembacaan tahlil, tahmid, tasbih dan istighfar.

Itulah yang menambah kokoh iman dan ketaqwaan masyarakat Islam di Indonesia, kata Suryadharma

Acara ini dihadiri oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dedy Ismatullah, Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Fariz dan Ribuan tamu undangan memadati aula UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Bakti Habibie/Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51052/menteri-agama-indonesia-menjadi-rujukan-islam-dunia

Senin, 19 November 2012

Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru

KH. Maimun Zubair Duta Islam Nusantara - Berikut ini adalah nasihat bijak kepada guru dari KH. Maimun Zubair yang bisa Anda renungkan dan juga bisa disebarkan kepada para guru sebagai pengingat sekaligus menata niat ketika mengajar kepada para murid:

Baca: Meneladani Nasionalisme Guru Tua Habib Idrus Al-Jufri

Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru - Duta Islam Nusantara
Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru - Duta Islam Nusantara


Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus penerus agar muridnya mendapat hidayah.”

Selain yang telah dipesankan oleh Kiai Maimoen di atas, pesan bijak berikut juga patut direnungkan untuk para guru:

“Yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.

Duta Islam Nusantara

Duta Islam Nusantara

Selamat berjuang wahai para pahlawan ilmu. Semoga dari tanganmu akan lahir generasi tangguh, berilmu dan berakhlak. Aamiin. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/nasehat-kyai-maimun-zubair-kepada-guru.html

Kamis, 30 Agustus 2012

Hadits Dhoif Tetap Ucapan Nabi

Duta Islam Nusantara - Akhir zaman ini kita sering membaca atau mendengar seseorang yang melarang muslim lain untuk mengamalkan sebuah amal tertentu dengan alasan Haditsnya dhoif (dhaif). Bagaimanakah sebenarnya hukum mengamalkan hadits dhoif? Benarkah umat Islam dilarang untuk mengamalkan hadits dhoif?

Hadits Dhoif Tetap Ucapan Nabi
Hadits Dhoif Tetap Ucapan Nabi


Secara garis besar, hadits dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu hadits Shahih, Hasan dan Dhoif. Berdasarkan pengelompokan ini, maka semua ulama telah bersepakat bahwa hadits dhoif adalah hadits, artinya ia juga ucapan, perbuatan atau pernyataan Nabi Muhammad saw.

Dengan kata lain, hadits dhoif adalah hadits - bukan ucapan yang dibuat-buat - serta dinisbatkan kepada Nabi, bukan hadits palsu. Adapun hadits plasu di dalam ilmu hadits disebut dengan nama Hadits maudlu', bukan dhaif.

Singkat kata, hadits dhoif adalah ucapan Nabi Muhammad saw yang diwaspadai tingkat kebenarannya dikarenakan perawi atau yang meriwayatkannya memiliki beberapa kekurangan menurut ulama hadits. Namun di sisi lain, para ulama juga tidak menyangkal bahwa bisa jadi perawi yang diragukan tersebut memang benar-benar menyampaikan hadits Nabi apa adanya. Karena itu para ulama tidak mendustakan hadits dhoif dan tidak pula serta-merta membenarkan hadits dhoif. Mereka memilih sikap berhati-hati.

Satu hal yang harus dimengerti adalah tidak ada satupun ulama hadits yang berani menafikan keseluruhan hadits dhoif. Sebab, menuduh seluruh Hadist Dhoif sebagai hadits yang palsu berarti seseorang telah mendustakan ucapan Rasulullah saw dan menyebabkan seseorang tersebut menjadi kufur.

Lalu bagaimanakah sikap para ulama terhadap hadits dhoif, apakah mereka membuang dan memberangusnya, ataukah mereka memakainya dan mengamalkannya?

Dalam hal ini, secara garis besar para ulama terbagi ke dalam tiga kelompok, Pertama, kelompok yang menerima hadits hhoif secara mutlak bahkan untuk menentukan hukum Islam. Kedua, kelompok yang menganjurkan untuk mengamalkan hadits dhoif, selama hadits tersebut berisi nasehat dan ajakan-ajakan kebaikan (aadhilah amal), bukan Hadits tentang suatu hukum (red: misal untuk menentukan hukum halal-haram; sah-tidak sah;wajib/haram;dalil aqidah tentang Ketuhanan). Ketiga, kelompok yang menolak pengamalan hadits dhoif secara mutlak.

Mayoritas ulama Islam memilih untuk berada dalam kelompok tengah-tengah atau kelompok kedua, yaitu mereka yang menganjurkan untuk mengamalkan hadits dhoif selama hadits tersebut berisi nasehat dan ajakan-ajakan kebaikan (fadhilah amal). Di antara tokoh yang terkenal tegas menyatakan hal ini adalah Imam Nawawi, seorang ulama madzhab Syafi'i.

Karya Imam Nawawi menjadi rujukan seluruh umat Islam hingga kini, di antara karya beliau yang sangat populer di dunia Islam khususnya di tanah air kita adalah Riyadlush Shalihin, Arba'in An-Nawawi dan Al-Adzkar.

Imam Bukhari, pengarang Sahih al-Bukhari bahkan tak segan-segan mencantumkan lebih dari 200 hadits dhoif di dalam bukunya yang berjudul Adabul Mufrad, buku yang berisikan adab keseharian seorang Muslim dalam mengarungi kehidupan dunia. Inil menunjukkan bahwa Imam Bukhari yang sangat mengerti mana shahih dan mana dhoif, beliau justru tidak alergi kepada hadits dhoif.

Cara Ibnu Katsir, seorang pakar Hadits dan sekaligus ahli tafsir, dalam tafsirnya yang sangat terkenal, bahkan juga mencantumkan begitu banyak hadits dhoif untuk memperkuat argumennya dalam menafsirkan sebuah ayat.

Imam Ahmad bin Hambal, pemuka madzhab Hambali yang menghapal satu juta hadits bahkan menyatakan, “Hadits dhaif itu lebih baik daripada qiyas.” Beliau bahkan menjadikan hadits dhoif sebagai landasan untuk menentukan sebuah ketentuan hukum saat tidak ditemukan Hadits Shahih yang menjelaskannya.

Kesimpulannya, hadits dhoif adalah ucapan Nabi, bukan hadits palsu, dan sehubungan dengan anjuran kebajikan dan arahan untuk beramal saleh. Mayoritsa ulama sepakat agar umat Islam mengamalkan hadits dlaif. [Duta Islam Nusantara/ab]

Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, pengasuh Majelis Ar-Raudhah, Solo

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/hadits-dhoif-tetap-ucapan-nabi.html

Rabu, 08 Februari 2012

LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober

Sidoarjo, Duta Islam Nusantara. Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) dan Jamiyyatul Qurra wal Huffahz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Sidoarjo akan mengadakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang rencananya digelar di kompleks Pemda dan Masjid Agung Sidoarjo, 5-6 November 2016 mendatang. Pihak panitia membuka pendaftaran sejak 24 September hingga 28 Oktober. Peserta dapat mendatangi tempat pendaftaran di kantor Kesra Pemda Sidoarjo dan Sekretariat JQHNU Sidoarjo.

Ketua JQHNU Sidoarjo H Imam Mukozali mengatakan, MTQ yang diadakan oleh LPTQ ini diadakan dalam rangka menyambut MTQ Provinsi 2017 yang akan diadakan di Pasuruan mendatang. Sedangkan JQHNU Sidoarjo sendiri juga tengah melakukan persiapan untuk mengikuti MTQ JQHNU Jawa Timur yang akan diadakan di Lamongan Desember mendatang.

LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)


LPTQ dan JQHNU Sidoarjo Buka Pendaftaran MTQ hingga Akhir Oktober

Menurutnya, LPTQ dan JQHNU merupakan lembaga yang sama-sama mengembangkan Al-Quran. Untuk itu, PC JQHNU Sidoarjo melakukan sinergi dengan LPTQ Sidoarjo untuk bersama-sama melaksanakan MTQ.

Duta Islam Nusantara

"Saya ingin dua lembaga ini selalu bersinergi, tetap harmonis dan bagus. Karena sejak dulu sudah terbangun keharmonisasian. Dengan melakukan pendekatan dan komunikasi, akhirnya MTQ bisa dilakukan secara bersama. Semua cabang kita mengikuti LPTQ, yang penting bagi saya selaku PC, adalah kedua lembaga ini bisa berjalan bersama dan harmoniasi lembaga yang mengembangkan Al-Quran bisa bersinergi. Saya bersyukur Kesra dan JQHNU bisa bersama-sama," kata Imam, Rabu (5/10).

Imam menyebutkan, ada delapan cabang perlombaan yang akan diadakan nantinya. Di antaranya, cabang lomba Tilawah (tartil, golongan anak-anak dan canet, golongan remaja, dewasa dan sabah), cabang MHQ (1 Juz dan 5 juz tilawah, 10 dan 20 juz, 30 juz dan tafsir bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan 15 juz khusus JQHNU, cabang Fahmil Quran, Syarhil Quran, MKQ, Makalah ilmiah Al-Quran, serta khusus JQHNU ada lomba Mars JQHNU dan shalawat Nabi.

Duta Islam Nusantara

"Di JQHNU Sidoarjo ada yang berbeda, yakni di LPTQ tidak ada 15 juz yang diperlombakan, tapi di JQHNU ada 15 juz. Tahfihz 15 juz ini tetap kita adakan sendiri dengan waktu yang sama insya Allah hari kedua. Selain itu, JQHNU ada lomba mars dan shalawat," terangnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71754/lptq-dan-jqhnu-sidoarjo-buka-pendaftaran-mtq-hingga-akhir-oktober

Rabu, 13 April 2011

(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya

Judul : Tuhan Tidak Perlu Dibela

Penulis : Abdurrahman Wahid

Penerbit : LKiS, Yogyakarta

Cetakan : Kelima, Januari 2010

(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya (Sumber Gambar : Nu Online)
(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya (Sumber Gambar : Nu Online)


(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya

5 November lalu, pagi-pagi sekali seorang teman HTI menghubungi saya via SMS. Sebelum membaca secara detail apa yang tertera dalam pesan itu, saya memprediksi bahwa SMS ini pasti berisi ajakan untuk mengikuti Majelis Tafkir, seperti biasanya. Saya memang rutin mengikutinya tiap Jumat siang.

Duta Islam Nusantara

Namun karena agenda tak terduga yang sering saya rencanakan serta kursus bahasa Inggris yang juga menyita waktu luang saya, akhirnya saya sangat jarang ke forum itu ataupun mengikuti forum mereka yang lain.

Ternyata dugaan saya salah. SMS itu bukan ajakang ke majlis, tapi tentang kecaman pada sistem negara ini, berikut orang-orang yang mau-mau saja menghamba ke Barat, kecaman pada sistem sekularisme, kapitalisme, demokrasi dan lainnya.

Duta Islam Nusantara

Ternyata inti dari pesan itu adalah apa yang tertera di bagian akhir, yaitu ajakan untuk turun ke jalan dan menyuarakan penolakan atas kedatangan Obama di KTT ASEAN di Bali.

Saya menolak ajakan mereka secara halus, dengan mengatakan pada jam yang sama saya ada agenda, tidak bisa ditinggalkan. Selain karena memang dari sono-nya saya tidak suka aksi turun jalan, alasan yang saya sampaikan sebagai bentuk penolakan secara halus itu bukan sekedar omong kosong belaka.

Jawaban dari penolakan itu begitu mengejutkan saya. Bagaimana tidak, yang mengirimi saya SMS itu semacam mengancam, menakut-nakuti, atau memperingati saya.

Intinya sama sekali itu tidak bernada nasehat. Kurang lebih SMS mereka berbunyi, Awas lho An, kesibukan Kamu itu membuat Kamu tidak sensitif pada kondisi umat.

Dengan sedikit rasa terkejut karena sama sekali tidak menduga bahwa mbak yang meng-SMS saya tadi, yang saya kenal begitu ramah, lembut, dan santun, akan mengirimi saya SMS yang bernada seperti itu.

Lalu, saya menjawab, Apakan kepedulian kepada umat hanya bisa diekspresikan dengan cara turun ke jalan?

Singkat cerita, di akhir komunikasi singkat kami, saya menulis pesan kepadanya yang berbunyi, Semoga aqidah mampu menyatukan kita.

Selama ini saya memang tidak membuka secara transparan identitas ke-NU-an saya. Jadi, jika sekarang atau nanti mereka mulai membaui kalau saya tidak seatap dengan mereka, saya berharap solidaritas yang telah terjalin tetap erat. Itu maksud saya menulis pesan begitu.

Pulang ke kos, saya kembali membuka buku Tuhan Tidak Perlu Dibela karya Abdurrahman Wahid.

Entah mengapa, membaca tulisan Gus Dur kali ini terasa berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Saya merasa menemukan pembenaran, pembelaan, dan dukungan atas sikap yang saya pilih dan saya tunjukkan tadi dan sebelumnya.

Barangkali karena teks menemukan konteksnya. Saya (baru) menyadari betul bahwa sekian tulisan Gus Dur yang telah saya baca, khususnya apa yang terangkum dalam Tuhan Tidak Perlu Dibela, adalah sesuatu yang lahir dari kedalaman keberagamaan dan kebertuhanan.

Jika bukan seorang yang paham dan memahami tentang Tuhan, bagaimana mungkin seseorang dengan spontan mengatakan bahwa Tuhan tidak perlu dibela. Dan, hal itu Gus Dur lontarkan di tengah-tengah berkecamuknya perang antara pembelaan dan penghinaan yang dialamatkan pada Tuhan.

Saya yakin, kalimat itu cerdas, dan sama sekali hal itu tidak mencederai kemahaan-Nya. Sederhana saja saya berpikir:

Bagaimana mungkin, makhluk yang lemah ini berupaya keras membelaTuhan yang Maha Kuat? Bukankah ini suatu pelecehan secara ekplisit?

Saya tidak mengatakan bahwa mereka yang mati-matian membela Tuhan adalah salah. Akan tetapi barangkali mereka belum sampai pada maqam-nya. Jadi, biarkan dulu mereka melakukan sesuatu sesuai dengan maqam mereka. (Buku) Gus Dur, Tuhan Tak Perli Dibela, menguatkan (iman) saya. (Noer Hasanatul Hafshaniyah, alumnus Annuqayah-Sumenep. Sekarang mahasiswa semester satu jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35437/buku-gus-dur-menguatkan-saya

Duta Islam Nusantara

Minggu, 01 Agustus 2010

Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah

Bogor, Duta Islam Nusantara. Separuh dari sekitar 3000 kepala keluarga (KK) di Kampung Pulo Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng Bogor atau sekitar 1500 KK belum mempunyai buku nikah. Akibatnya banyak sekali pasangan yang kesulitan mendapatkan pelayanan administratif dari pemerintah.

Data tersebut diungkapkan Taufik Hidayat, pejabat desa setempat di sela kegiatan sidang itsbat nikah massal yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta bekerja sama dengan Pengadilan Agama Kabupaten Bogor, Jumat (2/9). Sidang itsbat nikah ini diperuntukkan bagi pasangan suami-istri yang telah menikah secara Islam namun belum mempunyai buku nikah.

Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)


Separuh Pasangan di Desa Cibeuteung Udik Bogor Belum Punya Buku Nikah

Taufik mengatakan, para pasangan yang belum membunyai buku nikah kesulitan mendapatkan pelayanan dari negara mulai dari pengurusan kartu keluarga, kartu tanda penduduk sampai akses kesehatan. Mereka juga terkendala dalam melakukan aktifitas ekonomi dan perbankan.

"Itu semua dikarenakankan kurangnya pemahaman dan pengetahuan terkait pentingnya buku nikah," lanjut Taufik.

Duta Islam Nusantara

Nawawi (40) salah seorang peserta isbat nikah mengatakan, ia tidak menguruskan perbikahannya ke Kantor Urusan Agama (KUA) karena alasan ekonomi. Nawawi yang mengikuti sidang bersama istrinya dan dua orang sakai mengeluhkan biaya nikah yang besar waktu itu, pada saat ia melangsungkan akad nikah.

Selain persoalan ekonomi, beberapa pasangan yang belum mempunyai buku nikah di Desa Cibeuteung Udik disebabkan mereka menikah di usia muda, sebelum mencapai usia menimal sebagaimana dalam UU Perkawinan Tahun 1974.

Duta Islam Nusantara

M. Wildan Abror, Ketua KKN Program Studi Ahwal Syakhsiyah STAINU Jakarta mengatakan, kegiatan sidang itsbat nikah massal merupakan bentuk keprihatinan dari para mahasiswa melihat kondisi masyarakat yang belum mempunyai buku nikah. Mengingat pentingnya keberadaan buku nikah, para mahasiswa berinisiatif mengadakan itsbat nikah dan memasukannya ke dalam salah satu agenda KKN.

Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Bogor Sholahudin dalam kesempatan itu mengimbau masyarakat yang belum mempunyai buku nikah agar segera mengajukan permohonan kepada pengadilan agama. Proses persidangan itsbat nikah cukup mudah dan singkat, serta untuk masyarakat miskin bisa bebas biaya alias gratis. (Deni Hariman/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70932/separuh-pasangan-di-desa-cibeuteung-udik-bogor-belum-punya-buku-nikah

Senin, 19 Juli 2010

Pasar Rakyat NU Giliran di Banyumas

Jakarta,Duta Islam Nusantara

Rangkaian kegiatan Pasar Rakyat Indonesia yang diselenggarakan oleh PBNU tiba gilirannya di Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu-Ahad (4-5/5).

Pasar Rakyat NU Giliran di Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasar Rakyat NU Giliran di Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)


Pasar Rakyat NU Giliran di Banyumas

Pembukaan resmi Pasar Rakyat yang bekerjasama dengan PCNU Kabupaten Banyumas diadakan pada Sabtu pagi ini dengan diawali pembacaan tahlil dan doa serta sambutan dari PBNU dan pejabat setempat.

Seperti biasa, even Pasar Rakyat diawali dengan pelatihan wirausaha danbroadcastingpada Sabtu pagi oleh tim khusus.

Duta Islam Nusantara

Pasar rakyat menyediakan berbagai jenis kebutuhan. Secara khusus di setiap even panitia menyediakan paket sembako murah yang berisi beras, mie instant, dan minyak goreng bintang sembilan.

Konsumen yang membawa kartu tanda anggota NU (Kartanu) mendapat diskon Rp 2.000 dari pembeli lainnya. Pasar rakyat ini juga menyediakan stand-stand produk daerah setempat.

Duta Islam Nusantara

Kegiatan juga diiringi dengan panggung hiburan dan beberapa jenis hiburan lain seperti kesenian daerah, dangdut, shalawat dan perlombaan anak-anak.

Pasar Rakyat diadakan di 48 kota di pulau Jawa. Kabupaten Banyumas mendapat gelaran yang ke-38. Pasar rakyat telah dimulai sejak April 2012. PBNU menunjuk PT Umat Power sebagai pelaksana kegiatan dan bekerja sama dengan PWNU/ PCNU atau pondok pesantren setempat.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/44212/pasar-rakyat-nu-giliran-di-banyumas

Duta Islam Nusantara

Jumat, 09 Juli 2010

Menuai Hikmah lewat Dongeng

Judul : Pesantren Dongeng: Melipur Hati, Menikmati Kisah, Mendulang Hikmah

Penulis : Awang Surya

Penerbit: Zaman

Menuai Hikmah lewat Dongeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Menuai Hikmah lewat Dongeng (Sumber Gambar : Nu Online)


Menuai Hikmah lewat Dongeng

Cetakan: I, 2011

Tebal: 224 Halaman

ISBN: 978-979-024-270-8

Duta Islam Nusantara

Peresensi: Ahmad Suhendra

Saat kecil, di antara kita mungkin sering atau pernah dibacakan dongeng sebelum tidur oleh orang tua. Bahkan, mungkin dongeng itu masih tersimpan dalam telinga kita sampai sekarang. Namun, anak-anak sekarang sudah jarang atau bahkan tidak ada yang menikmati dongeng. Kemajuan teknologi membuat anak-anak terlena dengan permainan produk kemajuan teknologi. Mungkin dongeng sudah dianggap kuno, sehingga eksistensi dongeng dalam kancah dunia anak-anak sudah mulai terkikis.

Duta Islam Nusantara

Tradisi dongeng yang sudah hampir terkikis tampaknya ingin dipopulerkan kembali oleh penulis buku ini. Awang Surya menyodorkan sosok tokoh-tokoh yang lugu dan lucu. Dari keluguan ketiga santri kiai Sholeh itu, justru yang membuat buku ini menarik untuk dibaca. Keempat tokoh tersebut tinggal di suatu kampung yang bernama Bulusari.

Di dalam buku ini sebenarnya mbah Sholeh merupakan orang biasa. Dia bukan ustadz apalagi kiai yang mempunyai beribu-ribu jamaah atau yang memiliki pesantren dengan ratusan santri. Tapi mbah Sholeh hanya memiliki santri tiga orang yang selalu hadir untuk shalat berjamaah dengannya. Dan untuk mendengarkan dongeng yang diutarakan mbah Sholeh. Jadi yang memanggil kiai kepada laki-laki tua yang hidup sendirian itu hanya tiga orang itu.

Untuk menyampaikan pesan-pesan dongengnya, mbah Sholeh memiliki mushala di dekat rumahnya sebagai tempat berdakwahnya. Terkadang warga kampung ikut berjamaah di sana, tapi di waktu lain para warga berjamaah di masjid desa Bulusari. Di mushala kecil itulah para santri mengaji kepada mbah Sholeh. Pengjian yang diajarkanpun bukan ngaji sharaf, nahwu, bahasa Arab-Inggris, fiqh, ataupun kitab kuning seperti halnya pesantren. Tiga santri itu hanya mendengarkan dongeng yang disampaikan mbah Sholeh.

Para santri khusyu mendengarkan dongeng setiap selepas shalat magrib. Ketika mbah Shaleh merasa perlu menyampaikan dongeng kepada para santrinya maka pengajian dongeng dilaksanakan setelah shalat selain waktu biasanya. Di tengah asyiknya melantunkan dongeng, para santri terkadang bertengkar saling beradu omong atau bahkan saling meledek, terutama Sarimin yakni salah satu santri yang paling ngeyel.

Satu hal yang mungkin agak mengganjal ketika membaca buku ini adalah cerita yang terpotong-potong. Walaupun demikian, penulisnya bermaksud mengedepankan dongeng dibandingkan dengan kisah keempat tokoh yang ada dalam bukunya.

Di antara kita mungkin mengira dongeng merupakan cerita fiktif atau mitos belaka. Namun, dibalik itu terdapat segudang pelajaran atau hikmah yang ada di dalamnya. Begitu juga dengan dongeng-dongeng yang dituangkan oleh Surya. Penyuguhan dongeng yang tak lepas dari aktivitas keseharian dalam bermasyarakat maupun bernegara. Pembaca diajak memahami hidup, dan menuai banyak hikmah yang harus direalisasikan dalam dongeng yang penuh inspiratif ini.

Buku karya Awang Surya ini memberikan percikan energi kehidupan yang diselingi dengan humor, sehingga pesantren dongeng ini tidak terkesan menggurui. Di aspek lain, secara tidak langsung karya berjudul Pesantren Dongeng ini mengajak untuk menghidupkan dan melestarikan dunia dongeng di belantara Nusantara. Dengan demikian, buku ini layak dibaca oleh masyarakat luas, untuk semua usia.

* Alumni Fak. Ushuluddin UIN Suka Yogyakarta dan staf pengajar PP. al-Kamiliyyah, tinggal di Bogor.

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/35257/menuai-hikmah-lewat-dongeng

Jumat, 16 April 2010

IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia

Mataram, Duta Islam Nusantara. Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU NTB membagikan paket sembako kepada anak yatim dan lansia di Kelurahan Jempong Kota Mataram Jumat (01/07) sore.

Yatim dan lansia yang dapat sembako serta uang ini merupakan warga Kota Mataram yang berada di lingkungan Sekretariat PW IPNU NTB di Jalan P No 44 Perumahan Elit Kota Mataram.

IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU NTB Berikan Sembako untuk Yatim dan Lansia

"Kami berbagi kepada yatim dan lansia ini agar dirasakan ada manfaat dengan keberadaan sekretariat kami," kata Syamsul Hadi, Ketua PW IPNU NTB di sela-sela acara kepada Duta Islam Nusantara.

Duta Islam Nusantara

Sebelumnya di beberapa titik, lanjut Hadi, banom milik NU ini telah menyantuni anak yatim saat safari, dengan tujuan syiar IPNU-IPPNU di masyarakat umum. Namun warga sekitar tidak kalah penting untuk diperhatikan.

Duta Islam Nusantara

Sementara Bq. Maisarah, ketua IPPNU NTB menyebutkan indahnya berbagi.

"Ayyadul ulya khoirum min yadussufla, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah," katanya.

Jika hari ini hanya puluhan orang yang menerima santunan, harapan utama berikutnya tentunya mudah-mudahan bisa berbagi kepada orang yang lebih banyak.

"IPNU-IPPNU NTB salah satu tempat kami belajar, yaitu belajar berjuang dan bertakwa. IPNU-IPPNU salah satunya mengajarkan kami untuk bisa menjadi insan yang bermanfaat untuk orang lain," katanya (Muslim/Mukafi Niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69527/ipnu-ippnu-ntb-berikan-sembako-untuk-yatim-dan-lansia

Duta Islam Nusantara

Rabu, 24 Maret 2010

Ini Tiga Sebab Berdirinya NU (Bantahan Situs Sebelah yang Mengaburkan Sejarah)

Duta Islam Nusantara - Situs sebelah yang dibuat untuk membuat kabur sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) sekarang sudah mati suri karena cara-cara yang digunakan untuk mengedukasi sejarah NU tidak fair dan provokatif.

Situs yang mengajak mengenal NU justru isinya mengenal tafsiran ngawur hingga menyebut kalau NU didirikan karena para kiai dan ulama saat itu iri dengan gerakan "pemurnian tauhid" ala wahabi di negeri Hijaz. Naudzubillah.

Situs yang konon dibuat kader Persis tersebut hanya berisi hoax dan data serta fakta sejarah NU yang dibuat-buat tanpa tabayun, menilik referensi dari sumber internal NU. Di hari ulang tahun NU yang ke-91 ini, Kiai Muhammad Idris Mesut, sengaja membuat refleksi sejarah.

Ini Tiga Sebab Berdirinya NU (Bantahan Situs Sebelah yang Mengaburkan Sejarah) - Duta Islam Nusantara
Ini Tiga Sebab Berdirinya NU (Bantahan Situs Sebelah yang Mengaburkan Sejarah) - Duta Islam Nusantara


Ini Tiga Sebab Berdirinya NU (Bantahan Situs Sebelah yang Mengaburkan Sejarah)

"NU didirikan oleh para ulama terpilih yang memiliki kapasitas keilmuan luhur dan juga kesalehan mulia," katanya, sebagaimana dikutip Duta Islam Nusantara dari Netizen NU Jawa Timur, Senin (30/01/2017).

Duta Islam Nusantara

Mengutip pendapat KH Dimyathi, Kiai Idris menyebut kalau NU itu didirikan karena tiga sebab penting, pertama, musyawarah dan keputusan bersama 50 ulama besar Nusantara (almasyurah baina khomsina aliman), kedua, istikharah para ulama Nusantara untuk mendirikan sebuah wadah organisasi.

Sedangkan sebab ketiga adalah keputusan para ahli kassyaf atas permintaan yang diajukan oleh para kiai Nusantara. "Oleh karena itu, insyaAllah, NU akan tetap berdiri dan berkembang sebagai cahaya penuntun umat meski ada banyak badai cobaan dan permasalahan," harapnya. [Duta Islam Nusantara] 

Duta Islam Nusantara

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/ini-tiga-sebab-berdirinya-nu-bantahan-situs-sebelah-yang-mengaburkan-sejarah.html

Selasa, 03 November 2009

Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir

Duta Islam Nusantara - Grand Syekh Al-Azhar atau yang kami murid-murid biasa menyebut Al-Imam Al-Akbar, adalah Pemimpin tertinggi Al-Azhar, membawahi Puluhan Universitas Al-Azhar di Mesir, Masjid-masjid, dan Sekolah-sekolah.

Beliau memiliki kedudukan setara dengan Perdana Menteri Mesir, mengingat pengaruh dan kekayaan wakaf Al-Azhar di masa lalu yang melebihi kekayaan negara Mesir itu sendiri.

Dari sisi aqidah, Mayoritas Pemimpin Al-Azhar beraqidah Aswaja Asy'ari, bertasawwuf dan tharekat. Saya bisa pastikan sama dengan kita, karena hampir 7 tahun lamanya saya menimba ilmu dari beliau-beliau. Tentu sebagai manusia, beliau punya pandangan ijtihadi yang bisa jadi berbeda. Dan itu manusiawi sekali.

Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir - Duta Islam Nusantara
Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir - Duta Islam Nusantara


Kedudukan Grand Syaikh Al Azhar Mesir

Pandangan sinis dipropagandakan oleh beberapa media terkait pandangan beliau yang memihak kepada Presiden Abdul Fattah Sisi yang sekarang berkuasa setelah mengkudeta Presiden Mursi yang berhaluan Ikhwanul Muslimin, seperti PKS umumnya di Indonesia.

Duta Islam Nusantara

Secara umum, Al-Azhar lah yang menjaga tradisi Aswaja dan Tasawwuf di ranah internasional, baik secara akademis maupun personal. Pengaruh Al-Azhar di kalangan intelektual timur tengah sangat kuat sekali. Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali Zainal Abidin mengakui hal ini.

Di sisi yang lain, sebagai universitas tertua di dunia, tentu Al-Azhar juga memiliki dinamika intelektual yang terbuka, sehingga beberapa tokohnya ada yang berbau mu'tazilah bahkan wahabi. Tapi itu sedikit sekali. Tetapi mayoritas Azhariyyin adalah Aswaja Asy'ari dan Pengamal Tasawwuf seperti Prof Ali Jum'ah, Prof Said Ramadhan, Prof Wahbah Zuhaili, sampai Syekh Muhammad Ibrahim Abdul Ba'its yang kemarin berceramah dalam acara Syekh Afifuddin di Putra Jaya.

Duta Islam Nusantara

Khusus Grand Syekh Prof Ahmad Thayyib beliau adalah Al-Hasani, keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Hasan. [red/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/kedudukan-grand-syaikh-al-azhar-mesir.html

Senin, 31 Agustus 2009

Al Wala wal Bara, Kritik Terhadap Dakwah Islam Radikal

Duta Islam Nusantara - Ada sebuah istilah baru yang lagi ngetrend yaitu Al Wala’ wal Baro’ yang mana istilah ini dan juga istilah trilogi tauhid tidak dikenal di zaman sahabat ataupun pada zaman salafus sholih maupun di kalangan ulama terdahulu seperti Imam Nawawi, Imam Suyuthi dan para ulama dunia yang lain.

Wala’ secara bahasa artinya adalah dekat, menolong, mencintai dan lain-lain. Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah mencintai dan menolong sesama muslim yang tidak berbuat kesyirikan atau kemaksiatan.

Al Wala wal Bara, Kritik Terhadap Dakwah Islam Radikal - Duta Islam Nusantara
Al Wala wal Bara, Kritik Terhadap Dakwah Islam Radikal - Duta Islam Nusantara


Al Wala wal Bara, Kritik Terhadap Dakwah Islam Radikal

Padahal sangat jelas sekali bahwa Rasulullah tidak mengkhawatirkan ummatnya berbuat syirik, namun muncul golongan yang merasa lebih bertauhid dari Rasulullah dan gemar mensyirikkan umat Rasulullah.

Baro’ secara bahasa adalah berlepas diri, dan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah berlepas diri dari orang kafir atau muslim yang berbuat kesyirikan dan kemaksiatan. Yaitu dengan tidak mencintai atau membantu mereka.

Duta Islam Nusantara

Namun istilah ini ternyata bukan sekedar istilah biasa, karena terjadi ajakan pertumpahan darah, permusuhan, pengafiran, serta tuduhan syirik kepada golongan yang berbeda atas nama al Wala’ wal Baro’. Bukankah kita sudah pernah mendengar ajakan untuk memusuhi dan menghajar golongan yang berbeda pendapat atas nama al Wala’ wal Baro’.

Sebetulnya konsep seperti ini sudah lama dikenal oleh para ulama ahlussunnah wal jamaah dengan nama Alhubbu fillah wal bughdhu fillah (cinta karena Allah dan benci karena Allah), namun dibawakan lagi dengan istilah dan pemahaman yang berbeda oleh golongan tertentu.

Duta Islam Nusantara

Bagaimana seharusnya kita bersikap kepada sesama muslim? Sikap kita kepada sesama muslim adalah saling tolong menolong, mencintai dan memperlakukannya bagaikan saudara.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10).

Juga disebutkan didalam hadits “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan di dalam hadits yang lain beliau bersabda "Tidak beriman seorang muslim hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya" (HR Bukhari).

Lalu bagaimana sikap kita dengan muslim yang lain, seperti pelaku maksiat atau ahli bid’ah. Sikap kita terbaik kepada mereka adalah berlepas dari perbuatannya, bukan dari pelakunya. Karena sejatinya, siapapun yang bersaksi tiada tuhan selain Allah dia adalah saudara kita dalam keimanan, sekalipun dia pelaku maksiat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy-Syu’ara’: 214-216)

Di dalam Al Quran dinyatakan, berlepas diri dari perbuatan mereka, bukan berlepas diri dari pribadi mereka.

Begitu pula diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwasanya suatu ketika Khalid bin Walid RA berbuat sebuah kesalahan, dan Rasulullah mendengarnya lalu berkata “Ya Allah sesungguhnya aku berlepas diri dari perbuatan Khalid.” Beliau tidak berkata berlepas diri dari Khalid, akan tetapi beliau mengatakan berlepas diri dari perbuatan Khalid.

Benarkah kita berlepas diri dari non muslim dengan memusuhi mereka? Sangat banyak sekali ayat qur’an, hadits, bahkan suri tauladan dari sahabat dan generasi salaf yang mengajarkan kita untuk bersikap baik kepada non muslim. Kiranya akan terlalu panjang apabila diuraikan semuanya dalam tulisan ini maka cukuplah salah satu firman Allah dalam suratnya memberikan penjelasan kepada kita.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (yang dimaksud adalah orang kafir) yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah: 8).

Kesimpulannya adalah kita harus mencintai dan mengasihi setiap kaum muslimin, bahkan pelaku maksiat pun tetap kita perlakukan sebagai saudara dan hanya perbuatan maksiatnya yang boleh kita benci.

Dewasalah dalam menyikapi perbedaan diantara mereka, jauhilah sikap saling memvonis karena itu justru akan menjadikan terpecah belahnya persatuan kaum muslimin.

Sikap kita kepada non muslim adalah menghargai dan tetap berhubungan baik dalam urusan keduniaan dan kita pun haram mengganggu peribadatan mereka.

Dakwah tauhid dan sunnah membawa kedamaian, bukan membawa perpecahan apalagi sampai mengkafirkan. Semoga Allah selalu menyayangi kita semua. [Duta Islam Nusantara]

Join Telegram Channel: bit.ly/UstMuhammad110

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/al-wala-wal-bara-kritik-terhadap-dakwah-islam-radikal.html

Kamis, 02 Juli 2009

Kajian Rutin Kitab Hidayaturrahman di Masjid KH Sholeh Darat

Duta Islam Nusantara - Komunitas Pecinta KH Sholeh Darat (Kopisoda) menggelar ngaji perdana kitab Hidayaturrahman karya KH. Muhammad Sholeh bin Umar al-Shamarani, di masjid Sholeh Darat, Ahad (20/03/2013). Kitab ini merupakan tafsir surat al-Fatihah dan al-Baqarah. Hadir sebagai penelaah, H. Anashom (Ketua PCNU kota Semarang), H. In’amuzzahidin (Koordinator Kopisoda), Hj. Sri Suhanjati Sukri (tokoh Aisyiyah).

Menurut rencana, kajian kitab tersebut akan digelar tiap Ahad minggu ketiga. Kitab Hidayaturrahman yang merupakan ringkasan dari Faidurrahhman karangan KH Sholeh Darat. Kitab Faidurrahman ini konon pernah dihadiahkan kepada RA Kartini sebagai kado pernikahan.

Agus Taufik, dzurriyah KH Sholeh Darat mengapresiasi pembentukan Kopisoda untuk nguri-nguri dan mengkaji kitab-kitab KH Sholeh Darat. Ia yakin, masih banyak keilmuan KH Sholeh Darat yang masih terpendam bersamaan dengan kitab-kitabnya yang belum ditemukan. “Ikhtiar kami bagian dari keluarga dan jamaah ingin melestarikan perjuangan Mbah Sholeh Darat,” katanya.

Taufiq menambahkan kegiatan seperti ini perlu dikembangkan dan yang penting bisa istiqomah. Acara dimulai dengan pembacaan tahlil dipimpin K. Mukri selaku sesepuh takmir masjid. “Tidak ada sekat diantara kita, mbah Sholeh Darat milik kita semua,” jelas Taufiq.

Dalam pemaparan sesi materi kitab, Hj. Sri Suhanjati Sukri mengakui bahwa penelitiannya mengenai Mbah Sholeh Darat terinsiprasi dari penelitian Abdullah Salim. Hal menarik menurut Hj. Sri adalah katuranggan yang ada dalam kitab majmua’at yang berbasis kitab fikih. Ia berharap, ke depan kajian kitab tidak hanya terbatas diikuti oleh Kopisoda belaka. "Harus ada Mbah Sholeh Darat Center untuk menampung dan mengambangkan pemikiran dan hasil karya Mbah Sholeh Darat," ujarnya.

Tesis Anashom tentang gerakan dakwah di Semarang juga memasukkan Mbah Sholeh Darat sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam penyeberan Islam di Nusantara. Murid yang terlacak antara lain: KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah), KH. Mahfudz Termas, KH. R Dahlan Termas (pencipta kalender abadi), KH. Munawir Krapyak Yogyakarta, K. Amir Pekalongan, K. Idris (Jamsaren, Solo), K. Abdullah (Bandungrejo, Mranggen), K. Abdullah Sajad (Sendangguwo), K. Abdul Hamid (Kendal), K. Dimyati (Termas), K. Abdus Shomad, K. Penghulu Tafsir Anom. (penulis Tafsir Jawan), K. Yasir (Bareng, Kudus), M. Salim (Banyuwangi), K. Abdurrahman (Mranggen).

Menurut Anashom, jaringan ulama Mbah Sholeh Darat perlu kita lacak hingga ke Singapura dan Bombay (India) karena kitab-kitab beliau dicetak di sana. Tercatat 13 kitab yang telah ditemukan Kopisoda. Agus Taufiq menambahkan lagi penemuan kitab Mbah Sholeh Darat lainnya, namanya Aqiqatut Tajwid dan Fil Biladil Mukarromah al-Musyarrofah.

Tampak hadir H. Imam Taufiq (MUI Jateng), M. Rikza Chamami (MUI kota Semarang) dan pecinta kajian Mbah Sholeh Darat. Rencana, Kopisoda akan touring ke berbagai masjid dan lintas organisasi untuk mengembangkan kecintaan kepada Mbah Sholeh Darat. Pertemuan mendatang jatuh pada 17 April 2016, bertempat di masjid Kauman Agung Semarang. (Mukhamad Zulfa/abd)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/03/kajian-rutin-kitab-hidayaturrahman-di-masjid-kh-sholeh-darat.html

Selasa, 23 Agustus 2005

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Amaliyah yang gampang dikerjakan dan mendatangkan pahala yang besar itu sebenarnya banyak. Seperti Yasinan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Shalawatan, dzikir, dan lain-lain. Amaliyah yang demikian mayoritas warga NU yang mengamalkan. Namun dewasa ini, dari beberapa amaliyah yang gampang itulah ternyata menuwai banyak kritik dari berbagai golongan. Bahkan kritikan terkadang datang dengan sedikit keras. Meraka terlalu gampang menyalahkan seseorang, mensyirikkan seseorang, bahkan mengkafirkan seseorang. Memang sebuah ironi. Mereka seakan lupa bahwa Islam itu sebagai agama yang rahmatal lilalamin.

Zaman sudah dipola sedemikian rupa. Yang benar terkadang jadi salah dan yang salah terkadang jadi benar. Baik dalam konteks pemerintahan maupun agama. Beragam aliran baru dalam beragama bermunculan. Akhirnya, hal inilah yang menggoyah jalannya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) itu. Sebagian ulama NU mengatakan bahwa sekarang keadaan NU sama dengan waktu dulu semenjak NU baru dilahirkan. Kondisi NU sekarang lebih pada mempertahankan diri.

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)


Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Bagi warga NU yang pengetahuan agamanya sudah luas, mungkin problematika yang seperti ini tidak sampai menimbulkan permasalahan atau murusak amaliyahn yang sudah mentradisi dalam NU. Namun, bagi warga NU yang hanya mengamalkan amaliyahnya tanpa tahu dalil-dalil yang menjelaskan tentang amaliyahnya, disinilah bahayanya. Saya mengibaratkan hal ini dengan orang yang berjalan yang hanya berjalan. Ia tidak tahu atas dasar apa ia berjalan dan ia tidak mengerti mengapa ia berjalan. Maka, orang itu bisa jadi ditengah perjalanan nanti akan mengalami kejenuhan, bosan, dan malas. Apalagi dalam perjalanan itu ada orang yang mengolok-olok bahwa perjalanan yang sedang dijalani itu membawa kesesatan. Kemungkinan besar orang yang melakukan perjalanan itu kembali pulang dan akhirnya dia tidak mau melakukan perjalanan lagi.

Duta Islam Nusantara

Nah, terbitnya buku yang berjudul Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Seputar Amaliyah Warga NU) itulah seolah menjadi cahaya yang menyinari amaliyah-amaliyah warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan cahaya itu, dasar-dasar atau dalil-dalil tentang amaliyah NU menjadi tampak dan jelas. Sehingga bisa dipahami bahwa amaliyah yang dilakukan oleh warga NU tidak asal buat. Semuanya bersumber dari Al-Quran dan Hadits.

Beberapa amaliyah yang ditentang keras oleh beberapa golongan antara lain adalah seperti Tahlilan, Shalawatan, Ziarah Kubur, dan Maulid Nabi, juga di sajikan penjelasannya dalam buku yang setebal 245 itu. Misalnya tentang Tahlilan, Zainuddin Fanani, MA dan Atiqa Sabri Daila, MA mengungkapakan bahwa Tahlilan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan umat Islam. Tahlilan adalah media yang sangat penting untuk dakwah dan penyebaran Islam. Dari segi sejarah, Tahlilan sudah ada sejak dahulu sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Perbedaan dan pertentangan dalam tradisi Tahlilan hanya terjadi di antara pemimpin intlektual NU dan Muhammadiyah. Sementara umat mengamalkan tradisi ini.

Duta Islam Nusantara

Tradisi Tahlilan memiliki dua aspek, ketuhanan (hubungan dengan Allah) dan kemanusiaan (hubungan sesama manusia). Tahlilan adalah masalah khilafiyah, maka tidak boleh menjadi penghalang persatuan dan kesatuan umat Islam setelah mengesahkan Allah. (hal 198)

Yang menarik, permaslahan yang terjadi setiap tahun seperti penetapan awal Ramadan dan Syawal (hal 126), bahkan ringkasan kitab Risalah Ahlusunnah wal Jamaah (Karya Hadratus Syaik Muhammad Hasyim Asyari) juga ada dalam buku yang ditulis oleh ketua PCNU kota Malang itu. (hal 179).

Dari sisi lain, membaca buku yang ditulis oleh KH. Marzuqi Mustamar itu mencerminkan bahwa beliau mempunyai tanggung jawab besar dalam membantengi dan menjaga warga NU. Menjaga bagaimana Warga NU tetap dalam jalan yang telah dibina oleh NU. Beliau takut warga NU menghentikan langkah dan tidak mau meneruskan lagi perjalanannya. Maka dari itulah, buku yang ditulis oleh dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim itulah sangat dianjurkan untuk dibaca oleh semua masyarakat terutama warga NU. Wallahu alam.

Data buku

Judul : Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Pilihan Seputar Amaliyah Warga NU)

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif Surabaya

Cetakan : I, Maret 2014

Tebal : xi + 245 hal. 14,5 x 21 cm

Peresensi : Moh. Sardiyono, alumnus PP. Nasy-atul Mutaallimin Gapura Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya

Dari (Pustaka) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55333/cahaya-bagi-amaliyah-nu-yang-dipertanyakan

Duta Islam Nusantara

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock