Tampilkan postingan dengan label Dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dzikir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2017

Kambing Pun Tunduk Disembelih Habib Luthfi Karena Paham Untuk Maulid Nabi

Duta Islam Nusantara - Pada awalnya Maulid Nabi di Kanzus Shalawat diadakan setiap Jum'at Kliwon. Waktu itu pengajian Jum'at Kliwon belum seramai saat ini dan belum ada Gedung Kanzus Shalawat.

Kambing Pun Tunduk Disembelih Habib Luthfi Karena Paham Untuk Maulid Nabi
Kambing Pun Tunduk Disembelih Habib Luthfi Karena Paham Untuk Maulid Nabi


Menurut KH. Zakaria Anshar (santri senior Habib Luthfi yang mulai ngaji sejak 1985 sebelum masuk ke pesantrennya Mbah Maimun Sarang), Habib Luthfi sudah melaksanakan peringatan Maulid Nabi Saw. sejak tinggal di Noyontaan Gang 7, tepat di belakang Gedung Kanzus Shalawat sekarang, sebelum pindah ke Gang 11. Menurut Kiai Zakaria, Habib Luthfi telah menyelenggarakan Maulid Nabi di kediamannya jauh sebelum tahun itu.

Ada cerita menarik pada saat Maulana Habib Luthfi mengadakan Maulid Nabi di Gang 7, jauh sebelum Gedung Kanzus Shalawat berdiri, dan sebelum pindah ke Gang 11. Bapak Abidin (Habib Luthfi memanggilnya Din Towil) saksi mata mengisahkan kepada penulis.

Pada Maulid perdana Habib Luthfi hendak menyembelih seekor kambing. Kambing tersebut di pohon "jaran". Saat tiba waktu disembelih, Mbah Jufri (teman seperguruan Habib Luthfi pada saat ngaji di KH. Abdul Fatah Jenggot Pekalongan) yang ditugaskan mengambil kambing terkejut, karena saat ditarik kambing itu lari.

Habib Luthfi bin Yahya hanya tertawa sambil berkata, "Wedus go ngormati Kanjeng Nabi kok mlayu (Kambing untuk menghormati Nabi kok malah kabur)."

Tak lama setelah Habib Luthfi berkata demikian kambing itu menghampiri Habib Luthfi dan menjatuhkan diri di hadapan beliau. Kambing itu lalu disembelih sendiri oleh Habib Luthfi bin Yahya tanpa perlu bantuan orang.

Mbah Jufri kemudian berteriak, "Kambing wae weruh Kanjeng Nabi, ingsun menungso ora paham! (Kambing saja tahu kedudukan Kanjeng Nabi, aku manusia tapi tidak paham!)".

Dikutip dari buku "Sejarah Maulid Nabi, Meneguhkan Semangat Keislaman dan Kebangsaan Sejak Khaizuran (173 H) hingga Habib Luthfi bin Yahya (1947-Sekarang)", halaman 192 karya Ust. Ahmad Tsauri. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/kambing-pun-tunduk-disembelih-habib-luthfi-untuk-maulid-nabi.html

Habib Luthfi: Walaupun Telah Wafat Para Wali Masih Bisa Menyatukan Umat

Duta Islam Nusantara - Ketika mengucap takbir dalam shalat, kita menyatakan Allah Maha Besar. Ini artinya kita amat kecil dan seharusnya kita malu. Sebagai makhluk kecil-lemah, tapi sering berbuat sombong. Ketika berbuat dosa saja, Nabi Adam bertawasul kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang padahal jasad Nabi saat itu blm wujud di dunia.

Habib Luthfi: Walaupun Telah Wafat Para Wali Masih Bisa Menyatukan Umat
Habib Luthfi: Walaupun Telah Wafat Para Wali Masih Bisa Menyatukan Umat


Berkat tawassul tersebut Allah SWT berkenan mengampuni Nabi Adam AS sebab keyakinan beliau menyatakan, tidak mungkin ada nama yang disandarkan kepada kalimat Tauhid Allah kecuali makhluk yang amat dikasihi-Nya. Tanpa "Muhammadur Rosululloh", maka keimanan kita dengan hanya membaca kalimat "Laa ilaaha Ilallah", tidak bisa diterima.

Maka maulid inilah cara kita mencintai Rasulullah SAW. Makin sering kita ikuti/adakan Maulid, makin sering pula Nama Nabi kita sebut, dan makin sering Beliau kita sebut maka Beliau akan makin sering perhatian kepada kita.

Dalam shalat contohnya. Ketika kita mengucap "Assalaamu 'alaika ayyuhan Nabiyyu...." seolah-olah kita sedang di hadapan Nabi dan beliau sedang memperhatikan kita. Maka harusnya malu jika dalam shalat, kita tdk sungguh-sungguh. Harusnya malu jika setelah shalat kita masih bermaksiat.

Contoh realitas kecil saat 17/08/1945 Proklamasi kemerdekaan RI ini, bertepatan dengan 23 Romadlon di Malam Lailatur Qodar. Itu karomahnya Indonesia, sehingga Allah menjatuhkan bom di Hirosima dan Nagasaki.

Harusnya kita bangga sebagai warga NKRI. Lihatlah anak kita saat ini yang saat menyanyikan lagu Indonesia Raya saja tidak sungguh-sungguh. Dulu waktu kecil kita hapal nama desa, nama kecamatan, nama kabupaten, nama para pahlawan, sekarang? Dengan daerah sekitarnya saja sudah tidak tahu, apalagi dengan nama-nama pulau yang tersebar di seluruh pelosok tanah air kita.

Orang luar sana terhadap kiai/ ulama'/ guru, hormatnya luar biasa. Maka inilah celah orang yang ingin mengobok-obok NKRI. Cukup dengan menjauhkan generasi dari ta'dhim ekpada ulamanya.

Walau hanya sebatas merah dan putih, tapi dalam bendera di situ ada harga diri dan kehormatan bangsa kita.

Lagu Indonesia Raya itu bukan sembarang lagu, bukan sekedar seremonial. Saat kita ucapkan "Indonesia Tanah Airku", inilah tuntutan kepada kita yang harus tetap mempertahankanya kapanpun dan dimanapun juga. Kita merdeka sudah sejak dahulu, tapi sejauh mana kita telah ikut mengisi kemerdekaan? Tidakkah kita malu kepada mereka yang telah berkorban untuk kemerdekaan NKRI ini?

Mungkin mereka para pahlawan sedang menangis menyaksikan kita yang saat ini sering ribut hanya karena beda baju, beda suku, beda agama. Tiap waktu ribut soal politik hingga kita lupa untuk mengembangkan potensi negara.

Lihatlah saat berziarah ke makam para waliyullah, banyak yang berdzikir dengan gaya tahlil yang berbeda-beda, intonasi suara yang beda, tapi tidak ada yang ribut saling menyalahkan satu sama lain. Ini artinya para wali, walaupun telah wafat, mereka masih bisa menyatukan umat. Kita yang masih hidup ini kalah sama mereka yang telah meninggal.

"Jika kalian memang cinta pada Allah, maka ikuti Nabi-Nya", selalu dekat dengan Nabi dan jangan kau jauhi Nabimu.

Sebab memang untuk merongrong umat Islam, mereka yang ingin mengacak-acak kita, akan berusaha menjauhkan kita dari Nabi, ingin membenturkan antar umat beragama. Dan jangan sekali-kali memberi kesempatan kepada orang seperti itu untuk memecah belah kita. "Shollu 'alan Nabi Muhammad". [Duta Islam Nusantara]

Keterangan: Ulasan di atas adalah kesimpulan pengajian umum dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Polda Jateng, disiarkan langsung dari srasiun TVRI Jawa Tengah pada malam Sabtu, 03/02/2017. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/habib-luthfi-para-wali-walaupun-telah-wafat-masih-bisa-menyatukan-umat.html

Rabu, 25 Januari 2017

Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai

Jombang, Duta Islam Nusantara. Kesiapan Panitia Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) PCNU Jombang akan diuji hari ini. Target kepemilikan kartu identitas hingga angka setengah juta adalah tantangan yang akan dibuktikan panitia.

Peluncuran program Kartanu untuk wilayah Jombang dimulai hari ini, Ahad (10/3). Menempati gedung serba guna KH Hasbullah Said di area Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, rangkaian seremonial diselenggarakan.

Pada acara pembukaan, akan diputarkan rekaman sosialisasi dari Kartanu ini, tandas Didik Firdiyanto yang dipercaya sebagai ketua panitia. Rekaman itu adalah sebagai juklak dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)


Pembuatan Kartanu Jombang Dimulai

Untuk bisa menggenjot target dari Kartanu untuk daerah MWC Jombang Kota, pihak panitia telah menyiapkan empat titik lokasi pemotretan. yang pertama adalah di Tambakberas ini, juga di daerah Sengon, Tunggorono serta Kantor PCNU Jombang, katanya kepada Duta Islam Nusantara.

Duta Islam Nusantara

Diharapkan dengan lebih banyak titik tersebut, antusias warga untuk memiliki kartu identitas akan semakin mudah terlayani. Waktu pemotretan juga akan berlangsung sejak jam 8 pagi hingga jam 9 malam, lanjutnya.

Sosialisasi yang secara silmultan dilakukan panitia dengan dukungan penuh para aktifis di PCNU semua tingkatan, lembaga, badan otonom serta lajnah cukup memberikan harapan bahwa target panitia akan terlampaui. Kami juga akan melakukan jemput bola kepada sejumlah warga yang belum terlayani program ini, tandasnya.

Duta Islam Nusantara

Memang khususu untuk di Jombang, ada beberapa keistimewaan bagi para pemegang Kartanu. Ada sejumlah keringanan biaya saat menggunakan fasilitas di sejumlah rumah sakit NU, kata Afandi, Sekretaris Panitia Kartanu. Rumah sakit yang telah menyatakan kesediaan adalah Rumah Sakit Unipdu Medika Peterongan, Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Jombang, serta Rumah Sakit Ibu dan Anak Muslimat Jombang.

Bahkan Direktur Utama Rumah Sakit Unipdu Medika, DR Zulfikar Asad berharap akan lebih banyak lagi manfaat yang akan diterima warga NU saat memiliki kartu identitas. Inilah yang perlu dipikirkan oleh para pengusaha, pemilik lembaga pendidikan dan sejenisnya, katanya. Jangan hanya memanfaatkan warga NU namun tidak memberikan manfaat kepada mereka, tandas Gus Ufik.

Program Kartanu di Jombang akan berlangsung dari tanggal 10 Maret hingga 8 Juli mendatang. Seluruh MWC akan mendapatkan giliran pemotretan Kartanu yang difasilitasi panitia dari PCNU Jombang.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43006/pembuatan-kartanu-jombang-dimulai

Duta Islam Nusantara

Kamis, 08 Desember 2016

KH Nur Iskandar Sakit, Sumbu Pendek: Kualat Karena Bela Ahok, Segera Tobat!

Semua yang sakit, dikumpulkan fotonya, lalu disebarkan karena bela Ahok. Ente waras akhi? Duta Islam Nusantara - KH Nur Iskandar, beberapa hari terakhir dikabarkan sakit hingga harus menggunakan alat bantu optimal di RS Siloam, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Setelah Gus Nadirsyah Hosen meminta doa atas kesembuhan kiai di akun twitternya, ternyata hal itu, menurut tim Cyber NU Jatim, membuat para alumni 212 menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Mumpung sakit, ujar salah satu tim Cyber kepada Duta Islam Nusantara, KH Nur Iskandar digunakan sebagai alat untuk kamapanye anti Ahok. Secara beruntun mereka kemudian membuat broadcast yang isinya antara lain: kualat karena dukung Ahok dan segera tobat agar tidak meninggal dunia alam keadaan masih membela Ahok seperti Sarlito Wirawan, yang meninggal 14 November 2016. Ya Allah, separah inikah jenis mulim Indonesia kita saat ini?

Glorifikasi sakit yang dikaitkan dengan laknat tersebut karena Kiai Iskandar dianggap oleh mereka sebagai pendukung demo tandingan anti 212 yang dilaksanakan pada 412. "Ia juga yang membacakan doa untuk Ahok saat mengadakan acara tandingan 412," tulis pemilik akun Facebook Baim Montana, alumnus Universitas Negeri Jakarta. Ini statusnya lengkapnya, dicopy-kan Duta Islam Nusantara.

--------------

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..

Setelah pembela ahok, dr. Sarlito wirawan meninggal dunia 14 November 2016 lalu, dalam keadaan masih membela ahok..

Kini, KH Nur Muhammad iskandar, SQ, Kyai haji, pemilik pesantren Asshiddiqiyah, Kebon Jeruk, Jakarta, dengan titel Sarjana Quran, yg juga adalah salah seorang pembela AHOK & sangat menjunjung AHOK, suka mengecilkan umat islam sendiri. Dan ia juga yg membacakan doa utk AHOK saat mengadakan acara tandingan 412.

Saat ini dalam keadaan sekarat di RS Siloam, Kebon Jeruk, Jakbar.

Saat ini beliau tidak bisa bergerak. Selang dimana-mana. Kita tidak tahu apakah beliau sdh bertaubat atau belum. Kita doakan saja beliau agar mendapat hidayah & sudah bertaubat, serta mendapatkan nikmat kesembuhan dari Allah Ta'ala, aamiin.

Allah jadikan ini sebagai contoh untuk para ulama kebelinger lainnya. Semoga ulama para pembela ahok cepat bertaubat.

Azab Allah itu pasti

“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal". Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.

(HR. Ahmad)

AL-AIMMAH AL-MUDHILLIN (para pemimpin penyesat umat) = termasuk di dalamnya para umara (pemimpin pemerintahan), ulama, dan ahli ibadah. Para umara tersebut adalah mereka yang menerapkan hukum dengan selain hukum Islam, bertindak dzalim, dictator dan kejam, dan tidak menunaikan hak-hak rakyat.

Para ulama yang menjadi pemimpin menyesatkan, karena mereka menyembunyikan ilmu dan merubah-rubahnya. Suka mengakali dalil untuk kepentingan syahwatnya atau kepentingan para pemimpinnya.

----------------

Perang statemen masih berlanjut antar grup. Di salah satu grup pendukung demo anti Ahokk, terdapat broadcast yang tidak jelas ditulis penulisnya. Katanya, KH Nur Iskandar sebetulnya bukan pendukung Ahok. Ia hanya dijebak oleh Djian Farid (PPP) untuk dimanfaatkan agar datang ke demo 412 bersama partai lain.

Selain melakukan klarifikasi, broadcast tersebut juga menggoreng opini menyudutkan Ketum PBNU pula. Padahal, tidak ada hubungannya. Megawati juga disebut-sebut. Hahahaha. Ya Allah Gustiii, separah inikah kebencian kaum muslimin kita? Bacalah BC sumbu pendek yang tersebar, lengkap dengan foto yang disebar juga, di bawah ini.

---------------

selesai sidang hari ini, saya jenguk sekaligus tabayyun kepada KH Noer Iskandar di Rumah Sakit.. dan menurut beliau dan Istrinya.. bahwa ketika datang ke lokasi tandingan beliau dijebak dan manfaatkan oleh djen farid karena memang sdh setahun ini beliau sdh sangat udzur syar'i (maaf.. pikun).. keterbatasan kesehatan itulah yg dimanfaatkan oleh group pendukung penista agama..

dan Beliau dan Istrinya menyatakan sangat mendukung apa yg dilakukan oleh FPI dan Ummat Islam utk memenjarakan sipenista agama. Wallahu A'lam.

Kalau Aqil siraj, saya sdh sangat yakin kalau dia syiah.. karena berita itu sdh saya dapat sekitar 10tahun yll dari langsung org syiah.

Semoga megawati tidak termasuk org Kafir..

Pria ini disebut yang tabayun ngawur di atas --------------

Hanya ada satu cara untuk melakukan klarifikasi. Yakni keluarga. Duta Islam Nusantara sudah melakukan tabayyun langsung ke putra KH Nur Iskandar, Gus Mahrus. Pada Rabu (28/12/2016) pagi, lewat pesan WA yang dikirimkan redaksi, Gus Mahrus mengatakan kalau kondisi abahnya sudah sehat, "Alhamdlh mpun waras sehat," balasnya. Ia juga mengatakan kalau foto yang beredar selama ini adalah foto lama yang disebar pihak-pihak tidak bertanggungjawab.

Menurut keterangan Gus Mahrus, Abah sakit sebenarnya karena telat cuci darah dan capek setelah acara dari Jogja. Soal foto yang beredar, jelas bukan foto terakhir. "Berat Abah naik drastis, bukan malah kurus seperti di photo yang beredar sekarang," terangnya kepada Duta Islam Nusantara.

Hoax komentar sumbu pendek Ngeri melihat komen-komen para sumbu pendek yang banyak diantaranya bergelar sarjana, magister, doktor, juga ustadz. Ada yang kemudian panas adem minta hapus foto Yusuf Mansur jenguk KH Nur Iskandar karena dianggap akan menimbulkan fitnah. Lha wong silaturrahim tanda kasih sayang kok ya tidak boleh, ya ampyun, kalian ini makhluk planet mana sih. Ini fotonya, silakan disimpan.

Foto Ustadz Yusuf Mansur ketika menjenguk KH Nur Iskandar Semoga doa-doa bernada laknat kepada kiai NU tersebut bisa menjadi maghfirah (ampunan) untuk semua dosa-dosa beliau yang selama ini terus mengabdi di bidang pendidikan. Alfatihah. Syafahullah. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kh-nur-iskandar-sakit-sumbu-pendek-kualat-karena-bela-ahok.html

Rabu, 15 Juni 2016

Tangkal Ektremisme, NU Demak Akan Terbitkan Khutbah Aswaja

Demak, Duta Islam Nusantara. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Demak, Jawa Tengah, secara tegas menolak ektremisme berkedok agama, termasuk paham ISIS, di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Langkah tersebut diambil dengan berbagai cara di antaranya melalui penyampaian pesan Aswaja melalui penerbitan buku khutbah.

Kami mengharap tiap MWC (Majelis Wakil Cabang NU) membuat khutbah minimal lima buah khutbah dengan misi Aswaja, sesuai misi dakwah NU Demak, harap ketua NU Demak KH Musadad Syarif saat memimpin rapat koordinasi pada acara bahtsul masail yang diselenggarakan PCNU Demak di Pesantren At Thoyyibah menawan Desa Merak, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, Jateng, Ahad (5/4).

Tangkal Ektremisme, NU Demak Akan Terbitkan Khutbah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangkal Ektremisme, NU Demak Akan Terbitkan Khutbah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)


Tangkal Ektremisme, NU Demak Akan Terbitkan Khutbah Aswaja

Memperhatikan hasil rapat tersebut, pada kesempatan itu pula Kiai Musadad langsung membentuk tim yang khusus menangani proses pengumpulan tulisan ini, lalu meneruskan hasilnya ke seluruh khotib di Kabupaten Demak. Mengingat kultur masyarakat Demak, rencananya buku khutbah akan diterbitkan dalam dua versi bahasa, yakni Indonesia dan Jawa.

Duta Islam Nusantara

Naskah khutbah dengan dua bahasa ini setelah terkumpul di cabang akan disempurnakan oleh tim yang ditunjuk oleh PC dan hasilnya akan kami teruskan ke khotib sekabupaten Demak melalui MWC dan Ranting, tegas Musadad.

Selain dihadiri pengurus PCNU, rapat itu juga dihadiri pengurus MWCNU se-Kabupaten Demak dan pengurus badan otonom NU setempat. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Duta Islam Nusantara

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/58680/tangkal-ektremisme-nu-demak-akan-terbitkan-khutbah-aswaja

Duta Islam Nusantara

Kamis, 05 Februari 2015

LPBI NU Lakukan Penyusunan Tafsir Tematik Pengelolaan Sampah

Jakarta, Duta Islam Nusantara. LPBI NU (Lembaga Penanggulangan bencana dan perubahan Iklim Nahdlatul ulama) Mengadakan RTD (Roundtable Discussion) Penyusunan konsep pandangan perspektif Islam dengan tema "Tafsir Tematis Pengelolaan Sampah", yang diadakan pada 25 - 27 Mei di Jakarta.

Pada pembukaan yang digelar kemarin, dihadir oleh Wakil Sekjen PBNU, H.Syahrizal Syarief PhD, Asisten Deputi Kementerian Lingkungan Hidup, Widodo Sambodo, Ketua LPBI NU Avianto Muhtadi dan Mr Yasukawa Takashi, First Secretary Kedutaan Jepan di Indonesia.

LPBI NU Lakukan Penyusunan Tafsir Tematik Pengelolaan Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Lakukan Penyusunan Tafsir Tematik Pengelolaan Sampah (Sumber Gambar : Nu Online)


LPBI NU Lakukan Penyusunan Tafsir Tematik Pengelolaan Sampah

Mr Yasukawa Takashi, dalam sambutannya dengan berbahasa Jepang menyampaikan kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Program 3R (reduce, reuse, recycle) yang di support melalui Kedutaan Besar Jepang melalui program bantuan hibah untuk proyek grassroot keamanan kemanusiaan dengan tema Jakarta Clean & Safe yang melibatkan kerjasama dengan Nahdlatul Ulama.

Ia berharap kerjasama ini membuahkan hasil yang sustain, tidak hanya proyek semata namun mempunyai implikasi yang luas dan bermanfaat bagi hubungan Indonesia dan Jepang serta bagi masyarakat Indonesia khususnya di DKI Jakarta.

Duta Islam Nusantara

Pada tahun 2007-2010 LPBI NU yang dulu bernama CBDRM NU (Community Based Disaster Risk Management Nahdlatul Ulama) telah dianggap sukses melaksanakan program Pengurangan risiko Bencana Berbasis Masyarakat di Jakarta Barat dengan salah satu kegiatannya mengembangkan konsep 3R (melalui rumah kompos di RW 04 Kedoya Utara, Kecamatan Kebon Jeruk dan menjadi RW Teladan di DKI Jakarta.

Duta Islam Nusantara

Keberhasilan dan lesson learnt rumah kompos ini akan ditingkatkan dan diperluas pemanfaatannya melalui program ini di 3 RW lainnya di Jakarta Barat. Hal inilah menjadi alasan mengapa Jakarta Barat dijadikan sasaran oleh LPBI NU untuk mengurangi timbulan sampah.

Jakarta adalah kota Metropolitan yang memiliki jumlah penduduk 9.558.198 orang berdasarkan sensus penduduk 2010. Dimana terdapat pernyataan yang masuk akal yaitu dimana ada orang berkumpul, disitu ada potensi sampah , sehingga bagaimana kita menempatkan dan mengelola sampah dengan baik dan benar agar risiko terhadap implikasi sosial dan dampak lingkungan dapat diminimalisir, seperti bencana banjir, kesehatan, pencemaran dan polusi lingkungan serta dampak terkait perubahan iklim.

Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan hasil penelitian PU dengan JICA pada tahun 2005, Timbulan sampah di Jakarta diperkirakan sekitar 25.600 m3/hari sedangkan total daya tampung TPS (tempat pembuangan sementara) adalah 18.750 m3/hari. Sampah di TPS kemudian didistribusikan ke SPA (stasiun peralihan antara) di Cakung dan Sunter dan sebagian besar ke TPA (tempat pembuangan akhir). Dari 25.600 m3/hari timbulan sampah di Jakarta yang tertanggulangi sebesar 22.500 m3/hari (83 %), sisanya 3.100 m3/hari (17 %) digunakan sebagai bahan pupuk (kompos), mengurug tanah, dibakar dan dibuang ke Kali/Sungai.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/32333/lpbi-nu-lakukan-penyusunan-tafsir-tematik-pengelolaan-sampah

Jumat, 17 Januari 2014

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa

Cirebon, Duta Islam Nusantara. Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Cirebon menggelar Harlah ke-55 serta mengukuhkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) tingkat Kecamatan se-Kabupoaten Cirebon pada Ahad, (26/4) di Halaman NU Center Sumber, Cirebon.

Acara tersebut sangat meriah dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, H Marwan Jafar, Bupati Cirebon, H Sunjaya Purwadisastra, Ketua Umum PP Fatayat NU, Hj Ida Fauziah, dan Rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH, Usamah Manshur, serta para tokoh NU Cirebon.

Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)


Fatayat dan Mendes Dorong Perempuan Bangun Desa

Pada kesempatan tersebut, Marwan Jafar menjelaskan, sebagai Banom NU, Fatayat bisa memanfaatkan forum pengajian ibu-ibu yang selama ini sudah berjalan secara rutin untuk melakukan pemberdayaan membangun desa.

"Perkumpulan ibu-ibu Fatayat yang sudah berjalan rutin, bisa dimanfaatkan untuk menyosialisasikan berbagai program dan mengambil peran dalam pembangunan desa," katanya.

Duta Islam Nusantara

Dalam kesempatan tersebut, Marwan juga melakukan penandatanganan MoU dengan Fatayat NU untuk mengukuhkan peran perempuan dalam pembangunan desa.

Kementerian Desa ingin melakukan sinergi dengan kelompok perempuan dalam hal pembangunan dan pemberdayaan perempuan masyarakat desa, pembangunan kawasan ekonomi perempuan pedesaan, pemberdayaan dan pembangunan pendidikan dan kesehatan perempuan di daerah transmigrasi dan daerah tertinggal, ungkapnya.

Duta Islam Nusantara

Sementara itu, Ketua PP Fatayat NU, Hj Ida Fauziah mengatakan, Fatayat NU dengan usia 65 tahun harus memberikan pendampingan terhadap masyarakat agar terlepas dari jerat kemiskinan dan kebodohan.

Semoga dengan dilantiknya PAC Fatayat NU se-Kabupaten Cirebon bisa memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya bagi pemberdayaan perempuan di desa-desa, pungkas Ida. (Ayub Ansori/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/59130/fatayat-dan-mendes-dorong-perempuan-bangun-desa

Kamis, 25 Juli 2013

Indra J. Piliang: Hinaan Grafis Buya Syafii Maarif Serangan Kaum Tagut

Duta Islam Nusantara - Ini adalah rangkuman dari rangkuman twit Indra J. Piliang yang membela Buya Syafi'i Maarif dari serangan-serangan orang yang membencinya, -bahkan kadernya sendiri,- hanya karena beda pendapat, sebagaimana telah ditulis Duta Islam pada laporan: Buya Syafi'i: Dalam Kondisi Ketidakwarasan Seperti ini, Saya Rindu Gus Dur.

Sedih saya melihat Buya Sjafii Maarif diberlakukan seperti ini. Beliau setahu saya orang yang tidak gila kuasa. Ditawari macam-macam, beliau tak mau. Keberpihakan Buya Syafii Maarif terhadap pluralisme adalah bagian dari sejarah hidupnya. Ia sejak kecil tinggal dengan ibunya, hidup bersama etek nya (bahasa Minang, artinya tante).

Sampai Buya Syafii Maarif jadi tokoh nasional, kampungnya pun belum dialiri listrik. Hampir sama dengan kampung masa kecil saya, listrik (baru) ada tahun 2002. Buya Syafii Maarif terlambat masuk bangku kuliah, terlambat jadi Sarjana Muda, dll, karena membanting tulang sebagai anak rantau. Ia (bekerja sebagai) mekanik juga.

Indra J. Piliang: Hinaan Grafis Buya Syafii Maarif Serangan Kaum Tagut - Duta Islam Nusantara
Indra J. Piliang: Hinaan Grafis Buya Syafii Maarif Serangan Kaum Tagut - Duta Islam Nusantara


Indra J. Piliang: Hinaan Grafis Buya Syafii Maarif Serangan Kaum Tagut

Riwayat hidup Buya Syafii Maarif tidak dibentuk lewat perkoncoan, perca 1oan, apalagi perbualan politik. Ia andalkan delapan kerat tulangnya. Buya Syafii Maarif tidak menghamba kepada konglomerat manapun. Ia lebih senang hidup sebagai seorang guru, seorang pendidik, seorang pecinta ilmu.

Apa setelah jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif lantas pindah jadi warga DKI Jakarta? Apa ter0mpahnya sering terlihat di pintu Istana?

Duta Islam Nusantara

Kesederhanaan Buya Syafii Maarif ini mirip dengan almarhum Ketua Umum DPP Partai Gerindra (Suhardi) yang rumahnya pun tiris itu. Kesederhanaan angkringan ala Yogya.

Duta Islam Nusantara

Apa Buya Sjafii Maarif punya rumah di area-area elit Jakarta? Apa Buya punya is3 simpanan? Apa Buya naik mobil-mobil mewah? Apa tubuhnya penuh lemak?

M3me-m3me (hinaan gambar grafis) yang dibuat untuk Buya Syafii Maarif menurut saya sangat tidak pantas, tidak etis. Amoral! Gambar-gambar itu seperti serangan kaum thogut (makar) kepada orang-orang yang berprinsip.

Contoh hinaan thaghut Buya Syafii Maarif

Sudah berapa ratus anak-anak muda negeri ini yang dapat beasiswa atas tandatangan dan rekomendasi Buya Syafii Maarif? Apa ia sosok orang loba dan tamak?

Tabur-angsa-Ng (mudah marah) juga saya dengan cara-cara buruk dan jauh lebih busuk dari berjenis serangan terhadap Buya Sjafii Maarif. Mau saja diadu domba orang-orang tak berakalbudi! Buya Syafii Maarif hanya memberikan pendapatnya. Ia juga bukan tipikal saksi-saksi ahli yang dibayar ratusan juta di muka sidang-sidang sengketa pilkada!

Apa Buya Syafii Maarif pernah terlihat kongkow-kongkow di hotel-hotel mewah, dikawal orang-orang bersafari dan per empu an-per empu an berparfuuum menyengat hidung, bermewah-mewah?

Apa Buya Syafii Maarif pernah terbaca muncul dalam iklan-iklan untuk bepergian ke tanah suci; dengan biaya mahal, kursi eksekutif, hotel bintang lima?

Apa kaki Buya Syafii Maarif terlihat jarang menyentuh tanah, dikawal dari satu forum ke forum lain, naik helikopter, dengan manajemen eksekutif?

Apa Buya Syafii Maarif pernah terdengar menentukan tarifnya, ketika diundang ceramah agama atau ilmu pengetahuan, di suatu tempat?

Apa Buya Syafii Maarif dengan mudah menyimpan nomor-nomor telepon para pejabat pusat dan daerah, lalu dengan mudah juga memenuhi undangan-undangan yang bukan tabligh ilmu?

Sejak kapan berbeda pendapat adalah bagian dari upaya membunuh karakter seseorang, menyatakan kebencian, hingga mengh1na seseorang di negeri ini?

Tirulah sikap Buya HAMKA yang sengit berdebat dengan Mangaradja Onggang Parlindungan tentang Tuanku Rao. Walau keduanya perang opini, mereka satu shaf! Buya HAMKA dan Mangaradja Onggang Parlindungan yang 'perang' dengan menulis buku tentang Tuanku Rao itu, sering terlihat sholat berdua di Masjid Al Azhar.

Tirulah Buya M Natsir (Masyumi) dan IJ Kasimo (Partai Katolik) yang saling mengantar pulang, saling menggendong cucu, setelah debat di Konstituante.

Apa debat yang paling hebat pascakemerdekaan, selain soal azas negara Indonesia? Apa tokoh-tokohnya saling menghasut setelah debat seru di mimbar?

Singa-singa podium yang muncul dalam sidang-sidang Dewan Konstituante itu apa saling menebar isu insuniatif tentang lawan-lawan debat yang berbeda dengannya?

Jika almarhum Buya HAMKA masih hidup, saya yakin beliau akan sangat resah dengan cara-cara tidak beradab yang digerakkan untuk memusuhi Buya Syafii Maarif.

Buya Syafii Maarif tidak punya laskar, tidak punya pasukan berani mati, tidak punya pengawal bersenjata. Ia tak akan membalas caci4n orang-orang. Buya Syafii Maarif tidak akan tabur-ngs4-ng, reaktif, dengan langsung melaporkan pihak-pihak yang membuat hinaan2 yang disebarkan jadi viral di media sosial.

Berkacalah di cermin, lalu lihat wajah Anda sendiri, sebelum dengan mudah memberi sinyal ke publik betapa Anda lebih baik dari Buya Syafii Maarif. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/indra-j-piliang-hinaan-grafis-buya-syafii-maarif-serangan-kaum-tagut.html

Minggu, 16 Juni 2013

Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa

Duta Islam Nusantara - Ini adalah contoh khutbah Idul Adha dalam bahasa Jawa yang bisa digunakan untuk memberikan keterangan seputar Qurban dan sejarahnya. Anda bisa download khutbah Idul Adha ini dengan klik tanda print atau PDF di bawah postingan.

Ooleh Moch. Lukluil Maknun

Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa - Duta Islam Nusantara
Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa - Duta Islam Nusantara


Khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ كُلَّمَا هَلَّ هِلاَلٌ وَاَبْدَرَ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ صَامَ صَائِمٌ وَاَفْطَرْ اللهُ اَكْبَرْ كُلَّماَ تَرَاكَمَ سَحَابٌ وَاَمْطَرْ وَكُلَّماَ نَبَتَ نَبَاتٌ وَاَزْهَرْ وَكُلَّمَا اَطْعَمَ قَانِعُ اْلمُعْتَرْ.. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، قال الله تعالى: { ‏قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ} (سورة يونس ءاية 58)

Duta Islam Nusantara

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah..

Alhamdulillah, kanti rahmat ipun, Gusti Allah kersa njagi keimanan lan kaislaman kita, sahingga kita tetep dados umat Islam lan saget nindaaken ibadah salat Idul Adha 1437 H wonten dinten menika.

Shalawat ugi salam mugi tansah kunjukdumateng junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ugi lumeber dumateng keluarganipun, para sahabat, para tabi’in lan tabi’ut tabi’in, serta dumaten sinten kemawon ingkang ngikuti pentunjuk ipun Kanjeng Nabi dumugi yaumul qiyamah.

Duta Islam Nusantara

Maasyiral Muslimin rahimakumullah

Idul Adha ingkang dipun pengeti wonten tanggal 10 dhulhijjah punika saget dipun sebat kanti nami Idul Hajj lan Idun Nahr. Idul Hajj utawi hari raya haji amargi terkait kalian kaum muslimin ingkang sami nindaaken ibadah haji, inggih rukun Islam kaping gangsal. Ibadah haji menika salah setunggalipun ibadah ingkang agung sanget minangka karunia saking Allah.

Ananging mboten sedaya umat muslim saget nggayuh kranten pinten-pinten sebab. Katah tiang ingkang kacukupan sangu, sehat fisik lan rohani, nanging mboten estu-estu niat tindak haji sahingga mboten saget mireng pengundang-ungdangipun Gusti Allah. Kosok wangsulipun ugi katah umat muslim ingkang niat lan kepengen sanget saget nindaaken haji anangin terhambat awit mboten mampu sangunipun, utawi saweg nandang sakit sahingga mboten saget nindaaken haji.

Maasyiral Muslimin rahimakumullah..

Idul Adha kasebat ugi Idun Nahr artosipun hari raya penyembelihan (Hari raya Kurban). Perkawis menika kangge mengeti ujian berat ingkang dipun alami Nabi Ibrahim. Kanti kesabaran ugi ketabahan Nabi Ibrahim ingdalem ngadepi mapinten-pinten ujian lan cubo nglantaraken panjenenganipun nampi kahurmatan dados “Khalilullah” (kekasih Allah).

Kanti mengeti kisah Nabi Ibrahim sarto keluarga, saget kita ngertosi contoh keluarga teladan indgdalem babakan ketatan makhluk dumaten Khalik. Nabi Ibrahim dipun uji mboten anggadahi putra ngantos dangu sanget. Salajeng saksampunipun ingkang putra lahir, Nabi Ibrahim dipun perintah Allah kapurih ninggalaken isteri lan ingkang putra bayi wonten padang tandus.

Nalika igkang putra radi ageng, Nabi Ibrahim diuji malih supados ngorbanaken lan nyerahaken ingkang putra dateng Gusti Allah. Minangka Nabi, Ibrahim inggih tetep anggadahi sifat kados manungso biasanipun, wonten lebetipun manah ugi sempat anggadahi raos ragu bade nindaaken perintah ipun Allah menika, ananging wonten wekdal makaten isteri lan ingkang putra tansah maringi dukungan lan kemantepan kage nglampahi keputusan ipun Allah. Wonten mrikilah peran penting ipun keluarga salih, inggih menika saged maringi dukungan anggotanipun.

Nabi Ibrahimsampun maringi contoh teladan dateng kita, menawi kita kepengen anggadahi putra ingkang saleh, mangka tiang sepah iun kedah ngelampahi lan maringi conto kesalihan langkung rumiyin. Hasil didikan ingkan kados mekaten insyallah saged ndadosaken tabungan tiang sepah mbenjang wonten akhirat.

Saking Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ngendika:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“menawi setunggal mukmin seda, kaputus sedaya amalipun kejawi tigang perkawis: sedekah jariyah, ilmu ingkang dimanfaataken, lan doa saking anak saleh.” (HR. Muslim no. 1631)

Ingkang kaping tiga saking amal ingkang mboten kaputus inggih menika nggadahi waladun shalih, anak yang shalih. Kanti ninggalaken keturunan ingkang salih, sae igkang purun ndungakaken punapa mboten, kesalehan keturunan menika sampun saget nambahi pahala ingkang ngalir terus kagem tiang sepahipun. Pramila ampun ngantos kita lirwaaken putra-putri kita nyemplung wonten kehidupan lan pergaulan bebas ingkang tebih saking agami lan namung nuruti nafsu.

Salah setunggalipun riwayat, wonten bapak-bapak ingkang sowan dumateng Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab ra, madulaken putranipun ingkang durhaka. Piyambake ngeturaken menawi putrane asring ngucap lan tumindak kasar dumateng tiang sepahipun. Salajeng Sayyidina Umar nimbali putra kasebat lan paring duko.

“Ciloko kowe, opo kowe ora ngerteni yen duroko marang wong tuwo iku termasuk dosa gede lan ngundang murka saking Allah?”

“Nuwun sewu, Amiral Mukminin, ampun keseso ngadili kawula. Menawi bapak anggadahi hak dumateng putra, putra la nggih gadah hak ugi dumateng bapak?” si anak tanglet makaten.

“iya bener, anak ugi nduwe hak”

“lajeng punapa hak anak dateng bapak?”

“hak anak maring bapak ono telu. Siji, sayugjane bapak milih calon ibu kang apik kanggo calon anake, kapindo, bapak kudune maringi asmo kang apik kanggo anake, telu, bapak kewajiban ngajari Alquran (lan isine) kanggo anakke”.

Lajeng putra menika matur: “Duh Amiral mukminin, bapak kula mboten maringi hak ipun dumateng kula. Piyambake mboten milih ibu ingkang sae kangge kula, ibu kula inggih budak awon kulit hitam ingkang ditumbas regi kalilh dirham saking pasar, lajeng dipun gauli hingga ngandut kula. Sak sampune kula dipun lahiraken, bapak kula maringi asma Ju’al (si hitam ingkang awon praupan ipun). Bapak kula ugi mboten nate ngajari kula maos lan ngapal Alquran senajan setunggal ayat.”

Salajeng Sayyidina Umar noleh dumateng si bapak, nuli ngendikan: “Sliramu wes duroko marang anakmu sakdurunge anakmu duroko marang sliramu. Wes ngaliho seko kene.”

Pramila penting sanget kagem tiang sepah ngoptimalaken amal saleh supados angggaahi katurunan ingkang saleh, urip kanti rizki ingkang halal, lan dermawan dumateng sedulur umat muslim. Kaitan ipun asma ingkang sae, kita ngemuti kedadosan akhir-akhir menika, katah tiang sepah maringi asma ingkang salah dumateng putra, kados dene maringi asma putra kanti asmanipun Allah, utawi asma ingkang mboten dipun ngertosi artosipun, malah-malah naminipun setan dipun damel. Wonten malih nami asal comot saking bahasa asing ingkang mboten tamtu langkung sae tinimbang asma saking bahasa jawi amargi gengsi lan sak piturutipun.

Isteri dan anak saleh menika sanes mligi peparing saking gusti Allah. Allah maringi ruang dateng hambanipun kapurih berusaha lan berdoa supados kaparingan keluarga lan katurunan ingkang saleh. Katurun an ingkang saleh mboten kacithak saking bangku sekolah dasar dumugi perguruan tinggi kemawon, ananging sekolah ingkang langkung utami lan langkung aurat inggih menika pendidikan wonten lingkungan keluarga lan doa saking tiyang sepah kekalih. Mugi kia saget neladani keluarga Nabi Ibrahim, lan mugiha kita termasuk golonganipun tiang-tiang saleh lan kaparingan keluarga saleh, amin.

Jamaah Idul Adha rahimakumullah.

Gegayutan kalian kurban lan sembelihan, kadangkala wonten pangaggep ingkang madaaken antarane kurban kaliyan zakat. Inggih memang wonten mirip ipun wonten salah setunggal bagian, inggih menika wonten nilai sosial, inggih wekdal daging kurban dipun bagiaken dumateng para fakir miskin. Ananging tujuan utama penyembelihan menika sanes wonten sisi sosial belaka. Dados tetep benten senajan sami-sami ibadah kanti nggunaaken harta benda (ibadah maliyah).

Ugi wonten kasus malih wonten masyarakat ingkang nggabungaken zakat kalian kurban. Misal, Pak Polan wonten setunggal tahun ipun kewajiban ngedalaken zakat 5 juta, lajeng separo saking 5 juta dipun tumbasaken hewan kurban, kanti panganggep bilih kekalih ipun sami-sami dipun paringaken dumateng fakir miskin.

Pinangka jawaban kasus menika, perlu dipun enget bilih bondo zakat menika sanes milik ipun Pak Polan malih selaku muzakki, nangin sampun dados hak ipun asnaf wolu ingkang berhak nampi zakat. Menawi Pak Polan ngginaaken sepalih bondo zakat menika kangge tumbas hewan kurban, berarti piyambak ipun nasarufaken bondo ingkang sanes hak ipun. Lajeng menawi hewan kurban wau disembelih, lajeng Pak Polan nderek maem daging ipun berarti piyambak e ugi maem bondo zakat ingkang berarti haram.

Menawi dipenggalih saestu, bedanipun kurban lan zakat menika katah, mboten anamung wonten sisi teknis, nanging ugi wonten prinsip dasar. Pramila pinangka umat muslim, kita perlu mangertosi bedanipun supados ibadah ingkang kita lampahi leres menggah syariat. Dene beda kurban lan zakat antawis ipun:

1. Kurban hukumipun sunnah muakkad, zakat wajib

2. Kurban luwih nuju dateng ibadah ritual, menawi zakat ibadah sosial

3. Ingkang nampi kurban benten kaliyaningkang nampi zakat

4. Kurban kedah berbentuk hewan ingkang disembelih

5. Kurban mboten nyariataken amil

6. Amil Kurban mboten angsal dipun upah mawi daging kurban

7. Kurban mboten ngagem nisab, haul, lan kadar

8. Waktu pelaksanaan ugi benten

Jamaah idul adha rahimakumullah

Menawi taksih katah beda lan pembahasan antawisipun kurban kaliyan zakat, ananging khatib cekapaken khutbah menika. Saestu khatib mboten maksud ngendon-ngendoni semangat para jamaah kangge ngedalaken kurban, nanging mangga sami merhatiaken malih kewajiban kita babakan zakat, ugi infak lan sadakah.

Makaten mugi wonten gina manfaatipun

بسم الله الرحمن الرحيم قد افلح من تزكي و ذكر اسم ربه فصلي بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبِّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّه هُوَاالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

KHUTBAH TSANI

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر.

الحمد لله أفاض نعمه علينا وأعظم. وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. أسبغ نعمه علينا ظاهرها وباطنها وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. رسول اصطفاه على جميع البريات. ملكهاوإنسها وجنّها. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أهل الكمال فى بقاع الأرض بدوها وقراها, بلدانها وهدنها.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد. كما صليت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم, وبارك على محمد وعلى أل محمد, كماباركت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضى الحاجات. اللهم وفقنا لعمل صالح يبقى نفعه على ممر الدهور. وجنبنا من النواهى وأعمال هى تبور. اللهم أصلح ولاة أمورنا. وبارك لنا فى علومنا وأعمالنا. اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا. اللهم اجعلنا نعظم شكرك. ونتبع ذكرك ووصيتك. ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب. ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار.سبحانك رب العزة عما يصفون. و سلام علي المرسلين. والحمد لله رب العالمين

عباد الله ! إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر. يعذكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله يذكركم واشكروا على نعمه يزدكم .ولذكر الله أكبر

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/khutbah-idul-adha-dalam-bahasa-jawa.html

Rabu, 26 September 2012

Dituduh Makelar Tanah, Kiai Said: Dari Awal Sampai Akhir Bohong Semua

Duta Islam Nusantara - Dalam perbincangan santai, hangat dan penuh canda yang berlangsung sekitar 17 menit di ruang tanfidziyah Gedung PCNU Jepara Jl. Pemuda 51 Jepara, pada Kamis (05/01/2017) petang, KH Said Aqil Siraj sempat ditanya oleh beberapa orang yang ikut dalam forum, utamanya soal fitnah yang akhir-akhir ini santer dimediakan oleh minhum.

"Yang jawab bukan saya, tapi Anda," ujar Kiai Said saat ditanya soal fitnah itu, kepada Duta Islam Nusantara, yang kebetulan ikut di ruangan. Yang sangat besar fitnahnya adalah soal tanah di Malang. Kiai Said menyebut kalau fitnah makelar tanah di Malang itu bohong dari awal sampai akhir.

Kiai Said melanjutkan, berita (fitnah) itu katanya dari Saudara Subaryo SH. Akhirnya dibantah sendiri olehnya kalau ia tidak mengenal Said Aqil, tidak mengenal H Qosim, tidak pernah diwawancarai wartawan yang menulis, lalu pindah ceritanya ke Kiai Luthfi yang katanya pernah satu mobil dengan Kiai Said, "kapan pernah satu mobil," tanyanya yang kemudian disambut keheranan seisi ruang.

Dituduh Makelar Tanah, Kiai Said: Dari Awal Sampai Akhir Bohong Semua - Duta Islam Nusantara
Dituduh Makelar Tanah, Kiai Said: Dari Awal Sampai Akhir Bohong Semua - Duta Islam Nusantara


Dituduh Makelar Tanah, Kiai Said: Dari Awal Sampai Akhir Bohong Semua

Duta Islam Nusantara

"Gedung Seminar itu sejak saya pulang dari Timur Tengah, sudah ada, dari awal, ceritanya bohong semua itu, dengan H Qosim saya tidak kenal, Subaryo juga membantah kenal Said Aqil, keluarga korban juga membantah," ujar Kiai Said petang itu kepada puluhan pengurus NU Cabang yang ikut, didampingi KH Ubaidillah Nur Umar, Rais Syuriah PCNU Jepara dan KH Hayatun, Ketua PCNU Jepara.

"Orang kalau diangkat oleh Allah, bangun tidur itu sudah fitnah, jenengan tidak kuat, saya juga tidak kuat," kata Habib Farid kepada Duta Islam Nusantara. Ia menyarankan kepada kru redaksi Duta Islam Nusantara yang hadir di situ agar menulis klarifikasi Kiai Said karena hapenya jadul. Hahaha. Siap Habib, sudah jadi! [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/dituduh-makelar-tanah-kiai-said-dari-awal-sampai-akhir-bohong-semua.html

Duta Islam Nusantara

Sabtu, 14 Januari 2012

GP Ansor dan Fatayat NU Jombang Komit Sikapi Problem Bangsa

Jombang, Duta Islam Nusantara. Resepsi hari lahir ke-66 Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) dan ke-82 Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Jombang yang dihelat secara bersamaan, Ahad (15/5) lalu di GOR Merdeka memiliki indikasi positif. Selain sinergi antar kedua organisiasi kepemudaan NU tampak terlihat kuat, juga menanamkan komitmen untuk menyikapi sejumlah persoalan yang berkembang.

Seperti di ketahui, belakangan ini terdapat banyak problem yang melanda bangsa Indonesia. Mulai dua pekan yang lalu, masih hangat perbincangan tentang darurat pemerkosaan anak di bawah umur yang mengakibatkan sejumlah pihak geram dan trauma.

GP Ansor dan Fatayat NU Jombang Komit Sikapi Problem Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Fatayat NU Jombang Komit Sikapi Problem Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)


GP Ansor dan Fatayat NU Jombang Komit Sikapi Problem Bangsa

Selain itu darurat radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI, dan juga penggunaan narkoba khususnya di Kabupaten Jombang yang semakin meningkat juga menjadi bahan perbincangan beberapa pihak, di antaranya ormas NU serta badan otonomnya, juga pihak pemerintah setempat.

Melihat permasalahan demikian, GP Ansor dan Fatayat NU Jombang sangat serius menyikapinya. "Selama matahari terbit dari timur, NKRI harga mati dan Pancasila tetap jaya," kata Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Jombang, Ema Umiyyatul Husna saat menyampaikan sambutannya.

Duta Islam Nusantara

Upaya untuk menanggulangi salah satu darurat tersebut juga tengah dirumuskan, misalnya PC Fatayat NU setempat pada saat itu meluncurkan LP3A (Lembaga Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak). Lembaga tersebut diharapkan mampu menjadi wadah yang efektif dalam memberdayakan kaum hawa dan melindungi anak dari berbagai kejahatan.

Duta Islam Nusantara

Sementara itu, pada kesempatan yang sama PC GP Ansor Jombang juga meluncurkan LBH (Lembaga Badan Hukum). (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/68268/gp-ansor-dan-fatayat-nu-jombang-komit-sikapi-problem-bangsa

Duta Islam Nusantara

Minggu, 20 November 2011

Ansor Lakbok Gelar Diklat Teknologi Informasi untuk Perangkat Desa

Ciamis, Duta Islam Nusantara. Gerakan Pemuda Ansor Lakbok kabupaten Ciamis mendorong percepatan penggunaan teknologi informasi di kalangan perangkat desa. Melibatkan perangkat desa dan Dinas Perhubungan dan Komunikasi Ciamis, mereka mengangkat seputar dunia informasi dan teknologi di aula balai desa Tambakreja, Lakbok, Jumat-Sabtu (31/10-1/11).

GP Ansor Lakbok menargetkan seluruh perangkat desa yang mengikuti diklat ini dapat mengoptimalkan kinerja perangkat desa menuju desa yang lebih transparan, produktif, dan melek IT. Sebab, desa akan saling bertukar informasi di dunia maya sehingga bisa saling menginspirasi untuk memperbaiki kinerjanya.

Ansor Lakbok Gelar Diklat Teknologi Informasi untuk Perangkat Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Lakbok Gelar Diklat Teknologi Informasi untuk Perangkat Desa (Sumber Gambar : Nu Online)


Ansor Lakbok Gelar Diklat Teknologi Informasi untuk Perangkat Desa

Peserta yang secara keseluruhan membawa media praktik berupa laptop sangat antusias dengan kegiatan Ini.

"Saya sangat bahagia dengan kegiatan ini, karena saya yakin seluruh perserta semakin mengerti akan teknologi yang digunakan secara positif," tutur Nawawi peserta dari desa Baregbeg, Ciamis, Jumat (31/10).

Duta Islam Nusantara

Selama dua hari ke depan, peserta dibimbing para pemateri yang kompeten dalam dunia IT.

"Ansor ke depan akan lebih maksimal lagi dalam memberikan kegiatan dan proses penyadaran kepada masyarakat untuk menggunakan teknologi informasi yang tepat dan bermanfaat," ujar Ketua GP Ansor Lakbok Hirzuddin. (Ahmad Muhafid/Alhafiz K)

Duta Islam Nusantara

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55433/ansor-lakbok-gelar-diklat-teknologi-informasi-untuk-perangkat-desa

Jumat, 26 Agustus 2011

KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus

Berikut aku turunkan Kata-Pengantarku atas Buku Biografi salah seorang tokoh idolaku, Almarhum walmaghfur lah KH. A. Hamid Pasuruan; barangkali ada yang belum membaca buku Biografi tersebut. Semoga manfaat.

Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa shahabat Umar Ibn Khatthab (40 S.H. – 23 H.) itu “faqih” mujtahid dan fatwa-fatwanya dibukukan orang dan dikenal sebagai fiqh Umar. Mungkin juga tak banyak yang tahu bahwa khalifah kedua ini muhdats (gampangnya, wali besar menurut istilah di kita sekarang).

KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus - Duta Islam Nusantara
KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus - Duta Islam Nusantara


KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus



KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus - Duta Islam Nusantara
KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus - Duta Islam Nusantara


KH Abdul Hamid Pasuruan Bukan Wali Tiban oleh Gus Mus

Beliau pernah mengomando pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar mesjid di Madinah; pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir yang banyak tingkah, hingga ‘nurut’ –memberi manfaat manusia tanpa minta imbalan korban perawan seperti semula-- sampai sekarang ini; sering dengan firasatnya, shahabat Umar menyelamatkan orang. Bahkan khalifah yang pertama-tama dijuluki Amirul mukminin ini, pendapatnya sering selaras dengan wahyu yang turun kemudian kepada Rasulullah SAW (Misalnya pendapat beliau tentang tawanan Badr, tentang pelarangan khamr, tentang adzan, dsb.).

Namun manaqibnya jarang atau mungkin malah tidak pernah dibaca orang. Umumnya orang hanya mengenal beliau sebagai pemimpin yang al-Qawwiyul Amien, yang kuat dan amanah. Pemimpin kelas dunia (bahkan Michael Hart memasukkan beliau dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia) yang sering di elu-elukan sebagai Bapak Demokrasi yang penuh toleransi.

Boleh jadi juga banyak yang tidak tahu bahwa sahabat Abu Bakar Siddieq (51 S.H. – 13 H.) adalah waliyullah paling besar sepanjang zaman. Kebesarannya tampak sekali saat Rasulullah SAW wafat. Ketika semua orang, bahkan shahabat Umar yang perkasa, terpukul dan panik penuh ketidakpercayaan, Sahabat Abu Bakar –yang pasti paling sedih dan paling merasa kehilangan dengan wafatnya sang kekasih agung itu—sedikit pun tidak kelihatan guncang, apalagi kehilangan keseimbangan.

Sahabat nomor wahid itu bahkan masih sempat mengingatkan shahabat Umar dan yang lain tentang firman Allah, Wamaa Muhammadun illa Rasuul qad khalat min qablihir rusul …yaitu bahwa betapa pun besarnya Muhammad SAW dia tetap manusia yang bisa mati. Hanya Allah yang hidup dan tak mati. “Man kaana ya’budu Muhammadan fainna Muhammadan qad maat; waman ya’buduLlaaha fainnaLlaha Hayyun la yamuut;” kata beliau saat itu menyadarkan shahabat Umar dan yang lain.

Wali mana yang lebih besar dari orang yang disebut Rasulullah SAW sebagai kekasihnya, Abu Bakar Shiddiq ini? Sebagaimana shahabat Umar, juga jarang yang mengingat bahwa shahabat Abu Bakar juga mujtahid dalam arti yang sesungguhnya. Umumnya orang hanya mengenal shahabat abu Bakar sebagai shahabat yang mulia budi bahasanya, negarawan dan khalifah pertama Khulafa-ur Rasyidien.

Demikian pula shahabat-shahabat besar yang lain seperti sayyidina Utsman Ibn ‘Affan (47 S.H. – 35 H.) dan sayyidina Ali Ibn Abi Thalib (W. 40 H.), kebanyakan orang hanya mengenal sebagian dari sosok mereka yang paling menonjol; sehingga sisi-sisi kelebihan yang lain bahkan sering terlupakan. Dalam kitabnya Thabaqaat al-Fuqahaa, imam Abu Ishaq as-Syairazy menempatkan Khulafa-ur Rasyidien –secara berurutan-- di deretan pertama tokoh-tokoh faqih dunia. Tapi siapakah yang tersadar bahwa tokoh-tokoh khulafa itu ‘ahli fiqh’ juga?

Hal yang sama, dengan pencitraan yang berbeda-beda, terjadi pada tokoh-tokoh berikutnya. Imam Syafi’i (150 H.- 204 H.) misalnya, karena sudah terlanjur beken di bidang fiqh, apalagi menciptakan kaidah fiqh yang sangat jenius dan spektakuler, banyak orang yang lupa bahwa beliau sebenarnya juga menguasai ilmu hadis dan sastrawan yang handal; beliau mempunyai antologi puisi yang kemudian dikenal dengan Diewan Asy-Syafi’i. Lebih sedikit lagi yang tahu bahwa Muhammad Ibn Idris ini juga mengerti tentang musik. Setiap orang berbicara tentang imam Syafi’i boleh dikata hanya sebagai sosok faqih mujtahid belaka.

Lebih malang lagi adalah imam Ibn Taimiyah yang hanya gara-gara kemononjolannya dalam hal menentang tawassul, oleh sebagian banyak orang –khususnya pengagum Imam Ghazaly—ditolak seluruh pemikirannya dan tidak dianggap sebagai imam yang alim dan mumpuni.

Syeikh Abdul Qadir Jailany (atau Jiely atau Kailany, 470-561 H. ) yang dijuluki Sulthaanul ‘Auliyaa, Raja Para Wali, barangkali tak banyak yang mengetahui bahwa beliau sebenarnya menguasai tidak kurang dari 12 ilmu. Beliau mengajar ilmu-ilmu Qira'ah, Tafsir, Hadis, Perbandingan madzhab, Ushuluddin, Ushul Fiqh, Nahwu, dlsb. Belia berfatwa menurut madzhab Syafi’i dan Hanbali. Namun karena orang melihat sosok akhlaknya yang sangat menonjol, maka orang pun hanya melihatnya sebagai seorang sufi atau wali besar.

Demikianlah umumnya tokoh besar, sering ‘divonis’ harus menjadi ‘hanya sebagai’ atau ‘dikurangi’ kebesarannya oleh citra kebesarannya sendiri yang menonjol. Masyarakat tentu sulit diharapkan akan dapat melihat kebesaran seseorang tokoh secara utuh, paripurna; karena justru masyarakatlah yang pertama-tama terperangkap dalam sisi kebesaran yang menonjol dari sang tokoh dan kemudian tidak bisa melepaskan diri. Karena bagi mereka cukuplah apa yang mereka ketahui dari sang tokoh itu sebagai keutuhan kebesarannya. Barangkali disinilah pentingnya buku biografi seperti yang sekarang ada di tangan Anda. Biografi Almarhum wal maghfurlah Kiai Haji Abdul Hamid yang dikenal dengan Kiai Hamid Pasuruan ini.

***

Saya ‘mengenal’ secara pribadi sosok Kiai Abdul Hamid, ketika saya masih tergolong remaja, sekitar tahun 60-an. Ketika itu saya dibawa ayah saya, KH Bisri Mustofa, ke suatu acara di Lasem. Memang sudah menjadi kebiasaan ayah, bila bertemu atau akan bertemu kiai-kiai, sedapat mungkin mengajak anak-anaknya untuk diperkenalkan dan dimintakan doa-restu. Saya kira ini memang merupakan kebiasaan setiap kiai tempo doeloe.

Waktu itu, di samping Kiai Hamid, ada Mbah Baidlawi, Mbah Maksum, dan kiai-kiai sepuh lain. Dengan mbah Baidlawi dan mbah Maksum, saya sudah sering ketemu, ketika beliau-beliau itu tindak Rembang, atau saya dibawa ayah sowan ke Lasem. Dengan kiai Hamid baru ketika itulah saya melihatnya. Wajahnya sangat rupawan. Seperti banyak kiai, ada rona ke-Arab-an dalam wajah rupawan itu. Matanya yang teduh bagai telaga dan mulutnya yang seperti senantiasa tersenyum, menebarkan pengaruh kedamaian kepada siapa pun yang memandangnya.

Ayah saya berkata kepada Kiai Hamid, “Ini anak saya Mustofa, Sampeyan suwuk!” Dan tanpa terduga-duga, tiba-tiba, kiai kharismatik itu mencengkeram dada saya sambil mengulang-ulang dengan suara lembut: “Waladush-shalih, shalih! Waladush-shalih, shalih!”. Telinga saya menangkap ucapan itu bukan sebagai suwuk, tapi cambuk yang terus terngiang; persis seperti tulisan ayah saya sendiri di notes saya: “Liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan.” (“Anak singa seharusnya singa, bukan kucing!”). Apalagi dalam beberapa kali petemuan selanjutnya, cengkeraman pada dada dan ucapan lembut itu selalu beliau ulang-ulang. Tapi dalam hati, diam-diam saya selalu berharap cambuk itu benar-benar mengandung suwuk, doa restu.

Kemudian ketika saya sering berjumpa dalam berbagai kesempatan, apalagi setelah saya mulai mengenal putera-putera beliau –Gus Nu’man, Gus Nasih, dan Gus Idris— , Kiai Hamid pun menjadi salah satu tokoh idola saya yang istimewa. Pengertian idola ini, boleh jadi tidak sama persis dengan apa yang dipahami kebanyakan orang yang mengidolakan beliau. Biasanya orang hanya membicarakan dan mengagumi karomah beliau lalu dari sana, mereka mengharap berkah. Seolah-olah kehadiran Kiai Hamid –Allah yunawwir dhariihah— hanyalah sebagai ‘pemberi berkah’ kepada mereka yang menghajatkan berkah. Lalu beliau pun dijadikan inspirasi banyak santri muda yang –melihat dan mendengar karomah beliau-- ingin menjadi wali dengan jalan pintas. Padahal berkah beliau, paling tidak menurut saya –dengan alasan-alasan yang akan saya kemukakan melalui kisah-kisah di belakang—lebih dari itu.

Pernah suatu hari saya sowan ke kediaman beliau di Pasuruan. Berkat ‘kolusi’ dengan Gus Nu’man, saya bisa menghadap langsung empat mata di bagian dalam ndalem. Saya melihat manusia yang sangat manusia yang menghargai manusia sebagai manusia. Bayangkan saja; waktu itu ibaratnya beliau sudah merupakan punjer-nya tanah Jawa, dan beliau mentasyjie’ saya agar tidak sungkan duduk sebangku dengan beliau.

Ketawaduan, keramahan, dan kebapakan beliau, membuat kesungkanan saya sedikit demi sedikit mencair. Beliau bertanya tentang Rembang dan kabar orang-orang Rembang yang beliau kenal. Tak ada fatwa-fatwa atau nasihat-nasihat secara langsung, tapi saya mendapatkan banyak fatwa dan nasihat dalam pertemuan hampir satu jam itu, melalui sikap dan cerita-cerita beliau. Misalnya, beliau menghajar nafsu tamak saya dengan terus menerus merogoh saku-saku beliau dan mengeluarkan uang seolah-olah siap memberikannya kepada saya (Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa salah satu ‘hoby’ Kiai Hamid adalah membagi-bagikan uang). Atau ketika beliau bercerita tentang kawan Rembang-nya yang dapat saya tangkap intinya: setiap manusia mempunyai kelebihan di samping kekurangannya.

Ketika ‘krisis’ melanda NU di tahun 80-an, saya nderekke para rais NU Wilayah Jawa Tengah, Almarhum Kiai Ahmad Abdul Hamid Kendal, Almarhum Kiai A. Malik Demak, dan Kiai Sahal Machfudz Kajen, sowan ke kediaman kiai saya, Kiai Ali Maksum Krapyak Yogya –Allah yarhamuh—yang waktu itu Rais ‘Am. Kebetulan pada waktu itu Kiai Hamid sudah ada disana.

Seperti biasa dengan nada berkelakar, Pak Ali –demikian santri-santri Kiai Ali selalu memanggil beliau—berkata kepada Kiai Hamid: “Iki lho, Mustofa kandani, seneni!” (“Ini lho Mustofa dinasihati, marahi!”). Memang ketika itu saya sedang ada ‘polemik’ dengan kiai saya yang ‘liberal’ itu. Sekali lagi saya saksikan Kiai Hamid –dalam memenuhi permintaan sahabat-karibnya itu—dengan kelembutannya yang khas, hanya bercerita. “Saya tidak bisa bernasihat; mau menasihati apa? Tapi saya ingat dulu Syaikhuna …” demikian beliau memulai. Dan, masya Allah, dari cerita beliau, semua yang hadir merasa mendapat petuah yang sangat berharga; khususnya bagi kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip penting organisasi, beliau sampaikan --dengan metode cerita— sama sekali tanpa nada indoktrinasi atau briefing; apalagi menggurui. Luar biasa!

Sengaja saya ceritakan beberapa pengalaman pertemuan saya dengan Kiai Hamid di atas, selain sebagai tahadduts bin-ni’mah, saya ingin menunjukkan bahwa beliau memiliki ‘karomah’ yang lain, yang lain dari yang dipahami banyak orang. Sebenarnya buku yang sekarang ada di tangan Anda, sudah cukup memberikan gambaran agak utuh tentang sosok beliau; khususnya yang berkaitan dengan sifat-sifat keteladanan beliau. Tentang penguasaan ilmu, akhlak, dan perhatian beliau terhadap umat. Pendek kata tentang hal-hal yang di masa kini sudah terbilang langka.

Yang kiranya masih perlu dibeber lebih luas adalah proses yang berlangsung, yang membentuk seorang santri Abdul Mu’thi menjadi Kiai Abdul Hamid. Tentang ketekunan beliau mengasah pikir dengan menimba ilmu; tentang perjuangan beliau mencemerlangkan batin dengan penerapan ilmu dalam amal dan mujahadah; dan kesabaran beliau dalam mencapai kearifan dengan terus belajar dari pergaulan yang luas dan pengalaman yang terhayati. Sehingga menjadi kiai yang mutabahhir, yang karenanya penuh kearifan, pengertian, dan tidak kagetan.

Kiai Hamid bukanlah ‘Wali Tiban’. ‘Wali Tiban’, kalau memang ada, tentu berpotensi kontroversial dalam masyarakat. Kiai Hamid tidak demikian. Beliau dianggap wali secara ‘muttafaq ‘alaih’. Bahkan ayah saya, Kiai Bisri Mustofa dan guru saya Kiai Ali Maksum –keduanya adalah kawan-karib Kiai Hamid-- yang paling sulit mempercayai adanya wali di zaman ini, harus mengakui, meskipun sebelumnya sering meledek kewalian kawan-karib mereka ini.

Banyak orang alim yang tidak mengajarkan secara tekun ilmunya dan tidak sedikit yang bahkan tidak mengamalkan ilmunya. Lebih banyak lagi orang yang tidak secara maksimal mengajarkan dan atau mengamalkan ilmunya. Sebagai contoh, banyak kiai yang menguasai ilmu bahasa dan sastra (Nahwu, sharaf, Balaghah, ‘Arudl, dsb.), namun jarang di antara mereka yang mengamalkannya bagi memproduksi karya sastra.

Kebanyakan mereka yang memiliki ilmu bahasa dan sastra itu menggunakannya ‘hanya’ untuk membaca kitab dan mengapresiasi, menghayati keindahan, kitab suci Al-Quran. Tentu tak banyak yang mengetahui bahwa salah satu peninggalan Kiai Hamid –rahimahuLlah—adalah naskah lengkap berupa antologi puisi.

Banyak kiai yang karena ke-amanah-annya mendidik santri, sering melupakan anak-anak mereka sendiri. Kiai Hamid, seperti bisa dibaca di buku biografi ini, bukan saja mendidik santri dan masyarakat, tapi juga sekaligus keluarganya sendiri.

Dari sosok yang sudah jadi Kiai Hamid, kita bisa menduga bahwa penghayatan dan pengamalan ilmu itu sudah beliau latih sejak masih nyantri. Demikian pula pergaulan luas yang membangun pribadi beliau, sudah beliau jalani sejak muda, sehingga beliau menjadi manusia utuh yang menghargai manusia sebagai manusia; bukan karena atribut tempelannya. Dan kesemuanya itu melahirkan kearifan yang dewasa ini sangat sulit dijumpai di kalangan tokoh-tokoh yang alim.

Waba’du; sebelum saya menulis pengantar ini, saya sudah salat sunah dua raka’at; namun saya masih tetap merasa tidak sopan dan tidak sepantasnya berbicara tentang Kiai Hamid seperti ini dan khawatir kalau-kalau beliau sendiri tidak berkenan. Kelembutan dan kearifan beliau seperti yang saya kenallah yang membuat saya berani menuruti permintaan Gus Idris dan pihak Yayasan Ma’had As-Saafiyah Pasuruan untuk menulis.

Semoga tulisan saya ini termasuk menuturkan kemuliaan orang salih yang dapat menurunkan rahmat Allah. Idz bidzikrihim tatanazalur rahamaat. Dan mudah-mudahan masyarakat tidak hanya mendapat berkah dari manakib beliau ini, tapi lebih jauh dapat menyerap suri tauladan mulia dari sierah dan perilaku beliau. Allahumma ‘nfa’naa bi’uluumihil qayyimah wa akhlaaqihil kariemah. Amin.

Rembang, 1 Shafar 1424 Oleh KH A. Mustofa Bisri 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/kh-abdul-hamid-pasuruan-bukan-wali-tiban.html

Rabu, 23 Maret 2011

KH Hasan Genggong: Yang Menolong NU Beruntung Dunia Akhirat

Duta Islam Nusantara - Sebagai ormas Islam yang didirikan oleh para ulama besar pada zamannya, Nahdlatul Ulama (NU) adalah medium dakwah Islam ahlus sunnah wal jamaah yang senyatanya memang mendapatkan doa, dukungan dan ridla para hamba Allah yang dikenal shalih, memiliki kebeningan hati dan kealiman luar biasa.

Beberapa pesan berikut ini adalah dawuh masyayikh (para sesepuh) NU yang secara pribadi sudah muttafaqun alaih (disepakati) sebagai wali Allah serta zuhud lahir batin. Beliau-beliau inilah yang tegas menyatakan kalau NU adalah salah satu thariqah para ulama untuk menegakkan Islam ahlus sunnah wal jamaah di dunia. Bagian dari wasilah (media) mencapai ridla Allah.

KH Hasan Genggong: Yang Menolong NU Beruntung Dunia Akhirat - Duta Islam Nusantara
KH Hasan Genggong: Yang Menolong NU Beruntung Dunia Akhirat - Duta Islam Nusantara


KH Hasan Genggong: Yang Menolong NU Beruntung Dunia Akhirat

Jaminan yang diberikan pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, kepada tiap-tiap anak negeri ini yang mau mengurus NU adalah surga. Mbah Hasyim mengatakan, "siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku, saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya".

Adakah jaminan lain selain surga bagi mereka yang saat meninggal husnul khatimah? Tentu jawabannya tidak. Pesan ini sejalan pula dengan dawuh KH Hasan Genggong.

Dalam sebuah kesempatan KH Hasan Genggong pernah menyatakan bahwa berjuang ikhlas di NU akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Insyaallah.

Duta Islam Nusantara

"من اعان نهضةالعلماء، فقد سعد فى الدنيا والأخرة"

Duta Islam Nusantara

"Barang siapa yang menolong NU, maka hidup beruntung di dunia dan di akhirat".

Karena itulah, KH Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta sampai berpesan kepada para generasi penerus perjuangan NU agar terus berjihad bersama NU. Berikut dawuh lengkap Mbah Maksum dalam bahasa Arab yang didapatkan Duta Islam Nusantara dari salah satu santri beliau.

من وصايا المكرم العالم الشيخ محمد على معصوم كرافياك رحمه الله وأفاض لنا من بركاته وعلومه ونفحاته وانواره

Salah satu pesan al-Mukarram Syeikh Muhammad Ali Maksum Krapyak Jogja -rahimahullah, adalah sebagai berikut:

١. العلم والتعلم بنهضة العلماء

Pertama, warga nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU.

٢. العمل بنهضة العلماء

Kedua, yaitu setelah mempelajari juga dianjurkan untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama).

٣. الجهاد بنهضة العلماء

Ketiga, berjihad sesuai dengan ruh Nahdlatul Ulama yang tercermin dalam Rahmatal lil alamin (Al-Jihadu bi nahdlatil ulama)

٤. الصبر بنهضة العلماء

Keempat, ketika kita berjuang harus sabar dengan kemasan Nahdlatul Ulama (al-shabru bi nahdlotil ulama)

٥. الثقة بنهضة العلماء

Kelima, setelah semuanya dilakukan kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU (al-tqqah bi nahdlotil ulama)

Jika masih ragu, dawuh KH Ridwan Abdullah bisa dijadikan pedoman. Beliau selalu mengingatkan kepada kader NU agar tetap dalam keyakinan berjuang dan berdakwah, "Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah, kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah ke batu nisanku," begitu tegas kiai Ridwan semasa hidupnya. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kh-hasan-genggong-yang-menolong-nu-beruntung-dunia-akhirat.html

Minggu, 28 Maret 2010

Busuknya Islam Transnasional yang Mulai Potong Kaki NU dan MD

Duta Islam Nusantara - Tweet dari pemilik akun @joxzin_jogja adalah analisis masuk akal mengapa Islam Indonesia sekarang ini terlihat lebih menonjol sifat angkuhnya daripada tawadluknya. Umat muslim Indonesia, diakui atau tidak, kini sedang tercebur dalam kubangan haram radikalisme agama, yang selalu mudah digesek hanya dengan sedikit saja isu yang sensitif.

Busuknya Islam Transnasional yang Mulai Potong Kaki NU dan MD
Busuknya Islam Transnasional yang Mulai Potong Kaki NU dan MD


Duta Islam Nusantara sengaja memuat kuliah tweet panjang yang ditulis pada 27 Deseember 2016, demi mengingatkan, betapa kekuatan Islam trans nasional yang mengusung khilafah di Indonesia punya target untuk menggerus NU dan Muhammadiyah agar kepemimpinan komunitas Islam bergeser dari moderatisme kepada radikalisme berbasis agama. Silakan dibaca sampai selesai.

1. Siapa di Indonesia yg tak kenal @NahdlatulOelama dan Muhammadiyah? Di atas kertas, merekalah dua organisasi Islam terbesar di RI

2. Sekitar 85 juta umat Islam di Indonesia adalah NU, dan 50 juta Muhammadiyah. Artinya, sekitar 65 % seluruh penduduk muslim Indonesia

3. Ini jumlah yg besar, tp dlm kenyataannya, tampaknya 135 juta anggota NU dan Muhammadiyah hanya sebatas besar di angka statistik semata

4. Buktinya? Lihat bagaimana NU dan Muhammadiyah tidak bsa lagi memegang kepemimpinan ummat

5. Ummat justru dikendalikan oleh pergerakan Islam Trans-Nasional yg di Indonesia telah menjelma dlm wujud Islam “anyaran/baru”

6. Mereka adalah penerus gagasan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tharir yg ingin mendirikan Khalifah Daulah Islamiayah

7. Pelan2, mereka terus menggerus kepemimpinan NU dan Muhammadiyah yg masih setia dengan Pancasila dan NKRI

8. Knp itu bisa terjadi? Krn kelompok Islam "anyaran" itu justru dibiarkan tumbuh subur di era SBY (2004-2014)

9. Dlm 10 th itu, kelompok Islam Trans-Nasional banyak dapatkan ruang hidup, dapatkan subsidi dan jg difasilitasi utk tumbuh

10. Dg cara itu, kelompok Islam Trans-Nasional makin besar. Mereka mulai motong kaki NU dan Muhammadiyah di Mesjid, pengajian, dan sekolah

11. Awalnya Islam Trans-Nasional hanyalah kelompok kecil yg mulai hadir pd era tahun 1970-an

12. Di era Orde Baru mereka masih tiarap, tapi setelah reformasi mereka mulai unjuk gigi

13. Melihat tren ini, SBY justru membiarkan kelompok ini utk bergerak dan mengakomodasi mereka utk memperkuat kekuasannya

14. Akhirnya, kelompok trans nasional tumbuh, bantuan asing dari timur tengah, dana Wahabi mengalir deras bersamaan dg fasilitasi dari SBY

15. Selama 10 tahun cukup untuk mereka membesar dengan dana asing yang tidak ber-seri (sangat banyak)

16. Mari kita lihat satu-persatu para Islam Trans-Nasional yg mulai membuat NU dan Muhammadiyah gigit jari

17. Pertama, Ikhwanul Muslimin atau yang sering dikenal dengan nama Moslem Brotherhood kalau di luar negeri

18. Didirikan di Mesir pada Maret 1928, saat ini mereka menyebar di 70 negara dengan menggunakan methode Halaqah

19. Gerakan Ikwan terbelah mjd dua arus utama: Ikhwan Tarbiyah yg menjadi cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera

20. Serta Ikhwan Jihad yg gunakan kekerasan yg jadi embrio Jamatul Muslimin, Jama’ah Islamiayah dan Jamaah Jihad yg berujung pd Al Qaeda

21. Di Indonesia, Ikhwanul Muslimin dideklarasikan tahun 1994, lebih banyak gerak di kelompok Tarbiyah SMA dan Perguruan Tinggi (LMD/ LDK)

22. Setelah reformasi, mereka berubah bentuk jadi Komite Aksi Muslim Indonesia, lalu berubah jadi Partai keadilan dan selanjutnya jadi PKS

23. Tujuan utama Ikhwan Tarbiyah yaitu membentuk Daulah Islamiyah dengan cara non kekerasan

24. Mereka manfaatkan instrumen demokrasi dg dirikan partai dan merebut kursi di Parlemen untuk wujudkan cita2 Daulah Islamiyah

25. Mereka turut bentuk jaringan Ikhwan Tarbiyah seluruh dunia, yaitu The International Forum for Islamic Parliaments (IFIP)

26. IFIP pernah adakan pertemuan di Indonesia tahun 2007 di Jakarta, bahkan Jakarta ditetapkan sbg Sekretariat IFIP

27. Waktu itu SBY dengan bangga membuka acara IFIP di Jakarta

m.tempo.co/read/news/2007…

28. Sedangkan Ikhwan Jihadi atau Ikhwan sayap radikal muncul di Indonesia setelah dipicu oleh perang Afghanistan

29. Dan gerakan ini menemukan bahan baku pada aktivis Darul Islam Indonesia (DII). Kelompok ini jg dirikan Jammaah islamiyah (JI) pada 1991

30. Tujuan utamanya: Mendirikan Khilafah Islamiyah dengan menggunakan metode kekerasan allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/09/mengen…

31. Kedua, adalah Hizbut Tahrir yg menolak konsep demokrasi dan menekankan tentang paham kekhalifahan

32. HTI jelas tidak menerima NKRI dan Pancasila. HTI jg tidak mau hormat bendera merah Putih

muslimedianews.com/2014/08/

33. Metode perjuangan HTI adalah kaderisasi, sosialisasi dan merebut kekuasaan.

34. Gerakan HT di Indonesia berawal dari aktivis masjid kampus Mesjid Al-Ghifari, IPB Bogor yg disebarkan melalui halaqah2

35. Kader-kadernya HTI aktif melakukan sosialisasi dan kaderisasi dengan memanfaatkan Masjid2

36. Sejalan dengan gerakan Tarbiyah, mereka juga lakukan kaderisasi ke sekolah dan kampus-kampus, selain mengajak ke pengajian HT Indonesia

37. Karakter dari HTI : angkat isu struktural dan global, bahaya kapitalisme, dominasi USA serta sistem ekonomi dan politik alternatif

38. Jawaban mereka (HTI) hanya satu: ganti NKRI dengan sistem Khalifah. Bagi mereka Khalifah adalah harga mati!!!

39. Ketiga adalah gerakan Salafi Dakwah dan Salafi Sururi yg berkembang dengan bantuan dana pemerintah Arab Saudi

40. Awalnya mereka adalah alumni Lembaga Ilmu pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Perkembangan mereka berbasis pesantren

41. Keempat adalah Syiah yg berkembang setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 dan menyebarnyanya alumnus Qum

42. Di Indonesia muncul dua organsiasi Syiah: pertama, Lembaga Komunikasi Ahlul Bait yg merupakan wadah alumni Al Qum

43. Organisasi kedua tergabung dalam IJABI yg lebih berkiblat ke Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlallah

44. Pengikut Syiah keturunan Arab lakukan bertaqiyah (sikap menyembunyikan diri). Jaringan Syiah yg kuat ditemukan di Jatim dan Pekalongan

45. Di era SBY, perkembangan Syiah dianggap ancaman ol kelompok Sunni termasuk Tarbiyah dan HTI krn Iran sangat mengganggu kep. Arab Saudi

46. Inilah yg membuat kelompok Wahabi justru menyerang kelompok Syiah dan Ahmaddiyah

47. Skali lg demi dukungan, menyingkirkan NU dan Muhammadiyah, maka jaringan SBY fasilitasi konflik Sunni-Syiah ini

48. Kelima adalah Jamaah Tablig juga masuk kategori gerakan trans-nasional

49. Jamaah Tablig ini berpusat di perkotaan dan bersifat non-politis. Anggotanya kurang lebih 20.000 orang

50. Dlm 10 tahun di era SBY, gerakan Islam Trans-Nasional banyak menggerogoti basis2 organisasi massa

51. Masjid2 NU dan Muhammadiyah mulai dikuasai oleh Ikhwan dan HTI. Jemaah Tabliq menggerogoti beberapa basis penting NU di perkotaan

52. Sedangkan gerakan Salafi mengambil jemaah @NahdlatulOelama puritan dg pendekatan pesantren.

53. Jd strategi kuasai Mesjid dr kelompok Trans-Nasional relatif berhasil. Dg cara itu mereka menguasai Marbot, takmir sampai pendakwah

54. Aktivitas mesjid digunakan untuk halaqah para Ikhwan dan HTI

55. Selain itu para Ikhwan Tarbiyah (PKS) dan HTI aktif juga bergerak di sekolah dan perguruan tinggi

56. Mereka masuk melalui dua cara: pertama, melakukan kaderisasi yg sangat agresif di forum Kerohanian Islam (Rohis)

57. Kader2 mereka aktif mendekati pelajar dan mahasiswa dengan pendekatan emosional, empati dalam Liqo

58. Dan selanjutnya mengajak bergabung dlm Halaqah. Jaringan kaderisasi seperti bergerak berjenjang dalam model sel-sel kecil

59. Tentu ini mengherankan karena model kerja sel kecil ini awal muasalnya diciptakan oleh komunis internasional

60. Pdhl kita tahu, kelompok Islam Trans-Nasional gaungkan anti-komunis, tapi cara penguatan jaringan ala komunis ternyata mereka pakai juga

61. Dg kaderisasi di perguruan tinggi, gerakan Tarbiyah pelan2 masuk ke sektor negara jadi PNS, anggota TNI, Polri dan profesional

62. Di era SBY mereka juga menikmati fasilitasi beasiswa dan tugas belajar ke luar negeri

63. Di luar negeri mereka aktif membangun jaringan dan semakin terbentuk setelah kembali ke tanah air

64. Mereka kemudian mulai menguasai Mesjid kementerian/BUMN dengan pendakwah dari kader Tarbiyah dan HTI

65. Dakwah lain yg dikembangkan adlh melalui media dan medsos. Kelompok ini aktif mengisi acara dakwah di TV maupun radio @RRI TVRI Nasional

66. Di era SBY mereka diberi ruang gerak karena SBY mengangkat Menteri Kominfo yang kader PKS @tifsembiring

67. Dengan penguasaan kementerian Kominfo oleh Tarbiyah, mereka mengendalikan media resmi seperti TVRI, RRI dan Antara

68. Dan menempatkan kader mereka di posisi eselon 1 sampai 3 untuk jaga kontrol internet dan medsos

69. Mereka juga agresif menyediakan jasa Ustad-Ustad untuk mengisi pengajian-pengajian komunitas Islam

70. TV yg memerlukan penceramah agama juga disediakan oleh mereka secara gratis. Dan juga melakukan dakwah melalui pengajian di radio2

71. Di media sosial mereka juga berjaya. Pendekatan pada generasi muda dilakukan melalui media sosial baik WA Groups, BBM maupun SMS

72. Hal ini membuat metode dakwah dari @NahdlatulOelama dan @muhammadiyah menjadi ketinggalan kereta

73. Bahkan para Islam Trans-Nasional sudah membentuk pasukan dunia maya (cyber army) di medsos

74. yg bukan hy sebarkan dakwah ala Tarbiyah dan HTI tapi jg sebarkan fitnah dg bungkus dalih agama untuk mulai serang kelompok lawan mereka

75. Kelompok Trans nasional terutama Ikhwan dan HTI mulai ubah strategi dg membuat aliansi strategis antar kelompok Islam dg berbagai nama

76. Bisa menggunakan Forum Umat Islam (FUI) ataupun Front-front Aksi yg bersifat taktis seperti GNPF-MUI

77. Dengan cara itu, mereka tidak terkungkung oleh dominasi kepemimpinan @NahdlatulOelama dan @muhammadiyah

78. Upaya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah juga dilakukan SBY dengan membentuk Majelis Dzikir Nurussalam

79. Dg bentuk kelompok ini, SBY ingin punya kendali langsung atas massa Islam tanpa harus bernegoisasi dg NU dan Muhammadiyah

80. Cara ini jg berkembang sejalan dg tren maraknya Habib dirikan kelompok Dzikir yg pengikutnya ribuan

81. Kegiatannya sekilas hanya berdizikir, namun dengan acara itu, bisa jadi ajang baru untuk melakukan konsolidasi massa terutama anak2 muda

82. Alasan itu yg melatar belakangi SBY memobilisasi Majelis Dzikir Nurussalam yg dipimpin oleh Utun Tarunadjaja pada thn 2000

83. Yayasan Majelis Dzikir Nurussalam disebut sebagai mesin politik dan mesin uang tim sukses SBY nasional.inilah.com/read/detail/25…

84. Kelompok Trans-Nasional melanjutkan aksinya menggerogoti kepemimpinan NU dan Muhammadiyah

85. Dengan cara merebut kepengurusan organisasi fatwa seperti Majelis Ulama Indonesia

86. Dengan menancapkan pengaruh di MUI maka mereka bisa memberikan legitimasi pada aksi yg dipakai dengan bekal fatwa MUI

87. Mereka memanfaatkan kelengahan NU dan Muhammadiyah pasca berpulangnya KH Sahal Mahfud

88. Dien Syamsudin dan KH Mahruf Amin yg menggantikan Sahal Mahfud justru lebih bersikap oportunis pada kelompok Trans-Nasional

89. Dua orang pengganti Sahal ini dikenal punya nafsu politik yg tinggi dan sptnya rela meninggalkan Muhammadiyah dan NU demi posisi politik

90. Dengan penguasaan MUI ditambah dengan terbentuknya Front aksi, maka kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam

91. kelompok Trans-Nasional berhasil merebut kepemimpinan umat Islam dari NU dan Muhammadiyah, serta bisa kendalikan agenda politik keumatan

92. Ini yg jelaskan knapa kelompok Trans-Nasional setir ummat utk kep. politik ideologi, yakni terwujudnya Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan

93. Berbagai cara mereka gunakan untuk menguji kepemimpian mereka (kelompok islam trans-nasional)

94. Mulai safari Maulid Nabi ke berbagai daerah, salat subuh berjamaah sampai dengan pengumpulan dana untuk bergerak

95. Terakhir ada upaya untuk kumpulkan dana untuk danai kelompok teroris di Suriah

cnnindonesia.com/nasional/20161…

96. Demi persatuan aksi Daulah Islamiyah dan Kekhalifahan, para Islam Trans-Nasional terpaksa mau terima Rizieq sebagai pemimpin gerakan

97. Walaupun kelompok islam trans-nasional ini tahu, bahwa Rizieq FPI dibesarkan oleh elit tentara

98. Tapi mereka tahu jg tahu kelemahan Rizieq yg mudah dibeli oleh elit politik dan punya sejumlah “cacat” yg bs stiap saat utk disingkirkan

99. @syihabrizieq didorong-dorong masuk perangkap makar. Setelah itu gantian kelompok Ikhwan dan HTI yg akan memimpin

100. Kelompok islam trans-nasional sudah siap mengganti Pancasila dan NKRI dengan Negara Khalifah Daulah Islamiyah

101. Sekali lagi, kepemimpinan NU dan @muhammadiyah semakin jauh disisihkan secara sistematis

102. Entah apakah NU dan Muhammadiyah merasa “tertampar” dengan berbagai aksi Islam Trans-Nasional belakangan

103. Atau mungkin NU dan Muhammadiyah msh blm sadari ini? Mereka masih mrasa posisinya aman walau nyatanya sdh berdiri di atas batang lidi?

104. Ketika kepemimpinan NU dan Muhammadiyah jatuh, maka jatuh pula NKRI dan sangat mudah digantikan dg Negara Khilafah Daulah Islamiyah

105. Semoga kita Indonesia masih bisa berharap munculnya kembali kepemimpinan ummat Islam di tangan Nu dan Muhammadiyah demi tegaknya NKRI

Matur nuwun sederek sedoyo masyarakat. Jangan pernah lelah mencintai keragaman Indonesia dalam balutan NKRI.

Demikian kultweet yang diberi judul "Upaya Terselubung Islam "Anyaran" Dirikan Khalifah Daulah Islamiyah". Kalau Anda sedang berada di kubu minhum yang suka mencaci maki ulama, suka menggerus NU atau Muhammdiyah, berarti Anda sedang mendukung NKRI bubar jalan sendiri. Terserah Anda jika Indonesia ingin seperti Suriah. Salam waras! [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/busuknya-islam-transnasional-yang-mulai-potong-kaki-nu-dan-md.html

Sabtu, 19 Desember 2009

KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya

Duta Islam Nusantara - Habib Husain Al Aydrus Pethekan, Semarang, sampai usia 60-an tahun masih saja sendiri, alias belum menikah. Sampai kemudian pada sekitar tahun 1985-an, Habib Husain menghadiri undangan akad nikah kakak tertua KH. Muhajir Madad Salim, Demak, Jawa Tengah.

KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya - Duta Islam Nusantara
KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya - Duta Islam Nusantara


KH Maimoen Zubair: Jika Istri Adalah Nasi, Bidadari Snacknya

KH Maimoen Zubair Sarang yang masih kerabat dekat mempelai perempuan kemudian memberikan mauidhoh hasanah. Di antara isi ceramah itu adalah:

"Sepasang pengantin itu, kalau sudah didudukkan berdampingan begini, jangan dikira cuma dilihat banyak orang di alam dunia saja. Sepasang pengantin nanti di akhirat juga akan didudukkan berdampingan, bersama-sama masuk ke dalam surga," ujar Mbah Moen.

Hanya istri dari alam dunia saja yang bisa mendampinginya duduk di bangsal kencana di surga suaminya nanti. Sedangkan bidadari, mereka tidak. "Istri itu ibarat makanan pokok," lanjut Kiai Maimoen, "sedangkan bidadari cuma snack. Kalau dia butuh bidadari, maka bidadari baru dapat melayani. Jika tidak butuh, maka bidadari tidak bisa dekat-dekat dengannya," terangnya.

Jadi, orang-orang yang meninggal dunia sampai belum sempat menikah, maka keadaan mereka tidak sama dengan yang sudah menikah. "Bidadari itu ibarat jajan-jajanan. Kamu kok sama sekali tidak makan nasi, dan hanya makan jajanan-jajanan saja, maka tidak bisa kenyang. Perut malah bisa kembung," hadirin tertawa.

Mendengar petuah Mbah Moen itu, ketika pulang resepsi, Habib Husain langsung menikah. Ia menikah dalam usia setua itu karena takut kalau nanti di surga dirinya malah cuma dapat kembungnya saja, seperti dawuhnya Mbah Moen tersebut.

Kurang dari dua tahun setelah itu, Habib Husain wafat dalam keadaan sempurna alias sudah beristri di dunia. Harapannya tentu agar tidak sakit kembung di surga nantinya.

Nah, Anda yang masih ada kesempatan, masih muda, mampu memberikan nafkah lahir batin namun belum berpasangan, segeralah menikah. Niatkan mencari istri dunia akhirat. Soal dapat bidadari-bidadari, itu adalah bonus jika Anda tidak melakukan bom bunuh diri atas nama jihad konyol.

Jika belum menikah dalam keadaan jomblo sempurna, belum sempat berkeluarga, maka Anda akan seperti orang yang hanya mendapatkan bonusannya saja namun tidak mendapatkan hadiah utama. Yang membaca postingan akan mendapatkan jodoh secepatnya. Bagi yang menyebarkannya, cepat dijemput sang jodoh nya. [Duta Islam Nusantara]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/kh-maimoen-zubair-jika-istri-adalah-nasi-bidadari-snacknya.html

Minggu, 06 September 2009

Kesan Rohis sebagai Organisasi Eksklusif Harus Dihilangkan

Jakarta, Duta Islam Nusantara. Rohis (Rohani Islam) merupakan lembaga atau perkumpulan para siswa di sekolah untuk memperkuat dan memperdalam agama Islam. Rohis menjadi organisasi ekstrakurikuler sekolah yang menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Selain sebagai forum pertemuan, Rohis menjadi wahana pengajaran, dakwah, dan berbagi pengetahuan Islam. Adapun susunan pengurus dalam Rohis layaknya OSIS, organisasi induknya.

Kesan Rohis sebagai Organisasi Eksklusif Harus Dihilangkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Rohis sebagai Organisasi Eksklusif Harus Dihilangkan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kesan Rohis sebagai Organisasi Eksklusif Harus Dihilangkan

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin mengaku bahwa para siswa SMA atau SMK berada usia yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh. Apalagi saat ini mereka begitu mudah mencari sumber-sumber pengetahuan agama melalui internet. Karenanya, Kamaruddin memandang perlu ada pendampingan, sehingga tidak ada penyimpangan seperti diberitakan selama ini.

Ada isu negatif, Rohis dianggap menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal, bahkan terorisme. Ini jangan sampai terjadi, ucap Kamaruddin dalam konferensi pers, Kamis (28/4) di Kantor Kemenag RI Lapangan Banteng Jakarta Pusat terkait kegiatan Perkemahan Rohis yang akan dihelat Senin-Jumat (2-6/5/2016) di Buperta Cibubur.

Duta Islam Nusantara

Menurut Kamaruddin, kesan Rohis sebagai organisasi tertutup dan eksklusif harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama.

Duta Islam Nusantara

Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka (inklusif) agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri, kata Kamaruddin.

Untuk memberikan kesan terbuka itu,para peserta Perkemahan Rohis Nasional ini kali juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain. Hanya saja untuk siswa laki-laki dan perempuan tetap terpisah.

Dari segi materi, Perkemahan Rohis ini kali lebih beragam juga. Ada materi wajib atau umum (MKDU) yang keseluruhannya harus diikuti oleh semua peserta. Materi wajib ini adalah tentang Islam yang damai dan Islam yang ramah. Kita menyiapkan generasi emas yang penuh keramahan dan kedamaian, kata Kamaruddin.

Ada juga beberapa materi yang tidak harus diikuti keseluruhannya atau MKDU, seperti materi mengenai leadership, jurnalistik, public speaking, dan manajemen masjid. Materi yang terakhir ini sangat penting karena basis utama kegiatan Rohis adalah di masjid atau musholla sekolah. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/67736/kesan-rohis-sebagai-organisasi-eksklusif-harus-dihilangkan

Duta Islam Nusantara

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Duta Islam Nusantara sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Duta Islam Nusantara. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Duta Islam Nusantara dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock